Jumat, 06 Mei 2016

Budaya Masyarakat dan Uang

Dalam sebuah acara malam pemilihan mahasiswa berprestasi tahun 2016 di salah satu universitas swasta di Jakarta, sebagai salah satu juri undangan, saya memperhatikan betapa gegap gempitanya para mahasiwa, dosen, karyawan universitas dan para orang tua mahasiswa saling berinteaksi di acara tersebut. Menurut pendapat saya, salah satu hal yang mendasari kemeriahan acara tersebut adalah bahwa acara tersebut merupakan sebuah simbolisasi “kesuksesan akademik” yang dinyatakan dalam bentuk penghargaan berupa penyematan sebuah selendang bertuliskan ‘mahasiswa berprestasi 2016’ dan hadiah uang sebesar lima juta rupiah. Melalui acara tersebut, secara spontan dalam benak saya muncul sebuah pertanyaan, apa yang menjadi simbol kesuksesan masa kini? Gaya hidup adalah mungkin jawabannya. Gaya hidup dengan simbol-simbol yang dimaknai sebagai simbol kesuksesan di sini termasuk juga acara-acara malam penganugerahan seperti ini. Mulai yang dinilai kontroversial oleh segelintir golongan di Indonesia seperti Miss Universe karena memakai bikini, Putri Indonesia, Putri Kampus, Abang dan None Jakarta, dan lain sebagainya adalah simbol-simbol kesuksesan yang telah menjadi bagian dari gaya hidup.

Karena merupakan bagian dari gaya hidup maka jelas acara –acara seperti ini pun tidak lepas dari dukungan para sponsor yang menawarkan banyak produk-produk yang mensimbolisasikan penggunanya seakan-akan dapat tampil seperti tokoh idola. Kehidupan kota besar seperti Jakarta memacu masyarakatnya untuk mengejar simbol-simbol (termasuk mode fashion) gaya hidup materialistik dengan mengkonsumsi merek-merek produk terkenal yang sering diiklankan (termasuk yang sering mensponsori acara-acara di atas) dan menjadi ikon gaya hidup metropolis. Dorongan untuk mengejar gaya hidup ini tanpa disadari membentuk sikap mental masyarakat dalam menjalani kehidupannya saat ini.

Rutinitas pekerjaan yang menyibukkan diri kita dan perubahan dalam masyarakat yang cepat seringkali membuat kita menjadi tidak sempat merefleksikan pola-pola kehidupan kita saat ini yang membentuk interaksi antarindividu semakin anonim. Kehidupan yang dimediasi oleh sains dan teknologi, komoditas dan fenomena-fenomena sosial lainnya muncul sebagai sebuah keterasingan bagi kita. Sosiolog dan filsuf yang tertarik dalam pembahasan tentang budaya kehidupan dan gaya hidup modern seperti ini adalah Georg Simmel.
Karya Georg Simmel lebih menekankan tingkat kenyataan sosial yang bersifat interpersonal yaitu antara realisme dan nominalisme. Simmel menjembatani posisi Emile Durkheim dan Max Weber. Simmel melihat masyarakat lebih daripada sekedar suatu kumpulan individu serta pola perilakunya, namun masyarakat juga tidak terlepas dari individu yang membentuknya. Sebaliknya masyarakat membentuk pola-pola interaksi timbal balik antarindividu.

Riwayat Hidup Singkat Georg Simmel
Georg Simmel lahir tanggal 1 Maret tahun 1858 di pusat kota Berlin dari keluarga keturunan Yahudi. Ayahnya yang seorang pengusaha kaya meninggal ketika ia masih kecil dan ayahnya berpindah dari agama Yahudi ke Katolik. Ibunya adalah seorang Kristen Protestan Lutheran dan semua anaknya dibaptis sebagai Protestan. Pemikiran Simmel menangkap tegangan berbagai aliran dan kecenderungan moral serta intelektual zamannya. Ia merasakan tegangan sebagai orang kota besar karena tinggal di Berlin yang saat itu berkembang pesat sebagai kota metropolitan. Ia berada dipersilangan sosiologi dan filsafat. Pemikirannya patut disejajarkan dengan Max Weber dan Emile Durkheim. Ia adalah seorang pemikir modern yang fokus pada gaya hidup metropolitan.
Sebagai seorang Yahudi yang masuk gereja protestan maka ia ditolak oleh kaumnya dan juga dicurigai di kalangan Protestan. Selain itu walaupun ia berasal dari keluarga kaya yang dapat mempertahankan hidup borjuisnya, ia sendiri tidak berhasil mendapatkan uang dari kariernya. Ia mendapatkan gelar doktoralnya dari Universitas Berlin tahun 1881 dan mulai mengajar di sana tahun 1885. Kuliah-kuliahnya begitu berhasil karena ia seorang guru yang cemerlang, peka dan sangat mendalam pengetahuannya mengenai banyak macam hal. Walaupun demikian, pada saat itu sedang marak gerakan antisemintik di Jerman dan karena ia orang Yahudi maka ia didiskriminasi dan hanya diangkat menjadi dosen-privat, yaitu dosen yang tidak dibayar yang gajinya berdasarkan pembayaran mahasiswanya. Kemudian ia menerima gelar kehormatan sebagai “Profesor Luar Biasa” tanpa kompensasi uang. Ia menerima posisi sebagai profesor penuh pada usia 56 tahun dari Universitas Strasbourg namun malang nasibnya karena karier akademiknya terhenti akibat pecah perang.
Posisi marginal yang dialaminya ini bagaimanapun juga mempengaruhi pandangannya. Ia sendiri memperbesar marginalitasnya dengan menolak menyesuaikan diri dengan suatu spesialisasi yang sudah diakui dalam dunia akademis. Minatnya yang luas tersebar mulai dari epistemologi Kant sampai ke psikologi, filsafat dan sosiologi mengenai makanan serta mode fashion. Dalam proses mengikuti dorongan hatinya ini, ia mengembangkan sejumlah sketsa yang analitis dan brilian, namun hasil keseluruhannya bersifat fragmen-fragmen saja. (Johnson, 1981)
Karya-karya Simmel yang terkenal, yang menangkap detail perasaan-perasaan hidup orang kota besar diantaranya: Philosophie des Geldes (Filsafat Uang, 1900), The Metropolis and Mental Life (1903), Philosophy of Fashion (1905).

Masyarakat Sebagai Interaksi Timbal-balik
Sebelum membahas lebih jauh tentang pandangan-pandangan Simmel yang terkenal maka kita perlu memahami pendekatan konsep munculnya masyarakat menurut Simmel. Pendekatan Simmel meliputi pengidentifikasian dan penganalisaan pola-pola sosialisasi yang berulang. Kata “sosialisasi” di sini adalah terjemahan kata Jerman Vergesellschaftung, yang secara harafiah berarti “proses di mana masyarakat itu terjadi”. Sosialisasi meliputi interaksi timbal-balik. Melalui proses ini, individu saling berhubungan dan saling mempengaruhi, dengan demikian muncullah masyarakat. (Johnson, 1981)

Proses interaksi timbal-balik ini mengusahakan keseimbangan antara pandangan nominalis dan pandangan realis. Menurut Simmel, sebagai suatu disiplin ilmiah, sosiologi harus memiliki identifikasi dan analisa mengenai berbagai pola yang berulang dalam interaksi timbal-balik ini sehingga muncullah masyarakat. Sebagai contoh, sekumpulan individu yang sedang menunggu di stasiun kereta dan saling berdiam diri satu sama lain bukanlah sebuah masyarakat. Ketika misalnya ada pengumuman bahwa kereta terlambat datang karena ada kecelakaan seperti ada gerbong yang tergelincir dari rel-nya maka antar individu tersebut mulai terjadi interaksi dengan saling terlibat dalam pembicaraan, maka di sana muncullah masyarakat.(Johnson, 1981)
Proses sosialisasi dalam masyarakat ini juga bermacam-macam, mulai dari pertemuan sepintas lalu antara orang-orang yang tidak saling mengenal di tempat umum sampai ke ikatan persahabatan yang lama dan intim atau hubungan keluarga. Tanpa memandang tingkat variasinya, proses sosialisasi ini mengubah suatu kumpulan individu menjadi suatu masyarakat. Kesimpulannya, masyarakat ada apabila sejumlah individu terjalin melalui interaksi dan saling mempengaruhi. (Johnson, 1981)

Uang dan Hubungan Sosial
Menurut Georg Simmel, keterasingan dalam kehidupan modern saat ini disebabkan oleh fenomena uang dan fashion. Apa yang mendasari semua ini? Tentunya adalah manusia. Uang dan fashion dihasilkan oleh manusia. Pada hakikatnya, manusia menurut Simmel adalah makhluk yang dinamis yang terus berubah sesuai dengan kondisi ruang dan waktu atau boleh disebut sesuai dengan zamannya. Jadi manusia itu tidak memiliki hakikat yang permanen seperti pandangan para filsuf kuno. Manusia yang muncul di zaman modern ini disebut manusia kota atau manusia urban. Manusia urban adalah manusia yang diaktualkan “kodrat”-nya sesuai dengan tegangan hidup dalam kota. (Hardiman, 2016)
Untuk lebih jelas melihat fenomena kota besar ini maka baiknya kita menelaah tulisannya The Metropolis and Mental Life bahwa di kota besar kita akan secara ajeg dihujani informasi sehingga ada “intensifikasi stimulasi sel syaraf”. Semua hal adalah baru, cepat, dan tidak kekal, warga kota dikelilingi oleh orang-orang asing dan iklan-iklan, tanda jalan dan pesan-pesan lainnya. Semua aspek kehidupan urban yang bervariasi ini mengancam panca indera kita terhadap diri sendiri dan kemampuan kita menjadi subjek yang memiliki otonomi di lingkungan kota metropolitan. Pada akhirnya, untuk menyesuaikan diri dengan situasi ini, kita harus menutup beberapa respon emosi kita dan mengembangkan sikap yang disebut oleh Simmel adalah sikap blasé. Sikap blasé ini adalah sikap tidak peduli perbedaan individual, anonim dan berjarak. (Smith dan Riley, 2009)
Fungsi, rasionalitas dan impersonalitas dalam hubungan sosial modern disimbolkan dan dipermudah dengan uang. Simmel mengembangkan pemikirannya ini dalam esainya yang berjudul The Philosophy of Money. Sebagai suatu ukuran nilai yang objektif, uang memungkinkan produk-produk atau jasa-jasa yang benar-benar tidak serupa itu dibandingkan satu sama lain untuk menentukan nilai relatifnya dalam transaksi pertukaran. (Johnson, 1981)

Dengan adanya uang maka bentuk perdagangan barter ditiadakan. Uang menjadi pihak ketiga yang membuat penjual dan pembeli bisa tidak bertemu untuk saling menukarkan barangnya melainkan diperantarai uang tersebut. Jika dulu ada proses sentuhan kepribadian antara individu penjual dan pembeli ketika hendak melakukan barter maka kini tidak ada lagi.
Dengan kejadian ini, uang membuat segala sesuatu yang dihargai menurut nilainya menjadi sama. Terjadi anonimisasi atau depersonalisasi. Uang menyingkirkan salah satu aspek manusia sebagai makhluk pembeda. Kalau makhluk pembeda cenderung disamakan sekaligus dibedakan, uang membuatnya hanya disamakan. Semua hal, termasuk orang, adalah sama di hadapan uang, yaitu dapat dijual atau dibeli. (Hardiman, 2016)

Karena uang adalah suatu ukuran nilai yang objektif maka penggunaannya meningkatkan rasionalitas dalam transaksi antar pribadi. Tidak ada lagi hak dan kewajiban timbal-balik dalam interaksi sosial tradisional, bahkan individu pun sebagai pribadi dinilai dengan uang. Manusia tidak lagi dipandang sebagai individu manusia seutuhnya melainkan sebagai “berapa banyak uangnya”. Di pasar, seorang penjual tidak mengetahui siapa pembelinya kecuali jika pembeli itu memiliki uang yang cukup. Perkembangan moneter dapat menghambat perkembangan hubungan pribadi bahkan pada saat mereka sedang memperluas ruang lingkup hubungan tersebut. Bahkan dalam ekonomi pasar uang, uang itu sendiri diperdagangkan sebagai komoditi yang mempunyai “nilai” tersendiri.
Uang yang awalnya hanya alat tukar akhirnya dijadikan tujuan akhir dan memiliki otonominya di hadapan pemiliknya. Uang dapat mempertinggi kebebasan individu. Dalam suatu masyarakat yang didominasi oleh perhitungan moneter maka ada kecenderungan bahwa setiap produk, jasa yang dapat diterima, atau pengalaman pribadi ditawarkan untuk dijual. Orang yang banyak uang dapat mengambil keuntungan dari kecenderungan ini dan dapat memperluas jangkauan pengalamannya dengan cara apa saja yang mereka mau. Gaya hidup individu tidak lagi banyak ditentukan oleh kebiasaan dan tradisi melainkan ditentukan oleh sumber-sumber keuangan yang mereka miliki untuk membeli perlengkapan yang diperlukan untuk gaya hidup yang mereka ingini. Dengan demikian, seakan-akan kebahagiaan hidup terkait dengan kepemilikan uang. Uang lalu dijadikan “Allah” zaman modern. Kepemilikan uang menimbulkan “rasa damai dan aman”, seperti “perasaan yang ditemukan orang saleh di dalam Tuhannya”. Dan perasaan seperti itu tidak ditimbulkan oleh jenis-jenis kepemilikan lainnya. (Johnson, 1981; Hardiman, 2016)

Uang dapat mengubah karakter pemiliknya menjadi mirip dengan karakter uang itu sendiri, yaitu memiliki sikap berjarak, anonim, atau tidak peduli perbedaan individual. Karena uang adalah cakupan umum segala nilai dan interseksi umum atas rentetan tujuan-tujuan maka sikap-sikap pemilik uang akan dibentuk oleh uang yang dimilikinya. Menurut Simmel, sikap blasé manusia urban adalah produk uang.(Hardiman, 2016)
Pemilik uang membentuk sikap blasé pemiliknya dan sebaliknya juga terjadi. Sikap blasé memungkinkan manusia urban bertransaksi dengan uang, dengan cara yang anonim. Fenomena ini pun banyak terlihat dan cenderung meningkat pada pola perilaku masyarakat Jakarta dewasa ini.

