Kamis, 18 Juli 2013

Resensi Buku: Lebih Jauh Tentang ADHD & Gangguan Belajar pada Anak

Oleh : dr. Aldo Fransiskus Marsetio, BMedSc
Apakah anda pernah mendengar ADHD? ADHD adalah suatu kondisi kejiwaan yang sering ditemukan pada anak-anak, yang mempunyai gejala khas berupa tidak dapat memusatkan perhatian dan hiperaktif. ADHD merupakan salah satu gangguan perkembangan pada anak. Namun dapatkah anda membedakannya dengan gangguan perkembangan lainnya, terutama gangguan belajar pada anak? Buku ‘Lebih Jauh Tentang ADHD & Gangguan Belajar pada Anak’ yang disusun oleh dr. Dharmawan A. Purnama, SpKJ dan dr. Maria Irene Hendrata mengupas habis tentang ADHD dan gangguan belajar lainnya yang sering ditemukan pada anak-anak. Buku ini membahas berbagai macam cara untuk mengenali kondisi psikiatri tersebut, sampai cara menghadapi atau menanganinya. Mungkin anda bingung mengenai perbedaan antara psikiater dengan psikolog. Apakah perbedaan di antara kedua profesi tersebut? Bagaimana kompetensi mereka? Kemanakah saya perlu membawa anak saya berobat? Buku ini dengan baik dan sederhana menjelaskan perbedaan kedua profesi tersebut, sehingga pasti dapat membuat anda lebih mudah dalam memutuskan. Menggunakan bahasa yang awam, sederhana, dan memberikan definisi pada kata-kata medis membuat buku ini nyaman untuk dibaca, serta mudah dimengerti. Buku ini dikemas seringkas mungkin, namun padat berisi dengan informasi yang disajikan secara sistematis. Kriteria diagnosa, serta check list membantu siapa pun yang membaca buku ini dapat lebih mudah untuk mengerti kondisi kejiwaan sang anak. Dengan lebih mengerti kondisi sang anak, mengetahui cara penanganan yang tepat, tentu saja dapat membantu sang anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Buku ‘Lebih Jauh Tentang ADHD & Gangguan Belajar pada Anak’ ini bisa Anda peroleh melalui mbak Kirni 021-5609432 (Klinik Taman Anggrek).

Selasa, 01 November 2011

Terapi Neurofeedback untuk ADHD

Terapi neurofeedback adalah salah satu pilihan terapi yang menjanjikan saat ini untuk penanganan ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder). Tujuan terapi adalah membuat pasien mengubah cara kerja otaknya sehingga fungsinya lebih optimal, tidak seperti seseorang dengan ADHD.

Apa itu Biofeedback?
Biofeedback adalah penggunaan alat untuk mencerminkan proses psikologi dan fisiologi yang pada umumnya tidak disadari oleh orang tersebut, namun dengan menggunakan alat biofeedback, proses pikir seseorang dapat disadari dan berada di bawah kontrol. Orang akan menerima informasi tentang status biologisnya, dan menggunakan informasi ini, ia belajar untuk meraih kontrol di bawah fungsi biologis yang tidak disadari.
Neurofeedback adalah tipe dari biofeedback yang dapat digunakan untuk melatih pola gelombang otak anak dengan ADHD/ADD (Attention Deficit Disorder) dan mengubahnya agar menjadi lebih seperti anak-anak normal. Menggunakan elektroensefalografi (rekaman listrik otak) untuk memonitor gelombang otak dan positive reinforcement system, anak akan belajar bagaimana membuat otak mereka menjadi lebih atentif/konsentrasi. Hasilnya adalah berkurangnya gejala ADHD dan peningkatan perilaku yang tidak impulsive atau hiperaktif. Peningkatan ini relatif tergantung pada sebaik apa anak dapat mengontrol fungsi otak mereka.

