Sabtu, 17 Maret 2018

Beda Psikiater dan Psikolog

Pada tulisan saya tentang bagaimana perjuangan menjadi psikiater masih banyak pertanyaan yang belum bisa membedakan psikiater dan psikolog. Untuk itu saya mencoba menuliskan kembali apa beda psikiater dan psikolog.

Psikiater adalah seorang dokter (yang tentunya lulusan Fakultas Kedokteran) yang kemudian mengkhususkan diri dalam spesialisasi untuk mengobati pasien-pasien dengan gangguan jiwa dari yang ringan sampai yang berat dan karena psikiater adalah seorang dokter maka masyarakat memanggilnya "DOK".

Psikolog adalah seorang ahli kejiwaan yang sekolahnya di Fakultas Psikologi dan kemudian dapat melanjutkan studinya untuk menjadi psikolog Industri organisasi atau psikolog pendidikan atau psikolog klinis dan lainnya.

Jadi, jika seseorang mempunyai cita-cita untuk menjadi seorang dokter ahli kejiwaan (Psikiater) maka ia harus menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran terlebih dahulu dan hal ini tidak bisa ditawar lagi. Demikian pula jika seseorang ingin menjadi ahli kejiwaan (Psikolog) tetapi bukan DOKTER maka ia harus menempuh pendidikannya di Fakultas Psikologi.

Seorang psikolog bisa juga dipanggil "DOK" jika ia telah mencapai gelar DOKTOR (S3).

Untuk menjadi seorang psikolog rata-rata masa studi adalah 6 tahun sedangkan untuk menjadi seorang psikiater (Dokter spesialis kedokteran jiwa) maka ia harus menempuh rata-rata masa studi selama minimal 10 tahun, bisa lebih lama tetapi tidak bisa lebih cepat dari itu. Belum lagi dulu ada peraturan harus tugas ke daerah dulu.

Seorang psikolog klinis biasanya bekerja bersama dengan psikiater di setting klinik maupun di Rumah sakit/ RS Jiwa. Tentunya, walaupun sama-sama bekerja di rumah sakit, seorang psikolog tidak diijinkan untuk menulis resep obat karena latar belakang pendidikannya bukan seorang dokter. Tetapi di lain pihak, seorang psikolog sangat ahli dalam melakukan tes diagnostik, tes IQ, Tes minat bakat, dan tes-tes kejiwaan lainnya yang tidak mampu dilakukan oleh seorang psikiater.

Keduanya mampu memberikan psikoterapi dan konseling dan sesuai standar internasional seyogyanya pemahaman seorang psikolog maupun psikiater tentang neuroscience sama baiknya.


Rabu, 29 November 2017

It’s Not You, It’s Your Brain: How Body Mass Index and Body Fat Percent correlate with Brain Structure.

Obesity has become a worldwide epidemic. In Canada alone, the prevalence of obesity had doubled between 1981 and 2007/09 with over one in four Canadian adults are obese (Public Health Agency of Canada and Canadian Institute for Health Information, 2011). Obesity has been associated with changes in brain structure, especially neural networks involved in cognition, motivation, impulse control, and salience processing (Raji et al., 2010; Taki et al., 2008). Understanding the association between obesity and specific brain structure will shed some light on obesity-related cognitive and behavioural differences and, consequently, pave the way to treatment and prevention.
The National Post recently reported the findings of a study that found overweight and obese people having significantly less grey and white matter in key areas of the brain, offering a biologically plausible explanation for why overweight people tend to have reduced cognitive functioning, greater impulsivity, and altered reward processing (Kirkey, 2016). Reporting on changes across the whole brain, people with a higher Body Mass Index (BMI) or Body Fat Percent (BFP) had slightly more grey matter, while no significant difference in white matter was found between lean and overweight people. Specific brain networks, however, showed heavier people having less white matter in the salience network and dorsal striatum, brain regions involved in reward processing and habitual behaviour, respectively. The news article quoted the lead researcher’s comment that, “it stands to reason that these changes could further affect the ability of overweight individuals to exert self-control and maintain healthy lifestyle choices.” He further commented that the study could not answer whether differences in brain structure make certain individuals prone to becoming obese or poor diet, lifestyle, and/or body composition cause these differences. More and larger studies were warranted (Kirkey, 2016).
The news article published by the National Post corresponded well to the study published in Frontiers in Neuroscience (Figley, Asem, Levenbaum, & Courtney, 2016). The study demonstrated that body composition (i.e. BMI and BFP) was positively correlated with global gray matter volume, while no correlation with global white matter volume was found, after corrected for age, gender, and total intracranial volume. The structural imaging data indicated that individuals with higher BMI and/or BFP exhibited reductions in white matter volume and microstructure surrounding the dorsal striatum and regions of the default mode network, executive control network, and salience network (Figley et al., 2016). It is important to note that the study did not directly answer whether the observed structural and functional brain differences were likely to cause decreases in cognitive performance and self-control in overweight and obese individuals. Interpreting the study findings in the context of previous research might, however, provide some insight (Figley et al., 2016). Given the role of the mesolimbic pathways of the dopaminergic system in reward processing, motivation, and willpower, the reductions of gray and white matter throughout these pathways induce lower than normal reward responses and consequently, maintain addictive behaviours, including overeating or eating high-fat, high-sugar foods, to elicit similar pleasure responses (Blum, Thanos, & Gold, 2014; Kolb, Whishaw, & Teskey, 2016).
Although the recent study failed to answer whether differences in brain structure made certain individuals prone to becoming obese or vice versa, it contributed to the understanding of obesity as a complex disease. Recognizing obesity as a chronic disease will help reduce the stigma often associated with the condition and stop regarding obesity as a lifestyle/behaviour problem, but a medical condition that requires effective prevention and lifelong treatment strategies (Rich, 2015). 

Oleh: Monica Purnama,MSc., Calgary-Alberta, Canada


References
Blum, K., Thanos, P. K., & Gold, M. S. (2014). Dopamine and glucose, obesity, and reward deficiency syndrome. Frontiers in Psychology , 5 (919). Retrieved November 15, 2016, from http://journal.frontiersin.org/article/10.3389/fpsyg.2014.00919/full
Figley, C. R., Asem, J. S., Levenbaum, E. L., & Courtney, S. M. (2016). Effects of body mass index and body fat percent on default mode, executive control, and salience network structure and function. Frontiers in Neuroscience , 10 (234). Retrieved November 14, 2016, from http://journal.frontiersin.org/article/10.3389/fnins.2016.00234/full
Kirkey, S. (2016, July 6). Does fat affect your brain? Study finds obese have less grey and white matter in key areas. Retrieved November 15, 2016, from National Post: http://news.nationalpost.com/health/does-fat-affect-your-brain-study-finds-obese-have-less-grey-and-white-matter-in-key-areas?__lsa=ea52-9391
Kolb, B., Whishaw, I. Q., & Teskey, G. C. (2016). An introduction to brain and behavior (5th ed.). New York, NY: Worth Publishers.
Public Health Agency of Canada and Canadian Institute for Health Information. (2011). Obesity in Canada: A joint report from the Public Health Agency of Canada and the Canadian Institute for Health Information. Retrieved November 14, 2016, from Public Health Agency of Canada: http://www.phac-aspc.gc.ca/hp-ps/hl-mvs/oic-oac/assets/pdf/oic-oac-eng.pdf
Raji, C. A., Ho, A. J., Parikshak, N. N., Becker, J. T., Lopez, O. L., Kuller, L. H., et al. (2010). Brain structure and obesity. Human Brain Mapping , 31, 353-364.
Rich, P. (2015, October 9). CMA recognizes obesity as a disease. Retrieved November 15, 2016, from Canadian Medical Association: https://www.cma.ca/En/Pages/cma-recognizes-obesity-as-a-disease.aspx
Taki, Y., Kinomura, S., Sato, K., Inoue, K., Goto, R., Okada, K., et al. (2008). Relationship between body mass index and gray matter volume in 1,428 healthy individuals. Obesity , 16, 119-124.