Kesimpulan dan Kritik
Pandangan Simmel tentang uang dan masyarakat kota metropolitan ini menginspirasi pemikiran Max Weber dalam Etika Protestannya. Georg Lukacs pun menggunakan analisis tentang uang ini dalam menginterpretasikan fetisisme komoditasnya Karl Marx. Kecenderungan kehidupan mental masyarakat Jakarta dalam budaya uang bahkan sampai pada generasi mudanya pun saat ini menjurus pada praktek sikap blasé sampai pola interaksi seperti yang diungkapkan dalam pemikiran Simmel ini. Analisanya tentang budaya uang dan kehidupan metropolis ini sangat mengena pada masyarakat di kota-kota besar di Indonesia saat ini. Uraiannya yang analitis seperti peran uang saat ini dan fenomena men-“Tuhan”-kan uang memang terjadi baik dalam simbol mode fashion maupun komoditas uang itu sendiri dalam ekonomi moneter dan pasar uang.

Walaupun demikian, Simmel seakan-akan tidak melihat adanya pengecualian-pengecualian dalam bentuk pola kolektivitas masyarakat yang mencakup banyak variasi individu dan struktur kelas sosial di masyarakat. Oleh karena itu bisa saja kita mengatakan bahwa pemikirannya ini hanya refleksi superfisial atas kelas menegah Jerman di jamannya.

Rentang minat pemikiran Simmel yang luas dan terfragmentasi secara metodologis kurang sistematik dibandingkan Marx, Durkheim atau Weber. Hal ini membuat pemikirannya dianggap kurang fokus oleh banyak kritikus. Marxisme mengkritik Simmel bahwa ia tidak memperlihatkan jalan keluar terhadap tragedi budaya ini.

Selasa, 29 Desember 2015

LOGOTERAPI Sebagai Psikoterapi Mencari Makna Hidup dan Kehidupan yang Lebih Bermakna


Sejak dahulu, terutama para filsuf eksistensial mempertanyakan pilihan-pilihan bebas setiap manusia tentang apakah yang menjadi tujuan hidup manusia tersebut. Apakah kebahagiaan? Kebahagiaan yang seperti apa? Apakah aktualisasi diri? Aktualisasi diri yang bagaimana? Banyak penelitian empirik yang menyatakan bahwa banyak juga orang yang peduli akan penemuan makna hidup sebagai tujuan hidupnya. (Sastrapratedja, 2015)
Banyak orang yang percaya bahwa hidup yang bermakna adalah kualitas kehidupan yang didambakan setiap manusia. Logoterapi yang juga suka disebut sebagai logofilosofi adalah pendekatan terapeutik-filosofis yang bertujuan membantu seseorang untuk menemukan tujuan dan orientasi hidup mereka dengan penuh makna sehingga dapat mengatasi perasaan hampa dalam ketakbermaknaan hidup dan bahkan rasa keputusasaan.

Latar Belakang

Kondisi masyarakat Indonesia saat ini banyak diliputi oleh rasa frustasi, baik di kalangan eksekutif, profesional, karyawan biasa sampai para pengangguran dan pensiunan. Hal ini disebut sebagai frustasi eksistensial. Bagi para karyawan, eksekutif dan profesional, mereka mencurahkan hampir seluruh perhatian dan waktunya untuk pekerjaan mereka. Mereka sangat sibuk dengan tekanan tanggung jawab pekerjaan, tuntutan target pekerjaan sekaligus tuntutan memenuhi nafkah hidup bagi diri dan keluarganya tetapi melupakan “kehidupan” dirinya sendiri. Kemakmuran materi seringkali dijadikan tujuan terakhir atau bahkan tujuan utama satu-satunya pada dirinya sendiri. Banyak orang menaruh perhatian semata-mata pada uang dan dengan uang mereka merasa berkuasa. Bagi para pengangguran dan pensiunan, banyak dari mereka mengalami krisis spiritual dan kecemasan (neurosis). Kebanyakan dari mereka tidak tampak depresi tetapi apatis, acuh tak acuh dan kehilangan inisiatif.

Baik kaum eksekutif yang mengalami frustasi eksistensial maupun kaum pengangguran dan pensiunan yang mengalami kecemasan ini sama-sama mengalami kekosongan batin, kehampaan hidup, merasa hidupnya tidak bermakna. Kondisi ketidakbermaknaan ini sebenarnya juga dapat dialami dan bahkan sering dijumpai dalam krisis perubahan tahapan kehidupan lainnya selain memasuki masa pensiun, seperti misalnya saat menginjak remaja, saat memasuki masa berkeluarga atau ketika mengalami krisis-krisis kehidupan lainnya. Hal ini dapat menjurus pada perilaku destruktif seperti kecanduan narkoba, gila seks, fobia, gangguan panik dan gangguan psikiatrik lainnya.
Salah satu teknik psikoterapi yang didasari oleh pandangan filsafat yang kental dan dapat membantu orang-orang dalam ketidakbermaknaan yang mendalam tersebut adalah Logoterapi. Logoterapi dikembangkan oleh Victor Emile Frankl, seorang psikiater dari Wina, Austria. Istilah logoterapi ini sendiri berasal dari dua kata yaitu “logos” dan “terapi, yakni suatu terapi yang menembus dimensi spiritual dari eksistensi manusia. Kata “logos” dalam bahasa Yunani berarti makna, maksudnya makna menjadi manusia. Seseorang diarahkan pada sesuatu dan bukan pada dirinya sendiri. Dalam hal ini logoterapi merupakan suatu terapi yang diarahkan pada makna, yakni makna dalam dan untuk eksistensi manusia. Karena itu manusia harus menerima tanggungjawab dan menemukan nilai-nilai bagi kehidupannya.

“Hidup adalah tugas. Orang yang religius dibedakan dengan yang tidak religius hanya dengan pengalaman eksistensinya yang tidak sesederhana sebuah tugas, tetapi sebagai sebuah misi. Hal ini berarti dia juga menyadari siapa pemberi tugas tersebut, sumber dari misi hidupnya. Untuk beribu-ribu tahun sumber tersebut dinamakan Tuhan.” (Frankl. The Doctor and the Soul, 1986. Hal. xxi)

Logoterapi dikenal sebagai aliran psikoterapi Wina ketiga. Pada masa itu, ada dua aliran psikoterapi yang terkenal yaitu aliran Freud dengan psikoanalisisnya dan aliran Adler dengan psikologi individualnya. Bagi Frankl, pandangan Freud terlalu menekankan naturalisme dengan pengungkapan seksualitas manusia dan di lain pihak, psikologi individual Adler yang sangat menekankan tanggung jawab pribadi terlalu subjektif terhadap nilai-nilai dan melihat individu sebagai fungsi penentu masyarakatnya. Frankl juga menolak pandangan Adler yang hanya menekankan nilai biologis dan sosial terutama kehendak akan kekuasaan sebagai tujuan hidup konkrit manusia. Menurut kritik Frankl dalam bukunya The Doctor and the Soul, baik Freud maupun Adler terlalu menyederhanakan manusia dan akhirnya jatuh pada nihilisme dan mengabaikan dimensi spiritualitas.
Tahap selanjutnya, Frankl mulai tertarik kepada fenomenologi Edmund Husserl karena Husserl mulai merintis pendekatan “reduksi”-nya yang menekankan pada pengalaman langsung apa adanya tanpa disertai praduga pada teori yang dianut pengamatnya. Walaupun demikian, Frankl lebih tertarik pada fenomenologi Max Scheler karena menyajikan makna dan tingkatan nilai-nilai. Makna dan nilai-nilai ini dijadikan landasan filosofis logoterapinya.

Frankl juga tertarik pada eksistensialis seperti Karl Jaspers, Martin Heidegger dan Gabriel Marcel. Eksistensialisme menyajikan konsep tentang kebebasan manusia, yakni kebebasan dalam berkehendak dan dalam memilih serta mengambil sikap. Pandangan ini bersumber pada keyakinan bahwa manusia mampu melampaui, mengubah, dan menjadikan dirinya sesuai yang diinginkan oleh manusia itu sendiri. Di atas semua landasan pemikiran filsuf-filsuf tersebut Frankl membuat logoterapi sebagai “Aliran Psikoterapi Wina Ketiga”. (Semiun, Y. 2006)

Filsafat Manusia Frankl

Pada dasarnya setiap manusia dalam kehidupannya selalu ingin mendapatkan makna. Tanpa mengetahui makna kehidupan, manusia tak mengetahui tujuan hidupnya. Celakalah orang yang tidak lagi melihat makna dalam kehidupannya karena ia akan mengalami frustasi dan perasaan hampa. Frankl melihat dorongan terkuat manusia adalah dalam hal “kehendak akan makna”. Oleh karena itu Frankl memasukkan dalam psikoterapinya dimensi spiritual manusia, yang termanifestasi dalam suara hati (Sastrapratedja. 2015). Kebutuhan akan makna ini lebih kuat daripada sekedar kebutuhan akan kenikmatan (Freud) dan kekuasaan (Adler). Menurut Frankl, ketidakbermaknaan dalam kehidupan zaman sekarang merupakan suatu neurosis dan dia menyebutnya “neurosis noogenik” . Fenomena orang modern banyak yang menderita kebosanan dan tidak peduli terhadap neurosis noogenik ini karena dua alasan. Pertama, ketika manusia berkembang dari binatang yang lebih rendah, manusia kehilangan insting dan dorongan alamiah yang menghubungkan mereka dengan alam. Hal ini menyebabkan tingkah laku kita tidak “dibimbing” oleh alam sehingga kita harus aktif memilih apa yang yang harus kita lakukan. Untuk dapat memilih yang benar seharusnya manusia belajar lebih dahulu sehingga memiliki kemampuan untuk memilih. Kehidupan modern saat ini banyak dimanipulasi oleh kampanye iklan-iklan dan pandangan-pandangan semu yang berwujud dalam ilusi. Manusia hendaknya memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang ilusi dan mana yang realita sesungguhnya sehingga tidak kehilangan makna. Kedua, seperti yang telah diungkapkan pada yang pertama, dalam masyarakat kita kini terdapat banyak adat kebiasaan, tradisi-tradisi dan nilai-nilai yang menentukan tingkah laku kita (kendali dari luar diri kita). Kekuatan agama terancam oleh nilai-nilai dan tradisi baru dalam masyarakat modern ini, oleh karena itu saat ini manusia diharapkan dapat bersandar pada diri sendiri dan membuat keputusan bagi dirinya sendiri disertai tanggung jawab terhadap keputusan-keputusan tersebut. (Semiun, 2006)
Menurut Frankl, manusia adalah kesatuan fisiko(bio)-psiko-spiritual. Logoterapi atau logofilosofi menekankan pada dimensi spiritual yang diungkapkan secara fenomenologis dalam bentuk kesadaran diri manusia yang segera.

Kebebasan manusia ditandai oleh kebebasannya terhadap kondisi-kondisinya, ia melampaui kondisi yang diwariskan atau lingkungannya. Manusia dapat menerima atau menolak bahkan membentuk/ memodifikasi kondisi-kondisi yang mencakup faktor biologis, psikologis dan sosiologisnya. Ia secara bertanggunjawab terhadap dirinya bebas mengalahkan atau menyerahkan diri pada kondisi-kondisinya. Kebebasan manusia ini bukan hanya kebebasan “dari” tetapi juga “untuk”.
Kebebasan “untuk” ini bertanggung jawab untuk diri manusia sendiri, suara hatinya dan Allah. Karena seperti yang pertama-tama diuraikan bahwa manusia sebenarnya dalam hidup selalu ingin mendapatkan makna maka ia memiliki kebebasan “untuk” mencari dan menemukan makna tersebut. Makna bukan diciptakan melainkan ditemukan. (Sastrapratedja. 2015) Kehidupan setiap manusia adalah unik. Kehidupan setiap manusia khusus dan tertentu untuk setiap keadaan waktu tertentu. Untuk itu perlu menemukan makna hidup yang spesifik dalam keadaan waktu tersebut selain “makna hidup secara umum”. Seperti yang dikatakan Frankl sendiri, setiap orang bukan hanya memiliki “tugas” melainkan memiliki “misi” kehidupan yang didapat dari Allah.