Bagaimana otak kita bekerja?
Setiap manusia mempunyai lima pola gelombang otak. Setiap area otak mempunyai pola predominan yang merefleksikan status mental seseorang saat ini. Pola ini dapat diukur dan direkam dengan alat elektroensefalogram (EEG). EEG dapat digunakan untuk membuat peta dari fungsi mental seseorang. Lima jenis gelombang otak itu adalah :

Gelombang beta : Ini adalah gelombang tercepat yang berhubungan dengan status mental, intelektual, dan konsentrasi. Gelombang beta dalam jumlah banyak membuat seseorang mampu berkonsentrasi.
Gelombang SMR : Adalah subkategori dari gelombang beta. Ini adalah gelombang yang muncul pada korteks sensorimotor jika seseorang fokus pada tantangan fisik.
Gelombang alfa : Gelombang ini lebih lambat dari gelombang beta yang bekerja untuk relaksasi.
Gelombang teta : Gelombang ini lebih lambat lagi dari gelombang alfa. Ini adalah gelombang otak saat bermimpi atau tertidur.
Gelombang delta : Ini adalah gelombang otak yang paling lambat yang muncul saat tidur yang dalam.

Seseorang dengan ADHD/ADD cenderung memiliki gelombang lambat yang berlebihan (biasanya gelombang teta dan alfa). Jika peningkatan gelombang lambat ini terjadi di bagian eksekutif, yaitu bagian frontal otak (otak sebelah depan), maka akan sulit untuk mengontrol konsentrasi, perilaku, dan emosi.
Saat seorang anak normal diberi tugas yang membutuhkan konsentrasi, jumlah gelombang beta di beberapa bagian otaknya meningkat. Hal ini tidak terjadi pada anak dengan ADHD. Yang terjadi bukannya peningkatan gelombang beta, tetapi peningkatan gelombang teta. Sehingga anak dengan ADHD memiliki rasio gelombang teta/beta yang tinggi. Jadi di saat anak normal berkonsentrasi lebih keras saat menyelesaikan tugas, pikiran anak dengan ADHD dapat melayang ke hal-hal lainnya.

Terapi neurofeedback dapat melatih anak dengan ADHD untuk menurunkan rasio gelombang teta/betanya. Semakin rendah rasio teta/beta, semakin baik anak dapat berkonsentrasi. Sebuah elektroda diletakkan di puncak kepala dan sepasang elektroda diletakkan di daun telinga atau di tulang mastoid di belakang telinga. Melalui ketiga elektroda ini, aktivitas listrik otak direkam dan ditampilkan di layar komputer.

Apakah terapi neurofeedback ini efektif?
Selama terapi, anak diajarkan secara bertahap untuk mengurangi produksi gelombang teta dan meningkatkan produksi gelombang beta. Rasio gelombang teta/beta menjadi normal sehingga gejala dan perilaku ADHD akan banyak berkurang atau bahkan menghilang. Seiring meningkatnya kemampuan konsentrasi, terapi ini juga akan meningkatkan kognitif mereka. Peningkatan ini bersifat permanen. Penelitian lanjutan mengenai hal ini telah dilakukan sejak tahun 1970an. Terdapat beberapa penelitian yang membuktikan efektivitasnya. Tidak ada penelitian yang membuktikan bahwa neurofeedback sama sekali tidak memberikan manfaat. Penelitian Levesque dan kolega pada tahun 2006 menggunakan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan memperlihatkan adanya perubahan positif pada fungsi otak anak dengan ADHD setelah terapi neurofeedback. Terapi neurofeedback untuk ADHD mengurangi gejala impulsivitas dan hiperaktivitas, menstabilkan mood, memperbaiki siklus tidur, meningkatkan konsentrasi, meningkatkan daya ingat dan performa akademik. Yang menarik, juga terjadi peningkatan IQ setelah terapi neurofeedback ini. Rata-rata peningkatan nilai IQ ini bervariasi dari tiap penelitian. Ada yang menyebutkan peningkatan 9 poin hingga 23 poin dari nilai IQ. Hal ini membuat neurofeedback menjadi terapi yang signifikan bagi ADHD. Belum ada penelitian pada terapi lain yang membuat perubahan permanen seperti ini.
Neurofeedback juga terbukti efektif dalam menangani berbagai macam epilepsi, termasuk grand mal, kompleks parsial, dan petit mal. Neurofeedback menurunkan 70% kejadian kejang, bahkan hingga 82% pada pasien yang mengkonsumsi obat teratur.
Pada orang dengan kecanduan alkohol dan narkoba, terjadi penurunan gelombang alfa dan teta serta peningkatan berlebih pada gelombang beta. Hal ini membuat mereka sulit untuk rileks. Latihan neurofeedback mengurangi stres pada pecandu melalui meningkatnya gelombang alfa dan teta, serta menurunnya gelombang beta.
Neurofeedback juga bermanfaat mengurangi gejala pada Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Sebuah penelitian pada korban PTSD di Vietnam membuktikan bahwa neurofeedback mengurangi kekambuhan pada pasien yang mendapatkan terapi neurofeedback dan medikasi dibandingkan pada pasien yang hanya mendapat medikasi saja.
Tidak hanya pada orang dengan gangguan psikiatri, neurofeedback juga bermanfaat bagi orang normal tanpa gejala, misalnya digunakan untuk meningkatkan performa kerja, daya ingat, dan kognitif pada pebisnis, musisi, dan atlet.

