Senin, 20 Oktober 2014

MENDIDIK SUARA HATI

Senin pagi 20 Oktober 2014, setiba saya di kantor setelah seminggu tidak masuk kantor karena memberi pelatihan di luar kota, saya dikejutkan dengan pengalihan rawat pasien dari teman sejawat saya. Pasien adalah seorang pasien wanita 27 tahun yang menderita gangguan bipolar mania (dulu lebih dikenal dengan istilah gangguan manik depresif) dengan kehamilan 5 minggu karena dihamili laki-laki yang tidak dikenal. Kehamilan ini adalah kehamilan tidak diinginkan yang kedua kalinya. Dari kehamilannya yang pertama, ia telah melahirkan seorang anak laki-laki yang saat ini telah berusia 4 tahunan dan karena penyakit mentalnya, ia tidak dapat mengurus puteranya tersebut. Sekilas pandang tentang gangguan bipolar mania ini, seorang penderita gangguan bipolar mania akan mengalami rasa senang yang berlebihan, meningkatnya nafsu seks, boros, mudah sekali menghambur-hamburkan uang tanpa memiliki pengendalian diri atas semua tindakannya tersebut. Kehilangan kontrol atas dorongan kehendak ini seringkali dimanfaatkan orang-orang disekitarnya baik secara ekonomi maupun seksual. Nafsu seks yang meningkat pada pasien ini sangat nyata sekali dan terus menerus merayu laki-laki disekitarnya, rupanya hal ini disalahgunakan oleh laki-laki yang ditemuinya karena pasien ini sempat menghilang dari rumah dan tidak pulang selama lebih dari seminggu. Kejadian seperti ini seringkali kami, para dokter spesialis kedokteran jiwa alias psikiater, temui menimpa pasien-pasien wanita dengan bipolar episode mania.

Sejam kemudian, kedua orang tuanya pasien ini datang menemui saya dengan satu tujuan yaitu meminta saya mengeluarkan surat rekomendasi agar pasien ini dapat digugurkan kandungannya dan kemudian dipasang alat kontrasepsi dalam rahim (IUD) supaya tidak terulang kembali kejadian seperti ini. Saya tidak langsung setuju dengan maksud dan tujuan ini sebelum mengevaluasi apakah pengobatan yang selama ini diberikan kepada pasien sudah efektif. Di lain pihak, tindakan menggugurkan kandungan bertentangan dengan suara hati saya. Pada saat ini, salah satu obat yang berfungsi untuk mengendalikan perilaku dorongan kehendak yang tidak terbendung ini mungkin mempunyai risiko efek negatif pada janin yang berusia 5 minggu tersebut. Orang tua pasien berdalih bahwa dalam agamanya menggugurkan kandungan usia 5 minggu tidak berdosa dan pasien tidak mampu mengurus anaknya sehingga akan sangat berisiko juga bagi pertumbuhan dan perkembangan sang anak. Sejauh ini, seakan-akan argumentasi kedua orang tua pasien masuk akal walaupun saya menemukan fakta bahwa ternyata orang tua pasien telah lalai untuk memastikan putrinya mendapatkan pengobatan yang baik dan benar dengan membawanya rutin periksa rawat jalan ke psikiater.
Apakah suara hati dan perannya dalam tindakan moral
Terlepas dari semua hal itu, sebenarnya ada ganjalan berupa suara hati saya yang tidak setuju dengan tindakan aborsi apalagi melihat ada fakta bahwa pasien melakukan itu semua karena tidak dibawa berobat secara teratur oleh ‘care giver’-nya dalam hal ini orang tuanya. Menurut pater Sudarminta dalam buku Etika Umum yang disusunnya, suara hati adalah pedoman atau pegangan moral manusia dalam situasi konkret, disaat ia harus mengambil keputusan untuk bertindak. Hal ini mengusik kesadaran saya akan kewajiban moral saya terhadap kasus ini berdasarkan hukum moral. Berdasarkan hukum moral yang saya pahami, adalah suatu kesalahan besar jika saya merenggut nyawa seorang calon manusia yang tidak bersalah apa-apa dengan mengakhiri kesempatannya untuk hidup di dunia ini.
Sebagai suatu kesadaran, suara hati ini adalah salah satu proses akal budi saya dalam bertindak dan bukan hanya sekedar perasaan kasihan spontan saya pada janin tersebut. Kesadaran ini juga merupakan suatu endapan kesadaran akan nilai yang sudah diinternalisasikan pada saya sejak kecil melalui pendidikan sekolah, agama maupun nilai-nilai budaya dalam proses kehidupan saya. Secara spontan, suara hati saya telah berperan mengendalikan keputusan moral saya untuk tidak langsung mengatakan ya pada aborsi. Secara teknis saya memiliki beberapa poin yang bisa saya jadikan alasan pembenaran untuk merekomendasikan aborsi pada kasus seperti ini tetapi suara hati saya berperan dalam mengingatkan saya supaya tidak gegabah.
Kalau saya mengatakan bahwa saya memiliki suara hati yang secara spontan mengendalikan saya dalam mengambil keputusan moral, apakah itu berarti kedua orang tua pasien tidak memiliki suara hati? Jawabnya adalah mereka tetap memiliki suara hati. Semua manusia memiliki suara hati, hanya memang suara hati yang tidak sama dengan suara Tuhan (yang pasti benar), bisa saja keliru. Kekeliruan tentang isi kewajiban moral yang ditegaskan oleh suara hati dapat terjadi baik karena pemahaman dan kesadaran moral yang dimiliki atau diwarisinya dari lingkungan, budaya, dan ajaran nilai-nilainya itu secara objektif memang keliru atau ia yang keliru mengerti nilai-nilai apa yang ia warisi. Hal lain yang mungkin adalah dorongan umum manusia adalah sulit terbebas dari nafsu-nafsunya seperti nafsu mencari jalan pintas dalam menjalani kehidupan sehingga tidak mau repot mendampingi anaknya untuk berobat teratur sehingga ketika sudah terlanjur hamil-pun masih mencari jalan pintas yang menurutnya tidak merepotkan (Mereka tidak sadar bahwa mereka telah merepotkan dokter-dokter yang terlibat dalam kasus ini)!
Membina suara hati
Dari cerita di atas kita sudah melihat bahwa nampaknya suara hati dapat keliru dalam berperan atau bahkan menjadi ‘tumpul’ sehingga tidak dapat berperan dalam diri seseorang. Melalui fakta ini maka perlu sekali membina atau mendidik pembentukan suara hati sejak usia dini dengan harapan terbentuklah ‘kebiasaan’ (habit) tertentu sehingga suara hati yang benar dapat berperan dalam tindakan, khususnya tindakan moral. Pendidikan suara hati ini harus melibatkan dimensi kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan) dan konatif (perilaku atau kehendak) sehingga terbentuk dimensi kebiasaan (habit) berbuat baik.
Dimensi kognitif menuntut seseorang untuk terus belajar, memperbaharui pengetahuannya, memperluas wawasannya sehingga tidak memahami suatu permasalah dengan menggunakan pengetahuan atau wawasan yang sudah tidak sesuai jamannya. Kita harus terus menerus belajar dari hidup yang terus berkembang dan berubah, jika tidak, pengalaman moral kita menjadi statis, dogmatis dan tidak sesuai dengan kenyataan hidup yang ada, dalam bahasa anak gaul sekarang adalah menjadi orang ‘jadul” (jaman dulu). Dalam belajar pun, kita harus selalu rendah hati dengan mau bertanya kepada orang-orang yang kita anggap ahli atau berkompeten dalam bidang-bidang lain, sebab walaupun kita sudah menyandang gelar doktor dan bahkan memiliki gelar akademik profesor sekalipun bukan berarti semua ilmu pengetahuan telah kita kuasai. Sangatlah tidak bijaksana mengambil keputusan begitu saja tanpa memperoleh informasi dan penjelasan dari orang-orang yang lebih mengetahui/ ahli.
Pada dimensi afektif, pendidikan suara hati bertujuan menumbuhkan kepekaan hati terhadap kebaikan. Pengembangan dimensi ini memerlukan pengalaman mengalami atau menyaksikan sendiri bagaimana nilai-nilai dan sikap moral yang baik itu diteladani dari figur yang berperan sebagai ‘role model’. Menurut pater Sudarminta, orang merasa dididik dan dikembangkan pribadinya, bukan pertama-tama karena diberitahu ini dan itu, tetapi karena ditarik oleh pesona keteladanan pendidiknya. Keutamaan moral tidak lagi menjadi suatu yang abstrak tetapi konkret diejawantahkan dalam pribadi-pribadi yang hidup dan dapat dijumpai. Dalam kehidupan seorang calon dokter, peran pembimbing klinis, dosen-dosen dan guru besar bukan hanya pandai memberitahukan ini dan itu tentang ilmu kedokteran kepada para calon dokter melainkan mampu menularkan sikap dan citarasa moral dalam suasana hubungan antar-pribadi yang dijiwai semangat kasih sehingga figur tokoh-tokoh pendidik ini sebagai pejuang moral dapat berperan positif dalam pendidikan afektif suara hati calon dokter dengan benar.
Dalam dimensi konatif, pendidikan moral bertujuan membangun tekad moral. Pengetahuan dan pemahaman yang cukup dan tidak keliru belum tentu dapat menghasilkan tindakan yang benar dalam hal ini. Dokter mana yang tidak tahu bahwa merokok berbahaya bagi kesehatannya? Kenyataannya masih banyak dokter yang merokok! Hal ini membuktikan bahwa fungsi kognitif dan afektif seringkali tidak sejalan juga dengan konatifnya. Kelemahan kehendak (akrasia) pada orang-orang ini akan membuat mereka jatuh kedalam godaan untuk tidak melaksanakan apa yang secara kognitif mereka pahami dan yakini kebenarannya. Sangatlah penting bagi setiap orang untuk melatih kehendaknya sehingga memiliki tekad moral yang kuat sehingga terjadi kepekaan dan ketepatan penilaian suara hatinya apabila suara hatinya diselewengkan oleh nafsu dan doronga perasaannya yang tidak terkendali.
Latihan penguasaan diri dengan bermati raga, melatih ‘awareness’ dengan latihan ‘mindfulness’ adalah metode-metode seseorang dapat membentuk tekat moralnya dengan ketrampilan mengendalikan diri (self-control) terhadap dorongan-dorongan spontanitas instingtual ‘kebinatangannya’. Untuk menjadi orang yang baik, tidak cukup memiliki kecerdasan otak melainkan perlu ditunjang dengan kejernihan hati. Untuk dapat jernih hatinya maka diperlukan latihan pemurnian dari macam-macam pamrih dan nafsu-nafsu yang tak terkendali.
Dalam dimensi pembentukan kebiasaan berbuat baik, ketiga dimensi di atas dipadukan. Kepekaan dan ketepatan suara hati menilai suatu tindakan moral akan berkembang dengan baik jika kita dibiasakan melakukan yang kita pahami dan yakini sebagai baik. Menurut Aristoteles, keutamaan moral tumbuh berkat pembiasaan berbuat baik terus menerus. Jadi hal terpenting untuk mencapai kebiasaan berbuat baik adalah adanya dimensi latihan dan pembiasaan. Kadangkala pembiasaan dilatihkan dalam suatu bentuk paksaan. Hal ini boleh-boleh saja sejauh bentuk pemaksaan ini dapat dimengerti sebagai sesuatu yang bertujuan baik sehingga akhirnya dapat diterima dengan kerelaan hati. Apabila tidak ada kerelaan hati dalam menjalani latihan dan pembiasaan ini maka tidak akan efektif menghasilkan kebiasaan berbuat baik yang dapat bertahan lama.