Selayang pandang tentang Dialectical Behavior Therapy (DBT)

Dialectical behavior therapy (DBT) dikembangkan oleh Marsha Linehan, adalah sebuah teknik yang luar biasa efektif untuk mengatasi kondisi emosional yang berlebihan. Penelitian menunjukkan bahwa DBT memperkuat kemampuan seseorang untuk mengatasi distres tanpa kehilangan kendali atau bertindak destruktif.

Banyak orang berjuang dengan emosi-emosinya yang luar biasa. Hal ini seakan-akan emosinya disetel pada volume maksimum sebanyak yang mereka dapat rasakan. Ketika mereka merasa marah, sedih atau takut, emosinya ini muncul sebagai sebuah gelombang besar yang sangat kuat menyapu diri mereka.

Jika Anda merasakan emosi besar dalam kehiudpan Anda, Anda tentunya memahami apa yang sedang kita bahas di sini. Ada hari-hari ketika emosi Anda menghantam Anda bagaikan Tsunami. Ketika hal itu terjadi, membuat Anda 'memahami' rasa takut untuk merasakan banyak hal karena Anda tidak ingin terlempar oleh emosi Anda. Masalahnya adalah, semakin Anda menekan emosi Anda, semakin besar emosi tersebut Anda rasakan. Perlu kemampuan untuk meregulasi emosi dalam hal ini. Hal yang penting untuk diketahui saat ini adalah bagaimana berusaha menghentikan perasaan berlebihan tersebut.

Trauma-trauma sebelumnya yang kita alami dapat mengubah struktur otak kita sehingga kita akan mengalami intensitas yang lebih rentan ketika merasakan emosi negatif. Walaupun ternyata akar dari kecenderungan intensitas emosi itu ternyata berasal dari genetik kita atau dengan kata lain, adanya trauma bukan berarti kita tidak dapat kita mengatasi masalah tersebut. Dengan semacam ketrampilan dalam DBT ini sudah ribuan orang di dunia ini mampu mengendalikan emosi berlebih tersebut.

DBT mengajarkan 4 ketrampilan penting yang dapat mengurangi ukuran gelombang emosi dan menolong Anda mempertahankan keseimbangan ketika emosi-emosi tersebut mengganggu Anda. keempat skill tersebut adalah:

1. Toleransi terhadap distress yang akan membantu Anda beradaptasi lebih baik dengan kejadian-kejadian yang menyakitkan dengan membangun ketahanan diri Anda dan memberikan cara baru bagi Anda untuk melunakkan efek-efek yang membuat Anda marah.

2. Mindfulness (Kesadaran mental) akan membantu Anda mengalami momen saat kini ketika Anda secara otomatis terfokus pada pengalaman rasa sakit di masa lalu atau merasa takut akan kemungkinan-kemungkinan di masa depan.

3. Ketrampilan meregulasi emosi akan membantu Anda untuk lebih menyadari secara jernih apa yang Anda rasakan dan kemudian mengamati setiap emosi tanpa merasakannya secara berlebihan. Tujuannya adalah untuk memodulasi perasaan Anda untuk tidak menjadi cara yang reaktif dan destruktif.

4. Efektifitas interpersonal memberikan Anda alat baru untuk mengekspresikan keyakinan-keyakinan dan kebutuhan-kebutuhan Anda, menentukan batas, dan menegosiasikan solusi-solusi masalah Anda - dan semua ini dalam konteks melindungi relasi Anda dan memperlakukan orang lain dengan penuh penghargaan.

Tulisan ini ditulis disela-sela menyelesaikan disertasi di Calgary-Alberta Canada.

Jumat, 06 Mei 2016

Budaya Masyarakat dan Uang

Dalam sebuah acara malam pemilihan mahasiswa berprestasi tahun 2016 di salah satu universitas swasta di Jakarta, sebagai salah satu juri undangan, saya memperhatikan betapa gegap gempitanya para mahasiwa, dosen, karyawan universitas dan para orang tua mahasiswa saling berinteaksi di acara tersebut. Menurut pendapat saya, salah satu hal yang mendasari kemeriahan acara tersebut adalah bahwa acara tersebut merupakan sebuah simbolisasi “kesuksesan akademik” yang dinyatakan dalam bentuk penghargaan berupa penyematan sebuah selendang bertuliskan ‘mahasiswa berprestasi 2016’ dan hadiah uang sebesar lima juta rupiah. Melalui acara tersebut, secara spontan dalam benak saya muncul sebuah pertanyaan, apa yang menjadi simbol kesuksesan masa kini? Gaya hidup adalah mungkin jawabannya. Gaya hidup dengan simbol-simbol yang dimaknai sebagai simbol kesuksesan di sini termasuk juga acara-acara malam penganugerahan seperti ini. Mulai yang dinilai kontroversial oleh segelintir golongan di Indonesia seperti Miss Universe karena memakai bikini, Putri Indonesia, Putri Kampus, Abang dan None Jakarta, dan lain sebagainya adalah simbol-simbol kesuksesan yang telah menjadi bagian dari gaya hidup.

Karena merupakan bagian dari gaya hidup maka jelas acara –acara seperti ini pun tidak lepas dari dukungan para sponsor yang menawarkan banyak produk-produk yang mensimbolisasikan penggunanya seakan-akan dapat tampil seperti tokoh idola. Kehidupan kota besar seperti Jakarta memacu masyarakatnya untuk mengejar simbol-simbol (termasuk mode fashion) gaya hidup materialistik dengan mengkonsumsi merek-merek produk terkenal yang sering diiklankan (termasuk yang sering mensponsori acara-acara di atas) dan menjadi ikon gaya hidup metropolis. Dorongan untuk mengejar gaya hidup ini tanpa disadari membentuk sikap mental masyarakat dalam menjalani kehidupannya saat ini.

Rutinitas pekerjaan yang menyibukkan diri kita dan perubahan dalam masyarakat yang cepat seringkali membuat kita menjadi tidak sempat merefleksikan pola-pola kehidupan kita saat ini yang membentuk interaksi antarindividu semakin anonim. Kehidupan yang dimediasi oleh sains dan teknologi, komoditas dan fenomena-fenomena sosial lainnya muncul sebagai sebuah keterasingan bagi kita. Sosiolog dan filsuf yang tertarik dalam pembahasan tentang budaya kehidupan dan gaya hidup modern seperti ini adalah Georg Simmel.
Karya Georg Simmel lebih menekankan tingkat kenyataan sosial yang bersifat interpersonal yaitu antara realisme dan nominalisme. Simmel menjembatani posisi Emile Durkheim dan Max Weber. Simmel melihat masyarakat lebih daripada sekedar suatu kumpulan individu serta pola perilakunya, namun masyarakat juga tidak terlepas dari individu yang membentuknya. Sebaliknya masyarakat membentuk pola-pola interaksi timbal balik antarindividu.

