Rabu, 27 Mei 2015

Pengalaman berkesan belajar di RSJ Sawa (Sawa Hospital) Osaka

Osaka, Musim dingin Januari, 2015.

Undangan Dr Yutaka Sawa untuk belajar di Rumah Sakitnya di Toyonaka City dan Osaka City serta di Senri Emergency hospital membuat saya memilih musim dingin di tengah-tengah masa liburan semester program matrikulasi filsafat saya. Tgl 12 Januari 2015 saya tiba di Kansai Airport dan hari itu adalah hari libur dimana orang Jepang merayakan hari kedewasaan yaitu seorang anak laki (boy) dianggap menjadi laki-laki (Man)

Kalau kita sering katakan bahwa orang Indonesia adalah bangsa yang ramah ternyata bangsa Jepang (yang telah menyakitkan hati ayah dan kakek saya karena kekejamannya saat masa pendudukan jepang di Asia) adalah bangsa yang sampai sekarang adalah bangsa yang dapat menghormati orang lain. Mereka bukan hanya menghormati tamu melainkan juga sangat menekankan saling menghormati di antara mereka sendiri (mereka bukan orang-orang yang suka main serobot apalagi serobot hak orang lain seperti di Indonesia). Di jalan-jalan mereka begitu patuh pada peraturan, menjaga kebersihan dan bisa mempersilahkan orang lain untuk jalan lebih dahulu, setidaknya itu yang saya perhatikan. Belakangan saya juga baru tahu bahwa OSaka adalah salah satu kota teraman di dunia.

Ada perbedaan antara karakter orang di daerah Kansai (Osaka termasuk daerah Kansai dan dulu waktu kecil saya tahunya Kansai itu merk cat - Kansai paint). Mereka lebih egaliter dan bersahabat, tidak jaim dalam berteman dan Dr Sawa adalah guru yang sangat-sangat baik bagi saya apalagi sebagai role model. Ia bukan hanya seorang psikiater yang secara genetik memang psikiater (ayahnya dan ke dua anak laki-lakinya adalah psikiater. Ia adalah manager dan juga entrepreneur di bidang kesehatan jiwa. Ia hidup begitu sederhana sampai-sampai ketika diantar pulang sambil menunggu bis di halte bisa yang akan membawa saya ke airport setelah kami makan malam bersama, saya bertanya penasaran kepada beliau tentang apakah mobil beliau sesungguhnya karena saya selalu diajak naik taxi atau mobil dinas operasional rumah sakit selama saya di Osaka. Beliau rupanya hanya mempunyai sebuah VW city car tahun 1990-an! Penampilannya sangat sederhana padahal beliau adalah pemilik 2 RSJ dan banyak apartemen yang disewakan kepada karyawan, umum dan pasien-pasien jompo serta usaha catering service untuk pasien-pasien jompo tersebut.
Semua usahanya itu adalah usaha nir-laba yang dibuat bukan semata-mata untuk kekayaannya sendiri seperti kebanyakan kita di Indonesia membuat semua usaha demi kita bisa pakai barang mewah, mobil mewah dan lainnya. Keuntungan usaha yang tidak besar itu digunakan untuk pengembangan dan dikembalikan untuk kesejahteraan pasien-pasiennya. Hutangnya juga banyak untuk membiayai idealismenya tetapi disupport betul oleh pemerintah yang tidak korupsi! Hal ini yang belum bisa kita dapatkan di Indonesia. Saya ingat pengalaman beberapa tahun lalu ketika salah seorang teman saya mengajukan bahwa panti rehabilitasi mental kami dapat dibantu dana dari dinas social dengan potongan sekian persen ketika pencairan dana, tentu saja kita semua langsung sepakat untuk menolak dan lebih baik swadaya sendiri dengan dibantu oleh para donatur saja.

