Selasa, 29 Desember 2015

LOGOTERAPI Sebagai Psikoterapi Mencari Makna Hidup dan Kehidupan yang Lebih Bermakna


Sejak dahulu, terutama para filsuf eksistensial mempertanyakan pilihan-pilihan bebas setiap manusia tentang apakah yang menjadi tujuan hidup manusia tersebut. Apakah kebahagiaan? Kebahagiaan yang seperti apa? Apakah aktualisasi diri? Aktualisasi diri yang bagaimana? Banyak penelitian empirik yang menyatakan bahwa banyak juga orang yang peduli akan penemuan makna hidup sebagai tujuan hidupnya. (Sastrapratedja, 2015)
Banyak orang yang percaya bahwa hidup yang bermakna adalah kualitas kehidupan yang didambakan setiap manusia. Logoterapi yang juga suka disebut sebagai logofilosofi adalah pendekatan terapeutik-filosofis yang bertujuan membantu seseorang untuk menemukan tujuan dan orientasi hidup mereka dengan penuh makna sehingga dapat mengatasi perasaan hampa dalam ketakbermaknaan hidup dan bahkan rasa keputusasaan.

Latar Belakang

Kondisi masyarakat Indonesia saat ini banyak diliputi oleh rasa frustasi, baik di kalangan eksekutif, profesional, karyawan biasa sampai para pengangguran dan pensiunan. Hal ini disebut sebagai frustasi eksistensial. Bagi para karyawan, eksekutif dan profesional, mereka mencurahkan hampir seluruh perhatian dan waktunya untuk pekerjaan mereka. Mereka sangat sibuk dengan tekanan tanggung jawab pekerjaan, tuntutan target pekerjaan sekaligus tuntutan memenuhi nafkah hidup bagi diri dan keluarganya tetapi melupakan “kehidupan” dirinya sendiri. Kemakmuran materi seringkali dijadikan tujuan terakhir atau bahkan tujuan utama satu-satunya pada dirinya sendiri. Banyak orang menaruh perhatian semata-mata pada uang dan dengan uang mereka merasa berkuasa. Bagi para pengangguran dan pensiunan, banyak dari mereka mengalami krisis spiritual dan kecemasan (neurosis). Kebanyakan dari mereka tidak tampak depresi tetapi apatis, acuh tak acuh dan kehilangan inisiatif.

Baik kaum eksekutif yang mengalami frustasi eksistensial maupun kaum pengangguran dan pensiunan yang mengalami kecemasan ini sama-sama mengalami kekosongan batin, kehampaan hidup, merasa hidupnya tidak bermakna. Kondisi ketidakbermaknaan ini sebenarnya juga dapat dialami dan bahkan sering dijumpai dalam krisis perubahan tahapan kehidupan lainnya selain memasuki masa pensiun, seperti misalnya saat menginjak remaja, saat memasuki masa berkeluarga atau ketika mengalami krisis-krisis kehidupan lainnya. Hal ini dapat menjurus pada perilaku destruktif seperti kecanduan narkoba, gila seks, fobia, gangguan panik dan gangguan psikiatrik lainnya.
Salah satu teknik psikoterapi yang didasari oleh pandangan filsafat yang kental dan dapat membantu orang-orang dalam ketidakbermaknaan yang mendalam tersebut adalah Logoterapi. Logoterapi dikembangkan oleh Victor Emile Frankl, seorang psikiater dari Wina, Austria. Istilah logoterapi ini sendiri berasal dari dua kata yaitu “logos” dan “terapi, yakni suatu terapi yang menembus dimensi spiritual dari eksistensi manusia. Kata “logos” dalam bahasa Yunani berarti makna, maksudnya makna menjadi manusia. Seseorang diarahkan pada sesuatu dan bukan pada dirinya sendiri. Dalam hal ini logoterapi merupakan suatu terapi yang diarahkan pada makna, yakni makna dalam dan untuk eksistensi manusia. Karena itu manusia harus menerima tanggungjawab dan menemukan nilai-nilai bagi kehidupannya.