Riwayat Hidup Singkat Georg Simmel
Georg Simmel lahir tanggal 1 Maret tahun 1858 di pusat kota Berlin dari keluarga keturunan Yahudi. Ayahnya yang seorang pengusaha kaya meninggal ketika ia masih kecil dan ayahnya berpindah dari agama Yahudi ke Katolik. Ibunya adalah seorang Kristen Protestan Lutheran dan semua anaknya dibaptis sebagai Protestan. Pemikiran Simmel menangkap tegangan berbagai aliran dan kecenderungan moral serta intelektual zamannya. Ia merasakan tegangan sebagai orang kota besar karena tinggal di Berlin yang saat itu berkembang pesat sebagai kota metropolitan. Ia berada dipersilangan sosiologi dan filsafat. Pemikirannya patut disejajarkan dengan Max Weber dan Emile Durkheim. Ia adalah seorang pemikir modern yang fokus pada gaya hidup metropolitan.
Sebagai seorang Yahudi yang masuk gereja protestan maka ia ditolak oleh kaumnya dan juga dicurigai di kalangan Protestan. Selain itu walaupun ia berasal dari keluarga kaya yang dapat mempertahankan hidup borjuisnya, ia sendiri tidak berhasil mendapatkan uang dari kariernya. Ia mendapatkan gelar doktoralnya dari Universitas Berlin tahun 1881 dan mulai mengajar di sana tahun 1885. Kuliah-kuliahnya begitu berhasil karena ia seorang guru yang cemerlang, peka dan sangat mendalam pengetahuannya mengenai banyak macam hal. Walaupun demikian, pada saat itu sedang marak gerakan antisemintik di Jerman dan karena ia orang Yahudi maka ia didiskriminasi dan hanya diangkat menjadi dosen-privat, yaitu dosen yang tidak dibayar yang gajinya berdasarkan pembayaran mahasiswanya. Kemudian ia menerima gelar kehormatan sebagai “Profesor Luar Biasa” tanpa kompensasi uang. Ia menerima posisi sebagai profesor penuh pada usia 56 tahun dari Universitas Strasbourg namun malang nasibnya karena karier akademiknya terhenti akibat pecah perang.
Posisi marginal yang dialaminya ini bagaimanapun juga mempengaruhi pandangannya. Ia sendiri memperbesar marginalitasnya dengan menolak menyesuaikan diri dengan suatu spesialisasi yang sudah diakui dalam dunia akademis. Minatnya yang luas tersebar mulai dari epistemologi Kant sampai ke psikologi, filsafat dan sosiologi mengenai makanan serta mode fashion. Dalam proses mengikuti dorongan hatinya ini, ia mengembangkan sejumlah sketsa yang analitis dan brilian, namun hasil keseluruhannya bersifat fragmen-fragmen saja. (Johnson, 1981)
Karya-karya Simmel yang terkenal, yang menangkap detail perasaan-perasaan hidup orang kota besar diantaranya: Philosophie des Geldes (Filsafat Uang, 1900), The Metropolis and Mental Life (1903), Philosophy of Fashion (1905).

Masyarakat Sebagai Interaksi Timbal-balik
Sebelum membahas lebih jauh tentang pandangan-pandangan Simmel yang terkenal maka kita perlu memahami pendekatan konsep munculnya masyarakat menurut Simmel. Pendekatan Simmel meliputi pengidentifikasian dan penganalisaan pola-pola sosialisasi yang berulang. Kata “sosialisasi” di sini adalah terjemahan kata Jerman Vergesellschaftung, yang secara harafiah berarti “proses di mana masyarakat itu terjadi”. Sosialisasi meliputi interaksi timbal-balik. Melalui proses ini, individu saling berhubungan dan saling mempengaruhi, dengan demikian muncullah masyarakat. (Johnson, 1981)

Proses interaksi timbal-balik ini mengusahakan keseimbangan antara pandangan nominalis dan pandangan realis. Menurut Simmel, sebagai suatu disiplin ilmiah, sosiologi harus memiliki identifikasi dan analisa mengenai berbagai pola yang berulang dalam interaksi timbal-balik ini sehingga muncullah masyarakat. Sebagai contoh, sekumpulan individu yang sedang menunggu di stasiun kereta dan saling berdiam diri satu sama lain bukanlah sebuah masyarakat. Ketika misalnya ada pengumuman bahwa kereta terlambat datang karena ada kecelakaan seperti ada gerbong yang tergelincir dari rel-nya maka antar individu tersebut mulai terjadi interaksi dengan saling terlibat dalam pembicaraan, maka di sana muncullah masyarakat.(Johnson, 1981)
Proses sosialisasi dalam masyarakat ini juga bermacam-macam, mulai dari pertemuan sepintas lalu antara orang-orang yang tidak saling mengenal di tempat umum sampai ke ikatan persahabatan yang lama dan intim atau hubungan keluarga. Tanpa memandang tingkat variasinya, proses sosialisasi ini mengubah suatu kumpulan individu menjadi suatu masyarakat. Kesimpulannya, masyarakat ada apabila sejumlah individu terjalin melalui interaksi dan saling mempengaruhi. (Johnson, 1981)

Uang dan Hubungan Sosial
Menurut Georg Simmel, keterasingan dalam kehidupan modern saat ini disebabkan oleh fenomena uang dan fashion. Apa yang mendasari semua ini? Tentunya adalah manusia. Uang dan fashion dihasilkan oleh manusia. Pada hakikatnya, manusia menurut Simmel adalah makhluk yang dinamis yang terus berubah sesuai dengan kondisi ruang dan waktu atau boleh disebut sesuai dengan zamannya. Jadi manusia itu tidak memiliki hakikat yang permanen seperti pandangan para filsuf kuno. Manusia yang muncul di zaman modern ini disebut manusia kota atau manusia urban. Manusia urban adalah manusia yang diaktualkan “kodrat”-nya sesuai dengan tegangan hidup dalam kota. (Hardiman, 2016)
Untuk lebih jelas melihat fenomena kota besar ini maka baiknya kita menelaah tulisannya The Metropolis and Mental Life bahwa di kota besar kita akan secara ajeg dihujani informasi sehingga ada “intensifikasi stimulasi sel syaraf”. Semua hal adalah baru, cepat, dan tidak kekal, warga kota dikelilingi oleh orang-orang asing dan iklan-iklan, tanda jalan dan pesan-pesan lainnya. Semua aspek kehidupan urban yang bervariasi ini mengancam panca indera kita terhadap diri sendiri dan kemampuan kita menjadi subjek yang memiliki otonomi di lingkungan kota metropolitan. Pada akhirnya, untuk menyesuaikan diri dengan situasi ini, kita harus menutup beberapa respon emosi kita dan mengembangkan sikap yang disebut oleh Simmel adalah sikap blasé. Sikap blasé ini adalah sikap tidak peduli perbedaan individual, anonim dan berjarak. (Smith dan Riley, 2009)
Fungsi, rasionalitas dan impersonalitas dalam hubungan sosial modern disimbolkan dan dipermudah dengan uang. Simmel mengembangkan pemikirannya ini dalam esainya yang berjudul The Philosophy of Money. Sebagai suatu ukuran nilai yang objektif, uang memungkinkan produk-produk atau jasa-jasa yang benar-benar tidak serupa itu dibandingkan satu sama lain untuk menentukan nilai relatifnya dalam transaksi pertukaran. (Johnson, 1981)