Neuroimaging pada Lansia

Angka harapan hidup yang tinggi di Jepang membuat populasinya banyak berusia tua atau bahkan sangat tua. Banyak gangguan mental yang muncul akibat proses degenerasi otak. Saya banyak belajar tentang bermacam-macam dementia (kepikunan), mulai dari Alzeimer yang paling banyak lalu dementia Parkinson, dementia lobus frontotemporalis (perilaku menjadi terdisinhibisi dan seenaknya melanggar norma-norma dan aturan), dementia vascular (akibat kelainan peredaran darah otak atau pasca stroke, termasuk stroke lobus frontalis), banyak senile psikosis (bukan late on set skizofrenia). Di Jepang tidak banyak aturan seperti di Indonesia yang mengharuskan ijin praktik dll, selama kita didampingi oleh dokter penanggungjawab pasien maka kita boleh ikut priksa pasien (tentunya yang bisa berbahasa Inggris karena saya tidak bisa berbahasa Jepang kecuali sedikit sekali bahasa sehari-hari yang dipelajari dari buku wisata). Kita mendiskusikan pengobatan apa saja yang menjadi pengalaman di Indonesia dan bagaimana di Jepang,
Karena banyak pasien lansia maka saya mempelajari pemeriksaan/ asesmen awal pasien-pasien ini termasuk dengan pemeriksaan-pemeriksaan canggihnya yang telah menjadi standar untuk data base awal pasien dirawat sehingga mudah dibandingkan saat follow up dan semua itu diganti oleh system asuransi pemerintah (bandingkan dengan BPJS di Indonesia yang sangat membatasi pemeriksaan dan pengobatan). Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan, EEG, CT scan, MRI, Xenon-CT Scan semua dilakukan untuk melihat fungsi dan struktur otak pasien sejak awal masuk. Asosiasi neuropsikiatri Jepang (istilah psikiater tetap menggunakan istilah neuropsikiater walaupun ada sendiri asosiasi neurologi Jepang) mempunyai data standar kondisi otak orang Jepang yang menjadi dasar pembanding dan golden standar ketika kita melihat hasil MRI pasien orang Jepang. Dari pembacaan itu dan gejala klinis kita bisa lebih tepat mendiagnosis arah dari penyakit pasien misalnya lebih ke dementia lewy body (Parkinson) atau dementia vascular atau hanya kearah senile psikosis.

ECT (Electro Convulsive Therapy) dengan anestesi

Terapi ECT dengan anestesi tidak dilakukan oleh ahli anestesi jika tidak ada ahli anestesi (karena keterbatasan ahli anestesi) melainkan dilakukan oleh 2 orang psikiater, yang satu operator ECT dan satunya lagi melakukan anestesi dan dibantu beberapa perawat. Dasar dari legalitas ini adalah bahwa sewaktu kita (semua dokter termasuk di Indonesia) sekolah kedokteran umum, kita telah diajarkan dan memiliki kompetensi anestesi dasar (bandingkan dengan di Indonesia, pake ancaman tuntutan hukumlah tidak seusai kompetensilah dll dll tuduhan negative). Satu seri terapi dilakukan 12x dengan selang waktu sehari dan prosedur selebihnya sama dengan yang dilakukan di Indonesia. Cukup banyak pasien yang di ECT maintenance baik yang seminggu sekali atau sebulan sekali. Kebijakan di RS Sawa, pasien yang diusulkan untuk di ECT harus mendapatkan persetujuan di rapat komite medik yang dilakukan seminggu sekali pada hari Selasa. Sebagai dokter tamu dan tidak bisa berbahasa Jepang, saya tetap ikut rapat tersebut dengan dibantu penerjemahan oleh teman sejawat yang bisa berbahasa Inggris (tidak semua dokter Jepang lancar berbahasa Inggris karena Jepang memiliki semua terjemahan bahasa Inggris ke dalam bahasa Jepang dan bahkan diagnosis penyakit dengan istilah Jepang).

Profil dokter Psikiater di Jepang

Dr Deguchi dan Dr Saito adalah dua orang dokter psikiater yang dulunya berspesialisasi non psikiatri. Setelah 7 tahun bekerja sebagai ahli gastroentero-hepatology, Dr Deguchi yang seusia dengan saya memutuskan untuk ganti spesialisasi menjadi psikiater, oleh sebab itu ia melamar ke RS Sawa mulai dari nol sampai lulus ujian nasional sebagai psikiater di Jepang. Dr Saito adalah ahli kanker Paru yang pernah bekerja di NIH di Amerika dalam penelitian kanker paru, beliau sudah jauh lebih tua daripada saya dan saat ini masih mempersiapkan ujian nasional sebagai psikiater di Jepang.
Dr. Nakakita adalah psikolog klinis yang ketika berusia 30 tahun masuk kuliah kedokteran lalu melanjutkan menjadi psikiater, Dr Kobayasi adalah ahli neuroscience yang kemudian masuk kedokteran dan melanjutkan menjadi psikiater (lebih muda dari saya 6 tahun). Dr Tan adalah psikiater dari Xian-China yang karena ikut suami bertugas di Jepang maka ikut ujian persamaan dokter kemudian “adaptasi” belajar istilah-istilah kedokteran Jepang setahun lalu bergabung di RS Sawa sebagai psikiater.
Sistem pendidikan spesialis di Jepang tidak berbasis universitas/ fakultas kedokteran. Mereka bisa langsung bergabung di RS pendidikan seperti RS Sawa ini, dibimbing oleh senior-senior mereka dan kemudian mengajukan 8 kasus dan jurnal dan kemudian diuji nasional lalu mendapatkan sertifikat sebagai psikiater nasional yang boleh melakukan semua tindakan (sebelum lulus ini tidak boleh melakukan semua tindakan tanpa supervise). Tindakan yang dimaksud diantaranya adalah ECT, rapid neuroleptisasi pasien akut dan membuat laporan visum et repertum psikiatrikum. Kalau di Indonesia kita harus bayar mahal untuk biaya adaptasi dan pendidikan spesialis maka di sana dokter dokter itu digaji sejak internship dab adaptasi pun digaji! Bandingkan dengan Indonesia yang berPancasila!