Berapa sesi terapi yang dibutuhkan?
Latihan neurofeedback untuk gangguan cemas atau insomnia membutuhkan 15-20 kali sesi, sedangkan untuk ADHD/ADD atau gangguan belajar membutuhkan 40-50 kali sesi terapi. Tiap sesi umumnya berlangsung selama 40-60 menit. Pada kondisi pasien dengan kondisi yang kompleks, dokter tidak selalu dapat memperkirakan berapa sesi yang dibutuhkan untuk memberikan hasil bagi pasien.

Bagaimana memilih terapis yang profesional?
Ada beberapa orang tua yang berharap dapat membeli alat ini lalu kemudian mengaplikasikannya sendiri ke anak mereka. Juga ada beberapa pihak yang menyewakan alat neurofeedback ini di rumah mereka. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Dibutuhkan operator yang mengerti fungsi otak, dapat mengenali gejala setiap pasien, dan mengadakan penilaian serta evaluasi terhadap terapi. Terapi pada setiap pasien tidaklah sama. Maka sebelum terapi perlu dilakukan penilaian oleh klinisi mengenai riwayat klinis pasien. Jika perlu maka dilakukan pemeriksaan psikologi atau neuropsikologi terlebih dahulu. Pada beberapa kasus diperlukan pemeriksaan yang lebih komprehensif, yaitu quantitative electroencephalogram (QEEG) brain map yang merupakan alat untuk mengevaluasi pola gelombang otak. QEEG dapat mengevaluasi kondisi seperti cedera otak ringan, ADHD/ADD, gangguan belajar, depresi, gangguan obsesif kompulsif, gangguan cemas, gangguan panik, dan kondisi lain seperti autisme, skizofrenia, stroke, epilepsi, dan demensia.

Apa efek samping terapi neurofeedback?
Efek samping ringan dapat muncul selama terapi neurofeedback, yaitu lelah, cemas, sakit kepala, gelisah, dan anak menjadi rewel. Tidak ada efek samping yang berbahaya. Jika efek samping ini muncul, terapis dapat mengubah jenis latihan sehingga mengeliminasi efek samping tersebut. Maka dari itu dibutuhkan terapis yang dapat mengenali gejala pada setiap pasien.
Neurofeedback membutuhkan motivasi pasien untuk mengikuti terapi sampai selesai. Terapi ini baru dapat diterapkan pada anak usia 6 tahun ke atas karena anak yang lebih kecil belum bisa mengikuti instruksi terapis. Terapi neurofeedback ini bukanlah cara untuk menyembuhkan anak dengan ADHD, terapi ini hanya salah satu cara untuk mengurangi gejala dan memperbaiki perilaku mereka. Berkonsultasilah dengan psikiater Anda untuk menentukan terapi yang terbaik bagi anak Anda.

Rabu, 07 September 2011

Test of Variables of Attention (T.O.V.A.) untuk Membantu Diagnosa ADHD

Apakah anak Anda sulit berkonsentrasi dan mengalami gangguan belajar? Apakah guru anak Anda mulai menduga anak Anda mengalami gangguan pemusatan perhatian dan atau hiperaktif?