Rabu, 08 Oktober 2014

Pentingnya Perjanjian harta terpisah (Prenup) Sebelum Menikah

Prenup pra nikah adalah surat perjanjian pra nikah yang umumnya orang menyebytnya surat perjanjian harta terpisah. Hal ini menjadi kontroversi sampai saat ini karena banyak orang beranggapan kalau sudah menikah maka pasangan ini bukan lagi 2 individu yang terpisah melainkan satu yang tak terpisahkan dan harus menghadapi suka duka kehidupan bersama-sama.

Jadi kenapa harus buat surat pisah harta? Bukankah itu sesuatu yang mengingkari dan mempunyai niat tidak baik dalam mengawali pernikahan?

Sabar...bukan itu maksudnya. Dulu saya juga setuju dengan pendapat ini dan sampai saat ini pun saya tidak setuju dengan surat perjanjian harta terpisah sebelum nikah kalau niat awalnya agar tidak repot bagi harta gono gini ketika bercerai! Surat perjanjian ini dibuat bukan untuk mengantisipasi perceraian atau dihayati sebagai elu-elu gue-gue kalo sudah soal harta!

Di lain pihak masih banyak juga dalam pernikahan saat ini kehilangan nilai siapakah yang harus bertanggungjawab dalam ekonomi rumah tangga? Apakah seluruhnya tanggungjawab suami atau ada peran serta setara dengan istri yang juga memikul tanggung jawab ekonomi sehingga hasil gaji istri juga harus dikontribusikan dalam ruumah tangga? Masih banyak juga istri yang berpendapat bahwa gajinya yah untuk dirinya sendiri bahkan untuk hedonisme dirinya sendiri dan masalah rumah tangga serta anak-anak adalah urusan suami sendirian. Sekiranya pendapat seperti ini apakah sesuai dengan falsafat mereka bukan lagi dua melainkan satu?
Hal lain lagi adalah banyak juga suami-suami yang minder karena penghasilan istrinya lebih besar daripada penghasilannya atau bahkan istri yang merasa minder kalau ketahuan suaminya kurang mampu melebihi dirinya dalam posisi mereka di masyarakat. Kondisi kebalikannya adalah ketika istri menjadi besar kepala, dominan sekali terhadap suami dan merasa karena penghasilannya lebih besar daripada suami maka ia sekarang seakan-akan mengambil alih posisi kepala keluarga?

Nah, hal-hal mendasar seperti ini seringkali menjadi tidak jelas, kalau tidak mau disebut sudah hilang pada masyarakat kita saat ini. Nampaknya dengan perubahan nilai dan norma yang cepat saat ini membuat gamang masyarakat kita dalam mengikuti pedoman universal nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Untuk hal ini saya tidak bermaksud setuju atau tidak setuju terhadap kondisi perekonomian keluarga tadi kecuai saya memegang prinsip dasar kesetaraan suami dan istri dalam sebuat perkawinan sebaya (peer marriage), saya bukan penganut perkawinan konvensional dimana semua tanggungjawab didominasi suami atau ayah dan suami atau ayah akan selalu benar dalam pengambilan keputusan dll alasan saya adalah zaman saat ini sudah berubah kondisinya dimana banyak istri yang harus bekerja bersama dan suka atau tidak suka menurut saya membuat kompetisi tersendiri di dunia lapangan kerja.