“Hidup adalah tugas. Orang yang religius dibedakan dengan yang tidak religius hanya dengan pengalaman eksistensinya yang tidak sesederhana sebuah tugas, tetapi sebagai sebuah misi. Hal ini berarti dia juga menyadari siapa pemberi tugas tersebut, sumber dari misi hidupnya. Untuk beribu-ribu tahun sumber tersebut dinamakan Tuhan.” (Frankl. The Doctor and the Soul, 1986. Hal. xxi)

Logoterapi dikenal sebagai aliran psikoterapi Wina ketiga. Pada masa itu, ada dua aliran psikoterapi yang terkenal yaitu aliran Freud dengan psikoanalisisnya dan aliran Adler dengan psikologi individualnya. Bagi Frankl, pandangan Freud terlalu menekankan naturalisme dengan pengungkapan seksualitas manusia dan di lain pihak, psikologi individual Adler yang sangat menekankan tanggung jawab pribadi terlalu subjektif terhadap nilai-nilai dan melihat individu sebagai fungsi penentu masyarakatnya. Frankl juga menolak pandangan Adler yang hanya menekankan nilai biologis dan sosial terutama kehendak akan kekuasaan sebagai tujuan hidup konkrit manusia. Menurut kritik Frankl dalam bukunya The Doctor and the Soul, baik Freud maupun Adler terlalu menyederhanakan manusia dan akhirnya jatuh pada nihilisme dan mengabaikan dimensi spiritualitas.
Tahap selanjutnya, Frankl mulai tertarik kepada fenomenologi Edmund Husserl karena Husserl mulai merintis pendekatan “reduksi”-nya yang menekankan pada pengalaman langsung apa adanya tanpa disertai praduga pada teori yang dianut pengamatnya. Walaupun demikian, Frankl lebih tertarik pada fenomenologi Max Scheler karena menyajikan makna dan tingkatan nilai-nilai. Makna dan nilai-nilai ini dijadikan landasan filosofis logoterapinya.

Frankl juga tertarik pada eksistensialis seperti Karl Jaspers, Martin Heidegger dan Gabriel Marcel. Eksistensialisme menyajikan konsep tentang kebebasan manusia, yakni kebebasan dalam berkehendak dan dalam memilih serta mengambil sikap. Pandangan ini bersumber pada keyakinan bahwa manusia mampu melampaui, mengubah, dan menjadikan dirinya sesuai yang diinginkan oleh manusia itu sendiri. Di atas semua landasan pemikiran filsuf-filsuf tersebut Frankl membuat logoterapi sebagai “Aliran Psikoterapi Wina Ketiga”. (Semiun, Y. 2006)

Filsafat Manusia Frankl

Pada dasarnya setiap manusia dalam kehidupannya selalu ingin mendapatkan makna. Tanpa mengetahui makna kehidupan, manusia tak mengetahui tujuan hidupnya. Celakalah orang yang tidak lagi melihat makna dalam kehidupannya karena ia akan mengalami frustasi dan perasaan hampa. Frankl melihat dorongan terkuat manusia adalah dalam hal “kehendak akan makna”. Oleh karena itu Frankl memasukkan dalam psikoterapinya dimensi spiritual manusia, yang termanifestasi dalam suara hati (Sastrapratedja. 2015). Kebutuhan akan makna ini lebih kuat daripada sekedar kebutuhan akan kenikmatan (Freud) dan kekuasaan (Adler). Menurut Frankl, ketidakbermaknaan dalam kehidupan zaman sekarang merupakan suatu neurosis dan dia menyebutnya “neurosis noogenik” . Fenomena orang modern banyak yang menderita kebosanan dan tidak peduli terhadap neurosis noogenik ini karena dua alasan. Pertama, ketika manusia berkembang dari binatang yang lebih rendah, manusia kehilangan insting dan dorongan alamiah yang menghubungkan mereka dengan alam. Hal ini menyebabkan tingkah laku kita tidak “dibimbing” oleh alam sehingga kita harus aktif memilih apa yang yang harus kita lakukan. Untuk dapat memilih yang benar seharusnya manusia belajar lebih dahulu sehingga memiliki kemampuan untuk memilih. Kehidupan modern saat ini banyak dimanipulasi oleh kampanye iklan-iklan dan pandangan-pandangan semu yang berwujud dalam ilusi. Manusia hendaknya memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang ilusi dan mana yang realita sesungguhnya sehingga tidak kehilangan makna. Kedua, seperti yang telah diungkapkan pada yang pertama, dalam masyarakat kita kini terdapat banyak adat kebiasaan, tradisi-tradisi dan nilai-nilai yang menentukan tingkah laku kita (kendali dari luar diri kita). Kekuatan agama terancam oleh nilai-nilai dan tradisi baru dalam masyarakat modern ini, oleh karena itu saat ini manusia diharapkan dapat bersandar pada diri sendiri dan membuat keputusan bagi dirinya sendiri disertai tanggung jawab terhadap keputusan-keputusan tersebut. (Semiun, 2006)
Menurut Frankl, manusia adalah kesatuan fisiko(bio)-psiko-spiritual. Logoterapi atau logofilosofi menekankan pada dimensi spiritual yang diungkapkan secara fenomenologis dalam bentuk kesadaran diri manusia yang segera.