Dengan adanya uang maka bentuk perdagangan barter ditiadakan. Uang menjadi pihak ketiga yang membuat penjual dan pembeli bisa tidak bertemu untuk saling menukarkan barangnya melainkan diperantarai uang tersebut. Jika dulu ada proses sentuhan kepribadian antara individu penjual dan pembeli ketika hendak melakukan barter maka kini tidak ada lagi.
Dengan kejadian ini, uang membuat segala sesuatu yang dihargai menurut nilainya menjadi sama. Terjadi anonimisasi atau depersonalisasi. Uang menyingkirkan salah satu aspek manusia sebagai makhluk pembeda. Kalau makhluk pembeda cenderung disamakan sekaligus dibedakan, uang membuatnya hanya disamakan. Semua hal, termasuk orang, adalah sama di hadapan uang, yaitu dapat dijual atau dibeli. (Hardiman, 2016)

Karena uang adalah suatu ukuran nilai yang objektif maka penggunaannya meningkatkan rasionalitas dalam transaksi antar pribadi. Tidak ada lagi hak dan kewajiban timbal-balik dalam interaksi sosial tradisional, bahkan individu pun sebagai pribadi dinilai dengan uang. Manusia tidak lagi dipandang sebagai individu manusia seutuhnya melainkan sebagai “berapa banyak uangnya”. Di pasar, seorang penjual tidak mengetahui siapa pembelinya kecuali jika pembeli itu memiliki uang yang cukup. Perkembangan moneter dapat menghambat perkembangan hubungan pribadi bahkan pada saat mereka sedang memperluas ruang lingkup hubungan tersebut. Bahkan dalam ekonomi pasar uang, uang itu sendiri diperdagangkan sebagai komoditi yang mempunyai “nilai” tersendiri.
Uang yang awalnya hanya alat tukar akhirnya dijadikan tujuan akhir dan memiliki otonominya di hadapan pemiliknya. Uang dapat mempertinggi kebebasan individu. Dalam suatu masyarakat yang didominasi oleh perhitungan moneter maka ada kecenderungan bahwa setiap produk, jasa yang dapat diterima, atau pengalaman pribadi ditawarkan untuk dijual. Orang yang banyak uang dapat mengambil keuntungan dari kecenderungan ini dan dapat memperluas jangkauan pengalamannya dengan cara apa saja yang mereka mau. Gaya hidup individu tidak lagi banyak ditentukan oleh kebiasaan dan tradisi melainkan ditentukan oleh sumber-sumber keuangan yang mereka miliki untuk membeli perlengkapan yang diperlukan untuk gaya hidup yang mereka ingini. Dengan demikian, seakan-akan kebahagiaan hidup terkait dengan kepemilikan uang. Uang lalu dijadikan “Allah” zaman modern. Kepemilikan uang menimbulkan “rasa damai dan aman”, seperti “perasaan yang ditemukan orang saleh di dalam Tuhannya”. Dan perasaan seperti itu tidak ditimbulkan oleh jenis-jenis kepemilikan lainnya. (Johnson, 1981; Hardiman, 2016)

Uang dapat mengubah karakter pemiliknya menjadi mirip dengan karakter uang itu sendiri, yaitu memiliki sikap berjarak, anonim, atau tidak peduli perbedaan individual. Karena uang adalah cakupan umum segala nilai dan interseksi umum atas rentetan tujuan-tujuan maka sikap-sikap pemilik uang akan dibentuk oleh uang yang dimilikinya. Menurut Simmel, sikap blasé manusia urban adalah produk uang.(Hardiman, 2016)
Pemilik uang membentuk sikap blasé pemiliknya dan sebaliknya juga terjadi. Sikap blasé memungkinkan manusia urban bertransaksi dengan uang, dengan cara yang anonim. Fenomena ini pun banyak terlihat dan cenderung meningkat pada pola perilaku masyarakat Jakarta dewasa ini.

Kesimpulan dan Kritik
Pandangan Simmel tentang uang dan masyarakat kota metropolitan ini menginspirasi pemikiran Max Weber dalam Etika Protestannya. Georg Lukacs pun menggunakan analisis tentang uang ini dalam menginterpretasikan fetisisme komoditasnya Karl Marx. Kecenderungan kehidupan mental masyarakat Jakarta dalam budaya uang bahkan sampai pada generasi mudanya pun saat ini menjurus pada praktek sikap blasé sampai pola interaksi seperti yang diungkapkan dalam pemikiran Simmel ini. Analisanya tentang budaya uang dan kehidupan metropolis ini sangat mengena pada masyarakat di kota-kota besar di Indonesia saat ini. Uraiannya yang analitis seperti peran uang saat ini dan fenomena men-“Tuhan”-kan uang memang terjadi baik dalam simbol mode fashion maupun komoditas uang itu sendiri dalam ekonomi moneter dan pasar uang.

Walaupun demikian, Simmel seakan-akan tidak melihat adanya pengecualian-pengecualian dalam bentuk pola kolektivitas masyarakat yang mencakup banyak variasi individu dan struktur kelas sosial di masyarakat. Oleh karena itu bisa saja kita mengatakan bahwa pemikirannya ini hanya refleksi superfisial atas kelas menegah Jerman di jamannya.

Rentang minat pemikiran Simmel yang luas dan terfragmentasi secara metodologis kurang sistematik dibandingkan Marx, Durkheim atau Weber. Hal ini membuat pemikirannya dianggap kurang fokus oleh banyak kritikus. Marxisme mengkritik Simmel bahwa ia tidak memperlihatkan jalan keluar terhadap tragedi budaya ini.

Selasa, 29 Desember 2015

LOGOTERAPI Sebagai Psikoterapi Mencari Makna Hidup dan Kehidupan yang Lebih Bermakna


Sejak dahulu, terutama para filsuf eksistensial mempertanyakan pilihan-pilihan bebas setiap manusia tentang apakah yang menjadi tujuan hidup manusia tersebut. Apakah kebahagiaan? Kebahagiaan yang seperti apa? Apakah aktualisasi diri? Aktualisasi diri yang bagaimana? Banyak penelitian empirik yang menyatakan bahwa banyak juga orang yang peduli akan penemuan makna hidup sebagai tujuan hidupnya. (Sastrapratedja, 2015)
Banyak orang yang percaya bahwa hidup yang bermakna adalah kualitas kehidupan yang didambakan setiap manusia. Logoterapi yang juga suka disebut sebagai logofilosofi adalah pendekatan terapeutik-filosofis yang bertujuan membantu seseorang untuk menemukan tujuan dan orientasi hidup mereka dengan penuh makna sehingga dapat mengatasi perasaan hampa dalam ketakbermaknaan hidup dan bahkan rasa keputusasaan.

Latar Belakang

Kondisi masyarakat Indonesia saat ini banyak diliputi oleh rasa frustasi, baik di kalangan eksekutif, profesional, karyawan biasa sampai para pengangguran dan pensiunan. Hal ini disebut sebagai frustasi eksistensial. Bagi para karyawan, eksekutif dan profesional, mereka mencurahkan hampir seluruh perhatian dan waktunya untuk pekerjaan mereka. Mereka sangat sibuk dengan tekanan tanggung jawab pekerjaan, tuntutan target pekerjaan sekaligus tuntutan memenuhi nafkah hidup bagi diri dan keluarganya tetapi melupakan “kehidupan” dirinya sendiri. Kemakmuran materi seringkali dijadikan tujuan terakhir atau bahkan tujuan utama satu-satunya pada dirinya sendiri. Banyak orang menaruh perhatian semata-mata pada uang dan dengan uang mereka merasa berkuasa. Bagi para pengangguran dan pensiunan, banyak dari mereka mengalami krisis spiritual dan kecemasan (neurosis). Kebanyakan dari mereka tidak tampak depresi tetapi apatis, acuh tak acuh dan kehilangan inisiatif.