Ok kembali ke topik. Beberapa dekade lalu, penegakan hukum, pemutarbalikan fakta hukum, kelihaian para "spin doctor" di era ini terhadap permasalahan amandemen UUD, perubahan UU dll termasuk klausul-klausul hukum yang seringkali menjebak kita sebagai orang yang awam hukum sangat-sangat merugikan kita dan besar sekali kemungkinan ekonomi rumah tangga dirugikan karena hal ini karena prinsip harta bersama adalah harta suami istri adalah satu kesatuan sehingga jika sebuah perjanjian dibuat oleh salah satu pasangan maka dampaknya akan kepada keseluruhan harta tanpa sekat antara harta yang diatasnamakan istri dengan harta yang diatasnamakan suami!
Bayangkan kalau suatu saat seorang suami karena keperluan bisnisnya harus meminjam uang di Bank dan kemudian gagal bayar maka yang disita adalah harta keseluruhan milik suami dan istri tersebut dan bank tidak akan peduli keluarga itu semua mau jadi gembel sekalipun. Hal ini akan berbeda jika ada harta terpisah maka yang akan disita adalah hanya harta atas nama suami. Dengan hal ini diharapkan ekonomi rumah tangga dan keluarga masih dapat disokong oleh harta istri.

Hal-hal seperti ini saya lihat contoh-contoh saat konseling pasien-pasien saya, ada sebuah keluarga yang menjadi miskin karena sang ayah yang meninggal di usia 55 tahun akibat kanker sedangkan almarhum adalah seorang pengusaha yang selama hidupnya pandai mengelola aset termasuk 'memutar' hutang-hutangnya dari bank dan ketika meninggal otomatis gagal bayar sehingga semua harta disita oleh bank. Istri dan ketiga anaknya harus kembali ke rumah orang tua mereka yang sudah tua dan ditampung sementara oleh kakek nenek karena ketiga anaknya juga belum benar-benar mandiri. Saya dengar dalam bahasa hukumnya kalau tidak salah dianggap seakan-akan wanprestasi karena meninggalnya sang ayah ckckckc....bagaimana dengan asuransinya? Yah tidak cukuplah karena pada saat itu semua diupayakan pengobatan paling mahal sekalipun di luar negeri untuk mengobati kanker sang ayah. Akhirnya hampir semua harta yang fundamental habis disita bank yang sangat manis ketika menawarkan kredit. Mungkin hal ini akan berbeda jika ada perjanjian pisah harta sehingga paling tidak aset atas nama istri masih dapat digunakan untuk menopang keluarga.

Ada lagi contoh lain adalah ketika tiba-tiba sang suami menderita gangguan jiwa yang disebut judi patologis sehingga kalah judi dimana-mana dan berhutang kemana-mana sehingga hutangnya harus ditanggung oleh istrinya juga, dll kisah-kisah realita pahit kehidupan di masyarakat. Siapa sih yang mau sakit? Tapi siapa juga yang mau jadi miskin karena hal-hal seperti ini? Kalau sudah miskin lalu orang-orang yang melarang dan menasihati untuk tidak membuat perjanjian ini mau bertanggungjawab dan menopang ekonomi keluarga tersebut?

Simpulannya saya tidak setuju jika perjanjian ini dibuat dengan niat tidak repot jika kelak bercerai tetapi saya sangat menyarankan hal ini karena kita harus pandai (clever not only smart) dalam mengantisipasi aspek hukum yang dapat mengancam harta kita sehingga kita bisa tetap hidup tenang, manusia memang tidak hidup dari roti tetapi dari setiap firman Tuhan tetapi tanpa roti sama sekali maka realita hidup manusia juga akan susah karena manusia pada hakikatnya adalah makhluk berbadan.

Jika Anda dan keluarga Anda memerlukan konseling untuk masalah pra nikah seperti ini termasuk konseling pemeriksaan medis pra nikah, silahkan menghubungi klinik kami untuk membuat perjanjian di Klinik Taman Anggrek Smart Mind Consulting:
021-5609432, Whatsapp sy di 08129169825 (maaf jarang angkat telepon karena sudah cukup sibuk dengan konseli di depan saya)

Homoseksualitas dan Konseling Spiritual (jangan ke psikiater untuk konseling spiritual!)

Sore tadi saya dikejutkan dengan balasan seorang Ibu yang mengirimkan pertanyaan konsultasi secara online kepada saya beberapa hari lalu dan ia mengatakan bahwa ia sangat kecewa melihat profil saya yang mendapat pendidikan theologi (hal ini keliru karena saya tidak pernah belajar theologi) / filsafat (yang ini benar karena saya belajar filsafat) ternyata tidak dapat memberikan konseling spiritual untuk anaknya yang homoseksual untuk bisa disembuhkan menjadi heteroseksual. Konseling spiritual? Nampaknya salah sasaran kalau mencari konseling spiritual pada psikiater/psikolog karena spiritualitas bukan ranah ilmu seorang mindscientist seperti saya dan walau saya mendalami filsafat manusia, filsafat eksistensial, saya bukan seorang filsuf apalagi menyangkut spiritualitas. Masalah spiritualitas adalah ranahnya para Imam (Pendeta, Romo, Ustad).

Dalam jawaban saya sebelumnya menanggapi pertanyaan Ibu tersebut, homoseksualitas tidak dapat "disembuhkan" menjadi heteroseksual karena menurut penelitian-penelitian biologis otak pusat seksual di Medial Pre Optik Area (MPOA) orang dengan homoseksualitas berbeda dengan orang yang heteroseksual. Hal yang dapat saya lakukan dalam konseling/psikoterapi adalah membantu klien/ pasien untuk memilih secara bebas (karena dalam filsafat manusia, hakikat manusia adalah kebebasan walaupun ada determinisme alias hal yang ditentutkan sebelumnya semacam takdir bawaan) apakah ia mau menjadi seorang dengan perilaku seks homoseksual atau heteroseksual atau tidak melakukan perilaku seks seperti misalnya memilih hidup selibat. Tentunya hal seperti ini juga dipengaruhi derajat homoseksualitasnya, seperti misalnya apakah murni homoseksual atau biseksual (hal ini tentunya belum dapat saya nilai karena saya belum memeriksa pasiennya (anak si Ibu yang sudah pernah dibawa ke hipnoterapis dan gagal!) dikarenakan pertanyaan dikirimkan secara online.

Dari kasus-kasus homoseksualitas yang saya telah tangani, yang sifatnya egodistonik (kondisi mana pasien menolak dirinya menjadi seorang homoseksual) sekitar 50% dapat saya bantu untuk memilih konsekuensi hidup yang lebih "baik" dan pada umumnya yang biseksual masih dapat diarahkan untuk kehidupan perkawinan dalam beberapa kali sesi konseling dan psikoterapi. Para homoseksual yang egosintonik relatif tidak pernah datang untuk konsultasi karena kondisi egosintonik tersebut ia tidak merasa ada "kelainan" dalam dirinya dan dapat menerima kondisi homoseksualnya tersebut.