Kebebasan manusia ditandai oleh kebebasannya terhadap kondisi-kondisinya, ia melampaui kondisi yang diwariskan atau lingkungannya. Manusia dapat menerima atau menolak bahkan membentuk/ memodifikasi kondisi-kondisi yang mencakup faktor biologis, psikologis dan sosiologisnya. Ia secara bertanggunjawab terhadap dirinya bebas mengalahkan atau menyerahkan diri pada kondisi-kondisinya. Kebebasan manusia ini bukan hanya kebebasan “dari” tetapi juga “untuk”.
Kebebasan “untuk” ini bertanggung jawab untuk diri manusia sendiri, suara hatinya dan Allah. Karena seperti yang pertama-tama diuraikan bahwa manusia sebenarnya dalam hidup selalu ingin mendapatkan makna maka ia memiliki kebebasan “untuk” mencari dan menemukan makna tersebut. Makna bukan diciptakan melainkan ditemukan. (Sastrapratedja. 2015) Kehidupan setiap manusia adalah unik. Kehidupan setiap manusia khusus dan tertentu untuk setiap keadaan waktu tertentu. Untuk itu perlu menemukan makna hidup yang spesifik dalam keadaan waktu tersebut selain “makna hidup secara umum”. Seperti yang dikatakan Frankl sendiri, setiap orang bukan hanya memiliki “tugas” melainkan memiliki “misi” kehidupan yang didapat dari Allah.

Landasan Filsafat Logoterapi

Landasan filsafat dari logoterapi adalah kebebasan berkehendak, hasrat untuk hidup bermakna dan makna hidup. (Frankl. Psychotherapy and Existentialism. 1967)
Kebebasan Berkehendak, maksudnya bukan kebebasan berkehendak semaunya sendiri tanpa batas. Frankl mengatakan bahwa manusia tidak bebas dari kondisi-kondisi seperti yang secara alamiah seorang manusia sudah ditentukan kondisi biologis atau psikologis atau sosiologisnya. Walaupun demikian, selalu ada yang tersisa yaitu setiap manusia bebas untuk mengambil jarak dengan kondisinya; Dia bebas mempertahankan kebebasannya untuk memilih sikap terhadap kondisi-kondisi tersebut. Manusia bebas melampaui determinasi eksistensi badaniah dan jiwanya. Melalui kebebasan ini, manusia memiliki dimensi spiritual selain dimensi fisik/badaniah dan fenomena kejiwaannya semata. Manusia menjadi mampu mengambil jarak tidak hanya dengan dunianya melainkan juga dengan dirinya sendiri (self detachment). Mengambil jarak di sini bisa berarti meninggalkan dimensi biologis dan psikologis lalu masuk ke dalam dimensi noologis atau spiritual. Manusia mampu berefleksi terhadap sesuatu, dan bahkan menolak, dalam dirinya sendiri. Manusia bisa menjadi hakim untuk dirinya sendiri. Kemampuan dan kebebasan untuk mengubah kondisi hidupnya ini bertujuan untuk mencapai kehidupan yang lebih berkualitas. Sebagai konsekuensi atas kebebasan ini, manusia juga harus menyadari bahwa terdapat tanggung jawab sebagai akibatnya.