Baik kaum eksekutif yang mengalami frustasi eksistensial maupun kaum pengangguran dan pensiunan yang mengalami kecemasan ini sama-sama mengalami kekosongan batin, kehampaan hidup, merasa hidupnya tidak bermakna. Kondisi ketidakbermaknaan ini sebenarnya juga dapat dialami dan bahkan sering dijumpai dalam krisis perubahan tahapan kehidupan lainnya selain memasuki masa pensiun, seperti misalnya saat menginjak remaja, saat memasuki masa berkeluarga atau ketika mengalami krisis-krisis kehidupan lainnya. Hal ini dapat menjurus pada perilaku destruktif seperti kecanduan narkoba, gila seks, fobia, gangguan panik dan gangguan psikiatrik lainnya.
Salah satu teknik psikoterapi yang didasari oleh pandangan filsafat yang kental dan dapat membantu orang-orang dalam ketidakbermaknaan yang mendalam tersebut adalah Logoterapi. Logoterapi dikembangkan oleh Victor Emile Frankl, seorang psikiater dari Wina, Austria. Istilah logoterapi ini sendiri berasal dari dua kata yaitu “logos” dan “terapi, yakni suatu terapi yang menembus dimensi spiritual dari eksistensi manusia. Kata “logos” dalam bahasa Yunani berarti makna, maksudnya makna menjadi manusia. Seseorang diarahkan pada sesuatu dan bukan pada dirinya sendiri. Dalam hal ini logoterapi merupakan suatu terapi yang diarahkan pada makna, yakni makna dalam dan untuk eksistensi manusia. Karena itu manusia harus menerima tanggungjawab dan menemukan nilai-nilai bagi kehidupannya.

“Hidup adalah tugas. Orang yang religius dibedakan dengan yang tidak religius hanya dengan pengalaman eksistensinya yang tidak sesederhana sebuah tugas, tetapi sebagai sebuah misi. Hal ini berarti dia juga menyadari siapa pemberi tugas tersebut, sumber dari misi hidupnya. Untuk beribu-ribu tahun sumber tersebut dinamakan Tuhan.” (Frankl. The Doctor and the Soul, 1986. Hal. xxi)

Logoterapi dikenal sebagai aliran psikoterapi Wina ketiga. Pada masa itu, ada dua aliran psikoterapi yang terkenal yaitu aliran Freud dengan psikoanalisisnya dan aliran Adler dengan psikologi individualnya. Bagi Frankl, pandangan Freud terlalu menekankan naturalisme dengan pengungkapan seksualitas manusia dan di lain pihak, psikologi individual Adler yang sangat menekankan tanggung jawab pribadi terlalu subjektif terhadap nilai-nilai dan melihat individu sebagai fungsi penentu masyarakatnya. Frankl juga menolak pandangan Adler yang hanya menekankan nilai biologis dan sosial terutama kehendak akan kekuasaan sebagai tujuan hidup konkrit manusia. Menurut kritik Frankl dalam bukunya The Doctor and the Soul, baik Freud maupun Adler terlalu menyederhanakan manusia dan akhirnya jatuh pada nihilisme dan mengabaikan dimensi spiritualitas.
Tahap selanjutnya, Frankl mulai tertarik kepada fenomenologi Edmund Husserl karena Husserl mulai merintis pendekatan “reduksi”-nya yang menekankan pada pengalaman langsung apa adanya tanpa disertai praduga pada teori yang dianut pengamatnya. Walaupun demikian, Frankl lebih tertarik pada fenomenologi Max Scheler karena menyajikan makna dan tingkatan nilai-nilai. Makna dan nilai-nilai ini dijadikan landasan filosofis logoterapinya.

Frankl juga tertarik pada eksistensialis seperti Karl Jaspers, Martin Heidegger dan Gabriel Marcel. Eksistensialisme menyajikan konsep tentang kebebasan manusia, yakni kebebasan dalam berkehendak dan dalam memilih serta mengambil sikap. Pandangan ini bersumber pada keyakinan bahwa manusia mampu melampaui, mengubah, dan menjadikan dirinya sesuai yang diinginkan oleh manusia itu sendiri. Di atas semua landasan pemikiran filsuf-filsuf tersebut Frankl membuat logoterapi sebagai “Aliran Psikoterapi Wina Ketiga”. (Semiun, Y. 2006)

Filsafat Manusia Frankl

Pada dasarnya setiap manusia dalam kehidupannya selalu ingin mendapatkan makna. Tanpa mengetahui makna kehidupan, manusia tak mengetahui tujuan hidupnya. Celakalah orang yang tidak lagi melihat makna dalam kehidupannya karena ia akan mengalami frustasi dan perasaan hampa. Frankl melihat dorongan terkuat manusia adalah dalam hal “kehendak akan makna”. Oleh karena itu Frankl memasukkan dalam psikoterapinya dimensi spiritual manusia, yang termanifestasi dalam suara hati (Sastrapratedja. 2015). Kebutuhan akan makna ini lebih kuat daripada sekedar kebutuhan akan kenikmatan (Freud) dan kekuasaan (Adler). Menurut Frankl, ketidakbermaknaan dalam kehidupan zaman sekarang merupakan suatu neurosis dan dia menyebutnya “neurosis noogenik” . Fenomena orang modern banyak yang menderita kebosanan dan tidak peduli terhadap neurosis noogenik ini karena dua alasan. Pertama, ketika manusia berkembang dari binatang yang lebih rendah, manusia kehilangan insting dan dorongan alamiah yang menghubungkan mereka dengan alam. Hal ini menyebabkan tingkah laku kita tidak “dibimbing” oleh alam sehingga kita harus aktif memilih apa yang yang harus kita lakukan. Untuk dapat memilih yang benar seharusnya manusia belajar lebih dahulu sehingga memiliki kemampuan untuk memilih. Kehidupan modern saat ini banyak dimanipulasi oleh kampanye iklan-iklan dan pandangan-pandangan semu yang berwujud dalam ilusi. Manusia hendaknya memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang ilusi dan mana yang realita sesungguhnya sehingga tidak kehilangan makna. Kedua, seperti yang telah diungkapkan pada yang pertama, dalam masyarakat kita kini terdapat banyak adat kebiasaan, tradisi-tradisi dan nilai-nilai yang menentukan tingkah laku kita (kendali dari luar diri kita). Kekuatan agama terancam oleh nilai-nilai dan tradisi baru dalam masyarakat modern ini, oleh karena itu saat ini manusia diharapkan dapat bersandar pada diri sendiri dan membuat keputusan bagi dirinya sendiri disertai tanggung jawab terhadap keputusan-keputusan tersebut. (Semiun, 2006)
Menurut Frankl, manusia adalah kesatuan fisiko(bio)-psiko-spiritual. Logoterapi atau logofilosofi menekankan pada dimensi spiritual yang diungkapkan secara fenomenologis dalam bentuk kesadaran diri manusia yang segera.