Rehabilitasi psikososial pasien

Rabu, 12 November 2014

Pendidikan Seksualitas untuk Remaja

Remaja: periode perkembangan yang merupakan peralihan dari kanak-kanak ke dewasa.
Seksualitas/ seks meliputi:
1. segi fisik: biologis dan fisiologis.
2. segi psikis: emosi.
Biologis: tanda-tanda perkembangan dan mulai berfungsinya alat-alat kelamin.
Perkembangan fisik berupa pertumbuhan kelenjar serta organ kelamin (sifat-sifat kelamin primer), seperti: pada wanita ditandai dengan ovulasi yang pertama, tapi dalam hidup sehari-hari, dianggap sebagai menstruasi yang pertama. Pada laki-laki ditandai pollutio pertama, yaitu keluarnya semen dengan sendirinya tanpa ereksi. Ini menandakan testis sudah mulai berfungsi.
Secara fisiologis, perkembangan tersebut didahului dengan perkembangan organ-organ kelamin sekunder seperti:
- Pertumbuhan rambut.
- Perubahan suara.
- Meluasnya lapang dada.
- Membesarnya buah dada, pangkal paha, paha, dan panggul.
- Pertumbuhan badan yang berbeda menurut jenis kelamin:
- wanita: lebih cepat, mulai 10-16th, berhenti 19-20th.
- pria: berhenti 23-24th.
Alat kelamin pria dan wanita, bentuk dan tempatnya tidak sama, sesuai dengan tugas yang berbeda pula.
Wanita:
Alat kelamin bagian luar: walaupun terletak di luar, lebih terlindung dan tersembunyi di sela paha dan ditutupi rambut-rambut. Tidak banyak berfungsi, hanya sebagai tempat penyaluran dan pelindung bagian dalam yang penting untuk berkembang biak.
Alat kelamin bagian dalam: terletak di dalam tubuh, di rongga panggul, terdiri dari:
1. Ovarium
2. Uterus.


Pria:
Alat kelamin luar terletak di bagian luar tubuh dan berfungsi untuk persetubuhan dan pengeluaran air seni. Terdiri dari: Penis dan skrotum.
Alat kelamin bagian dalam terdiri dari: kelenjar pembuat hormon, air mani, dan saluran-salurannya.

Menstruasi sebagai pengalaman psikis.
Peristiwa paling penting pada masa pubertas anak gadis ialah gejala menstruasi atau haid, yang menjadi pertanda biologis dari kematangan seksual.
Secara normal menstruasi berlangsung kurang lebih pada usia 11-16 tahun. Cepat atau lambatnya kematangan seksual ini selain ditentukan oleh kondisi fisik, juga dipengaruhi oleh faktor ras atau suku bangsa, faktor iklim, cara hidup, dan nilai-nilai yang berlaku. Badan yang lemah atau penyakit yang parah, bisa memperlambat datangnya menstruasi.
Rangsangan-rangsangan yang kuat dari luar, seperti film-film, buku-buku, gambar-gambar yang porno, serta godaan atau rangsangan dari pria, melihat langsung hubungan seks, semuanya itu akan mengakibatkan kematangan seksual yang lebih cepat pada diri anak.
Pengalaman menstruasi yang pertama kali biasanya sangat dipengaruhi oleh sikap ibu dalam menghadapi situasi tersebut. Misalnya, seorang gadis yang mentruasi pertama kali diperlakukan dengan sangat hati-hati dan dimanja berlebihan, maka setiap kali menstruasi mungkin gadis itu akan terus menerus berbaring di tempat tidur selama masa menstruasinya.
Ibu yang menganggap menstruasi sebagai suatu hal yang kotor dan menjijikkan, mungkin akan menghasilkan anak gadis yang pada saat haid, sangat memperhatikan kebersihan badannya, teristimewa pada alat kelaminnya. Ia akan terus menerus mencuci badan dan alat kelaminnya, berulang kali mandi dan mengganti baju.
Jadi jika menstruasi ini tidak disertai informasi yang benar, mungkin bisa timbul bermacam-macam problem psikis.