Kesanggupan manusia untuk mengambil jarak terhadap diri sendiri dan mengambil sikap terhadap situasi yang dihadapi digunakan Frankl untuk tujuan terapeutik sebagai dua teknik dalam logoterapi, yaitu intensi paradoksikal dan derefleksi, serta pendekatan “bimbingan rohani” (spiritual ministry).

Konsep kebebasan berkehendak ini otomatis menentang pandangan filsuf deterministik yang berpendapat sesungguhnya manusia tidak bebas karena manusia adalah makhluk yang tidak berdaya akibat terbatas oleh faktor biologis, psikologis dan sosiologis.
Hasrat (Kehendak) untuk Hidup Bermakna. Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa setiap manusia dalam kehidupannya selalu ingin mendapatkan makna. Tanpa mengetahui makna kehidupan, manusia tak mengetahui tujuan hidupnya dan tanpa menemukan makna serta tujuan hidupnya maka manusia akan jatuh pada perasaan tidak berharga dan tidak berarti. Setiap manusia ingin “menjadi seseorang” dengan kehidupannya yang sarat dengan kegiatan-kegiatan yang bermakna. Keinginan untuk hidup bermakna ini betul-betul merupakan motivasi utama setiap manusia.(Bastaman, 2007) Hasrat inilah yang mendorong setiap manusia untuk melakukan berbagai kegiatan atau “berkarya” agar hidupnya dirasakan berharga dan berarti, bukan hanya sekedar mencari nafkah.
Dengan konsep ini, Frankl mengkritik “prinsip kesenangan” Freud. Menurut Frankl, kesenangan sebenarnya hanya hasil atau efek samping dari pemenuhan dorongan atau pencapaian tujuan kita yang akan merusak apabil dijadikan tujuan akhir. Semakin seseorang mengarahkan dirinya secara langsung pada kesenangan maka ia akan semakin kehilangan sasaran tujuannya. Frankl juga sekaligus mengkritik “prinsip kenyataan” dalam psikoanalisis karena menurutnya “prinsip kenyataan” ini hanyalah perluasan dari “prinsip kesenangan” dan berlaku hanya sebagai pengarah bagi pemenuhan keinginan akan kesenangan. (Semiun, 2006)

Kritiknya pada Adler tentang “prinsip keinginan akan kekuasaan” adalah bahwa “kekuasaan” hanya alat untuk mencapai tujuan. Jadi “kekuasaan” tidak bisa dijadikan tujuan akhir. Kesenangan adalah akibat pemenuhan makna sedangkan kekuasaan adalah prasyarat untuk pemenuhan makna.
Kritiknya pada psikologi Jung adalah tentang motivasi manusia. Menurut Jung, motivasi manusia dilihat selaras dengan pandangan psikoanalisis. Dalam psikoanalisis manusia dilihat sebagai makhluk yang selalu didorong oleh tegangan yang memuncak setiap kali dorongan atau naluri menuntut pemuasan, sedangkan dalam psikologi Jung, manusia dilihat sebagai makhluk yang tidak berdaya karena selalu terjadi tegangan setiap kali arketipe-arketipe menuntut pemuasan. Oleh karena itu, pandangan Jung ini menurut Frankl merendahkan realitas dunia tempat keberadaan dan makna menjadi hanya alat yang dapat digunakan individu untuk membebaskan diri dari stimulus-stimulus yang mengganggu keseimbangan (homeostasis) sebagai akibat dari memuncaknya tegangan. Menurut Frankl apa yang diinginkan manusia bukanlah reduksi tegangan melainkan perjuangan menemukan makna. Itulah sebabnya mengapa Frankl menggunakan istilah hasrat/kehendak menemukan makna dan bukan kebutuhan untuk menemukan makna. Istilah kebutuhan akan makna berarti manusia melakukan pemenuhan makna hanya untuk mereduksi tegangan dalam usaha memulihkan keseimbangan dalam dirinya sehingga ia tidak sepenuhnya berurusan dengan makna, melainkan hanya dengan keseimbangan dirinya sendiri.