Banyak orang (termasuk Ibu tersebut) masih meyakini bahwa homoseksualitas dapat "disembuhkan", ini adalah pandangan yang terlalu optimis saat ini dan menggunakan kriteria sembuh dari sudut pandang perilaku heteroseksual padahal ilmu neuroscience sudah membuktikan bahwa ada sturuktur otak yang lain (dalam filsafat manusia boleh dikatakan hal ini adalah determinasi biologis) dan struktur yang berlainan dapat berfungsi secara berlainan pula. Dalam topik tentang kebebasan sebagai sifat hakiki manusia, kita dapat mengajak setiap orang untuk memilih yang baik dan yang lebih baik (bukan hanya memilih yang lebih mudah antara yang jelek dan baik) walaupun ada determinisme biologis tersebut sehingga perilakunya tidak mengikuti determinasi biologis tersebut. Di lain pihak jangan terlalu jauh menuntut ada seorang dokter pada saat ini yang dapat mengubah MPOA yang lain (lebih besar) tersebut menjadi sama dengan MPOA manusia yang heteroseksual sehingga menjadi "sembuh", kalau ada yang bisa tolong beri tahu saya siapa dan dimana karena saya perlu berguru dan melakukan penelitian bersama dokter atau orang pinter tersebut.

Hal ini sama saja mustahilnya mengubah secara permanen seorang laki-laki heteroseksual dengan kadar testosteron tinggi yang suka main perempuan menjadi suami atau ayah yang baik dan tidak main perempuan lagi (dalam contoh ini di masyarakat kita malah hukum agama dipermainkan supaya mengesahkan poligami!). Yang bisa kita bantu untuk seseorang yang adiksi seksual-pun adalah pada awalnya menekan libidonya dengan terapi hormonal sambil dikonseling untuk memilih kembali pada perilaku yang "benar" sehingga ketika injeksi hormon (biasanya Cyclopteron acetate) dihentikan, nafsunya bisa meningkat lagi tapi perilakunya sudah berubah karena pilihannya untuk kembali ke jalan yang menurut kita benar. Ingat pula bahwa dalam pengertian benar ini ada yang sifatnya universal dan ada yang sifatnya juga parsial (tidak sungguh-sungguh benar atau tidak ada kebenaran yang sempurna kecuali Allah).

Simpulannya, jangan mencari konseling spiritual ke psikiater karena itu ranahnya imam atau rohaniwan dan jangan mau dibohongi oleh teori jaman dulu bahwa homoseksual menular (masih banyak psikiater/psikolog stok lama yang tidak up date ilmunya tentang ini dan salah berpendapat) dan dapat disembuhkan dengan mengubah struktur otaknya, yang dapat di-"sembuh"kan adalah diajak memilih secara bebas ia bereaksi bagaimana dengan kondisi dirinya.

Rabu, 02 Juli 2014

Kapan Harus Konsultasi Perkawinan dan Seks?

Pada tanggal 20 Juni lalu saya diminta mengisi acara dengan topik tersebut di atas di Kalbe Care Lotte World Kuningan, peserta yang datang cukup banyak untuk ukuran ruangan yagn disediakan dan acara tersebut gratis bagi member KalCare. Belakangan ini juga semakin banyak pasien--pasien/ klien yang menghubungi klinik Smart Mind untuk konsultasi masalah keluarga. Sebagian besar adalah yang sudah diambang perceraian. Mengapa pada umumnya ketika sudah di ambang perceraian orang baru ingat untuk konsultasi perkawinan? OH ya ada juga sih yang konsultasi pra perkawinan tapi sangat jarang banget. Yang saya ingat hanya tiga kasus yang secara formal minta konsultasi pra perkawinan untuk pernikahan pertama, selebihnya pra perkawinan untuk pernikahan kedua.

PENTINGNYA KONSULTASI PRA PERKAWINAN

Ketika kita jatuh cinta dan ketika cinta sudah melekat, tahi kucing pun terasa coklat, gitu kata pepatah guyonan sehingga ketika jatuh cinta semua yang kita lihat adalah yang baik-baiknya saja dan besar sekali kapasitas memaklumi kekurangan pasangan kita. Ketika kita memutuskan untuk menikah sebenarnya kita sudah tidak dalam fase jatuh cinta tetapi dalam fase memilih untuk berkomitmen untuk mencintai. Nah ini yang sulit, apakah kita sudah yakin untuk berkomitmen dengan seseorang untuk melalui hidup bersama sampai kematian menjemput?

Hal yang menjadi fokus kita seringkali dalam memilih pasangan adalah pasangan ideal yang kita inginkan, banyak dari kita lupa bahwa sebelum kita memilih pasangan yang kita inginkan, kita harus benar-benar mengenali dulu diri kita sesungguhnya apa dan siapa, bagaimana sifat kita, apa harapan kita, bagaimana kepribadian kita? Kalau kita sudah mengenal itu semua, baru deh kita mendefinisikan apa yang kita kehendaki dari pasangan kita yang paling cocok dengan kondisi diri kita?

Ada seorang wanita yang sudah menikah lebih dari 7 tahun akhirnya kecewa karena ternyata setelah menjalani hidup bersama, suami yang pada awalnya dia lihat seperti figur "role model" seorang pria yang seperti ayahnya ternyata jauh berbeda dengan sikap dan sifat ayahnya. Bagaimana dengan suaminya? Ternyata suami-nya pun salah duga, kepribadian dasar suaminya yang kurang dominansi jauh dibawah kepribadian istri yang lebih dominan (walaupun dominansinya tidak berlebihan sampai patologis) membuat dirinya selalu "kalah" oleh istrinya. Di lain pihak figur istrinya memang figur yang dia cari karena dia menginginkan seorang wanita yang mandiri dan dirinya tinggal tahu beres karena sewaktu kecil peran mamanya begitu dominan. Dalam kasus ini terjadi ketidakcocokan harapan, sang istri minta dilindungi dan dilayani sebagaimana ayahnya dulu melindungi dan melayani keluarga tetapi sang suami juga minta semua dibuat beres oleh istrinya! Hal seperti ini sebenarnya bisa diprediksi sejak awal pacaran tetapi karena orang Indonesia itu memang tidak punya budaya pencegahan sehingga dalam pikirannya mencari konselor perkawinan hanya ketika sudah ada masalah besar dan mengancam perceraian.

Usaha pencegahan terhadap kejadian hal ini sudah banyak diupayakan terutama di gereja-gereja dengan memberikan kursus persiapan perkawinanm demikian juga kalau di Malaysia, negara menyediakan fasilitas dan mengharuskan setiap warga negaranya yang mau menikah harus sudah bersertifikat kursus persiapan perkawinan selama 3 hari! Mereka sudah menyadari bahwa bangsa yang kuat harus diawali dari perkawinan yang kokoh dengan keluarga yang kuat. Tanpa keluarga yang baik dan kuat, jangan harap sebuah negara bisa menjadi baik dan kuat.

Dengan mengenal diri dan pasangan, mengetahui kelebihan dan kekurangan dalam hubungan maka pasangan akan menjalani bahtera keluarganya dengan lebih realistis.

Pertanyaan yang penting adalah:
1. Apakah calon pasangan saya mengetahui kebutuhan saya? (kadang walau sudah diucapkan, dikatakan tetapi disalahtafsirkan oleh pasangan yang tidak mengerti)

2. Apakah calon pasangan saya mampu memenuhi kebutuhan saya itu? (Kalau kita berasal dari keluarga orang kaya/ pengusaha kaya tetapi calon pasangannya hanya seorang akademisi maka tentunya cara berpikir seorang akademisi tidak akan bisa memenuhi kebutuhan cara berpikir seorang pengusaha, contoh konkretnya adalah saya, kalau saya punya uang maunya dibuat belajar, course, melanjutkan studi lanjut ke S3 dan bukan untuk diinvestasikan lalu buka usaha baru atau beli mobil BMW terbaru atau Mercedes terbaru, nah kalau pasangan saya maunya yang bergaya usaha buka francise dan pakai mobil mewah yang bisa dinikmati kursinya seperti kursi first class di pesawat gimana bisa nyambung? Tentunya saya tidak akan bisa memenuhi kebutuhan wanita pengusaha).