Perencanaan keluarga yang bertanggung jawab:
1. Persiapan diri.
a. kepribadian
b. inteligensi
c. emosionalitas
2. Memilih teman hidup.
Jatuh cinta dan cinta
3. Persiapan hidup perkawinan.

Segi psikis: emosi
Wanita
Sifat dasarnya: keibuan.
Anak kecil: bermain boneka.
Usia sekolah: memanjakan adik bayi.
Remaja putri: tertarik pada sesuatu yang kecil, mungil, tak berdaya, serta yang memerlukan pemeliharaannya.
Wanita berkeluarga: mengerti jiwanya sedalam-dalamnya karena kelahiran anaknya.
Wanita yang tidak berkeluarga: membantu orang lain, membaktikan diri pada sesama.

Pada wanita yang kuat, ada dua sifat yang bergerak bolak-balik secara seimbang, yaitu penyerahan diri dan penarikan diri.
Penyerahan diri: wanita ingin menyerahkan diri tanpa syarat kepada sesuatu yang dicintai, dan ini merupakan kebutuhan jiwanya.
Penarikan diri, untuk mempertahankan kehormatan dirinya.
Jadi seorang wanita yang jiwanya seimbang, ia dapat memberi dengan tangan yang penuh kasih kepada orang yang memerlukan dan dapat pula melindungi dirinya dengan tembok yang kokoh kuat dan tidak terlihat oleh orang yang akan merusak harga dirinya.

Saat remaja.
Mulai menyadari ’aku’nya, mengetahui bahwa ia dapat mengambil keputusan untuk diri sendiri dan mulai memikirkan tentang diri sendiri. Ia merasa memegang rahasia yang besar karena peristiwa-peristiwa yang dialami jiwanya. Ia mengira tidak ada orang yang pernah mengalami hal-hal yang seperti ia alami sekarang. Ia merasa tidak mungkin memberitahukan kepada orang lain tentang apa yang sedang menggelora di dalam jiwanya. Ia merasa hal itu tidak mungkin dimengerti orang lain.
Ia menyadari kelakuannya sangat berbeda dengan waktu ia masih kecil, maka ia akan mengasingkan diri dari orang-orang yang telah mengenalnya semenjak kecil. Ia malu memperlihatkan pergolakan jiwanya kepada orang-orang yang telah mengenalnya. Mereka akan mencari orang yang dapat dipercaya dan mengerti tentang masalahnya. Mereka sering menceritakan bahwa hal-hal tersebut tidak mungkin diceritakan kepada orang-tuanya, karena tidak akan dipercaya.
Beberapa remaja merasa dirinya ’terbelah’, sehingga gelisah dan tidak dapat tampil spontan. Remaja tersebut merasa ada dua ’aku’ di dalam dirinya, dan ’aku’ yang satu akan terus mengamat-amati ’aku’ yang lain. Contoh: ketika sedang berjalan-jalan di pantai, remaja tersebut merasa ’aku’ yang satu berkata kepada ’aku’ yang lain: ”Berjalanlah biasa, jangan menari-nari seperti anak kecil.” Maka remaja tersebut akan berjalan dengan kaku, seolah-olah diperintah orang lain.
Ada juga yang menempatkan dirinya sebagai pusat segala-galanya. Makin lama, makin besar perhatian mereka kepada ’aku’nya sendiri, sehingga kesannya agak jahat dan kejam. Mereka hanya ingat diri sendiri. Contoh: menjelek-jelekkan keadaan fisik orang lain. Tingkah laku yang dibuat-buat dan keinginan untuk menarik perhatian yang berlebih-lebihan, sering menyebabkan peristiwa yang tidak menyenangkan. Hal ini karena rasa ’aku’ yang berkuasa untuk sementara waktu.