Kritiknya terhadap Maslow adalah bahwa menurutnya tujuan akhir manusia bukanlah aktualisasi diri. Aktualisasi diri hanya efek samping dan konsep ini tidak jauh berbeda dengan konsep kesenangan dan kekuasaan. Dalam pandangan Frankl, orang mengaktualisasikan diri sejauh ia melakukan pemenuhan makna. Sedangkan menurut Sasrapratedja, maksud Frankl mengenai eksistensi manusia ini secara esensial lebih merupakan transendensi diri daripada aktualisasi diri. Karena aktualisasi diri tidak dapat tercapai kalau dijadikan tujuan akhir pada dirinya sendiri maka aktualisasi diri juga dapat dilihat sebagai efek samping dari transendensi diri.
Dalam kebebasan menemukan makna dan mendapatkan kedewasaan hidup, kematangan serta kesehatan psikologis maka setiap manusia membutuhkan tegangan berupa konfrontasi makna. Pencapaian pada penemuan makna ini bukan dengan pendamaian batin yang hanya akan memperburuk kondisi manusia dalam suatu kestabilan keseimbangan. Dengan konfrontasi makna kita akan membawa manusia mencapai dirinya untuk “menjadi sesuatu” atau dengan kata lain mencapai eksistensinya dalam kehendak bebasnya yang bertanggung jawab. Seperti dikatakan Frankl,”manusia bertanggung jawab untuk memenuhi makna spesifik dalam hidup personalnya.”(Frankl, 1967)

Makna Hidup. Menurut Frankl, kita harus memberikan respon untuk menemukan makna hidup karena kita bertanggung jawab terhadap hidup. Respon tersebut dinyatakan dalam bentuk perbuatan dan tindakan.
Makna hidup ini bersifat objektif sekaligus mutlak. Makna yang bersifat objektif ini maksudnya berlawanan dengan subjektif. Sesuatu yang subjektif hanya dilihat semata-mata sebagai ungkapan keberadaan atau merupakan proyeksi dari naluri-naluri. Jika makna bersifat objektif maka makna tersebut menuntut manusia untuk mencapainya. Makna memang bisa bersifat subjektif sejauh sifat subjektif itu diartikan sebagai mengikuti keunikan setiap individu. Demikian juga subjektif terhadap kejadian-kejadian spesifik dalam kehidupan. Tugas-tugas kehidupan setiap individu adalah suatu kenyataan yang berbeda satu sama lain, demikian juga makna kehidupan setiap individu berbeda satu sama lain. Tugas yang kita lakukan bagi diri kita masing-masing menentukan nasib kita dan realita kita per individu dan tidak dapat dibandingkan dengan tugas apalagi nasib individu lain. Kita tidak dapat bertemu dua kali pada situasi yang sama dan dengan cara yang sama karena pengaruh pengalaman-pengalaman baru yang terjadi di setiap situasi.

Makna hidup bersifat mutlak maksudnya bukan sebuah makna yang bersifat abadi melainkan makna yang memiliki konteks pada situasi atau waktu tertentu. Karena masing-masing individu adalah unik maka masing-masing individu harus dapat menemukan makna hidupnya sendiri dengan memberikan respon-respon yang eksklusif bagi pengalaman hidupnya sampai bertemu dengan makna hidup tersebut. Ketika kita berhadapan dengan situasi berbeda maka kita mungkin harus menemukan makna yang berbeda bagi konteks kehidupan kita tersebut dan hal ini dicontohkan Frankl ketika situasi hidupnya berubah dari seorang dokter yang mapan menjadi tawanan di kamp konsentrasi.
Makna hidup itu melampaui intelektualitas manusia jadi makna tidak akan mungkin dicapai hanya dengan proses akal atau pemikiran belaka. Untuk mencapai penemuan makna itu maka seorang individu harus menunjukkan komitmen yang keluar dari kepribadiannya dalam bentuk menjalani tindakan nyata pada seluruh konteks dunia kehidupannya. Melalui komitmen, tindakannya berkarya dalam konteks kehidupan tersebut maka seseorang menjawab tantangan-tantangan yang datang dalam hidupnya.
Makna dapat dicapai melalui bermacam-macam nilai kehidupan. Setidaknya ada tiga nilai penting dalam menemukan makna hidup yang diungkapkan Frankl. Ketiga nilai itu adalah nilai kreatif, nilai pengalaman (experiential values), nilai yang berkaitan dengan sikap (attitudinal values).