Kebebasan manusia ditandai oleh kebebasannya terhadap kondisi-kondisinya, ia melampaui kondisi yang diwariskan atau lingkungannya. Manusia dapat menerima atau menolak bahkan membentuk/ memodifikasi kondisi-kondisi yang mencakup faktor biologis, psikologis dan sosiologisnya. Ia secara bertanggunjawab terhadap dirinya bebas mengalahkan atau menyerahkan diri pada kondisi-kondisinya. Kebebasan manusia ini bukan hanya kebebasan “dari” tetapi juga “untuk”.
Kebebasan “untuk” ini bertanggung jawab untuk diri manusia sendiri, suara hatinya dan Allah. Karena seperti yang pertama-tama diuraikan bahwa manusia sebenarnya dalam hidup selalu ingin mendapatkan makna maka ia memiliki kebebasan “untuk” mencari dan menemukan makna tersebut. Makna bukan diciptakan melainkan ditemukan. (Sastrapratedja. 2015) Kehidupan setiap manusia adalah unik. Kehidupan setiap manusia khusus dan tertentu untuk setiap keadaan waktu tertentu. Untuk itu perlu menemukan makna hidup yang spesifik dalam keadaan waktu tersebut selain “makna hidup secara umum”. Seperti yang dikatakan Frankl sendiri, setiap orang bukan hanya memiliki “tugas” melainkan memiliki “misi” kehidupan yang didapat dari Allah.

Landasan Filsafat Logoterapi

Landasan filsafat dari logoterapi adalah kebebasan berkehendak, hasrat untuk hidup bermakna dan makna hidup. (Frankl. Psychotherapy and Existentialism. 1967)
Kebebasan Berkehendak, maksudnya bukan kebebasan berkehendak semaunya sendiri tanpa batas. Frankl mengatakan bahwa manusia tidak bebas dari kondisi-kondisi seperti yang secara alamiah seorang manusia sudah ditentukan kondisi biologis atau psikologis atau sosiologisnya. Walaupun demikian, selalu ada yang tersisa yaitu setiap manusia bebas untuk mengambil jarak dengan kondisinya; Dia bebas mempertahankan kebebasannya untuk memilih sikap terhadap kondisi-kondisi tersebut. Manusia bebas melampaui determinasi eksistensi badaniah dan jiwanya. Melalui kebebasan ini, manusia memiliki dimensi spiritual selain dimensi fisik/badaniah dan fenomena kejiwaannya semata. Manusia menjadi mampu mengambil jarak tidak hanya dengan dunianya melainkan juga dengan dirinya sendiri (self detachment). Mengambil jarak di sini bisa berarti meninggalkan dimensi biologis dan psikologis lalu masuk ke dalam dimensi noologis atau spiritual. Manusia mampu berefleksi terhadap sesuatu, dan bahkan menolak, dalam dirinya sendiri. Manusia bisa menjadi hakim untuk dirinya sendiri. Kemampuan dan kebebasan untuk mengubah kondisi hidupnya ini bertujuan untuk mencapai kehidupan yang lebih berkualitas. Sebagai konsekuensi atas kebebasan ini, manusia juga harus menyadari bahwa terdapat tanggung jawab sebagai akibatnya.

Kesanggupan manusia untuk mengambil jarak terhadap diri sendiri dan mengambil sikap terhadap situasi yang dihadapi digunakan Frankl untuk tujuan terapeutik sebagai dua teknik dalam logoterapi, yaitu intensi paradoksikal dan derefleksi, serta pendekatan “bimbingan rohani” (spiritual ministry).

Konsep kebebasan berkehendak ini otomatis menentang pandangan filsuf deterministik yang berpendapat sesungguhnya manusia tidak bebas karena manusia adalah makhluk yang tidak berdaya akibat terbatas oleh faktor biologis, psikologis dan sosiologis.
Hasrat (Kehendak) untuk Hidup Bermakna. Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa setiap manusia dalam kehidupannya selalu ingin mendapatkan makna. Tanpa mengetahui makna kehidupan, manusia tak mengetahui tujuan hidupnya dan tanpa menemukan makna serta tujuan hidupnya maka manusia akan jatuh pada perasaan tidak berharga dan tidak berarti. Setiap manusia ingin “menjadi seseorang” dengan kehidupannya yang sarat dengan kegiatan-kegiatan yang bermakna. Keinginan untuk hidup bermakna ini betul-betul merupakan motivasi utama setiap manusia.(Bastaman, 2007) Hasrat inilah yang mendorong setiap manusia untuk melakukan berbagai kegiatan atau “berkarya” agar hidupnya dirasakan berharga dan berarti, bukan hanya sekedar mencari nafkah.
Dengan konsep ini, Frankl mengkritik “prinsip kesenangan” Freud. Menurut Frankl, kesenangan sebenarnya hanya hasil atau efek samping dari pemenuhan dorongan atau pencapaian tujuan kita yang akan merusak apabil dijadikan tujuan akhir. Semakin seseorang mengarahkan dirinya secara langsung pada kesenangan maka ia akan semakin kehilangan sasaran tujuannya. Frankl juga sekaligus mengkritik “prinsip kenyataan” dalam psikoanalisis karena menurutnya “prinsip kenyataan” ini hanyalah perluasan dari “prinsip kesenangan” dan berlaku hanya sebagai pengarah bagi pemenuhan keinginan akan kesenangan. (Semiun, 2006)

Kritiknya pada Adler tentang “prinsip keinginan akan kekuasaan” adalah bahwa “kekuasaan” hanya alat untuk mencapai tujuan. Jadi “kekuasaan” tidak bisa dijadikan tujuan akhir. Kesenangan adalah akibat pemenuhan makna sedangkan kekuasaan adalah prasyarat untuk pemenuhan makna.
Kritiknya pada psikologi Jung adalah tentang motivasi manusia. Menurut Jung, motivasi manusia dilihat selaras dengan pandangan psikoanalisis. Dalam psikoanalisis manusia dilihat sebagai makhluk yang selalu didorong oleh tegangan yang memuncak setiap kali dorongan atau naluri menuntut pemuasan, sedangkan dalam psikologi Jung, manusia dilihat sebagai makhluk yang tidak berdaya karena selalu terjadi tegangan setiap kali arketipe-arketipe menuntut pemuasan. Oleh karena itu, pandangan Jung ini menurut Frankl merendahkan realitas dunia tempat keberadaan dan makna menjadi hanya alat yang dapat digunakan individu untuk membebaskan diri dari stimulus-stimulus yang mengganggu keseimbangan (homeostasis) sebagai akibat dari memuncaknya tegangan. Menurut Frankl apa yang diinginkan manusia bukanlah reduksi tegangan melainkan perjuangan menemukan makna. Itulah sebabnya mengapa Frankl menggunakan istilah hasrat/kehendak menemukan makna dan bukan kebutuhan untuk menemukan makna. Istilah kebutuhan akan makna berarti manusia melakukan pemenuhan makna hanya untuk mereduksi tegangan dalam usaha memulihkan keseimbangan dalam dirinya sehingga ia tidak sepenuhnya berurusan dengan makna, melainkan hanya dengan keseimbangan dirinya sendiri.