Deteksi dini orang tua terhadap gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif atau yang biasa dikenal dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah faktor penting dalam penanganan ADHD dan perkembangan anak nantinya.
Ada tiga gejala utama ADHD, yaitu inatensi (sulit memusatkan perhatian/sulit konsentrasi), impulsivitas (sulit menahan keinginan untuk melakukan sesuatu sehingga melakukan sesuatu tanpa berpikir lebih dulu), dan hiperaktivitas.
Tipe ADHD juga ada tiga, yaitu yang cenderung inatensi, hiperaktif–impulsif, dan kombinasi. Pemeriksaan Continuous Performance Test (CPT) yang objektif seperti dengan alat T.O.V.A (Test of Variable of Attention) juga diperlukan untuk diagnosis dan menilai kemajuan terapi.

Apa itu T.O.V.A.?
The Test of Variables of Attention (T.O.V.A.®) adalah bentuk continuous performance test (CPT) berbasis komputer yang dapat membantu mendeteksi, mendiagnosis, dan memonitor efektivitas terapi pada gangguan atensi, contohnya ADHD dan juga pada cedera otak traumatik. Tes ini digunakan oleh psikiater dan psikolog agar dapat mendiagnosa gangguan atensi secara lebih akurat.
T.O.V.A. adalah pengukuran yang objektif terhadap daya atensi seseorang, bukan hanya penilaian yang subjektif dari wawancara atau pengamatan perilaku. Tes ini cukup sederhana untuk dilakukan, bentuknya seperti permainan komputer yang lamanya 21,8 menit. Untuk anak usia 4 sampai 5 tahun, lama tes lebih pendek, yaitu 10,9 menit. Sebelum tes disediakan latihan terlebih dahulu selama 2,5 menit. T.O.V.A. mengukur kemampuan seseorang dalam merespon rangsangan visual atau auditori (pendengaran). Pengukuran ini dibandingkan dengan pengukuran pada sekelompok orang tanpa gangguan atensi yang mengikuti tes ini.

Ada dua jenis T.O.V.A, yaitu T.O.V.A. yang memproses informasi visual dan T.O.V.A.-A yang memproses informasi auditori. T.O.V.A menggunakan dua bentuk geometri yang sederhana untuk mengukur atensi, sedangkan T.O.V.A.-A menggunakan dua nada. Biasanya cukup dilakukan satu jenis T.O.V.A saja.
Target pada T.O.V.A. visual adalah kotak kecil yang berada di atas. Kotak kecil akan muncul bergantian secara acak di atas dan di bawah. Saat kotak kecil muncul di bagian atas, anak harus meng-klik microswitch. T.O.V.A.-A menggunakan dua nada yang mudah dibedakan, yaitu nada tinggi dan nada rendah. Targetnya adalah nada tinggi.

Variabel yang diukur dalam T.O.V.A. meliputi konsistensi, waktu merespon, impusivitas, inatensi, waktu merespon setelah impulsivitas, respon antisipatif dan multipel, dan skor ADHD, yang dibandingkan dengan kelompok orang dengan ADHD sesuai usia dan jenis kelaminnya. Hasil T.O.V.A. berupa grafik dan interpretasi dapat segera muncul secara tertulis.
T.O.V.A tidak hanya digunakan dalam lingkungan medis namun juga dapat digunakan untuk skrining atau mendeteksi adanya gangguan atensi di sekolah-sekolah, human resource departments (HRD), dan program rehabilitasi.

Apa kelebihan T.O.V.A. ?
• T.O.V.A. membantu diagnosa dengan informasi objektif mengenai atensi dan impulsivitas. Klinisi (psikiater/psikolog) tidak hanya mendiagnosa berdasarkan perilaku dan wawancara pasien saja. T.O.V.A. dapat mengidentifikasi dengan tepat lebih dari 86% kasus ADHD. Akan tetapi, dalam melakukan diagnosa klinis tetap melakukan pengamatan secara klinis, bukan berdasarkan hasil T.O.V.A. saja.
• T.O.V.A. dapat memprediksi efektivitas pengobatan secara akurat dengan membandingkan hasil T.O.V.A. sebelum dan sesudah pengobatan.
• Bentuk T.O.V.A. seperti game komputer dan mudah dilakukan oleh siapa saja.
• Hasil T.O.V.A dapat segera dilihat dan mudah dibaca.
• T.O.V.A dapat dilakukan oleh anak-anak maupun orang dewasa (usia 4 hingga 80 tahun).
• Pengukuran respon waktunya sangat tepat (dalam skala milidetik)
• Tidak dipengaruhi oleh perbedaan bahasa, budaya, gangguan belajar, dan daya ingat.
• Bentuknya yang seperti game membuat anak-anak lebih nyaman, tidak merasa sedang dites.
• Berbeda dengan CPT sebelumnya yang menggunakan keyboard, T.O.V.A menggunakan microswitch yang didesain khusus yang dapat meminimalkan kelelahan otot saat tes.
• Dengan menyediakan pemeriksaan yang objektif, hasil pemeriksaan dengan grafik yang mudah dimengerti pasien, akan memberikan kepuasan pada pasien dan keluarga. Pasien lebih mengerti dan menerima kondisi serta terapi yang harus ia jalani.