Nilai kreatif diwujudkan dalam aktivitas yang kreatif dan produktif dan biasanya berhubungan dengan pekerjaan. Makna diberikan melalui tindakan yang menciptakan suatu hasil yang kelihatan atau suatu ide yang tidak kelihatan atau dengan melayani orang lain.
Pekerjaan hanyalah sarana yang memberikan kesempatan untuk menemukan dan mengembangkan makna hidup, makna hidup tidak terletak pada pekerjaan, tetapi lebih bergantung pada pribadi yang bersangkutan. Dalam hal ini sikap positif dan mencintai pekerjaan serta bagaimana cara bekerja seseorang yang mencerminkan keterlibatan pribadi pada pekerjaannya adalah hal yang penting. Kerja biasanya menggambarkan situasi di mana individu tampil dalam hubungannya dengan masyarakat, dan di sana individu dapat menemukan makna. Makna ini terpisah dari individu. Pekerjaan tertentu tidak pasti memberikan makna pada individu melainkan individu yang harus dapat menemukan makna dalam pekerjaannya karena pekerjaannya tersebut dapat digunakan oleh individu itu sebagai sarana untuk mencapai pemenuhan diri dan penemuan makna. Suatu pekerjaan baru memiliki makna kalau pekerjaan tersebut merupakan usaha untuk memberikan sesuatu (berkontribusi) pada kehidupan (diri sendiri dan sesama) yang didekati secara kreatif dan dijalankan sebagai tindakan komitmen pribadi yang berakar pada seluruh eksistensinya.

Nilai pengalaman adalah kebalikan dari nilai kreatif, yakni menyangkut penerimaan kita dari dunia. Nilai pengalaman ini disebut juga nilai penghayatan (Bastaman, 2007) karena menghayati nilai-nilai kebenaran, kebajikan, keindahan, keimanan, serta cinta kasih. Menghayati suatu nilai dapat menjadikan seseorang merasakan hidupnya berarti. Hal seperti ini tampak misalnya pada orang-orang yang membaktikan seluruh hidupnya untuk sebuah karya seni sebagai seniman, Bunda Theresa misalnya yang membaktikan seluruh hidupnya dalam penghayatan membantu sesama yang tersisihkan. Saling mencintai juga menjadikan seseorang menghayati pengalaman berarti dalam hidupnya. Menurut Frankl, menemui sesama (termasuk menemui sesama sebagaimana Bunda Theresa merawat orang sakit dengan penuh cinta kasih) dengan segala keunikan berarti mencintainya. Dalam nilai pengalaman ini Frankl lebih banyak mengutarakan tentang cinta dan estetika sebagai keadaan yang dapat dihayati bermakna. Cinta adalah anugerah dan sekaligus perluasan batin. Dengan menyerahkan diri pada orang yang dicintai, seseorang akan memperkaya batin. Pemerkayaan batin adalah salah satu unsur yang membentuk makna hidup. Jadi proses “menemui” sesama adalah sangat penting dalam penghayatan nilai pengalaman ini pada proses menemukan makna.
Frankl juga mengungkapkan segi lain dari makna kehidupan yakni makna dapat ada pada saat-saat tertentu saja. Dengan kata lain kita tidak dapat menemukan makna dalam semua situasi kehidupan. Frankl menulis, sama seperti tingginya deretan pegunungan tidak dilukiskan dengan permukaan lembah-lembahnya, melainkan oleh puncaknya yang tertinggi, demikian juga kita melukiskan kepenuhan makna suatu kehidupan oleh puncaknya bukan lembah-lembahnya. Ia mengungkapkan bahwa suatu momen puncak dari nilai pengalaman dapat mengisi seluruh kehidupan individu dengan penuh makna. Faktor yang menetukan adalah intensitas yang kita alami terhadap hal-hal yang kita miliki.