Landasan Filsafat Logoterapi

Landasan filsafat dari logoterapi adalah kebebasan berkehendak, hasrat untuk hidup bermakna dan makna hidup. (Frankl. Psychotherapy and Existentialism. 1967)
Kebebasan Berkehendak, maksudnya bukan kebebasan berkehendak semaunya sendiri tanpa batas. Frankl mengatakan bahwa manusia tidak bebas dari kondisi-kondisi seperti yang secara alamiah seorang manusia sudah ditentukan kondisi biologis atau psikologis atau sosiologisnya. Walaupun demikian, selalu ada yang tersisa yaitu setiap manusia bebas untuk mengambil jarak dengan kondisinya; Dia bebas mempertahankan kebebasannya untuk memilih sikap terhadap kondisi-kondisi tersebut. Manusia bebas melampaui determinasi eksistensi badaniah dan jiwanya. Melalui kebebasan ini, manusia memiliki dimensi spiritual selain dimensi fisik/badaniah dan fenomena kejiwaannya semata. Manusia menjadi mampu mengambil jarak tidak hanya dengan dunianya melainkan juga dengan dirinya sendiri (self detachment). Mengambil jarak di sini bisa berarti meninggalkan dimensi biologis dan psikologis lalu masuk ke dalam dimensi noologis atau spiritual. Manusia mampu berefleksi terhadap sesuatu, dan bahkan menolak, dalam dirinya sendiri. Manusia bisa menjadi hakim untuk dirinya sendiri. Kemampuan dan kebebasan untuk mengubah kondisi hidupnya ini bertujuan untuk mencapai kehidupan yang lebih berkualitas. Sebagai konsekuensi atas kebebasan ini, manusia juga harus menyadari bahwa terdapat tanggung jawab sebagai akibatnya.

Kesanggupan manusia untuk mengambil jarak terhadap diri sendiri dan mengambil sikap terhadap situasi yang dihadapi digunakan Frankl untuk tujuan terapeutik sebagai dua teknik dalam logoterapi, yaitu intensi paradoksikal dan derefleksi, serta pendekatan “bimbingan rohani” (spiritual ministry).

Konsep kebebasan berkehendak ini otomatis menentang pandangan filsuf deterministik yang berpendapat sesungguhnya manusia tidak bebas karena manusia adalah makhluk yang tidak berdaya akibat terbatas oleh faktor biologis, psikologis dan sosiologis.
Hasrat (Kehendak) untuk Hidup Bermakna. Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa setiap manusia dalam kehidupannya selalu ingin mendapatkan makna. Tanpa mengetahui makna kehidupan, manusia tak mengetahui tujuan hidupnya dan tanpa menemukan makna serta tujuan hidupnya maka manusia akan jatuh pada perasaan tidak berharga dan tidak berarti. Setiap manusia ingin “menjadi seseorang” dengan kehidupannya yang sarat dengan kegiatan-kegiatan yang bermakna. Keinginan untuk hidup bermakna ini betul-betul merupakan motivasi utama setiap manusia.(Bastaman, 2007) Hasrat inilah yang mendorong setiap manusia untuk melakukan berbagai kegiatan atau “berkarya” agar hidupnya dirasakan berharga dan berarti, bukan hanya sekedar mencari nafkah.
Dengan konsep ini, Frankl mengkritik “prinsip kesenangan” Freud. Menurut Frankl, kesenangan sebenarnya hanya hasil atau efek samping dari pemenuhan dorongan atau pencapaian tujuan kita yang akan merusak apabil dijadikan tujuan akhir. Semakin seseorang mengarahkan dirinya secara langsung pada kesenangan maka ia akan semakin kehilangan sasaran tujuannya. Frankl juga sekaligus mengkritik “prinsip kenyataan” dalam psikoanalisis karena menurutnya “prinsip kenyataan” ini hanyalah perluasan dari “prinsip kesenangan” dan berlaku hanya sebagai pengarah bagi pemenuhan keinginan akan kesenangan. (Semiun, 2006)

Kritiknya pada Adler tentang “prinsip keinginan akan kekuasaan” adalah bahwa “kekuasaan” hanya alat untuk mencapai tujuan. Jadi “kekuasaan” tidak bisa dijadikan tujuan akhir. Kesenangan adalah akibat pemenuhan makna sedangkan kekuasaan adalah prasyarat untuk pemenuhan makna.
Kritiknya pada psikologi Jung adalah tentang motivasi manusia. Menurut Jung, motivasi manusia dilihat selaras dengan pandangan psikoanalisis. Dalam psikoanalisis manusia dilihat sebagai makhluk yang selalu didorong oleh tegangan yang memuncak setiap kali dorongan atau naluri menuntut pemuasan, sedangkan dalam psikologi Jung, manusia dilihat sebagai makhluk yang tidak berdaya karena selalu terjadi tegangan setiap kali arketipe-arketipe menuntut pemuasan. Oleh karena itu, pandangan Jung ini menurut Frankl merendahkan realitas dunia tempat keberadaan dan makna menjadi hanya alat yang dapat digunakan individu untuk membebaskan diri dari stimulus-stimulus yang mengganggu keseimbangan (homeostasis) sebagai akibat dari memuncaknya tegangan. Menurut Frankl apa yang diinginkan manusia bukanlah reduksi tegangan melainkan perjuangan menemukan makna. Itulah sebabnya mengapa Frankl menggunakan istilah hasrat/kehendak menemukan makna dan bukan kebutuhan untuk menemukan makna. Istilah kebutuhan akan makna berarti manusia melakukan pemenuhan makna hanya untuk mereduksi tegangan dalam usaha memulihkan keseimbangan dalam dirinya sehingga ia tidak sepenuhnya berurusan dengan makna, melainkan hanya dengan keseimbangan dirinya sendiri.

Kritiknya terhadap Maslow adalah bahwa menurutnya tujuan akhir manusia bukanlah aktualisasi diri. Aktualisasi diri hanya efek samping dan konsep ini tidak jauh berbeda dengan konsep kesenangan dan kekuasaan. Dalam pandangan Frankl, orang mengaktualisasikan diri sejauh ia melakukan pemenuhan makna. Sedangkan menurut Sasrapratedja, maksud Frankl mengenai eksistensi manusia ini secara esensial lebih merupakan transendensi diri daripada aktualisasi diri. Karena aktualisasi diri tidak dapat tercapai kalau dijadikan tujuan akhir pada dirinya sendiri maka aktualisasi diri juga dapat dilihat sebagai efek samping dari transendensi diri.
Dalam kebebasan menemukan makna dan mendapatkan kedewasaan hidup, kematangan serta kesehatan psikologis maka setiap manusia membutuhkan tegangan berupa konfrontasi makna. Pencapaian pada penemuan makna ini bukan dengan pendamaian batin yang hanya akan memperburuk kondisi manusia dalam suatu kestabilan keseimbangan. Dengan konfrontasi makna kita akan membawa manusia mencapai dirinya untuk “menjadi sesuatu” atau dengan kata lain mencapai eksistensinya dalam kehendak bebasnya yang bertanggung jawab. Seperti dikatakan Frankl,”manusia bertanggung jawab untuk memenuhi makna spesifik dalam hidup personalnya.”(Frankl, 1967)

Makna Hidup. Menurut Frankl, kita harus memberikan respon untuk menemukan makna hidup karena kita bertanggung jawab terhadap hidup. Respon tersebut dinyatakan dalam bentuk perbuatan dan tindakan.
Makna hidup ini bersifat objektif sekaligus mutlak. Makna yang bersifat objektif ini maksudnya berlawanan dengan subjektif. Sesuatu yang subjektif hanya dilihat semata-mata sebagai ungkapan keberadaan atau merupakan proyeksi dari naluri-naluri. Jika makna bersifat objektif maka makna tersebut menuntut manusia untuk mencapainya. Makna memang bisa bersifat subjektif sejauh sifat subjektif itu diartikan sebagai mengikuti keunikan setiap individu. Demikian juga subjektif terhadap kejadian-kejadian spesifik dalam kehidupan. Tugas-tugas kehidupan setiap individu adalah suatu kenyataan yang berbeda satu sama lain, demikian juga makna kehidupan setiap individu berbeda satu sama lain. Tugas yang kita lakukan bagi diri kita masing-masing menentukan nasib kita dan realita kita per individu dan tidak dapat dibandingkan dengan tugas apalagi nasib individu lain. Kita tidak dapat bertemu dua kali pada situasi yang sama dan dengan cara yang sama karena pengaruh pengalaman-pengalaman baru yang terjadi di setiap situasi.

Makna hidup bersifat mutlak maksudnya bukan sebuah makna yang bersifat abadi melainkan makna yang memiliki konteks pada situasi atau waktu tertentu. Karena masing-masing individu adalah unik maka masing-masing individu harus dapat menemukan makna hidupnya sendiri dengan memberikan respon-respon yang eksklusif bagi pengalaman hidupnya sampai bertemu dengan makna hidup tersebut. Ketika kita berhadapan dengan situasi berbeda maka kita mungkin harus menemukan makna yang berbeda bagi konteks kehidupan kita tersebut dan hal ini dicontohkan Frankl ketika situasi hidupnya berubah dari seorang dokter yang mapan menjadi tawanan di kamp konsentrasi.
Makna hidup itu melampaui intelektualitas manusia jadi makna tidak akan mungkin dicapai hanya dengan proses akal atau pemikiran belaka. Untuk mencapai penemuan makna itu maka seorang individu harus menunjukkan komitmen yang keluar dari kepribadiannya dalam bentuk menjalani tindakan nyata pada seluruh konteks dunia kehidupannya. Melalui komitmen, tindakannya berkarya dalam konteks kehidupan tersebut maka seseorang menjawab tantangan-tantangan yang datang dalam hidupnya.
Makna dapat dicapai melalui bermacam-macam nilai kehidupan. Setidaknya ada tiga nilai penting dalam menemukan makna hidup yang diungkapkan Frankl. Ketiga nilai itu adalah nilai kreatif, nilai pengalaman (experiential values), nilai yang berkaitan dengan sikap (attitudinal values).

Nilai kreatif diwujudkan dalam aktivitas yang kreatif dan produktif dan biasanya berhubungan dengan pekerjaan. Makna diberikan melalui tindakan yang menciptakan suatu hasil yang kelihatan atau suatu ide yang tidak kelihatan atau dengan melayani orang lain.
Pekerjaan hanyalah sarana yang memberikan kesempatan untuk menemukan dan mengembangkan makna hidup, makna hidup tidak terletak pada pekerjaan, tetapi lebih bergantung pada pribadi yang bersangkutan. Dalam hal ini sikap positif dan mencintai pekerjaan serta bagaimana cara bekerja seseorang yang mencerminkan keterlibatan pribadi pada pekerjaannya adalah hal yang penting. Kerja biasanya menggambarkan situasi di mana individu tampil dalam hubungannya dengan masyarakat, dan di sana individu dapat menemukan makna. Makna ini terpisah dari individu. Pekerjaan tertentu tidak pasti memberikan makna pada individu melainkan individu yang harus dapat menemukan makna dalam pekerjaannya karena pekerjaannya tersebut dapat digunakan oleh individu itu sebagai sarana untuk mencapai pemenuhan diri dan penemuan makna. Suatu pekerjaan baru memiliki makna kalau pekerjaan tersebut merupakan usaha untuk memberikan sesuatu (berkontribusi) pada kehidupan (diri sendiri dan sesama) yang didekati secara kreatif dan dijalankan sebagai tindakan komitmen pribadi yang berakar pada seluruh eksistensinya.

Nilai pengalaman adalah kebalikan dari nilai kreatif, yakni menyangkut penerimaan kita dari dunia. Nilai pengalaman ini disebut juga nilai penghayatan (Bastaman, 2007) karena menghayati nilai-nilai kebenaran, kebajikan, keindahan, keimanan, serta cinta kasih. Menghayati suatu nilai dapat menjadikan seseorang merasakan hidupnya berarti. Hal seperti ini tampak misalnya pada orang-orang yang membaktikan seluruh hidupnya untuk sebuah karya seni sebagai seniman, Bunda Theresa misalnya yang membaktikan seluruh hidupnya dalam penghayatan membantu sesama yang tersisihkan. Saling mencintai juga menjadikan seseorang menghayati pengalaman berarti dalam hidupnya. Menurut Frankl, menemui sesama (termasuk menemui sesama sebagaimana Bunda Theresa merawat orang sakit dengan penuh cinta kasih) dengan segala keunikan berarti mencintainya. Dalam nilai pengalaman ini Frankl lebih banyak mengutarakan tentang cinta dan estetika sebagai keadaan yang dapat dihayati bermakna. Cinta adalah anugerah dan sekaligus perluasan batin. Dengan menyerahkan diri pada orang yang dicintai, seseorang akan memperkaya batin. Pemerkayaan batin adalah salah satu unsur yang membentuk makna hidup. Jadi proses “menemui” sesama adalah sangat penting dalam penghayatan nilai pengalaman ini pada proses menemukan makna.
Frankl juga mengungkapkan segi lain dari makna kehidupan yakni makna dapat ada pada saat-saat tertentu saja. Dengan kata lain kita tidak dapat menemukan makna dalam semua situasi kehidupan. Frankl menulis, sama seperti tingginya deretan pegunungan tidak dilukiskan dengan permukaan lembah-lembahnya, melainkan oleh puncaknya yang tertinggi, demikian juga kita melukiskan kepenuhan makna suatu kehidupan oleh puncaknya bukan lembah-lembahnya. Ia mengungkapkan bahwa suatu momen puncak dari nilai pengalaman dapat mengisi seluruh kehidupan individu dengan penuh makna. Faktor yang menetukan adalah intensitas yang kita alami terhadap hal-hal yang kita miliki.