Kritiknya terhadap Maslow adalah bahwa menurutnya tujuan akhir manusia bukanlah aktualisasi diri. Aktualisasi diri hanya efek samping dan konsep ini tidak jauh berbeda dengan konsep kesenangan dan kekuasaan. Dalam pandangan Frankl, orang mengaktualisasikan diri sejauh ia melakukan pemenuhan makna. Sedangkan menurut Sasrapratedja, maksud Frankl mengenai eksistensi manusia ini secara esensial lebih merupakan transendensi diri daripada aktualisasi diri. Karena aktualisasi diri tidak dapat tercapai kalau dijadikan tujuan akhir pada dirinya sendiri maka aktualisasi diri juga dapat dilihat sebagai efek samping dari transendensi diri.
Dalam kebebasan menemukan makna dan mendapatkan kedewasaan hidup, kematangan serta kesehatan psikologis maka setiap manusia membutuhkan tegangan berupa konfrontasi makna. Pencapaian pada penemuan makna ini bukan dengan pendamaian batin yang hanya akan memperburuk kondisi manusia dalam suatu kestabilan keseimbangan. Dengan konfrontasi makna kita akan membawa manusia mencapai dirinya untuk “menjadi sesuatu” atau dengan kata lain mencapai eksistensinya dalam kehendak bebasnya yang bertanggung jawab. Seperti dikatakan Frankl,”manusia bertanggung jawab untuk memenuhi makna spesifik dalam hidup personalnya.”(Frankl, 1967)

Makna Hidup. Menurut Frankl, kita harus memberikan respon untuk menemukan makna hidup karena kita bertanggung jawab terhadap hidup. Respon tersebut dinyatakan dalam bentuk perbuatan dan tindakan.
Makna hidup ini bersifat objektif sekaligus mutlak. Makna yang bersifat objektif ini maksudnya berlawanan dengan subjektif. Sesuatu yang subjektif hanya dilihat semata-mata sebagai ungkapan keberadaan atau merupakan proyeksi dari naluri-naluri. Jika makna bersifat objektif maka makna tersebut menuntut manusia untuk mencapainya. Makna memang bisa bersifat subjektif sejauh sifat subjektif itu diartikan sebagai mengikuti keunikan setiap individu. Demikian juga subjektif terhadap kejadian-kejadian spesifik dalam kehidupan. Tugas-tugas kehidupan setiap individu adalah suatu kenyataan yang berbeda satu sama lain, demikian juga makna kehidupan setiap individu berbeda satu sama lain. Tugas yang kita lakukan bagi diri kita masing-masing menentukan nasib kita dan realita kita per individu dan tidak dapat dibandingkan dengan tugas apalagi nasib individu lain. Kita tidak dapat bertemu dua kali pada situasi yang sama dan dengan cara yang sama karena pengaruh pengalaman-pengalaman baru yang terjadi di setiap situasi.

Makna hidup bersifat mutlak maksudnya bukan sebuah makna yang bersifat abadi melainkan makna yang memiliki konteks pada situasi atau waktu tertentu. Karena masing-masing individu adalah unik maka masing-masing individu harus dapat menemukan makna hidupnya sendiri dengan memberikan respon-respon yang eksklusif bagi pengalaman hidupnya sampai bertemu dengan makna hidup tersebut. Ketika kita berhadapan dengan situasi berbeda maka kita mungkin harus menemukan makna yang berbeda bagi konteks kehidupan kita tersebut dan hal ini dicontohkan Frankl ketika situasi hidupnya berubah dari seorang dokter yang mapan menjadi tawanan di kamp konsentrasi.
Makna hidup itu melampaui intelektualitas manusia jadi makna tidak akan mungkin dicapai hanya dengan proses akal atau pemikiran belaka. Untuk mencapai penemuan makna itu maka seorang individu harus menunjukkan komitmen yang keluar dari kepribadiannya dalam bentuk menjalani tindakan nyata pada seluruh konteks dunia kehidupannya. Melalui komitmen, tindakannya berkarya dalam konteks kehidupan tersebut maka seseorang menjawab tantangan-tantangan yang datang dalam hidupnya.
Makna dapat dicapai melalui bermacam-macam nilai kehidupan. Setidaknya ada tiga nilai penting dalam menemukan makna hidup yang diungkapkan Frankl. Ketiga nilai itu adalah nilai kreatif, nilai pengalaman (experiential values), nilai yang berkaitan dengan sikap (attitudinal values).

Nilai kreatif diwujudkan dalam aktivitas yang kreatif dan produktif dan biasanya berhubungan dengan pekerjaan. Makna diberikan melalui tindakan yang menciptakan suatu hasil yang kelihatan atau suatu ide yang tidak kelihatan atau dengan melayani orang lain.
Pekerjaan hanyalah sarana yang memberikan kesempatan untuk menemukan dan mengembangkan makna hidup, makna hidup tidak terletak pada pekerjaan, tetapi lebih bergantung pada pribadi yang bersangkutan. Dalam hal ini sikap positif dan mencintai pekerjaan serta bagaimana cara bekerja seseorang yang mencerminkan keterlibatan pribadi pada pekerjaannya adalah hal yang penting. Kerja biasanya menggambarkan situasi di mana individu tampil dalam hubungannya dengan masyarakat, dan di sana individu dapat menemukan makna. Makna ini terpisah dari individu. Pekerjaan tertentu tidak pasti memberikan makna pada individu melainkan individu yang harus dapat menemukan makna dalam pekerjaannya karena pekerjaannya tersebut dapat digunakan oleh individu itu sebagai sarana untuk mencapai pemenuhan diri dan penemuan makna. Suatu pekerjaan baru memiliki makna kalau pekerjaan tersebut merupakan usaha untuk memberikan sesuatu (berkontribusi) pada kehidupan (diri sendiri dan sesama) yang didekati secara kreatif dan dijalankan sebagai tindakan komitmen pribadi yang berakar pada seluruh eksistensinya.

Nilai pengalaman adalah kebalikan dari nilai kreatif, yakni menyangkut penerimaan kita dari dunia. Nilai pengalaman ini disebut juga nilai penghayatan (Bastaman, 2007) karena menghayati nilai-nilai kebenaran, kebajikan, keindahan, keimanan, serta cinta kasih. Menghayati suatu nilai dapat menjadikan seseorang merasakan hidupnya berarti. Hal seperti ini tampak misalnya pada orang-orang yang membaktikan seluruh hidupnya untuk sebuah karya seni sebagai seniman, Bunda Theresa misalnya yang membaktikan seluruh hidupnya dalam penghayatan membantu sesama yang tersisihkan. Saling mencintai juga menjadikan seseorang menghayati pengalaman berarti dalam hidupnya. Menurut Frankl, menemui sesama (termasuk menemui sesama sebagaimana Bunda Theresa merawat orang sakit dengan penuh cinta kasih) dengan segala keunikan berarti mencintainya. Dalam nilai pengalaman ini Frankl lebih banyak mengutarakan tentang cinta dan estetika sebagai keadaan yang dapat dihayati bermakna. Cinta adalah anugerah dan sekaligus perluasan batin. Dengan menyerahkan diri pada orang yang dicintai, seseorang akan memperkaya batin. Pemerkayaan batin adalah salah satu unsur yang membentuk makna hidup. Jadi proses “menemui” sesama adalah sangat penting dalam penghayatan nilai pengalaman ini pada proses menemukan makna.
Frankl juga mengungkapkan segi lain dari makna kehidupan yakni makna dapat ada pada saat-saat tertentu saja. Dengan kata lain kita tidak dapat menemukan makna dalam semua situasi kehidupan. Frankl menulis, sama seperti tingginya deretan pegunungan tidak dilukiskan dengan permukaan lembah-lembahnya, melainkan oleh puncaknya yang tertinggi, demikian juga kita melukiskan kepenuhan makna suatu kehidupan oleh puncaknya bukan lembah-lembahnya. Ia mengungkapkan bahwa suatu momen puncak dari nilai pengalaman dapat mengisi seluruh kehidupan individu dengan penuh makna. Faktor yang menetukan adalah intensitas yang kita alami terhadap hal-hal yang kita miliki.