Bentuk ADHD tidak hanya pada anak-anak namun dapat muncul juga pada orang dewasa, seringnya dalam bentuk impulsivitas. Selain itu juga perlu diingat bahwa ADHD sering muncul bersamaan (komorbiditas) dengan penyakit jiwa lainnya, seperti depresi, gangguan cemas, dan penyalahgunaan obat.

Sabtu, 19 Februari 2011

Psikiater, Perkawinan dan Seks

Perubahan nilai yang begitu cepat dalam kehidupan kita saat ini karena kemajuan teknologi informasi dan media mengakibatkan kita bingung dalam menyikapi nilai-nilai perkawinan saat ini. Di tengah kebingungan ini, sekiranya perlu juga kita merefleksikan kembali arti kasih sayang ini dengan nilai-nilai dan makna perkawinan sebagai komitmen untuk saling mencintai. Refleksi ini menjadi penting ketika saat ini kita melihat di sekitar kita terjadi peningkatan perceraian, perselingkuhan yang diawali dengan teman tapi mesra (TTM) dan maraknya praktek-praktek seks di luar perkawinan.

Semua “kekacauan” ini berdampak negatif pada generasi muda, yang katanya penerus bangsa, karena membuat banyak anak-anak hasil produksi ‘broken home’. Hancur sudah dasar-dasar pola asuh dalam masa perkembangan sang anak sebagai pondasi nilai-nilai kehidupannya kelak di masa dewasa.
Tulisan ini adalah hasil pengamatan yang diambil dari pengalaman penulis dalam berpraktek sebagai psikiater keluarga dan perkembangan anak.

Masalah Komunikasi dan Gangguan Jiwa
Banyak masalah perkawinan dikaitkan dengan masalah komunikasi yang buruk antara suami dan istri sehingga akhirnya mereka merasa tidak ada lagi kecocokan satu sama lain. Pertanyaannya adalah mengapa komunikasi yang begitu baik pada awal mula pacaran sampai ke pernikahan sekarang menjadi buruk? Memang ketika jatuh cinta (kejadian yang tidak dapat dikendalikan oleh kita) segalanya menjadi indah dan komunikasi macam apa pun akan selalu ‘lancar’ tetapi ketika sama-sama berkomitmen untuk tetap saling mencintai (kejadian ini harusnya dapat dikendalikan secara sadar oleh kita karena mencintai adalah pilihan) seharusnya sudah dapat mendeteksi masalah ‘plus dan minus’ dari komunikasi tersebut! Menikah adalah komitmen untuk memilih saling mencintai ‘partner’ kita untuk mencapai ‘goal’ bersama di hari tua.
Mengapa komunikasi ini menjadi buntu? Bertolak dari definisi Badan Kesehatan Dunia (WHO) tentang kesehatan mental yaitu: Perasaan sehat dan bahagia, mampu menghadapi tantangan hidup, dapat menerima orang lain apa adanya dan bersikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain maka jika kita tidak dapat menerima pasangan apa adanya bisa jadi dikarenakan faktor-faktor seperti:

1. Salah satu pasangan atau keduanya mengalami gangguan jiwa, baik yang memang gangguan karena faktor genetik (skizofrenia, bipolar, paranoia) dan lingkungan (depresi dan cemas akibat gangguan penyesuaian lingkungan) maupun gangguan jiwa yang dibuat sendiri seperti memakai narkoba dengan alasan untuk mencari kebahagiaan.
2. Gangguan kepribadian juga berperan penting dalam hubungan suami dan istri. Gangguan kepribadian yang sering menyebabkan “perang dunia” adalah gangguan kepribadian narsisitik yang merasa dirinya paling benar dan spesial sehingga selalu perlu didahulukan karena merasa dirinya lebih penting, gangguan kepribadian histrionik yang tak pernah cukup minta diperhatikan oleh pasangannya, gangguan kepribadian anankastik yang selalu mencari dan menuntut kesempurnaan bagi dirinya sendiri dan pasangannya. Jika salah satu atau kedua individu sudah terserang gangguan kepribadian ini maka tidak ada satu orang pun pasangannya yang akan ‘tahan’ hidup bersama lagi. Sebenarnya gangguan ini sudah tampak bila diperhatikan secara cermat sejak masih masa pacaran dahulu, walaupun dalam satu dua kasus ada pasangan yang pandai menyembunyikan dirinya sebelum perkawinan.
Jika gangguan jiwa dan gangguan kepribadian ini sudah ikutan berperan maka semua orang tahu bahwa kita tidak akan bisa berkomunikasi dengan normal pada orang dengan gangguan kejiwaan.

Perselingkuhan, Nilai Masyarakat, dan Puber Kedua
Biasanya ketika seseorang mengalami kebuntuan komunikasi dengan pasangannya, mereka akan mencari teman dekat untuk ‘curhat’. Nah biasanya teman dekat untuk ‘curhat’ ini tidak terlatih untuk bersikap objektif, sering kali mereka menjadi bersimpati dan bahayanya dengan terlalu simpati adalah nasehat-nasehatnya akan sangat tidak rasional untuk menjaga keutuhan perkawinan. Belum lagi keterbatasan wawasan akibat kurangnya pengalaman dalam menghadapi masalah-masalah perkawinan dan gangguan jiwa akan mengakibatkan penilaian yang salah dan nasehat yang keliru. Risiko yang lebih besar lagi adalah ketika teman ‘curhat’ tersebut adalah lawan jenis! Yang tipe seperti ini biasanya dapat di-‘follow up’ menjadi TTM, lalu urusan perselingkuhan sampai seks!
Sebenarnya istilah puber kedua adalah istilah yang sampai sekarang masih menjadi kontroversi sebab ternyata perselingkuhan dan hubungan seks di luar pernikahan bukan dipengaruhi oleh keadaan hormonal saja melainkan banyak faktor biopsikososial lainnya seperti kebutuhan dasar manusia yang selalu ingin diperhatikan, akibat tuntutan pekerjaan maka waktu bersama istri yang lebih sedikit dibandingkan bersama rekan kerja (apalagi kalau rekan kerjanya perhatian pula) dan tentunya setiap bertemu istri, istri tidak bersolek secantik teman kerja.
Hal lain yang juga mempengaruhi adalah gaya hidup saat ini seperti bermain golf dengan caddy atau pelatih yang ‘moleh-moleh’, spa dengan terapis yang ‘bohai-bohai’, karaoke dan lain-lain yang tentunya didampingi ‘pendamping’ yang memiliki service lebih oke dibandingkan di rumah.
Nilai-nilai masyarakat juga kadang mendorong seseorang untuk memiliki ‘simpanan’ dengan dalih bahwa semakin ‘bonafid’ seorang pengusaha maka maklum dan wajar jika memiliki wanita lain. Belum lagi nilai-nilai korupsi yang merajalela di Indonesia seringkali juga menyuguhkan sogokan berupa seks.