Nilai bersikap. Nilai kreatif dan nilai pengalaman membicarakan tentang pengalaman-pengalaman manusia yang positif dalam suatu proses pemenuhan hidup dengan menciptakan dan mengalami sesuatu hingga menemukan makna didalamnya. Masalahnya kehidupan tidak selalu dalam konteks yang positif melainkan juga dalam penderitaan, sakit, kematian, dan hal negatif lainnya. Nilai bersikap maksudnya menerima dengan penuh ketabahan, kesabaran, dan keberanian segala bentuk penderitaan yang tidak terelakan lagi. Dalam hal ini yang diubah bukanlah keadaannya, melainkan sikap yang diambil dalam menghadapi situasi penderitaan itu. Ini berarti ketika kita menghadapi situasi yang tidak dapat diubah atau dihindari maka sikap yang tepatlah yang masih dapat dikembangkan. Sikap penerimaan dengan keikhlasan dan ketabahan dapat mengubah pandangan kita dari yang awalnya dihayati sebagai penderitaan semata-mata menjadi pandangan yang mampu melihat makna dan hikmah dari penderitaan itu. Penderitaan dapat memberikan makna dan berguna apabila kita dapat mengubah sikap terhadap penderitaan itu menjadi lebih baik. Ini berarti bahwa dalam keadaan menderita bagaimanapun arti hidup masih dapat ditemukan dengan syarat kita mampu memilih dan mengambil sikap yang tepat dalam menghadapi penderitaan tersebut.

Tanggapan dan Kritik
Pandangan Frankl tentang menemukan makna hidup sebagai tujuan akhir yang membahagiakan ini tentunya sangat bermanfaat apabila dapat diaplikasikan dalam suatu proses pembelajaran pada masyarakat modern saat ini khususnya pada masyarakat Indonesia yang boleh dikatakan telah mengalami kebingungan dan disorientasi dalam menemukan makna hidupnya. Pemikiran tentang kehendak bebas, hasrat akan makna dan makna hidup sebagai hal yang lebih mendasar daripada sekedar “kebutuhan” hidup manusia apalagi jika dibandingkan dengan “kebutuhan” yang sekedar memenuhi kenikmatan dan kekuasaan tentunya membawa kita pada suatu dimensi spiritual yang sangat cocok dengan kerangka berpikir dan wawasan serta nuansa hidup masyarakat Indonesia. Pandangannya tidak atheis walaupun ia katakan sekuler tetapi masih ada “Tuhan” sehingga masih sejalan dengan paham masyarakat Indonesia.
Pemaknaan dalam filsafat logoterapi ini rupanya agak bernuansa superficial karena tidak sampai pada penemuan makna yang “lebih abadi/ makna besar” melainkan hanya diutamakan pada konteks atau situasi tertentu saja. Metode logoterapi ini tidak begitu retrospektif dan introspektif (bdk Sastrapratedja, 2015). Logoterapi ini lebih berfokus pada pemaknaan saat kini untuk perwujudan tugas dan makna selanjutnya di masa depan. Pemahaman tentang mengenali diri sendiri sehingga mengerti betul mengapa suatu proses psikodinamika atau bahkan suatu proses psikopatologi muncul dalam diri seseorang tidak bisa didapatkan dari metode Frankl ini. Menurut penulis, mungkin kepragmatisan metode Frankl ini nampaknya mencoba menjawab kebutuhan zaman modern yang serba cepat. Ia menghindari suatu proses “perjalanan panjang” yang menghabiskan waktu lama untuk mengenali diri secara mendalam sampai dapat menemukan “makna besar” melainkan cukup “makna-makna” kecil dari setiap situasi konkrit yang dihadapi.

DAFTAR RUJUKAN

Bastaman, H.D. Logoterapi Psikologi untuk Menemukan Makna Hidup dan Meraih Hidup Bermakna. PT RajaGrafindo Persada, Jakarta. 2007.
Frankl, V.E. Psychoterapy and Existentialism. Washington Square Press, Inc., New York. 1967
Frankl, V.E. The Doctor and The Soul From Psychoterapy to Logotherapy.Vintage Books, New York. 1986
Sastrapratedja, M. Dimensi-Dimensi Pendidikan. Pusat Kajian Filsafat dan Pancasila.Jakarta, 2015.
Semiun, Y. Kesehatan mental 3. Kanisius, Yogyakarta. 2006.

Senin, 12 Oktober 2015

Prosedur Terapi Neurobiofeedback untuk ADHD

Belakangan ini marak pasien yang datang ke saya setelah gagal diterapi neurobiofeedback dari salah satu center yang menamakan dirinya pusat ADHD. Rupanya cara prosedur melatih anak yang ADHD dengan neurobiofeedback dilakukan dalam waktu singkat dan sekaligus sampai dengan 40 sesi. Hal ini hanya memberikan efek sementara karena belum sungguh-sungguh mengubah perilaku anak untuk dapat mengendalikan fokusnya dan mempertahankan fokusnya saat diperlukan.

Prinsip dasar dari terapi neurobiofeedback adalah pengkondisian perilaku jadi semacam terapi perilaku yang menggunakan dasar melatih rasio gelombang otak yang didominasi gelombang lambat menjadi lebih cepat dan dapat fokus. Selain itu juga melatih konsistensi mempertahankan fokus selama 40-50 menit dalam sekali sesi sehingga kelak kemampuan ini perlahan-lahan menjadi ketrampilan yang melekat pada diri anak dan dapat digunakan ketika ia perlu mempertahankan fokus pada saat belajar atau mengerjakan sesuatu bahkan pada hal-hal yang bukan menjadi kesenangannya (karena anak-anak ini nampaknya pada beberapa hal yang menjadi kesenangannya dapat mempertahankan fokus lebih lama daripada biasanya).

Oleh karena prinsip terapi perilaku tersebut maka prosedur terapi tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat dengan sekaligus banyak sesi melainkan harus diprogram sesuai kondisi anak (yang akan dievaluasi ulang kemampuan fokusnya secara berkala) apakah dimulai dengan seminggu sekali lalu 2 minggu sekali lalu sebulan sekali dan seterusnya sampai 40 atau bahkan 50 sesi (jumlah ini sesusai penelitian meta analisis). Kebanyakan pasien (pasien tanpa penyulit seperti misalnya tanpa keterlambatan mental, tanpa asperger, tanpa autistik ringan, tanpa gangguan mental dan perilaku, tanpa epilepsi/ gangguan organik otak lainnya) cukup dilakukan intensif 20 sesi dan selanjutnya terapi maintenance sebulan sekali. Tentunya hal seperti ini hanya dapat dievaluasi oleh dokter ahli untuk bidang mindscience seperti psikiater atau neurolog.Hati-hati jangan sampai salah memilih dokter yang bukan ahlinya dan mendalami hal-hal demikian tanpa pendidikan di bidang neuropsikiatri yang mendalam.

Selain kemampuan terapis dalam melakukan terapi ini, alat neurobiofeedback yang digunakan juga sangat berpengaruh membantu penilaian terapis untuk merencanakan terapi. Alat yang paling baik adalah yang dapat menilai artefak EMG dan EOG selain mengukur ratio gelombang otak. Pengukuran langsung dengan meletakkan elektroda di kepala bukanlah alat kuno melainkan lebih tepat mengukur gelombang otak dan artefak EMG serta EOG. Alat terapi ini menjadi standar di Eropa dan bukan alat neurofeedback yang diletakkan di lengan anak selama terapi.

Peran orang tua dalam ikut melatih anaknya di rumah ketika mengerjakan PR atau tugas sekolah juga berperan mempercepat efektifitas terapi. Kemampuan kedua orang tua bersikap tegas, menerapkan prinsip terapi perilaku dan mengajarkan anak agar tekun dalam mengerjakan tugas apa pun sangat penting membantu kemajuan anak.

Rabu, 27 Mei 2015

Pengalaman berkesan belajar di RSJ Sawa (Sawa Hospital) Osaka

Osaka, Musim dingin Januari, 2015.

Undangan Dr Yutaka Sawa untuk belajar di Rumah Sakitnya di Toyonaka City dan Osaka City serta di Senri Emergency hospital membuat saya memilih musim dingin di tengah-tengah masa liburan semester program matrikulasi filsafat saya. Tgl 12 Januari 2015 saya tiba di Kansai Airport dan hari itu adalah hari libur dimana orang Jepang merayakan hari kedewasaan yaitu seorang anak laki (boy) dianggap menjadi laki-laki (Man)

Kalau kita sering katakan bahwa orang Indonesia adalah bangsa yang ramah ternyata bangsa Jepang (yang telah menyakitkan hati ayah dan kakek saya karena kekejamannya saat masa pendudukan jepang di Asia) adalah bangsa yang sampai sekarang adalah bangsa yang dapat menghormati orang lain. Mereka bukan hanya menghormati tamu melainkan juga sangat menekankan saling menghormati di antara mereka sendiri (mereka bukan orang-orang yang suka main serobot apalagi serobot hak orang lain seperti di Indonesia). Di jalan-jalan mereka begitu patuh pada peraturan, menjaga kebersihan dan bisa mempersilahkan orang lain untuk jalan lebih dahulu, setidaknya itu yang saya perhatikan. Belakangan saya juga baru tahu bahwa OSaka adalah salah satu kota teraman di dunia.

Ada perbedaan antara karakter orang di daerah Kansai (Osaka termasuk daerah Kansai dan dulu waktu kecil saya tahunya Kansai itu merk cat - Kansai paint). Mereka lebih egaliter dan bersahabat, tidak jaim dalam berteman dan Dr Sawa adalah guru yang sangat-sangat baik bagi saya apalagi sebagai role model. Ia bukan hanya seorang psikiater yang secara genetik memang psikiater (ayahnya dan ke dua anak laki-lakinya adalah psikiater. Ia adalah manager dan juga entrepreneur di bidang kesehatan jiwa. Ia hidup begitu sederhana sampai-sampai ketika diantar pulang sambil menunggu bis di halte bisa yang akan membawa saya ke airport setelah kami makan malam bersama, saya bertanya penasaran kepada beliau tentang apakah mobil beliau sesungguhnya karena saya selalu diajak naik taxi atau mobil dinas operasional rumah sakit selama saya di Osaka. Beliau rupanya hanya mempunyai sebuah VW city car tahun 1990-an! Penampilannya sangat sederhana padahal beliau adalah pemilik 2 RSJ dan banyak apartemen yang disewakan kepada karyawan, umum dan pasien-pasien jompo serta usaha catering service untuk pasien-pasien jompo tersebut.

Semua usahanya itu adalah usaha nir-laba yang dibuat bukan semata-mata untuk kekayaannya sendiri seperti kebanyakan kita di Indonesia membuat semua usaha demi kita bisa pakai barang mewah, mobil mewah dan lainnya. Keuntungan usaha yang tidak besar itu digunakan untuk pengembangan dan dikembalikan untuk kesejahteraan pasien-pasiennya. Hutangnya juga banyak untuk membiayai idealismenya tetapi disupport betul oleh pemerintah yang tidak korupsi! Hal ini yang belum bisa kita dapatkan di Indonesia. Saya ingat pengalaman beberapa tahun lalu ketika salah seorang teman saya mengajukan bahwa panti rehabilitasi mental dapat dibantu dana dari dinas social dengan potongan sekian persen ketika pencairan dana, tentu saja kita semua langsung sepakat untuk menolak dan lebih baik swadaya sendiri dengan dibantu oleh para donatur saja.

Neuroimaging pada Lansia

Angka harapan hidup yang tinggi di Jepang membuat populasinya banyak berusia tua atau bahkan sangat tua. Banyak gangguan mental yang muncul akibat proses degenerasi otak. Saya banyak belajar tentang bermacam-macam dementia (kepikunan), mulai dari Alzeimer yang paling banyak lalu dementia Parkinson, dementia lobus frontotemporalis (perilaku menjadi terdisinhibisi dan seenaknya melanggar norma-norma dan aturan), dementia vascular (akibat kelainan peredaran darah otak atau pasca stroke, termasuk stroke lobus frontalis), banyak senile psikosis (bukan late on set skizofrenia).

Di Jepang tidak banyak aturan seperti di Indonesia yang mengharuskan ijin praktik dll, selama kita didampingi oleh dokter penanggungjawab pasien maka kita boleh ikut periksa pasien (tentunya yang bisa berbahasa Inggris karena saya tidak bisa berbahasa Jepang kecuali sedikit sekali bahasa sehari-hari yang dipelajari dari buku wisata). Kita mendiskusikan pengobatan apa saja yang menjadi pengalaman di Indonesia dan bagaimana di Jepang,
Karena banyak pasien lansia maka saya mempelajari pemeriksaan/ asesmen awal pasien-pasien ini termasuk dengan pemeriksaan-pemeriksaan canggihnya yang telah menjadi standar untuk data base awal pasien dirawat sehingga mudah dibandingkan saat follow up dan semua itu diganti oleh system asuransi pemerintah (bandingkan dengan BPJS di Indonesia yang sangat membatasi pemeriksaan dan pengobatan). Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan, EEG, CT scan, MRI, Xenon-CT Scan semua dilakukan untuk melihat fungsi dan struktur otak pasien sejak awal masuk. Asosiasi neuropsikiatri Jepang (istilah psikiater tetap menggunakan istilah neuropsikiater walaupun ada sendiri asosiasi neurologi Jepang) mempunyai data standar kondisi otak orang Jepang yang menjadi dasar pembanding dan golden standar ketika kita melihat hasil MRI pasien orang Jepang. Dari pembacaan itu dan gejala klinis kita bisa lebih tepat mendiagnosis arah dari penyakit pasien misalnya lebih ke dementia lewy body (Parkinson) atau dementia vascular atau hanya kearah senile psikosis.