Nilai bersikap. Nilai kreatif dan nilai pengalaman membicarakan tentang pengalaman-pengalaman manusia yang positif dalam suatu proses pemenuhan hidup dengan menciptakan dan mengalami sesuatu hingga menemukan makna didalamnya. Masalahnya kehidupan tidak selalu dalam konteks yang positif melainkan juga dalam penderitaan, sakit, kematian, dan hal negatif lainnya. Nilai bersikap maksudnya menerima dengan penuh ketabahan, kesabaran, dan keberanian segala bentuk penderitaan yang tidak terelakan lagi. Dalam hal ini yang diubah bukanlah keadaannya, melainkan sikap yang diambil dalam menghadapi situasi penderitaan itu. Ini berarti ketika kita menghadapi situasi yang tidak dapat diubah atau dihindari maka sikap yang tepatlah yang masih dapat dikembangkan. Sikap penerimaan dengan keikhlasan dan ketabahan dapat mengubah pandangan kita dari yang awalnya dihayati sebagai penderitaan semata-mata menjadi pandangan yang mampu melihat makna dan hikmah dari penderitaan itu. Penderitaan dapat memberikan makna dan berguna apabila kita dapat mengubah sikap terhadap penderitaan itu menjadi lebih baik. Ini berarti bahwa dalam keadaan menderita bagaimanapun arti hidup masih dapat ditemukan dengan syarat kita mampu memilih dan mengambil sikap yang tepat dalam menghadapi penderitaan tersebut.

Tanggapan dan Kritik
Pandangan Frankl tentang menemukan makna hidup sebagai tujuan akhir yang membahagiakan ini tentunya sangat bermanfaat apabila dapat diaplikasikan dalam suatu proses pembelajaran pada masyarakat modern saat ini khususnya pada masyarakat Indonesia yang boleh dikatakan telah mengalami kebingungan dan disorientasi dalam menemukan makna hidupnya. Pemikiran tentang kehendak bebas, hasrat akan makna dan makna hidup sebagai hal yang lebih mendasar daripada sekedar “kebutuhan” hidup manusia apalagi jika dibandingkan dengan “kebutuhan” yang sekedar memenuhi kenikmatan dan kekuasaan tentunya membawa kita pada suatu dimensi spiritual yang sangat cocok dengan kerangka berpikir dan wawasan serta nuansa hidup masyarakat Indonesia. Pandangannya tidak atheis walaupun ia katakan sekuler tetapi masih ada “Tuhan” sehingga masih sejalan dengan paham masyarakat Indonesia.
Pemaknaan dalam filsafat logoterapi ini rupanya agak bernuansa superficial karena tidak sampai pada penemuan makna yang “lebih abadi/ makna besar” melainkan hanya diutamakan pada konteks atau situasi tertentu saja. Metode logoterapi ini tidak begitu retrospektif dan introspektif (bdk Sastrapratedja, 2015). Logoterapi ini lebih berfokus pada pemaknaan saat kini untuk perwujudan tugas dan makna selanjutnya di masa depan. Pemahaman tentang mengenali diri sendiri sehingga mengerti betul mengapa suatu proses psikodinamika atau bahkan suatu proses psikopatologi muncul dalam diri seseorang tidak bisa didapatkan dari metode Frankl ini. Menurut penulis, mungkin kepragmatisan metode Frankl ini nampaknya mencoba menjawab kebutuhan zaman modern yang serba cepat. Ia menghindari suatu proses “perjalanan panjang” yang menghabiskan waktu lama untuk mengenali diri secara mendalam sampai dapat menemukan “makna besar” melainkan cukup “makna-makna” kecil dari setiap situasi konkrit yang dihadapi.

DAFTAR RUJUKAN

Bastaman, H.D. Logoterapi Psikologi untuk Menemukan Makna Hidup dan Meraih Hidup Bermakna. PT RajaGrafindo Persada, Jakarta. 2007.
Frankl, V.E. Psychoterapy and Existentialism. Washington Square Press, Inc., New York. 1967
Frankl, V.E. The Doctor and The Soul From Psychoterapy to Logotherapy.Vintage Books, New York. 1986
Sastrapratedja, M. Dimensi-Dimensi Pendidikan. Pusat Kajian Filsafat dan Pancasila.Jakarta, 2015.
Semiun, Y. Kesehatan mental 3. Kanisius, Yogyakarta. 2006.

Senin, 12 Oktober 2015

Prosedur Terapi Neurobiofeedback untuk ADHD

Belakangan ini marak pasien yang datang ke saya setelah gagal diterapi neurobiofeedback dari salah satu center yang menamakan dirinya pusat ADHD. Rupanya cara prosedur melatih anak yang ADHD dengan neurobiofeedback dilakukan dalam waktu singkat dan sekaligus sampai dengan 40 sesi. Hal ini hanya memberikan efek sementara karena belum sungguh-sungguh mengubah perilaku anak untuk dapat mengendalikan fokusnya dan mempertahankan fokusnya saat diperlukan.

Prinsip dasar dari terapi neurobiofeedback adalah pengkondisian perilaku jadi semacam terapi perilaku yang menggunakan dasar melatih rasio gelombang otak yang didominasi gelombang lambat menjadi lebih cepat dan dapat fokus. Selain itu juga melatih konsistensi mempertahankan fokus selama 40-50 menit dalam sekali sesi sehingga kelak kemampuan ini perlahan-lahan menjadi ketrampilan yang melekat pada diri anak dan dapat digunakan ketika ia perlu mempertahankan fokus pada saat belajar atau mengerjakan sesuatu bahkan pada hal-hal yang bukan menjadi kesenangannya (karena anak-anak ini nampaknya pada beberapa hal yang menjadi kesenangannya dapat mempertahankan fokus lebih lama daripada biasanya).

Oleh karena prinsip terapi perilaku tersebut maka prosedur terapi tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat dengan sekaligus banyak sesi melainkan harus diprogram sesuai kondisi anak (yang akan dievaluasi ulang kemampuan fokusnya secara berkala) apakah dimulai dengan seminggu sekali lalu 2 minggu sekali lalu sebulan sekali dan seterusnya sampai 40 atau bahkan 50 sesi (jumlah ini sesusai penelitian meta analisis). Kebanyakan pasien (pasien tanpa penyulit seperti misalnya tanpa keterlambatan mental, tanpa asperger, tanpa autistik ringan, tanpa gangguan mental dan perilaku, tanpa epilepsi/ gangguan organik otak lainnya) cukup dilakukan intensif 20 sesi dan selanjutnya terapi maintenance sebulan sekali. Tentunya hal seperti ini hanya dapat dievaluasi oleh dokter ahli untuk bidang mindscience seperti psikiater atau neurolog.Hati-hati jangan sampai salah memilih dokter yang bukan ahlinya dan mendalami hal-hal demikian tanpa pendidikan di bidang neuropsikiatri yang mendalam.

Selain kemampuan terapis dalam melakukan terapi ini, alat neurobiofeedback yang digunakan juga sangat berpengaruh membantu penilaian terapis untuk merencanakan terapi. Alat yang paling baik adalah yang dapat menilai artefak EMG dan EOG selain mengukur ratio gelombang otak. Pengukuran langsung dengan meletakkan elektroda di kepala bukanlah alat kuno melainkan lebih tepat mengukur gelombang otak dan artefak EMG serta EOG. Alat terapi ini menjadi standar di Eropa dan bukan alat neurofeedback yang diletakkan di lengan anak selama terapi.

Peran orang tua dalam ikut melatih anaknya di rumah ketika mengerjakan PR atau tugas sekolah juga berperan mempercepat efektifitas terapi. Kemampuan kedua orang tua bersikap tegas, menerapkan prinsip terapi perilaku dan mengajarkan anak agar tekun dalam mengerjakan tugas apa pun sangat penting membantu kemajuan anak.