Nilai bersikap. Nilai kreatif dan nilai pengalaman membicarakan tentang pengalaman-pengalaman manusia yang positif dalam suatu proses pemenuhan hidup dengan menciptakan dan mengalami sesuatu hingga menemukan makna didalamnya. Masalahnya kehidupan tidak selalu dalam konteks yang positif melainkan juga dalam penderitaan, sakit, kematian, dan hal negatif lainnya. Nilai bersikap maksudnya menerima dengan penuh ketabahan, kesabaran, dan keberanian segala bentuk penderitaan yang tidak terelakan lagi. Dalam hal ini yang diubah bukanlah keadaannya, melainkan sikap yang diambil dalam menghadapi situasi penderitaan itu. Ini berarti ketika kita menghadapi situasi yang tidak dapat diubah atau dihindari maka sikap yang tepatlah yang masih dapat dikembangkan. Sikap penerimaan dengan keikhlasan dan ketabahan dapat mengubah pandangan kita dari yang awalnya dihayati sebagai penderitaan semata-mata menjadi pandangan yang mampu melihat makna dan hikmah dari penderitaan itu. Penderitaan dapat memberikan makna dan berguna apabila kita dapat mengubah sikap terhadap penderitaan itu menjadi lebih baik. Ini berarti bahwa dalam keadaan menderita bagaimanapun arti hidup masih dapat ditemukan dengan syarat kita mampu memilih dan mengambil sikap yang tepat dalam menghadapi penderitaan tersebut.

Tanggapan dan Kritik
Pandangan Frankl tentang menemukan makna hidup sebagai tujuan akhir yang membahagiakan ini tentunya sangat bermanfaat apabila dapat diaplikasikan dalam suatu proses pembelajaran pada masyarakat modern saat ini khususnya pada masyarakat Indonesia yang boleh dikatakan telah mengalami kebingungan dan disorientasi dalam menemukan makna hidupnya. Pemikiran tentang kehendak bebas, hasrat akan makna dan makna hidup sebagai hal yang lebih mendasar daripada sekedar “kebutuhan” hidup manusia apalagi jika dibandingkan dengan “kebutuhan” yang sekedar memenuhi kenikmatan dan kekuasaan tentunya membawa kita pada suatu dimensi spiritual yang sangat cocok dengan kerangka berpikir dan wawasan serta nuansa hidup masyarakat Indonesia. Pandangannya tidak atheis walaupun ia katakan sekuler tetapi masih ada “Tuhan” sehingga masih sejalan dengan paham masyarakat Indonesia.
Pemaknaan dalam filsafat logoterapi ini rupanya agak bernuansa superficial karena tidak sampai pada penemuan makna yang “lebih abadi/ makna besar” melainkan hanya diutamakan pada konteks atau situasi tertentu saja. Metode logoterapi ini tidak begitu retrospektif dan introspektif (bdk Sastrapratedja, 2015). Logoterapi ini lebih berfokus pada pemaknaan saat kini untuk perwujudan tugas dan makna selanjutnya di masa depan. Pemahaman tentang mengenali diri sendiri sehingga mengerti betul mengapa suatu proses psikodinamika atau bahkan suatu proses psikopatologi muncul dalam diri seseorang tidak bisa didapatkan dari metode Frankl ini. Menurut penulis, mungkin kepragmatisan metode Frankl ini nampaknya mencoba menjawab kebutuhan zaman modern yang serba cepat. Ia menghindari suatu proses “perjalanan panjang” yang menghabiskan waktu lama untuk mengenali diri secara mendalam sampai dapat menemukan “makna besar” melainkan cukup “makna-makna” kecil dari setiap situasi konkrit yang dihadapi.

DAFTAR RUJUKAN

Bastaman, H.D. Logoterapi Psikologi untuk Menemukan Makna Hidup dan Meraih Hidup Bermakna. PT RajaGrafindo Persada, Jakarta. 2007.
Frankl, V.E. Psychoterapy and Existentialism. Washington Square Press, Inc., New York. 1967
Frankl, V.E. The Doctor and The Soul From Psychoterapy to Logotherapy.Vintage Books, New York. 1986
Sastrapratedja, M. Dimensi-Dimensi Pendidikan. Pusat Kajian Filsafat dan Pancasila.Jakarta, 2015.
Semiun, Y. Kesehatan mental 3. Kanisius, Yogyakarta. 2006.