Cinta dan Kesehatan Mental
Akhir kata, sekali lagi penulis mengingatkan bahwa masalah perkawinan dan cinta kasih ini sangat berhubungan erat dengan mekanisme kerja sistem mental kita di otak yaitu cara pikir, berperasaan dan bertingkahlaku dalam hubungan dengan lingkungan dan sesama, khususnya ‘partner’ hidup kita.
Insting primitif kita dalam hal seksual seringkali menjebak kita sehingga gagal mencapai “GOAL” (fungsi luhur otak yang paling tinggi adalah mempunyai tujuan) dalam ‘companionship’ cinta kasih perkawinan. Untuk mencegah kegagalan itu, kita harus selalu memiliki kewaspadaan dalam setiap pikiran, perasaan, dan perbuatan kita sebelum terjebak dalam kecanduan-kecanduan haus cinta kasih dan seksual akibat stimulasi berlebihan pada brain reward system di otak kita.
Hati-hati dengan kondisi kesehatan mental dan gangguan kepribadian yang mungkin menghampiri kita atau pasangan kita dan bila perlu hal seperti ini dikonsultasikan pada profesional daripada ke teman, yang mana karena ketidak-profesionalannya bisa berakibat menyelesaikan masalah dengan masalah baru.
Cinta yang sejati membawa ketenangan dan meningkatkan kesehatan mental kita tetapi cinta yang palsu hanya akan membawa kebimbangan dan ketidaktenangan dalam hati kita.

Jumat, 30 April 2010

Kemana lebih dulu, PSIKOLOG atau PSIKIATER?

Pertanyaan seperti ini sering saya dapatkan ketika saya memberikan ceramah kepada masyarakat baik awam maupun dunia medis (dokter maupun perawat yang waktu mata kuliah Ilmu Kedokteran Jiwa tidak menyimak dengan baik). Demikian juga ketika saya memberikan kuliah pada mahasiswa psikologi baik S1 maupun S2 dan mahasiswa kedokteran.

Ketika saya surfing di internet, saya juga menemukan banyak topik dalam blog maupun forum yang mencoba memberikan penjelasan kemana lebih dulu seharusnya seseorang itu datang berkonsultasi dan sayangnya banyak jawaban yang ada pada blog-blog atau forum tersebut tidak memberikan pendapat yang objektif. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya jawaban yang mengatakan bahwa kalau merasa gangguannya belum berat maka datang saja dulu ke psikolog!

Saya akan mencoba menjelaskan dengan lebih objektif dan pertama-tama saya akan menjawab bahwa datang ke mana lebih dulu tergantung dari keperluan(NEED) klien/pasien!
Kenapa bisa saya katakan bahwa pilihan datang ke mana lebih dulu itu tergantung keperluan (NEED)?
ya karena psikolog dan psikiater itu adalah 2 makhluk yang serupa tetapi tak sama.
Okelah kalo begitu, saya akan mulai menjelaskan dari asal muasalnya si makhluk psikiater dan psikolog.

PSIKIATER, MAKHLUK APAKAH ITU?
Psikiater adalah dokter spesialis kedokteran jiwa, jadi seorang psikiater harus lulus sebagai dokter umum dulu dan kemudian melanjutkan studinya dengan bekerja selama minimum 4 tahun di Rumah Sakit, tepatnya di poliklinik spesialis psikitri baik rawat jalan dan rawat inap psikiatrik maupun poliklinik spesialistik kedokteran lainnya sebelum akhirnya diuji oleh Kolegium Psikiatri di negara mana ia berpraktik. Jadi secara asal muasalnya makhluk ini adalah DOKTER! Nah bagi siapapun yang membutuhkan dokter untuk pengobatan maka langsung aja datang ke PSIKIATER, untuk apa datang ke PSIKOLOG? Walaupun saat ini berkembang profesi Psikolog klinis!

Jadi kalo mau tes IQ dan tes minat bakat, jangan datang ke psikiater Pak! Kan gak sakit? Hehehe...masalahnya banyak orang yang sakit kejiwaannya tapi 'denial' jadi merasanya tetap sehat, cuma butuh konsultasi ya? Akhirnya oleh psikolognya tetap aja dirujuk ke psikiater.

KALO PSIKOLOG?
Sekarang kita lihat profesi psikologi, psikologi adalah cabang ilmu humaniora dalam hal ini ilmu perilaku dan oleh karena itu pendekatan awalnya bukan dari sudut pandang 'mengobati orang sakit'! Psikolog bukanlah dokter!
Nah lalu banyak orang bilang bahwa bedanya psikolog dan psikiater adalah kalo psikiater bisa meresepkan obat dan psikolog tidak tetapi psikolog bisa memberikan konseling dan psikoterapi. Jawaban ini pula yang banyak dijawab oleh mahasiswa psikologi yang saya beri kuliah.