3. Apakah calon pasangan saya mau memenuhi kebutuhan saya itu? (pasangan yang egois tidak mau memenuhi kebutuhan pasangannya karena lebih mengutamakan memenuhi kebutuhan dirinya sendiri dahulu).

ASPEK-ASPEK YANG HARUS DIEVALUASI DALAM PERKAWINAN

Penting sekali kita mengevaluasi aspek dalam perkawinan yaitu pertama-tama mengenali dulu "akar" keluarga kita masing-masing. Akar keluarga itu adalah dalam filosofi perkawinan Jawa adalah BIBIT, siapa orang tua kita, latar belakang keluarga kita dan pasangan, budaya, cara berpikir, cara hidup, dll.

Kemudian 3 hal lain yang perlu di evaluasi adalah:
1. Spiritualitas perkawinan, hal ini paling banyak dilupakan dan hanya menjadi ritual agama, apalagi dipolitisir oleh UU Perkawinan yang mempersulit orang untuk menikah lain agama. Kita harus membawa hal ini dalam pola pemikiran yang lebih komprehensif dan pada hakikatnya secara upacara adat-pun rupanya perkawinan ini adalah sakral, ada spiritualitasnya, mau mencari MAKNA dari perkawinan ini dalam hubungan kita dengan Allah (Habluminallah) dan hubungan kita dengan sesama (Habluminnannas). Bagaimana nilai spiritualitas kita jika kita memiliki anak-anak, mau kita arahkan bagaimana supaya menjadi anak yang soleh (yang dapat mendoakan orang tuanya sehingga amal ibadah/ pahala kita tidak terputus?)

2. Komunikasi suami istri, hal ini sudah jelas tetapi di tulisan saya "Psikiater, Seks dan Perkawinan" mengingatkan bahwa penting sekali mendeteksi adanya gangguan mental yang dapat membuat buntu komunikasi ini.

3. Seksualitas suami istri, perkawinan tidak melulu soal seks tetapi tanpa seks katanya seperti makanan kurang garam. Bagaimanapun juga hubungan seksual (jangan diartikan hubungan ini hanya urusan "penis dan vagina" melainkan soal ekspresi afeksi) suami dan istri harus selaras, saling menyesuaikan pola kebutuhan satu sama lain sehingga tidak ada istilah pemerkosaan terhadap istri/suami yang masuk dalam masalah kekerasan dalam rumah tangga!

MENDEFINISIKAN KEMBALI VISI MISI PERKAWINAN SESUAI 'LIFE CYCLE'

Setiap kita memiliki siklus kehidupan sesuai usia, ketika kita menikah di usia 20-an tentunya mempunyai harapan berbeda dibandingkan kita berusia 30-an, ketika berusia 40-an, 50-an juga kita memiliki harapan serta gaya hidup yang berbeda (fisik mulai menurun, ada penyakit dll). Di setiap usia kehidupan kita, penting sekali kita berdua pasangan mendefinisikan kembali komitmen bersama dalam menjalani perkawinan sebagai suatu bentuk 'companionship' suami dan istri untuk menuju tujuan yang sama (juga bersama anak-anak). Bagaimana mendidik anak-anak, mengarahkan anak-anak menjadi anak yang berguna, mandiri, jujur, baik, soleh dll.

Hal penting seperti ini seringkali ditutupi suatu seremonial semu dengan 'candle light dinner' serta bunga tangan yang seakan-akan itu arti cinta (seperti dikampanyekan iklan) dan melupakan bahwa ada hal serius yang harus dibicarakan diluar 'candle light dinner' tersebut.

APA PERAN KONSELOR PERKAWINAN DAN KELUARGA?

Sebagai mediator yang membantu mediasi kebuntuan komunikasi atau sikap saling curiga dll karena konselor bersikap netral. Sebagai konselor yang dapat membantu mengarahkan opsi-opsi, sebagai psikoterapis yang dapat membantu terapi psikopatologi, kadang sebagai penasihat agar tetap pada semboyan rumah pegadaian "mengatasi masalah tanpa masalah".

Kebanyakan konselor ini di Indonesia adalah para psikolog. Beberapa psikiater seperti saya juga menangani tetapi pada umumnya bekerjasama dengan para psikolog (di SMART MIND CENTER CONSULTING kami selalu berdampingan psikolog dan psikiater, biro konsultasi lain jarang ada kerjasama yang baik dalam tim antara psikolog dan psikiater) untuk mengatasi gangguan mental yang diderita karena distress yang dialami pasangan dalam carut marut perkawinan dan rumah tangganya. Belum lagi masalah trauma pada anak yang harus juga saya bantu tangani.

Beberapa kasus harus saya yang menangani sendiri karena pengalaman dalam beberapa aspek terutama dalam hal dampak hukum pengadilan perceraian, saya bukan ahli hukum tetapi karena pengalaman maka saya dapat memberikan arahan atau nasihat yang dapat menguntungkan dimata hukum tetapi kalau mau lebih jelasnya bisa konsultasikan dengan pengacara perkawinan. Tapi please jangan minta saya untuk bersaksi di pengadilan sebab urusannya harus minta surat pengadilan untuk membuka rahasia medis pasien (tanpa ini saya tidak akan mau membuka rahasia tersebut karena bisa berdampak hukuman pidana!) dan alasan kedua adalah urusan di pengadilan seringkali menghabiskan banyak waktu tanpa kepastian, semestinya saya bisa mengerjakan hal lain yang lebih bermanfaat seperti membimbing dokter muda, melayani pasien dll tetapi disuruh menunggu jadwal sidang? Nyerah deh walau mau dibayar mahal sekalipun saya berusaha menghindari hal ini.

Hal lain yang menjadi bidang psikiatri adalah saya dokter yang dapat mengobati termasuk jika ada masalah seksual, depresi, kecemasan, insomnia dll.

MENGENAI BIAYA KONSULTASI PSIKIATER/PSIKOLOG/KONSELOR SEKS DAN PERKAWINAN

Hal ini selalu ditanyakan dan menjadi hal yang sangat mengganggu, biaya psikiater dan psikolog itu seperti yang pernah saya ungkapkan di artikel tentang psikiater psikolog dan hipnoterapis, sangat 'reasonable' untuk konsultasi pasangan yang bisa membutuhkan waktu sampai 2 jam tidak sampai sejuta rupiah! Bandingkan dengan terapis-terapis lain dan profesi lain.

Memang kita minta tes evaluasi awal untuk tes kepribadian masing-masing pasangan di saat awal sesi dan ini cukup meminta tambahan biaya, mau gimana lagi? Itulah profesionalisme. Yang jelas kami tidak semahal Smartphone seperti Iphone, BlackBerry, Samsung galaxi S4 apalagi S5! Smartphone yang hanya digunakan beberapa tahun saya pikir nilainya tidak lebih tinggi daripada nilai perkawinan Anda bukan? Jadi jangan khawatir soal biaya konsultasi untuk mencapai kualitas hidup dan kualitas hidup perkawinan yang lebih baik bagi Anda dan pasangan, Anda dan keluarga.