ECT (Electro Convulsive Therapy) dengan anestesi

Terapi ECT dengan anestesi tidak dilakukan oleh ahli anestesi jika tidak ada ahli anestesi (karena keterbatasan ahli anestesi) melainkan dilakukan oleh 2 orang psikiater, yang satu operator ECT dan satunya lagi melakukan anestesi dan dibantu beberapa perawat. Dasar dari legalitas ini adalah bahwa sewaktu kita (semua dokter termasuk di Indonesia) sekolah kedokteran umum, kita telah diajarkan dan memiliki kompetensi anestesi dasar (bandingkan dengan di Indonesia, pake ancaman tuntutan hukumlah tidak seusai kompetensilah dll dll tuduhan negative). Satu seri terapi dilakukan 12x dengan selang waktu sehari dan prosedur selebihnya sama dengan yang dilakukan di Indonesia. Cukup banyak pasien yang di ECT maintenance baik yang seminggu sekali atau sebulan sekali. Kebijakan di RS Sawa, pasien yang diusulkan untuk di ECT harus mendapatkan persetujuan di rapat komite medik yang dilakukan seminggu sekali pada hari Selasa. Sebagai dokter tamu dan tidak bisa berbahasa Jepang, saya tetap ikut rapat tersebut dengan dibantu penerjemahan oleh teman sejawat yang bisa berbahasa Inggris (tidak semua dokter Jepang lancar berbahasa Inggris karena Jepang memiliki semua terjemahan bahasa Inggris ke dalam bahasa Jepang dan bahkan diagnosis penyakit dengan istilah Jepang).

Profil dokter Psikiater di Jepang

Dr Deguchi dan Dr Saito adalah dua orang dokter psikiater yang dulunya berspesialisasi non psikiatri. Setelah 7 tahun bekerja sebagai ahli gastroentero-hepatology, Dr Deguchi yang seusia dengan saya memutuskan untuk ganti spesialisasi menjadi psikiater, oleh sebab itu ia melamar ke RS Sawa mulai dari nol sampai lulus ujian nasional sebagai psikiater di Jepang. Dr Saito adalah ahli kanker Paru yang pernah bekerja di NIH di Amerika dalam penelitian kanker paru, beliau sudah jauh lebih tua daripada saya dan saat ini masih mempersiapkan ujian nasional sebagai psikiater di Jepang.
Dr. Nakakita adalah psikolog klinis yang ketika berusia 30 tahun masuk kuliah kedokteran lalu melanjutkan menjadi psikiater, Dr Kobayasi adalah ahli neuroscience yang kemudian masuk kedokteran dan melanjutkan menjadi psikiater (lebih muda dari saya 6 tahun). Dr Tan adalah psikiater dari Xian-China yang karena ikut suami bertugas di Jepang maka ikut ujian persamaan dokter kemudian “adaptasi” belajar istilah-istilah kedokteran Jepang setahun lalu bergabung di RS Sawa sebagai psikiater.
Sistem pendidikan spesialis di Jepang tidak berbasis universitas/ fakultas kedokteran. Mereka bisa langsung bergabung di RS pendidikan seperti RS Sawa ini, dibimbing oleh senior-senior mereka dan kemudian mengajukan 8 kasus dan jurnal dan kemudian diuji nasional lalu mendapatkan sertifikat sebagai psikiater nasional yang boleh melakukan semua tindakan (sebelum lulus ini tidak boleh melakukan semua tindakan tanpa supervise). Tindakan yang dimaksud diantaranya adalah ECT, rapid neuroleptisasi pasien akut dan membuat laporan visum et repertum psikiatrikum. Kalau di Indonesia kita harus bayar mahal untuk biaya adaptasi dan pendidikan spesialis maka di sana dokter dokter itu digaji sejak internship dan adaptasi pun digaji! Bandingkan dengan Indonesia yang berPancasila!

Rehabilitasi psikososial

Rehabilitasi psikososial bagi pasien adalah salah satu keunggulan dari RS Sawa, setidaknya ada 4 tujuan dalam rehabilitasi psikososial ini.
1. menggangkat kembali harga diri pasien yang sebelumnya dilayani sekarang bisa melayani dan membantu orang lain
2. mengurangi stigma terhadap orang dengan gangguan jiwa di masyarakat
3. membantu sebagai penghubung komunikasi atau membantu mengawasi penduduk usia sangat tua yang dilayani jika perlu pelayanan kesehatan.
4. mendapatkan penghasilan dari hasil kerjanya.

Di sebrang RS ada toko roti yang seluruh karyawannya (kecuali 3 orang supervisor yang adalah staf RS) adalah pasien dengan gangguan kejiwaan. Rotinya enak dan dijual di toko-toko mini market, disalurkan untuk makan pagi karyawan dan pasien RS serta ke rumah-rumah jompo.

Program layanan makanan catering untuk penduduk usia tua (very senior citizen) adalah program dimana yang mengantarkan makanan adalah pasien dengan menggunakan sepeda, berkeliling mengantarkan makanan ke rumah rumah pelanggan yang berlangganan catering ini.

Program rehabilitasi lainnya adalah pelayanan daycare untuk pasien-pasien yang membutuhkan social skill training, memory training sampai program untuk orang tua dengan dementia (penyakit kepikunan) berat.

Semua program ini didanai bersama antara pemerintah dan swadaya masyarakat/RS. Sistem pensiun dan tunjangan untuk orang tua yang diberikan oleh pemerintah dapat digunakan untuk layanan catering service dan layanan rehabilitasi day care.

Di sekitar RS (termasuk apartemen saya tinggal yang disediakan oleh RS) adalah apartemen-apartemen yang disediakan untuk "group home" yaitu rumah tinggal bersama beberapa warga very old senior atau pasien-pasien dengan gangguan jiwa yang sudah "ditolak" keluarganya. Mereka tinggal bersama dan membentuk komunitas baru bersama-sama sambil diawasi kesehatan mental dan fisiknya oleh para perawat dan pekerja sosial RS.

Simpulan
Dari semua hal yang saya pelajari, observasi dan alami di Osaka, terlihat jelas bahwa dasar pemikiran positif dan keinginan membantu sesama sebagai makna hidup mencapai tujuan akhir yaitu kebahagiaan hidup sudah menjadi satu dalam cara hidup Dr Sawa. Tujaun hidupnya bukan menikmati kenyamanan hidup dengan kemewahan melainkan terus mengembangkan program-program untuk melayani masyarakat terutama masyarakat dengan gangguan mental dan psikososial. Dokter-dokter yang bekerja di RS tersebut termasuk karyawan lainnya juga puas atas penghargaan yang mereka terima baik berupa gaji maupun insentif lainnya serta perhatian personal dari pemilik RS.
Manajemen RS Sawa jauh dari gaya kapitalisme beberapa manajemen jaringan RS swasta di Indonesia.

Rabu, 12 November 2014

Pendidikan Seksualitas untuk Remaja

Remaja: periode perkembangan yang merupakan peralihan dari kanak-kanak ke dewasa.
Seksualitas/ seks meliputi:
1. segi fisik: biologis dan fisiologis.
2. segi psikis: emosi.
Biologis: tanda-tanda perkembangan dan mulai berfungsinya alat-alat kelamin.
Perkembangan fisik berupa pertumbuhan kelenjar serta organ kelamin (sifat-sifat kelamin primer), seperti: pada wanita ditandai dengan ovulasi yang pertama, tapi dalam hidup sehari-hari, dianggap sebagai menstruasi yang pertama. Pada laki-laki ditandai pollutio pertama, yaitu keluarnya semen dengan sendirinya tanpa ereksi. Ini menandakan testis sudah mulai berfungsi.
Secara fisiologis, perkembangan tersebut didahului dengan perkembangan organ-organ kelamin sekunder seperti:
- Pertumbuhan rambut.
- Perubahan suara.
- Meluasnya lapang dada.
- Membesarnya buah dada, pangkal paha, paha, dan panggul.
- Pertumbuhan badan yang berbeda menurut jenis kelamin:
- wanita: lebih cepat, mulai 10-16th, berhenti 19-20th.
- pria: berhenti 23-24th.
Alat kelamin pria dan wanita, bentuk dan tempatnya tidak sama, sesuai dengan tugas yang berbeda pula.
Wanita:
Alat kelamin bagian luar: walaupun terletak di luar, lebih terlindung dan tersembunyi di sela paha dan ditutupi rambut-rambut. Tidak banyak berfungsi, hanya sebagai tempat penyaluran dan pelindung bagian dalam yang penting untuk berkembang biak.
Alat kelamin bagian dalam: terletak di dalam tubuh, di rongga panggul, terdiri dari:
1. Ovarium
2. Uterus.


Pria:
Alat kelamin luar terletak di bagian luar tubuh dan berfungsi untuk persetubuhan dan pengeluaran air seni. Terdiri dari: Penis dan skrotum.
Alat kelamin bagian dalam terdiri dari: kelenjar pembuat hormon, air mani, dan saluran-salurannya.

Menstruasi sebagai pengalaman psikis.
Peristiwa paling penting pada masa pubertas anak gadis ialah gejala menstruasi atau haid, yang menjadi pertanda biologis dari kematangan seksual.
Secara normal menstruasi berlangsung kurang lebih pada usia 11-16 tahun. Cepat atau lambatnya kematangan seksual ini selain ditentukan oleh kondisi fisik, juga dipengaruhi oleh faktor ras atau suku bangsa, faktor iklim, cara hidup, dan nilai-nilai yang berlaku. Badan yang lemah atau penyakit yang parah, bisa memperlambat datangnya menstruasi.
Rangsangan-rangsangan yang kuat dari luar, seperti film-film, buku-buku, gambar-gambar yang porno, serta godaan atau rangsangan dari pria, melihat langsung hubungan seks, semuanya itu akan mengakibatkan kematangan seksual yang lebih cepat pada diri anak.
Pengalaman menstruasi yang pertama kali biasanya sangat dipengaruhi oleh sikap ibu dalam menghadapi situasi tersebut. Misalnya, seorang gadis yang mentruasi pertama kali diperlakukan dengan sangat hati-hati dan dimanja berlebihan, maka setiap kali menstruasi mungkin gadis itu akan terus menerus berbaring di tempat tidur selama masa menstruasinya.
Ibu yang menganggap menstruasi sebagai suatu hal yang kotor dan menjijikkan, mungkin akan menghasilkan anak gadis yang pada saat haid, sangat memperhatikan kebersihan badannya, teristimewa pada alat kelaminnya. Ia akan terus menerus mencuci badan dan alat kelaminnya, berulang kali mandi dan mengganti baju.
Jadi jika menstruasi ini tidak disertai informasi yang benar, mungkin bisa timbul bermacam-macam problem psikis.


Perencanaan keluarga yang bertanggung jawab:
1. Persiapan diri.
a. kepribadian
b. inteligensi
c. emosionalitas
2. Memilih teman hidup.
Jatuh cinta dan cinta
3. Persiapan hidup perkawinan.

Segi psikis: emosi
Wanita
Sifat dasarnya: keibuan.
Anak kecil: bermain boneka.
Usia sekolah: memanjakan adik bayi.
Remaja putri: tertarik pada sesuatu yang kecil, mungil, tak berdaya, serta yang memerlukan pemeliharaannya.
Wanita berkeluarga: mengerti jiwanya sedalam-dalamnya karena kelahiran anaknya.
Wanita yang tidak berkeluarga: membantu orang lain, membaktikan diri pada sesama.

Pada wanita yang kuat, ada dua sifat yang bergerak bolak-balik secara seimbang, yaitu penyerahan diri dan penarikan diri.
Penyerahan diri: wanita ingin menyerahkan diri tanpa syarat kepada sesuatu yang dicintai, dan ini merupakan kebutuhan jiwanya.
Penarikan diri, untuk mempertahankan kehormatan dirinya.
Jadi seorang wanita yang jiwanya seimbang, ia dapat memberi dengan tangan yang penuh kasih kepada orang yang memerlukan dan dapat pula melindungi dirinya dengan tembok yang kokoh kuat dan tidak terlihat oleh orang yang akan merusak harga dirinya.

Saat remaja.
Mulai menyadari ’aku’nya, mengetahui bahwa ia dapat mengambil keputusan untuk diri sendiri dan mulai memikirkan tentang diri sendiri. Ia merasa memegang rahasia yang besar karena peristiwa-peristiwa yang dialami jiwanya. Ia mengira tidak ada orang yang pernah mengalami hal-hal yang seperti ia alami sekarang. Ia merasa tidak mungkin memberitahukan kepada orang lain tentang apa yang sedang menggelora di dalam jiwanya. Ia merasa hal itu tidak mungkin dimengerti orang lain.
Ia menyadari kelakuannya sangat berbeda dengan waktu ia masih kecil, maka ia akan mengasingkan diri dari orang-orang yang telah mengenalnya semenjak kecil. Ia malu memperlihatkan pergolakan jiwanya kepada orang-orang yang telah mengenalnya. Mereka akan mencari orang yang dapat dipercaya dan mengerti tentang masalahnya. Mereka sering menceritakan bahwa hal-hal tersebut tidak mungkin diceritakan kepada orang-tuanya, karena tidak akan dipercaya.
Beberapa remaja merasa dirinya ’terbelah’, sehingga gelisah dan tidak dapat tampil spontan. Remaja tersebut merasa ada dua ’aku’ di dalam dirinya, dan ’aku’ yang satu akan terus mengamat-amati ’aku’ yang lain. Contoh: ketika sedang berjalan-jalan di pantai, remaja tersebut merasa ’aku’ yang satu berkata kepada ’aku’ yang lain: ”Berjalanlah biasa, jangan menari-nari seperti anak kecil.” Maka remaja tersebut akan berjalan dengan kaku, seolah-olah diperintah orang lain.
Ada juga yang menempatkan dirinya sebagai pusat segala-galanya. Makin lama, makin besar perhatian mereka kepada ’aku’nya sendiri, sehingga kesannya agak jahat dan kejam. Mereka hanya ingat diri sendiri. Contoh: menjelek-jelekkan keadaan fisik orang lain. Tingkah laku yang dibuat-buat dan keinginan untuk menarik perhatian yang berlebih-lebihan, sering menyebabkan peristiwa yang tidak menyenangkan. Hal ini karena rasa ’aku’ yang berkuasa untuk sementara waktu.