Saya beritahu mereka bahwa menjawab seperti ini adalah salah besar, apalagi yang menjawab ini adalah calon sarjana? Coba sekarang kita lihat bahwa ada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) jurusan BIMBINGAN dan KONSELING! Nah loh berarti konseling itu bukan ciri khas psikolog dong! Karena kemampuan konseling juga ternyata dimiliki oleh guru, pendeta, pastor, pekerja sosial terlatih dll. Coba lihat di Amerika, menjadi seorang konselor atau psikoterapis tidak harus menjadi psikolog lebih dahulu.

Hehehe...kalo di kampung mah ada yang bilang konseling sama nenek gue aja gak bayar! (Nanti ada artikel khusus antara konseling yang profesional dan konseling pada yang bukan profesional seperti nenek gue itu ya)

Jadi apa ciri khas psikolog? Psikolog adalah profesi yang sejak kuliah di S1 kuat dalam bidang membuat alat ukur psikologi dan kemudian berangkat dari tes-tes psikologi, IQ, dll tersebut, mereka dapat melihat aspek klinis dari gangguan psikologis. Seorang psikolog yang profesional adalah seorang yang sangat menguasai interpretasi tes-nya yang dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis atau mengevaluasi kondisi psikologis kliennya. Nah berangkat dari hasil evaluasi tersebut baru mereka bisa membantu kliennya dalam hal konseling maupun psikoterapi.
Bagi mereka yang membutuhkan tes IQ, psikotes, tes bakat dan minat,dll sebaiknya lebih dahulu datanglah ke PSIKOLOG karena psikiater tidak bisa melakukan tes-tes tersebut. Psikiater di Indonesia biasanya hanya melayani tes kepribadian yang dapat mendeteksi patologi pada proses mental seseorang.

KE PSIKIATER DAN KECANDUAN
Ada lagi orang yang saking mau mendiskreditkan profesi psikiater lalu bilang bahwa jangan ke psikiater lebih dulu tetapi ke psikolog duluan karena pasti akan diberikan obat kalo ke psikiater dulu dan nanti jadi kecanduan obat penenang!
Nah ini lagi pendapat ngaco, emangnya Psikiater bandar narkoba?
Kita juga maunya pasien-pasien kita cepat berhenti dari minum obat dan sembuh sehingga secara 'bisnis', masing-masing mantan pasien itu bisa mengenalkan 10 pasien baru kepadanya. Lebih untungkan? Ngapain bikin pasien kecanduan? Apa untungnya untuk bisnis pelayanan jasa seperti dokter kalau bukan mencari lebih banyak jumlah pasien sebagai 'customer'?

Lagian kalo psikiater itu 'tukang' membuat orang kecanduan maka udah pasti tuh profesi dilarang diseluruh dunia, iya gak, iya gak?
Obat yang diberikan psikiater juga bukan obat penenang lah yau...makanya banyak baca dong jangan dikit tahu tapi rasanya udah pinter. Ingat peribahasa 'Tong Kosong Nyaring Bunyinya'. (Nanti saya buat artikel tentang obat-obatan psikiater bukan obat penenang ya).

PENUTUP
Oke, jadi sekarang udah pada jelas ya bedanya psikiater dan psikolog sehingga udah bisa menentukan kemana akan pergi lebih dulu sesuai dengan kebutuhan (NEED) Anda.

Salam,
Dharmawan

Minggu, 26 April 2009

MENGENAL ANAK HIPERAKTIF

Mengenal Anak Hiperaktif
(Gangguan Hiperkinetik)

Dr. Dharmawan A. Purnama SpKJ


Ibu Ratna datang ke klinik Perkembangan Anak dengan keluhan bahwa anaknya yang berusia 5 tahun selalu mengganggu teman, tidak bisa diam, dan seolah-olah tidak memperhatikan pelajaran di kelas. Oleh guru dinyatakan tidak dapat mengikuti kegiatan belajar di dalam kelas.

Anak tersebut bukan anak nakal dan juga bukan anak yang malas atau bodoh, namun anak tersebut mengalami gangguan dalam perkembangannya yaitu gangguan hiperkinetik yang secara luas di masyarakat disebut sebagai anak hiperaktif.