Selasa, 27 Mei 2014

Psikiater dan Psikoterapi

Apaan sih yang dimaksud dengan psikoterapi? ini adalah pertanyaan yang menarik bagi saya ketika SMA saya mulai berkenalan dengan yang namanya Dr Sigmund Freud (seorang neurolog yang adalah bapak ilmu psikiatri saat ini). Ketika SMA itu saya mulai mengalami masalah-masalah psikologis yang berhubungan dengan masalah-masalah di lingkungan sekitar sebagai pencetusnya. Hal lain yang saya observasi juga ketika saya melihat begitu banyak masalah keluarga, perkawinan disekitar saya. Demikian juga kata-kata di gereja yang setiap sebelum menerima komuni adalah: "ya Tuhan saya tidak pantas Tuhan datang kepada saya tetapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh". Sembuh? memangnya pada sakit? Lalu saya perhatikan lagi lebih seksama ternyata banyak orang yang mencari kesembuhan rohani, batiniah di gereja, demikian juga di pesantren maupun di wihara. Hal ini terbukti dengan banyaknya orang yang dikira tidak kuat meng"ilmu" sehingga terkena gangguan jiwa padahal sebenarnya dia terkena gangguan jiwa dulu baru kemudian dia mencoba mencari penyelesaian dengan memperdalam ilmu agama! Dan hal ini tanpa saya sengaja juga saya lakukan, untungnya saya bertemu guru agama saya dan pastor-pastor yang tidak sesat sehingga saya mendapatkan "pencerahan" at least yah bisa untuk survive-lah saat itu. Di situlah saya mulai mengenal istilah yang namanya psikoterapi yaitu terapi psikologis.

Nah ini ada psikolog yang penasaran nanyain apa sih yang psikiater pelajari tentang psikoterapi? (Rupanya ada oknum psikolog yang jadi dosen dan anti psikiater sehingga yang diinformasikan ke anak didiknya adalah psikiater bisanya cuma kasih obat alias farmakoterapi jadi apa sih bisanya psikoterapi oleh psikiater?)


YoPs5 Maret 2014 02.07

Salam Dok, saya ingin bertanya :
- Jenis pelayanan apa sajakah yang diberikan psikiater di luar farmakoterapi?
- Jenis psikoterapi apa sajakah yang dipelajari di cabang ilmu psikiatri?
(kalau tidak salah, diatas ada disebutkan ttg psikoanalisa/psikodinamika ya, dok... selain itu?)
Terimakasih sebelumnya

Ini jawaban saya (versi ini sudah saya lengkapi para guru-guru saya):


Dr. Dharmawan A. Purnama, SpKJ (Psikiater)4 Mei 2014 04.49

Hehehe kayaknya kalau mau lengkap harus buka transkrip nilai saya nih, macam-macam psikoterapi apa yang dipelajari, saya sebutkan yang saya terbiasa ajalah ya dan dapatnya dari bangku pendidikan:
-CBT (Cognitive Behavior Therapy) (dr. Heriani Tobing, SpKJ -certified CBT dari Pennsylvania University),
-Transactional Analysis (dr. Jan Prasetyo, SpKJ),
-Hipnoterapi (dr. Erwin Kusuma, SpKJ dan tim RSPAD, teori, praktek dan ujian tertulis teori, semua psikiater lulusan FKUI harus lulus ujian hipnoterapi ini dan saya infokan di sini karena banyak masyarakat awam yang tidak tahu kalau psikiater itu semuanya harus bisa basic hipnoterapi! Just info juga dr Erwin ini psikiater senior yang adalah perwira TNI-AD dan jauh sebelum ngetrend yang namanya hipnoterapi di masayarakat kita seperti Adi W Gunawan yang sekarang juga pake titel Dr tapi tidak disebutkan Dr-nya dari mana dan disertasinya tentang apa di buku Mind and Body-nya telah mempraktikkan hipnoterapi di Indonesia, jangan-jangan kalau cuci otak musuh dulu di Timor timur juga ilmu hipnoterapinya dipakai nih? hehehe becanda),
-Psikoterapi eksistensial (dr. Lukas Mangindaan, SpKJ) , Logoterapi, search for meaning (Drs H D Bastaman Psikolog senior F Psi UI), Gestalt Therapy (dr. Lukas Mangindaan, SpKJ).
-Psikoterapi psikodinamik (Prof. Dr. dr Didi B. Lubis, SpKJ, Prof dr Sasanto Wibisono, SpKJ, dr Sylvia D Elvira, SpKJ)
-Psikiatri budaya (seminar pembimbing Prof dr. Sasanto Wibisono, SpKJ), pendalaman dalam tutorial khusus diluar FKUI dengan Dr. dr. Rusdi Maslim, SpKJ, M.Kes tentang budaya-budaya Asia Timur. Diperkaya dengan buku-buku etika dan filsafat budaya Prof Dr. Frans Magnis Suseno, SJ.

Yang saya pelajari di luar bangku sekolah pendidikan spesialis, Mindfulness Therapy (HKU - Hong Kong University) dan Neurobiofeedback Therapy (di Berlin Congress Internasional ADHD dan di Jakarta oleh Tiara Kencana dengan Dr dr Dwidjo Saputro, SpKJ sebagai trainernya), pendalaman hipnoterapi kedokteran di RSPAD Gatot Subroto, Integrated Psychotherapy dan Mind Therapy (Dr. dr. Rusdi Maslim, SpKJ), cultural based psychoterapy hasil berguru dengan beberapa psikiater senior di dalam dan luar negeri.

Bagi seorang psikiater atau psikolog atau psikoterapis-psikoterapis dari profesi lain, yang penting bukanlah semua teori dan praktek psikoterapi tersebut. Dari hasil observasi saya, yang terpenting adalah kepribadian terapis (that's why paranormal banyak dicari orang), kepribadian therapist digabung dengan pemahaman mendalam tentang fungsi kerja otak, fisiologi tubuh, psiko-farmakoterapi (dari studi ilmu kedokteran jiwa) dan budaya/value (dari study antropologi dan filsafat) pasien kita-lah yang membuat pasien bisa masuk dalam sesi terapeutik dan mendapatkan manfaat setiap sesi dengan psikiaternya. Totalitas menghadapi pasien, observasi mendalam dan pengertian yang mendalam terhadap individu pasien adalah kunci utamanya.


Meragukan Psikoterapi
Banyak orang meragukan psikoterapi ini dan banyak org yang tidak menyadari telah mendapatkan hasil dari proses psikoterapi ini okelah saya share ya, sebab awalnya saya juga meragukannya.

Ajaran-ajaran agama dan filsafat adalah juga psikoterapi bagi saya

Saya mempelajari 3 agama dan filsafat manusia khususnya eksistensialism, bukan karena saya setengah miring otaknya atau mau membuat sinkretisme agama tetapi karena saya mencoba mencari pencerahan kalau dalam bahasa agama. Mungkin yang paling mendalam ajaran agama kristen Katolik karena memang saya sejak kecil dididik di sekolah Katolik (Ricci Toasebio dan Canisius College Menteng).
Banyak ajaran dan ayat-ayat serta hadist dll adalah sungguh kebenaran sehingga kita bisa menemukan arti dalam kehidupan kita (ini adalah tujuan terpenting dalam hidup kita, menemukan arti hidup dan bisa berpasrah pada Allah dalam menjalankan kehendak-Nya). Masalahnya kemampuan otak kita yang terbatas ini yang seringkali tidak dapat menangkap makna dari semua itu dan bahkan banyak manusia berperang saling membunuh hanya karena perbedaan penafsiran hal-hal tersebut! Lucu ya hahaha, agama kok malah membawa celaka!