Persahabatan dan cinta.
Kebutuhan remaja akan seorang teman yang mengerti di lambat laun akan berubah dari keinginan mempunyai seorang teman wanita yang emncintai dia, dan cinta kepada teman wanita yag tidak membawa kepuasan itu mengekibatkan keinginan akan cinta seorang laki-laki. Cinta ini hanya dapat ditemukan pada masa adolesen (17-21th).
Orang dewasa yang dapat mencintai dalam arti sebenarnya telah menemukan keseimbangan antara hasrat jasmaniah dan rohaniah untuk menyatukan diri dengan orang pilihannya.
Pada orang puber, perasaan tertarik kepada jenis kelamin yang lain masih belum dapat dihubung-hubungkan dengan rasa simpati; kedua rasa ini baru terlebur pada masa adolesen, dalam proses cinta jasmaniah dan rohaniah yang telah mencapai keseimbangan.
Seksualitas ialah segala pengalaman yang terjadi sebenarnya atau hanya dalam khayalan, dan ditujukan kepada hubungan jasmaniah dengan orang yang disukai. Pada gadis-gadis umur 14 sampai 17 tahun, biasanya yang dinamakan cinta itu adalah bercumbu-cumbuan, romantis, dan ada rasa yang membakar tubuh. Sesudah umur 17 tahun, barulah terjadi cinta pertama yang disertai keinginan menyala-nyala dan penderitaan karena mencintai. Pada seorang gadis, mencintai itu bukan hanya hawa nafsu, tapi jiwanya menghubungkannya dengan orang lain.
Pada anak laki-laki, biasanya mereka mengenal dulu wanita-wanita pada umumnya, barulah memilih seorang wanita yang sesuai dengan keinginannya. Sedangkan pada wanita, mereka mengenal dulu seorang laki-laki, barulah laki-laki pada umumnya. Hawa nafsu wanita tidak begitu besar dibandingkan dengan laki-laki. Seorang gadis biasanya menghendaki dulu hubungan batin yang murni, sebelum ia mengadakan hubungan jasmaniah. Ia ingin mengerti dan dimengerti, ia mencari titik-titik pertemuan batin, untuk mempertemukan kedua jiwa mereka. Penyerahan diri tanpa adanya hubungan emosi, jarang terjadi pada kebanyakan gadis.
Sering seorang gadis merasa bingung karena pacarnya ingin melakukan hubungan badan, tetapi biarpun gadis ini sangat mencintainya, tetapi merasa tidak dapat menyerahkan kehormatannya. Gadis itu juga merasa takut kalau hubungan mereka akan putus. Sebaliknya laki-laki itu merasa bahwa dirinya sangat mencintai pacarnya, dan merasa tidak mengerti mengapa pacarnya selalu menolak melakukan hubungan badan.
Hal ini terjadi karena mereka berdua masih terlalu muda. Pemuda itu tidak mengerti bahwa cinta seorang gadis lebih berdasarkan hubungan jiwa, dan dia seharusanya menghargai dan mengerti pendirian ini, dan biasanya gadis yang baik yang berpendirian demikian.
Sebaliknya, gadis itu juga harus mengerti bahwa jiwa pemuda itu berbeda. Ia tidak boleh memandang rendah pada hasrat hubungan jasmaniah pemuda itu yang lebih kuat daripada dirinya. Ia harus mengerti, tetapi juga jangan melepaskan pendiriannya.
Cara mencintai seorang pemuda dan gadis juga berbeda. Seorang pemuda dapat sangat mencintai seorang gadis, tetapi ia masih dapat memusatkan perhatian kepada pelajaran, ilmu pengetahuan, kesenian, dan lain-lain. Seorang gadis sering merasa sedih dan merasa kurang dicintai karena ia membandingkan cintanya yang begitu total kepada kekasihnya. Bagi remaja, hal ini penting, supaya mereka dapat lebih mengerti satu sama lain.

Tipe-tipe gadis.
Kepribadian yang terdapat masa dewasa tumbuh dari masa puber, maka seharusnya pada masa puber ini telah mulai terlihat tipe-tipe yang ada pada gadis.
1. Tipe keibuan.
Setiap gadis mempunyai tugas untuk menjadi ibu dan untuk memenuhi tugasnya, diperlukan pengorbanan dan kasih sayang yang besar. Ada sebagian gadis yang sifat keibuannya besar sekali dan jelas terlihat dari perilakunya.. Tipe ini sudah terlihat dari masa kecil mereka yang senang bermain ibu-ibuan dengan boneka, yang penuh kasih sayang memelihara adik-adiknya, senang membantu mengasuh dan bermain dengan anak-anak tetangga.
Pelajaran di sekolah bagi gadis tipe ini, lebih dilihat sebagai pernyataan rasa tanggung jawab dan ketelitian mereka, daripada perhatian dan ketertarikan akan mata pelajaran tersebut. Gadis-gadis ini akan segera melupakan pengetahuan yang telah dipelajari dengan susah payah waktu menghadapi ujian.
Mereka lebih tertarik pada anak-anak daripada teman laki-lakinya. Mereka biasanya bekerja di bidang sosial, seperti menjadi guru, perawat, atau pekerja sosial.
2. Tipe erotik.
Gadis tipe erotik selalu bertujuan menarik perhatian. Tingkah laku mereka banyak dipengaruhi oleh hawa nafsu dan susah untuk dikendalikan. Tidak ada keseimbangan antara hasrat ingin menyerahkan diri dan hasrat mempertahankan diri. Mereka selalu bercerita tentang laki-laki dan cinta. Tingkah laku mereka akan dibuat-buat bila di antara kaum laki-laki. Pikiran mereka dipenuhi dengan pertanyaan apakah dirinya cukup menarik, apakah dirinya lebih diperhatikan daripada orang lain. Mereka mencemooh kata ’susila’, baginya itu sesuatu yang kuno. Gadis-gadis tipe erotik ini menghadapi banyak bahaya yang dapat merusak hidupnya sebagai wanita dewasa dan kemudian sebagai ibu.
Kita dapat membantu gadis-gadis tipe ini dengan mengenalkan kegiatan-kegiatan lain yang baik, seperti membaca buku yang bermanfaat, ikut sebagai anggota pencinta alam, menonton pertunjukkan kesenian. Apabila mereka sudah dapat lebih mengenal diri sendiri, lebih memperdalam rasa keindahan, barulah kita dapat mengajak mereka ikut dalam kegiatan keagamaan.
3. Tipe romantis.
Gadis-gadis ini mempunyai sifat yang cuek, berbuat sesuka hati mereka, mirip dengan tipe erotik, tetapi mereka terutama tenggelam dalam khayalan sendiri. Mereka bisa sangat memuja sesuatu, dan batas-batas khayalan dan kenyataan kadang-kadang tidak jelas. Mereka hidup dalam angan-angan sendiri dan mudah dipengaruhi. Mereka bisa mendewa-dewakan orang, tetapi tanpa faktor-faktor seksual.
4. Tipe sewajarnya/ biasa.
Mereka tidak mempunyai angan-angan yang berlebihan, kelakuannya tenang dan terlihat lebih dewasa dibandingkan dengan teman-teman sebaya. Mereka melewati masa pubertas seolah-olah tanpa kesukaran. Mereka mendapat didikan yang keras dan banyak larangan-larangan yang menghalangi mereka keluar batas. Gadis-gadis ini sering memainkan dua peranan, dan peranan yang membahayakan tersebut, mereka sembunyikan dengan baik.
5. Tipe intelektuil.
Mereka mempunyai perhatian pada hal-hal yang teoritis, dan hanya sedikit dipengaruhi oleh keadaan dan orang. Mereka biasanya cerdas, sederhana dan terus-terang. Mereka perlu dijaga supaya pembentukan kepribadiannya jangan terlalu intelektual, sehingga sifat-sifat yang lain terdesak.

Sabtu, 08 November 2014

Bagaimana Menempuh Pendidikan untuk menjadi Psikiater?



Sama seperti anak-anak kecil lainnya, sejak SD kelas 4 saya bercita-cita menjadi dokter, selain karena melihat kehidupan dokter keluarga kami yang nampaknya tenang dan sangat berkecukupan saya juga sering mendengar bahwa seorang tante saya yang menjadi dokter gigi (drg. Wiliana Purnama, pensiunan dosen di FKG Prof Dr Moestopo) dan om saya yang sedang sekolah kedokteran di Jerman (Dr Med. Iksan Purnama, sekarang dokter spesialis mata di Esslingen, Stutgart, Jerman) hidupnya tenang dan makmur. Belakangan saat saya dalam proses bimbingan rohani, baru saya tahu bahwa dorongan itu berasal dari ketidakberanian saya mengambil risiko dalam kehidupan.
Ketika saya SMA, saya mencoba mengkaji apa bedanya psikolog dan psikiater (salah satu dokter keluarga kakek saya adalah dokter umum yang menjadi seorang psikiater yakni dr L.S Chandra, SpKJ mantan direktur Sanatorium Dharmawangsa, sekarang sudah almarhum). Kebetulan saya suka membaca karena memang dikondisikan seperti itu oleh orang tua saya maka saya mencoba membaca buku-buku tentang hal-hal tersebut. Rubrik psikologi kesukaan saya adalah rubrik Bu Leila Ch. Budiman di harian Kompas, menurut saya ulasan beliau sangat tidak tergantikan sampai saat ini.

Saya lebih memilih menjadi psikiater karena harus menjadi dokter umum dulu. Saya memilih menjadi dokter terlebih dahulu karena sesuai dengan cita-cita saya sejak kecil dengan harapan bisa membantu banyak orang, diri sendiri serta keluarga selain mapan secara ekonomi (tapi belum tentu bisa kaya raya). Ayah saya tidak setuju karena kalau menjadi dokter itu kata beliau seperti tukang becak, kalo gak 'narik' maka gak dapat uang lagipula berisiko tertular penyakit menular! Ada hal yang saya pertaruhkan dalam hal ini, yaitu, setelah menempuh pendidikan menjadi dokter umum apakah saya bisa melanjutkan studi ke spesialisasi psikiatri? Saat itu kental sekali rasialisme di kalangan kedokteran, sudah menjadi rahasia umum bahwa hanya etnis tertentu yang mudah masuk ke bagian spesialisasi tertentu (jadi sebenarnya issue ini bukan etnis Tionghoa dan pribumi tapi di kalangan etnis yang katanya pribumi-pun terjadi diskriminasi kesukuan atau praktik nepotisme). Saat itu dr L.S Chandra, SpKJ mengatakan bahwa tidak ada diskriminasi di Psikiatri jadi yang dinilai adalah kemampuan sehingga saat memulai studi di Fakultas Kedokteran saya pede aja.

Hal lain yang menjadi masalah adalah stigma buruk sebagai psikiater! Kelak saya harus mengatasi masalah ini terutama di kalangan keluarga besar. Psikiater itu diidentikkan aneh seperti pasiennya, pasiennya miskin-miskin dan tidak banyak pasiennya kecuali di RS Jiwa! Semua itu ternyata tidak benar walaupun faktanya memang seorang psikiater sulit bisa melayani banyak pasien dibandingkan spesialisasi lain dikarenakan waktu konsultasi yang lebih lama.

SEKOLAH DOKTER UMUM

Hal yang menjadi keberatan dari ayah saya lainnya mengenai menjadi dokter adalah saat itu saya tidak diterima di FK negeri sehingga harus ke FK Swasta yang sarat dengan ujian negara dan menghabiskan waktu studi yang lebih lama karena harus antri ujian apalagi kalau sampai mengulang, wah bisa tambah lama tuh antri lagi dari awal. Hal lainnya lagi adalah mengenai biaya studi yang lebih mahal di kedokteran swasta membuat saya harus curi-curi waktu bekerja mencari tambahan untuk uang saku seperti memberikan les matematika, menjadi surveyor lepas di perusahaan farmasi maupun penelitian-penelitian kesehatan perkotaan di pusat studi kesehatan perkotaan di Atma Jaya.
Hiperaktifitas saya membuat saya tidak betah menjadi kupu-kupu alias kuliah pulang kuliah pulang. Saya aktif berorganisasi di kampus, pernah saya camping 3 tempat dalam sebulan sempat ikut syuting sinetron Suri Teladan di RCTI dengan produser dan sutradara Haji Usman Effendi yang menjadi guru agama Islam buat saya. Sempat kuliah extension course filsafat manusia setiap senin malam di STF Driyarkara (saat ini saya mencoba mengikuti program matrikulasi untuk InshaAllah dapat melanjutkan studi ke program doktoral untuk memperdalam filsafat eksistensial yang diselaraskan dengan psikoterapi eksistensial khususnya logoterapi, search for meaning), dll. Semua hal ini membuat study saya molor 1 semester dan tertunda sedikit antrian menjadi dokter muda (kepaniteraan).