Beruntunglah saya karena bisa mendapatkan pencerahan dan wellbeing dari keimanan tersebut, bukan peperangan atau mencelakakan sesama manusia.
Lanjutannya adalah ketika saya bertemu dr. Satya Joewana, SpKJ (psikiater ahli adiksi) dan kemudian Dr. dr Rusdi Maslim, SpKJ yang adalah dosen dan terapis saya sejak di fakultas kedokteran sampai ketika saya menjalani pendidikan spesialis. Pertemuan-pertemuan rutin yang nampaknya ngobrol-ngobrol tersebut ternyata membawa banyak perubahan pada distorsi pikiran saya, pada kekakuan cara pandang/persepsi dan cara berpikir saya. Demikian juga pemahaman akan neuro dan mind science semakin bertambah, khususnya yang berhubungan dengan bagaimana saya dan manusia lain yang ada "sakit"-nya bisa berproses dalam pengobatan maupun psikoterapi.
Saya ungkapkan di sini adalah pertemuan demi pertemuan yang saya lakukan sampai bertahun-tahun, terutama selama saya akan menjalani pendidikan spesialis sampai sedang menjalani pendidikan adalah nampaknya hanya seperti ngobrol-ngobrol (nah inilah yang membuat banyak org tidak menghargai ngobrol yang terapeutik sehingga mendapatkan 'sesuatu' untuk perubahan! Bukan ngobrolin seperti orang ngobrol ngalor ngidul di warung kopi). Ngobrol aja tanpa dilakukan dalam bentuk aksi namanya NATO (Not Action Talk Only)! Nah jadi apa yang didapat itu ya harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari sebab bila tidak dipraktekkan maka tidak akan ada perubahan di sambungan-sambungan (synaps) neuron (sel saraf) di otak kita sehingga tidak menjadi sebuah skema baru yang membentuk habit/ perilaku yang baru.

Dari proses tersebut, saya perlahan berubah, lebih mengenali diri saya terutama perasaan saya yang terdalam (NUCLEAR FEELINGS) sehingga membuat saya terdorong untuk melakukan sesuatu, saya menjadi selalu lebih AWARE bahkan ketika melakukan kesalahan! sayangnya perubahan itu belum sempurna (tak ada gading yang tak retak toh?) karena fungsi kerja otak saya kadang impulsif (inhibisi dari otak depan alias lobus frontalisnya kadang masih kurang.

PERAN DIDIKAN ORANG TUA

Mengingat kekurangan tersebut saya alami sejak kecil, maka proses pendekatan terapi perilaku dan psikoterapi yang diberikan orang tua saya juga gak kalah pentingnya. Walaupun keduanya seringkali menjadi sumber stresor saya tetapi saya berterimakasih atas pengajarannya yang keras karena hal itu membuat saya menjadi lebih tangguh. Hukuman dengan ceramah (penjelasan inti dari ajaran bijaksana dari ayah dan contoh kerja keras dari ibu saya) yang lebih banyak saya terima daripada reward/ hadiah membuat saya benar-benar menjadi orang, bukan anak orang.

Hal ini sangat bertentangan dengan ajaran para psikolog sekarang yang selalu mengutamakan reward dan menghindari hukuman, saya pribadi lebih memilih kedua hal ini seimbang daripada anak diiming-imingi reward melulu, bukankah karma baik tidak selalu langsung berbuah? mungkin aja reward-nya bukan saat ini-kan? Jadi mengapa semua diajarkan untuk mendapatkan pahala secara instan? Jadi kalau tidak terlihat reward-nya maka tidak termotivasi untuk melakukan suatu kebaikan? Pantesan pada korupsi karena gak pernah mendapatkan hukuman sih! Reward saya dulu hanya boleh beli buku selebihnya tidak boleh karena keuangan keluarga terbatas! Saya punya adik yang tuna rungu dan membutuhkan biaya besar untuk biaya pendidikannya. One for All and All for One, kami harus prihatin bersama jadi ya kalau salah dihukum tapi kalau baik belum tentu dapat hadiah!

Karate yang dipaksa sejak SMP, setelah gagal latihan piano sejak SD kelas 1 sampai kelas 6 (orang tua saya belikan piano bekas dengan harapan kalau saya gak bisa sekolah tinggi maka bisa hidup sebagai guru piano) juga banyak mengisi filsafat tentang hidup ini, semangat bushido pantang menyerah, sumpah karate shotokan yang sungguh mengilhami pedoman kehidupan seorang karateka, nilai ketekunan, kesabaran, fokus/konsentrasi, menguasai diri, mempertinggi prestasi, menjaga sopan santun, memelihara kepribadian , patuh kepada kejujuran adalah terapi psikologis buat saya.

Jadi inilah sekilas tentang psikoterapi yang saya bagikan dalam bentuk cerita, semoga bisa mendapatkan gambaran bagi pembaca awam tentang sebuah proses psikoterapi.

Senin, 19 Mei 2014

PSIKIATER, PSIKOLOG dan HIPNOTERAPIS

Hasil review dari posting di blog ini ternyata yang paling banyak diakses dan dibaca adalah postingan tentang beda psikolog dan psikiater kemana lebih dulu. Rupanya topik ini menjadi topik yang menarik dan bahkan mungkin agak kontroversial.

Menurut saya, terlalu banyak orang yang suka bermain dokter-dokteran dan mau dianggap bisa membantu menyembuhkan orang tanpa dasar pengetahuan yang kuat (penegakan diagnosis yang tepat, pemahaman psikopatologi, psikodinamika dan penguasaan beberapa macam teknik psikoterapi), nampak sekali narsisitik para terapis-terapis yang tidak melalui pendidikan formal yang cukup. Perilaku para "dokter-dokteran" ini rupanya membingungkan banyak masyarakat sehingga mencari informasi melalui tulisan saya tersebut.

Tulisan saya terdahulu tentang kemana lebih dulu psikiater atau psikolog bermaksud mematahkan opini yang mengatakan bahwa kalau masih ringan ke psikolog aja dulu! Dan bahkan banyak yang memfitnah bahwa kalau ke psikiater pasti dikasih obat! Atau ada juga yang mengatakan hanya dikasih obat saja tanpa psikoterapi dll.

Opini di masyarakat dibentuk seakan-akan kalau orang belum sakit parah jangan datang ke psikiater (jelas--jelas psikiater tuh dokter spesialis ya, apakah dokter hanya menangani sakit yang sudah parah?) melainkan ke psikolog dulu atau bahkan hipnotereapis-hipnoterapis yang hanya pelatihan 40 jam atau entah bahkan 100 jam (bandingkan dengan sekolah menjadi psikiater yang harus ditempuh minimal 10 tahun dan psikolog yang minimal 6 tahun sampai menyandang predikat psikolog klinis) mengkampanyekan kehebatan dirinya dalam menterapi pasien-pasien di masyarakat. Memang benar sebagian pasien tersebut sembuh dengan biaya yang tentunya lebih mahal daripada ke dokter/ psikiater (apalagi sekarang sudah bisa pakai BPJS di RSU dan RSJ) dan sisanya? Tidak sembuh dan akhirnya tetap datang ke dokter!

Pernah lagi sekali waktu ada seorang Profesor psikologi yang cukup terkenal (sehingga tidak usah saya sebutkan namanya di sini) sangat ingin psikolog boleh meresepkan obat-obat psikotropik yang diresepkan psikiater dengan alasan di Australia dan di Amerika ada negara bagian yang membolehkan psikolognya menuliskan resep untuk klien-kliennya (istilahnya aja udah klien, bukan pasien!), bayangkan Profesor loh itu kalau Prof.-nya ditulis Prov. seperti saya yang kepanjangannya Provokator sih maklum ya, seorang guru besar bisa begitu piciknya minta seorang psikolog yang pendidikannya bukan dari kedokteran diperbolehkan menulis resep obat psikotropika? Prof tersebut saya tantangin, "kalau pasiennya depresi dengan diabetes dan hipertensi sehingga juga mengkonsumsi obat golongan beta bloker dan sulfonil urea, apa obat antidepresan yang paling aman dan tidak berinteraksi dengan kedua obat tersebut Prof?" Gak bisa jawab deh beliau sang Profesot tersebut!

Memang masyarakat kita tuh aneh kalau orang gak sekolah trus bisa "katanya ya" menyembuhkan penyakit disebut 'orang pinter' tapi kalau dokter yang sekolahnya lama (bagusnya disebut orang bodoh) gak lulus-lulus, kurang dipercaya oleh masyarakat kita! Masyarakat kita lebih percaya dengan orang yang tidak sekolah!

Ditambah lagi banyaknya wartawan kita yang berpedoman "bad news is a good news" paling seneng kalau memberitakan ada dokter dengan dugaan malpraktek,ibarat peribahasa karena nila setitik rusak susu sebelanga nah mereka ini memblow-up kelalaian bahkan yang baru dugaan kelalaian seorang dokter sehingga seakan-akan buanyak sekali dokter Indonesia yang tidak kompeten. Bandingkan dengan rasio kegagalan terapis dokter-dokteran seperti hipnoterapis atau bahkan psikolog yang tidak etis yang mengkonseling/psikoterapi terus kliennya walaupun sudah tahu bahwa kliennya ini tidak efektif kalau belum diberikan pengobatan? Nah enaknya psikolog itu belum ada undang-undang praktik psikologi loh sehingga walaupun mereka salah ngetes orang dan memberikan interpretasi yang salah terhadap status psikologis seseorang tidak dapat dituntut malpraktek, apalagi hipnoterapis yang sekolahnya tidak sedetail dan sejelas kurikulum fakultas kedokteran maupun fakultas psikologi dengan ujian-ujian yang seabreg-abreg sampe keringatan dan airmata darah habis jaga malam ujian tulisan dan ujian lisan, belum lagi ujian nasional sebagai ujian paling akhir. Yang kayak gini tidak pernah diberitakan oleh para wartawan pelat kuning tersebut.

Nah jadi ulasan singkat ini semoga dapat menjadi sebuah insight bagi anda yang membaca beda psikiater psikolog dan hipnoterapis ya (yang banyak tulisan sesatnya di blog atau web lain yang menjelaskan tentang bedanya profesi-profesi ini).

Jumat, 09 Mei 2014

Adiksi alias Kecanduan Game

Masa kanak-kanak memang masa untuk bermain. Namun waspadalah jika anak Anda berlebihan dalam bermain game hingga cenderung menjadi ketergantungan atau adiksi. Ada beberapa kriteria adiksi, yaitu :
• Ada keinginan yang kuat atau dorongan yang memaksa (kompulsi) untuk menggunakan atau melakukan sesuatu jika tidak dilakukan maka ada perasaan cemas yang meningkat atau terus menerus merasakan ada sesuatu yang kurang.
• Kesulitan mengendalikan perilaku tersebut, sejak mulai, ketika berusaha menghentikan, atau saat menggunakan
• Keadaan gelisah, tidak tenang, tidak dapat konsentrasi bila tidak melakukan
• Terjadi peningkatan intensitas kuantitas dan kualitas dalam melakukan
• Progresif mengabaikan kesenangan atau minat lainnya
• Tetap melakukan walaupun menyadari hal tersebut tidak baik

Adiksi menimbulkan akibat dari berbagai segi. Dari segi biologis, terjadi pemuasan sirkuit ‘brain reward system’ di otak yang diantaranya terdiri dari struktur Nucleus Accumbens dan Ventral Tegmental Area dan dipengaruhi oleh neurotransmitter dopamin. Dari segi perilaku, seseorang menjadi hanya terpaku pada kegiatan pemuasan kecanduannya. Dari segi sosial terjadi disfungsi dan produktivitas menurun.

Ada dua cara untuk mencegah adiksi :
• Pencegahan primer :
Jangan pernah bermain game, ganti aktivitas rekreasi dengan kegiatan yang lebih bermanfaat. Anak boleh bermain game namun sebagai aktivitas sosial insidental (bukan rutin).
• Pencegahan sekunder :
Batasi waktu bermain dengan membuat jadwal. Ganti permainan yang tidak mengasah kognisi (tidak membuat anak lebih pandai) dengan permainan ‘mental exercise’, seperti catur, monopoli, dan sebaiknya permainan tersebut dimainkan bersama anggota keluarga lain dan teman sebayanya untuk melatih anak bersosialisasi.

Ada beberapa cara untuk mengatasi adiksi game, yaitu :
• Penyadaran melalui pikiran dalam hal ini bisa diberikan terapi perilaku kognitif dan mindfulness. Terapi apa yang akan diberikan tergantung keadaan anak, seperti IQ, status mentalis, kepribadian, dan lain-lain.
• Latihan mengubah perilaku dengan teknik stop-look-listen (melatih anak untuk mengalihkan perhatian pada hal lain yang lebih baik, misalnya sejak awal kita sudah memotivasi anak untuk mempunyai cita-cita dan kemudian kita memotivasi anak untuk mengarahkan perhatian pada pencapaian cita-citanya).
• Buat jadwal kegiatan baru yang bermanfaat dan harus dilaksanakan dengan tujuan melatih anak agar disiplin dan konsisten terhadap rencana jadwal yang sudah dia buat.
• Pengobatan mungkin diperlukan selama melatih perilaku baru tersebut karena pengobatan yang mempengaruhi neurotransmitter dopamin dan serotonin memegang peranan penting dalam mengintervensi perubahan pada ‘brain reward system’. Biasanya anak merasa lebih terbantu dalam melatih kebiasaan barunya setelah beberapa impuls adiksinya dapat dihambat dengan pengobatan sampai terbentuk jalinan sinaps-sinaps (penghubung antar sel saraf ) baru di neuron-neuronnya (sel-sel sarafnya).
Bermain game yang tidak terkendali dapat menyebabkan kecanduan. Bermain game yang bersifat ‘mental exercise’ lebih bermanfaat dan kurang adiktif. Kesadaran untuk mulai mengubah perilaku sangat diperlukan dalam upaya untuk lepas dari kecanduan.

Banyak pandangan masyarakat yang mengatakan bahwa melepaskan diri dari kecanduan itu yang penting dari dalam diri sendiri dan pasti bisa dengan kekuatan sendiri. Padahal kecanduan itu melibatkan banyak perubahan struktur otak, apalagi bagi pecandu yang kita sebut ‘hard-core addict’ alias pecandu yang sudah mendarah daging. Jadi jika sudah kecanduan maka harus mengikuti program rehabilitasi medis dan psikososial agar dapat terlepas dari kecanduan tersebut. Rehabilitasi tersebut tidak selalu harus diartikan masuk dalam program terstruktur di sebuah panti rehabilitasi tetapi dapat dilakukan secara disiplin melalui modifikasi perilaku dengan teknik-teknik seperti yang telah disebutkan di atas asalkan tidak curi-curi melakukan hal yang membuat adiksi tersebut.