Kenyataan praktik sebagai dokter muda (Co-ass) membuat saya "menyesal" mempunyai cita-cita menjadi dokter, 2 tahun rotasi terus, jaga malam tidak tidur, pagi tetap standby sampai jam 2 siang, buat paper, presentasi kasus, dimarahi konsulen, diusir konsulen, ngepel lantai bekas air ketuban, diomelin perawat dan bidan. Yah memang pendidikan kedokteran itu spartan dan benar-benar membina mental serta fisik. Di her gara-gara tidur dikelas saat diskusi karena habis jaga malam gak tidur, semua itu konsulen gak mau tahu! Menjadi dokter harus kuat! harus super! Sekali lagi spartan pendidikannya. Hukuman dan kata-kata merendahkan menjadi cambuk untuk maju bukan untuk menjadi sakit hati dan mundur! Gak banyak suka-nya jadi coass yang kalau dibahasa Indonesiakan KOASS singkatan dari Kumpulan OrAng Serba Salah. Pada akhirnya memang ada makna dan arti yang bisa dipetik atas semua itu, memudahkan saya untuk beradaptasi dimanapun saya bekerja.

Setelah bersusah payah pendidikan sebagai dokter umum, penderitaan tidak berhenti di situ. Penderitaan selanjutnya adalah bagaimana mengejar setoran untuk bertahan hidup! Seminggu 2x jaga malam menjadi dokter jaga bangsal atau jaga gawat darurat demi sesuap nasi. Saat itu ibu saya sampai mengingatkan bahwa jangan terlalu banyak tugas jaga malam karena kalau sakit maka biaya yang harus dikeluarkan lebih banyak daripada yang didapatkan dari honor jaga tersebut.

Pengalaman sebagai dokter jaga di RS saya jadikan pengalaman untuk lebih mendalami kasus-kasus penyakit dan pengalaman menangani banyak kasus rawat inap, diskusi dengan konsulen (dokter spesialis) yang baik hati mau 'mengajari' kita, bukan saja ilmu tetapi berbagi pengalaman hidup adalah sisi lain yang cukup berharga bagi saya selain honor jaga yang kecil.

Penderitaan selanjutnya yang mirip-mirip Coass adalah ketika harus menjalani program spesialisasi selama minimum 4 tahun. Setiap jam 7.30 pagi sudah harus siap seminar topik-topik teori psikiatri maupun diskusi kasus. Lalu pk 9 pagi langsung menangani pasien di bangsal atau poliklinik sampai jam kerja berakhir pk 3 sore. Jaga malam lagi sudah keharusan sebagai peserta didik. Dimarahin dan diusir konsulen juga menjadi tantangan tersendiri, belum lagi harus bisa membuktikan diri tidak bodoh alias minimalisir her kalau hidup mau lebih tenang (repot kalau ngulang ujian terus sebab tugas-tugas lain masih bertumpuk). Untungnya saya termasuk yang jarang dapat her, hanya 2 kali saya diher selama pendidikan spesialis. Pertama adalah ujian statistik dan yang kedua adalah ujian penelitian (statistik lagi nih salah satunya), sampai sekarang saya tetap saja bingung dengan statistik, kecuali membaca hasil statistik karena saya sempat bekerja di perusahaan farmasi selama total 3 tahun. Satu tahun tepat sebelum pendidikan spesialis dan 2 tahun lagi setelah lulus sebagai dokter spesialis.

Tahun kedua saya menempuh pendidikan spesialis, saya mulai kesulitan dana untuk operasional sehari-hari jadi saya minta ijin untuk praktik umum sore hari dan baiknya di psikiatri saat itu kami diperbolehkan praktik umum sore hari di luar jam kerja/pendidikan. Pesannya hanya jaga prestasi belajar selama pendidikan walau praktik sore sampai malam hari. Rata-rata praktik selesai pk 20.00 dan saya sampai di rumah pk 21.00 jadi setelah itu bersiap mengerjakan tugas sampai pk.23 atau 24 hampir setiap harinya selama 4 tahun tersebut.

Satu semester pertama saat itu adalah masa pra-kualifikasi jadi yang tidak lulus ujian wawancara pasien dan teorinya akan disarankan pindah jurusan atau keluar. Tugas di tahun pertama adalah menguasai semua kasus penyakit psikotik (gangguan mental organik, skizofrenia dkk, bipolar dan depresi dengan gejala psikotik, dkk). Akhir tahun pertama adalah seleksi ke dua kalinya, jika tidak lulus maka her atau mengulang 6 bulan atau 12 bulan atau pindah jurusan alias keluar! Saat itu saya lulus langsung tanpa her dan saya kirim sms ke ibu saya mengabarkan bahwa saya lulus langsung jadi bisa langsung ke tahap 2. Saya ingat betul jawaban ibu saya adalah "selamat ya tapi jangan hanya pandai waktu sekolah, yang penting bagi mama adalah kamu bisa ramai prakteknya sebagai dokter (supaya bisa hidup mandiri)".

Tahun kedua adalah menguasai semua kasus non-psikotik dan psikoterapi serta psikodinamika pasien. Ini yang berat karena saya dianggap lebih menguasai psikiatri biologi daripada psikoterapi oleh sebagian konsulen-konsulen saya. Tapi jujur saya akui memang saat itu dan kini mainstream psikoterapinya adalah psikoterapi dinamik dan ini memang tidak begitu saya kuasai, kalau yang lainnya seperti CBT, hipnoterapi, Eksistensial dll-nya saya mudeng, kecuali yang dinamik itu saya bingung sampai sekarang dan saya pikir pasien pun banyak bingungnya dengan metode dinamik ekspresif. Kalau suportif sih semua juga ngerti tetapi mencapai 'pencerahan' sampai psikoterapi dinamik ekspresif yang sulit. Kali ini lulus langsung naik ke tahap 3 adalah sangat-sangat beruntung bagi saya.

Tahun ketiga dan keempat adalah saatnya rotasi ke sub-sub bagian/ sub spesialisasi, 6 bulan di psikiatri anak dan neurologi anak, 3 bulan di psikogeriatri dan penyakit dalam, 3 bulan di neurologi (penyakit syaraf) lalu tahun ke 4, masing-masing sebulan di adiksi, komunitas dan trans-kultural, forensik psikiatri (menentukan seseorang dapat bertanggungjawab atau tidak atas perbuatannya, perebutan hak asuh anak, dll), 3 bulan di jadi chief rawat inap, 3 bulan jadi chief rawat jalan dan 4 bulan penelitian untuk thesis.

Pendidikan spesialisasi bagi saya jauh lebih berat daripada pendidikan S2 pada umumnya tapi anehnya di Indonesia ini kami hanya disetarakan S2! Sudah mirip paket C setara lulusan SMU kalau pakai istilah disetarakan. Hal ini sama saja kekacauan kementrian pendidikan yang mensahkan bahwa gelar dokter adalah memakai 'dr', d huruf kecil dan r huruf kecil. Kenapa kalau gitu doktorandus dan doktoranda tidak disuruh pakai huruf kecil juga ya? Jadi drs dan dra.
Pendidikan spesialisasi di kedokteran tidak ada paket kelas malam atau dipercepat menjadi kurang dari 4 tahun karena harus memenuhi kuota waktu dan jumlah menangani pasien jadi walau pandai secara kognitif tidak bisa dipercepat. Hal ini tentunya berbeda dengan studi S2 yang bisa dipercepat atau mengambil kelas eksekutif.

Total tahun yang saya jalani sampai menjadi seorang dokter spesialis adalah 12 tahun! Itulah mengapa kalau paranormal dan lainnya disebut 'orang pinter' karena mereka tidak perlu sekolah selama itu tetapi boleh mengobati orang sakit sedangkan dokter yang bodoh harus menjalani pendidikan belasan tahun sampai diuji national board dan diakui sertifikasinya baru boleh mengobati orang sakit. Belum lagi kalau saya lanjutkan dengan studi lanjutan di luar negeri untuk melengkapi wawasan dan pengetahuan saya. Ehhh fenomena sekarang lagi banyak pula psikologoid-psikologoid, oid adalah istilah yang menunjukkan arti menyerupai, jadinya yang menyerupai psikolog. Siapakah mereka? Mereka adalah yang pelatihan 20 jam hipnoterapi, yang belajar otodidak psikologi lalu mengaku sebagai terapis, dll. Bagaimana mungkin bisa menterapi sebagai terapis kalau pengetahuan menegakkan diagnosisnya tidak utuh? Kasihan masyarakat yang kurang pandai membedakan hal-hal ini sehingga jatuh ke dalam praktik pembohongan publik.

Semoga sekilas tentang bagaimana menempuh pendidikan untuk menjadi psikiater ini bisa menambah informasi dan wawasan bagi khalayak dan anak-anak muda Indonesia yang siap memenuhi panggilan hidupnya di bidang kesehatan jiwa yang 'kering' ini namun sarat makna dan menurut Dr. Victor E Frankl (psikiater penemu logotherapy), barang siapa dapat memaknai pekerjaannya sebagai makna hidupnya adalah orang yang bisa berbahagia.

MANUSIA: SUBJEK YANG MENCARI MAKNA HIDUP MELALUI KARYA

Pendahuluan
Dalam kehidupan sehari-hari, issue yang penting setiap kali saya berhadapan dengan pasien-pasien saya (saya adalah seorang psikiater/ dokter ahli kedokteran jiwa) adalah bagaimana mengembalikan fungsi pasien saya kepada fungsi semula, yaitu fungsinya dalam kondisi sebelum sakit. Kondisi pasien-pasien saya sebelum sakit biasanya dalam kondisi produktif baik sebagai pekerja atau sebagai pelajar. Banyak dari keluarga pasien-pasien saya maupun pasien itu sendiri mengeluhkan kondisinya yang tidak dapat kembali bekerja menjadi karyawan di sebuah perusahaan walaupun mereka dapat bekerja dengan baik sebagai penjaga warung di warung milik keluarga atau bahkan hanya membuat kardus untuk packaging produk. Banyak dari mereka yang bekerja bahkan lebih rapih membuat kardus dan lebih baik melayani pembeli di warung daripada pekerja lain tetapi mereka tetap merasa kurang produktif dan kurang menghasilkan uang dibandingkan bekerja sebagai karyawan dengan upah minimum provinsi.

Issue tentang pekerjaan ini juga saya temui dalam proses mendidik calon-calon dokter dan dokter muda yang baru lulus dan kembali dari tugas internship (kerja di bawah supervisi dokter yang leih senior) di daerah. Kebanyakan dari mereka dilarang oleh orang tuanya jika hendak mengambil bidang spesialisasi kedokteran minor seperti spesialisasi saya dengan alasan umum bahwa bidang spesialisasi kedokteran minor (contoh bidang mayor seperti penyakit dalam, bedah, kebidanan dan kandungan, Ilmu kesehatan anak) tidak dapat menghasilkan banyak uang.
Dari kedua hal yang menurut saya cukup kontras ini, yang satu dari sisi keluarga pasien dan pasiennya sedangkan yang lain dari sisi dokter dan keluarga dokter, rupanya kedua kelompok tersebut memiliki persepsi yang sama tentang bekerja atau berkarya dalam hidup ini seakan-akan hanya satu tujuan yaitu menghasilkan uang dan lebih banyak uang! Hal seperti ini pun pernah saya alami di masa lalu saya dan menjadi pertanyaan reflektif dalam diri saya bahwa apa sebenarnya tujuan dan makna hidup saya sebagai seorang manusia. Melihat kenyataan yang lazim saat ini bahwa pandangan kebanyakan masyarakat dalam ‘memaknai’ kehidupan pada umumnya dan khususnya dalam pekerjaan adalah bertujuan mendapatkan uang, maka baiklah kita meninjau apa sebenarnya hakikat manusia sebagai subjek (persona) yang memaknai hidup dalam karya-karyanya melalui pekerjaan.

Manusia sebagai Subjek (Persona)

Menurut Thomas Aquinas, ketika kita melihat manusia sebagai manusia harus menjadi tujuan dari segala aktivitas dan tidak dapat direduksi menjadi sarana.1 Dalam buku-buku Filsafat Manusia juga dikatakan dengan jelas bahwa manusia adalah subjek (pribadi jasmani-rohani).2 Sebagai subjek maka manusia memiliki keunikan masing-masing dan tidak ada satu pun manusia yang mirip 100 persen dengan manusia lainnya, ia memiliki pendirian, kebebasan, inteligensi dan lain sebagainya yang dapat menarik dirinya keluar dari dirinya sendiri dan bebas menentukan dirinya sendiri. Manusia tidak boleh dijadikan ‘alat’ atau ‘sarana’ untuk mencapai sesuatu apalagi direduksi hanya untuk mencapai uang. Manusia sebagai persona memiliki keterbukaan kepada Allah, maka ia berpartisipasi dalam kehendak Allah.1,2
Kierkegaard mengatakan bahwa manusia dengan pilihan bebasnya dapat menentukan sendiri hidupnya, Hal ini juga diungkapkan oleh Gabriel Marcel yang menolak pandangan bahwa manusia bukan pribadi yang unik dan tidak memiliki individualitas. Dunia modern saat ini cenderung memfungsionalitaskan kehidupan.1
Manusia sebagai subjek adalah totalitas, menjadi suatu satu kesatuan yang tidak dapat dibagi-bagi menjadi misalnya organ-organ tubuhnya.2 Pasien saya dengan gangguan kejiwaan, saat jiwanya terganggu memang tidak bisa dipandang sebagai suatu totalitas dalam dirinya karena fungsi jiwa dan badannya tidak integratif, tidak merupakan kesatuan sehingga tidak bisa menempatkan sesuatu pada konteksnya namun ketika mereka sudah ‘sembuh’ karena mendapatkan pengobatan maka ia kembali menjadi manusia yang total yang utuh seutuh-utuhnya sehingga memiliki hak kembali untuk dapat berdiri dengan pendirian, dengan sikap di mana ia mampu mengambil dan mengubah sikap menunjuk adanya kemerdekaan dan pengertian. Totalitas manusia ini membuat ia dapat mengisi hidupnya dengan penuh dinamika dan hanya manusia itu sendiri yang dapat menentukan sendiri dinamika hidupnya sebagai miliknya sendiri karena ia adalah subjek. Hal ini menunjukkan bahwa pada hakikatnya manusia itu sendiri yang menentukan tujuan akhirnya, bukan pihak di luar dirinya yang menentukan tujuan akhir dari hidupnya.

Historisitas Manusia dan Pekerjaan

Dimensi pekerjaan pada manusia tidak terlepas dari historisitas manusia. Manusia adalah makhluk yang bersejarah, hanya manusia yang dapat mencatatkan cerita tentang dirinya sendiri, tidak ada makhluk lain yang melakukan hal ini. Sejarah digerakkan oleh 2 faktor yang tidak terpisahkan yaitu bahasa dan pekerjaan.3
Konsep kesejarahan mengimplikasikan tiga hal, yang pertama adalah fakta bahwa setiap manusia melihat dirinya ditempatkan dalam ketegangan masa lampau yang telah terjadi dan kemungkinan baru untuk terjadi. Manusia adalah pemberi masa lampau dan pemberi tugas masa depan. Kedua, kesadaran bahwa ada kemungkinan berintervensi dalam proses sejarah melalui keputusan bebas dan kerja manusia. Ketiga, sejarah adalah tugas manusia dengan penekanan pada tanggung jawab manusia atas sejarah tersebut.4 Dalam penjelasan-penjelasan ini terlihat jelas peran penting ‘kerja’ bagi manusia sebagai makhluk pembuat dan yang akan membuat lagi sejarahnya dalam tanggung jawab menciptakan dunia yang semakin sempurna, semakin baik ditinggali oleh manusia-manusia selanjutnya. Menurut penulis, dalam hal ini, manusia dituntut berkontribusi positif dalam kerjanya sehingga dapat menghasilkan karya yang bertanggungjawab sesuai panggilan Allah, bukan panggilan uang. Hal ini sesuai juga dengan pandangan Leahy tentang arti modern historisitas, yang menurutnya adalah sifat khas sebuah kesadaran yang tahu akan tanggung jawab terhadap masa depan.5
Lebih jauh lagi menurut Leahy, konsep modern tentang historisitas itu adalah suatu konsep tentang masa lampau yang terintegrasikan. Masa lampau yang terintegrasi tersebut dipahami sebagai sesuatu yang pernah hadir dan bukan sudah tiada lagi melainkan menjadi proses ‘penyimpanan’ dan ‘pengaktifan’ kembali. Hal ini sangat erat kaitannya dengan makna kerja dalam hidup manusia. Marleau-Ponty mengatakan bahwa manusia adalah makhluk pekerja dan kerja yang merupakan tumpuan sejarah bukanlah semata-mata pengadaan harga, melainkan secara umum merupakan kegiatan manusia dalam karyanya memancarkan suatu lingkungan yang manusiawi ke sekitarnya dan dalam mengatasi fakta alami kehidupan.5
Melalui konsep ini, manusia wajib merenungkan aspek historisitas untuk menangkap makna manusia pada umumnya serta manusia pada saat kini pada khususnya. Frankl juga mengatakan bahwa manusia dapat menemukan makna hidupnya melalui pekerjaan/ karyanya selain dari penderitaan dan pribadi yang menemukan hidupnya bermakna adalah pribadi yang ideal.6 Maka, orang beriman wajib menunjukkan bahwa imannya akan Allah bukanlah merupakan pelarian ke luar sejarah, melainkan sebaliknya, dengan keyakinan imannya ia menggarisbawahi tanggung jawabnya terhadap sejarah melalui kontribusi karya pelayanannya.5

Dimensi Pekerjaan Manusia

Kita sudah melihat bahwa pekerjaan adalah bagian penting dari sejarah, sekarang kita akan melihat dimensi pekerjaan itu sendiri yang menjadi pokok permasalahn/ issue dalam uraian pendahuluan. Sebagai makhluk yang bukan hanya rohani melainkan juga jasmani maka pada awalnya hakikat pekerjaan bagi manusia adalah segala aktivitas dalam rangka memenuhi kebutuhan dirinya dan masyarakat dalam segala aspek. Penulis tidak memungkiri bahwa ada kebutuhan-kebutuhan dasar jasmaniah yang perlu dipenuhi dengan mendapatkan materi seperti kebutuhan makan minum, tempat tinggal, transportasi, dan lainnya.
Perkembangan teknologi telah memberi kemampuan manusia untuk membangun dunianya lebih baik. Namun hal ini telah mengubah pandangannya menjadi lebih condong pada keadaan mengagungkan pekerjaan produktif dan teknologis. Saat ini manusia lebih didominasi oleh ‘rasio instrumental’, yaitu kemampuan penalaran yang mementingkan sarana mencapai tujuan dan kurang memberi tempat pada ‘rasio substansial’, yaitu kemampuan rasional manusia untuk melihat nilai dan makna.3 Manusia terjebak pada hal-hal yang dibuatnya sendiri yang pada awalnya dibuat dengan tujuan memudahkan hidupnya tetapi sekarang malah menjadi diperbudak oleh buatannya tersebut.
Manusia saat ini kurang menyadari mana yang merupakan kebutuhannya dan mana yang merupakan keinginan egoisnya untuk mendapatkan kemajuan teknologi yang tujuan awalnya adalah memudahkan kehidupannya. Salah satu contoh yang sederhana saat ini adalah perkembangan gadget yang pada awalnya untuk memenuhi kebutuhan akan komunikasi tetapi sampai saat ini perkembangannya telah jauh melampaui kebutuhan untuk komunikasi melainkan memasukkan semua keinginan manusia untuk ‘dimanja’ dalam bentuk entertainment dan lainnya ke dalam satu gadget dengan harga mahal yang beberapa bulan kemudian harganya akan turun drastis. Masih banyak hal-hal lain seperti ini jika dikejar oleh manusia maka manusia akan kehilangan ‘rasio substansial’-nya dan mengejar semakin banyak uang untuk memenuhi keinginannya, bukan kebutuhannya.
Ketika seorang manusia mengejar keinginannya tersebut untuk mendapatkan lebih banyak uang sebagai tujuan akhir maka seorang manusia seakan-akan bekerja untuk bertahan hidup dan menjadikan hidupnya hanya untuk bekerja. Idealnya, pekerjaan sebagai dimensi esensial eksistensi manusia di dunia dipandang oleh manusia sebagai sesuatu yang bisa membuatnya ‘dianggap’ sebagai manusia. Orang bekerja keras sebenarnya bertujuan agar ia memiliki waktu luang untuk ‘berkontemplasi’ agar dapat menikmati kebersamaan dengan yang lain seperti dengan keluarga dan teman-temannya, untuk dapat belajar, untuk dapat berdoa dan lain hal yang membuat kualitas hidupnya bertambah sebagai manusia. Manusia tidak boleh menjadikan pekerjaan segala-galanya bagi dirinya. Manusia ada bukan untuk bekerja, tetapi manusia bekerja dan harus bekerja agar eksistensinya penuh keluhuran dan bermartabat. Pekerjaan tidak boleh ditiadakan tetapi juga tidak boleh menjadi ekspresi total manusia, karena ada dimensi hakiki lainnya yang harus diekspresikan juga.3 Apalagi kalau hanya dipandang sebagai sarana mendapatkan uang!
Dalam hal nilai dan makna dalam bekerja ini maka setiap manusia harus menemukan nilai dan makna pekerjaannya dengan mengingat hakikatnya sebagai subjek, posisinya sebagai makhluk historis dan mengutamakan panggilan Allah atas karya apa yang harus dilakukannya sebagai bagian dari perpanjangan tangan Allah di dunia ini. Tidak ada tugas kecil pun yang tidak bermakna bahkan pekerjaan yang kita anggap paling rendah pun (misalnya petugas kebersihan, buruh kasar,dll) jika tidak ada yang melakukan maka seluruh sistem kehidupan kita akan mengalami ketidakseimbangan.
Menurut penulis, pekerjaan bagi manusia juga bisa dianggap sebuah pemainan dengan tanggung jawab dalam dinamika kemanusiaannya. Permainan adalah gejala umum dalam kehidupan manusia. Hal ini nampak dalam olimpiade sejak zaman Yunani sampai saat kini. Sepanjang manusia itu bebas dalam permainan maka manusia dapat menemukan dirinya dengan cara yang sewajarnya. Dalam permainan manusia mengalami dirinya secara utuh , total, terintegrasi.7 Sebagian dari pekerjaan kita adalah ‘permainan’, seperti anak-anak bermain peran di sebuah taman bermain kanak-kanak yang dikenal dengan nama Kidzania. Di Kidzania, seorang anak dapat berperan dalam permainan pekerjaan saat dewasa nanti. Sudah tentu bahwa ‘permainan’ yang dimaksud dalam pekerjaan adalah sebuah pekerjaan yang dapat membuat seorang manusia menemukan dirinya secara utuh sehingga keutuhan dan totalitasnya juga dapat membuatnya bekerja dalam totalitas itu atau istilah yang biasa digunakan adalah bekerja ‘all out’ tanpa dirundung situasi yang membebani.

Simpulan

Sebagai makhluk jasmani yang masih perlu pemenuhan kebutuhan materiil untuk keberadaan jasmaniahnya, maka manusia memang memerlukan uang sebagai salah satu alat atau sarana tetapi uang bukan tujuan bekerja. Di lain pihak, jangan lupa bahwa manusia juga makhluk rohani yang keberadaannya sebagai subjek tidak terbatasi oleh kondisi jasmaniahnya saja. Manusia sebagai subjek adalah pengada dan untuk itu memiliki kebebasan dan tanggung jawab dalam kontribusinya akan masa depan kehidupannya. Manusia menciptakan masa lalunya dan akan menciptakan juga masa kini dan masa depannya, oleh sebab itu manusia perlu berkarya. Manusia yang berinteligensi, bebas, berpendirian dan bertanggung jawab seharusnya dapat menjaga keseimbangan pandangan-pandangan filosofis tentang pekerjaan dan pemenuhan kehidupannya, bukan semata-mata ditentukan pandangan di luar dirinya apalagi kalau pilihan pekerjaannya hanya dibatasi oleh uang. Manusia seharusnya dapat menentukan pekerjaannya yang menjadi tujuan akhir penuh nilai dan makna dalam hidupnya sehingga dapat menemukan secercah kebahagiaan hidup yang penuh makna.
Dalam memilih pekerjaannya manusia harus selalu ingat bahwa ia memiliki tanggung jawab historis yang secara keimanan ia perlu mempertimbangkan ‘panggilan’ Allah atas tugas apa yang harus dikerjakannya dalam perannya ambil bagian di kehidupan ini.
Manusia juga harus dapat memilih pekerjaannya seperti sedang bermain sehingga ia selalu berada dalam totalitasnya sebagai subjek dan bebas merdeka dalam berkarya, menciptakan hal-hal dari yang sederhana sampai yang mungkin spektakular untuk kehidupan yang lebih baik di dunia ini.
Hal terakhir yang tidak boleh dilupakan adalah melihat kenyataan di dunia ini khususnya di Indonesia, penulis masih melihat adanya ketidakadilan dalam hal penghargaan atas nilai dan pemaknaan hidup pekerjaan-pekerjaan tertentu di Indonesia sehingga seakan-akan membuat manusia Indonesia menjadi tidak bebas untuk menentukan pekerjaan yang sesuai dengan hakikatnya sebagai manusia seperti yang telah diuraikan di atas. Kesenjangan penghasilan yang paling bawah dan yang paling atas begitu jauh dan tidak ada standar yang mendekati ‘adil’ yang diatur oleh penyelenggara negara yang seharusnya dapat menjamin ‘kemerdekaan’ warga negaranya. Walaupun demikian kita tidak dapat menganggap keadaan ini sebagai suatu kondisi yang deterministik melainkan masih ada kesempatan yang bebas untuk diubah. Sesuai pengalaman subjektif penulis hingga saat ini ternyata kebebasan kita memilih mau dihargai seperti apa nilai dan pemaknaan atas pekerjaan kita sangat ditentukan oleh pilihan bebas diri kita sendiri dan bukan oleh standar-standar ketidakadilan yang diciptakan/ ditentukan masyarakat atau negara.

Daftar Pustaka
1. Sastrapratedja, M. Manusia Sebagai Pribadi/Persona dalam Filsafat Manusia I. Pusat kajian Filsafat dan Pancasila. Jakarta. 2010. H. 171-176
2. Driyarkara ,N. Dinamika dan Persona dalam Filsafat Manusia. Kanisius. Yogyakarta. 1969. H. 55-57
3. Sastrapratedja, M. Dimensi Antropologis Pekerjaan dalam Filsafat Manusia I. Pusat Kajian Filsafat dan Pancasila. Jakarta. 2010. H. 159
4. Sastrapratedja, M. Kesejarahan dalam Filsafat Manusia I. Pusat Kajian Filsafat dan Pancasila. Jakarta. 2010. H. 141-143
5. Leahy, L. Historisitas. Siapakah Manusia? Kanisius. Yogyakarta. 2001. H. 225-230
6. Bastaman, H.D. Logoterapi Sebagai Filsafat Manusia dan Teori Kepribadian dalam Logoterapi.PT Raja Grafindo Persada. Jakarta. 2007. H. 85-87
7. Driyarkara ,N. Permainan Sebagai Aktivisasi Dinamika dalam Filsafat Manusia. Kanisius. Yogyakarta. 1969. H. 79-83