Persahabatan dan cinta.
Kebutuhan remaja akan seorang teman yang mengerti di lambat laun akan berubah dari keinginan mempunyai seorang teman wanita yang emncintai dia, dan cinta kepada teman wanita yag tidak membawa kepuasan itu mengekibatkan keinginan akan cinta seorang laki-laki. Cinta ini hanya dapat ditemukan pada masa adolesen (17-21th).
Orang dewasa yang dapat mencintai dalam arti sebenarnya telah menemukan keseimbangan antara hasrat jasmaniah dan rohaniah untuk menyatukan diri dengan orang pilihannya.
Pada orang puber, perasaan tertarik kepada jenis kelamin yang lain masih belum dapat dihubung-hubungkan dengan rasa simpati; kedua rasa ini baru terlebur pada masa adolesen, dalam proses cinta jasmaniah dan rohaniah yang telah mencapai keseimbangan.
Seksualitas ialah segala pengalaman yang terjadi sebenarnya atau hanya dalam khayalan, dan ditujukan kepada hubungan jasmaniah dengan orang yang disukai. Pada gadis-gadis umur 14 sampai 17 tahun, biasanya yang dinamakan cinta itu adalah bercumbu-cumbuan, romantis, dan ada rasa yang membakar tubuh. Sesudah umur 17 tahun, barulah terjadi cinta pertama yang disertai keinginan menyala-nyala dan penderitaan karena mencintai. Pada seorang gadis, mencintai itu bukan hanya hawa nafsu, tapi jiwanya menghubungkannya dengan orang lain.
Pada anak laki-laki, biasanya mereka mengenal dulu wanita-wanita pada umumnya, barulah memilih seorang wanita yang sesuai dengan keinginannya. Sedangkan pada wanita, mereka mengenal dulu seorang laki-laki, barulah laki-laki pada umumnya. Hawa nafsu wanita tidak begitu besar dibandingkan dengan laki-laki. Seorang gadis biasanya menghendaki dulu hubungan batin yang murni, sebelum ia mengadakan hubungan jasmaniah. Ia ingin mengerti dan dimengerti, ia mencari titik-titik pertemuan batin, untuk mempertemukan kedua jiwa mereka. Penyerahan diri tanpa adanya hubungan emosi, jarang terjadi pada kebanyakan gadis.
Sering seorang gadis merasa bingung karena pacarnya ingin melakukan hubungan badan, tetapi biarpun gadis ini sangat mencintainya, tetapi merasa tidak dapat menyerahkan kehormatannya. Gadis itu juga merasa takut kalau hubungan mereka akan putus. Sebaliknya laki-laki itu merasa bahwa dirinya sangat mencintai pacarnya, dan merasa tidak mengerti mengapa pacarnya selalu menolak melakukan hubungan badan.
Hal ini terjadi karena mereka berdua masih terlalu muda. Pemuda itu tidak mengerti bahwa cinta seorang gadis lebih berdasarkan hubungan jiwa, dan dia seharusanya menghargai dan mengerti pendirian ini, dan biasanya gadis yang baik yang berpendirian demikian.
Sebaliknya, gadis itu juga harus mengerti bahwa jiwa pemuda itu berbeda. Ia tidak boleh memandang rendah pada hasrat hubungan jasmaniah pemuda itu yang lebih kuat daripada dirinya. Ia harus mengerti, tetapi juga jangan melepaskan pendiriannya.
Cara mencintai seorang pemuda dan gadis juga berbeda. Seorang pemuda dapat sangat mencintai seorang gadis, tetapi ia masih dapat memusatkan perhatian kepada pelajaran, ilmu pengetahuan, kesenian, dan lain-lain. Seorang gadis sering merasa sedih dan merasa kurang dicintai karena ia membandingkan cintanya yang begitu total kepada kekasihnya. Bagi remaja, hal ini penting, supaya mereka dapat lebih mengerti satu sama lain.

Tipe-tipe gadis.
Kepribadian yang terdapat masa dewasa tumbuh dari masa puber, maka seharusnya pada masa puber ini telah mulai terlihat tipe-tipe yang ada pada gadis.
1. Tipe keibuan.
Setiap gadis mempunyai tugas untuk menjadi ibu dan untuk memenuhi tugasnya, diperlukan pengorbanan dan kasih sayang yang besar. Ada sebagian gadis yang sifat keibuannya besar sekali dan jelas terlihat dari perilakunya.. Tipe ini sudah terlihat dari masa kecil mereka yang senang bermain ibu-ibuan dengan boneka, yang penuh kasih sayang memelihara adik-adiknya, senang membantu mengasuh dan bermain dengan anak-anak tetangga.
Pelajaran di sekolah bagi gadis tipe ini, lebih dilihat sebagai pernyataan rasa tanggung jawab dan ketelitian mereka, daripada perhatian dan ketertarikan akan mata pelajaran tersebut. Gadis-gadis ini akan segera melupakan pengetahuan yang telah dipelajari dengan susah payah waktu menghadapi ujian.
Mereka lebih tertarik pada anak-anak daripada teman laki-lakinya. Mereka biasanya bekerja di bidang sosial, seperti menjadi guru, perawat, atau pekerja sosial.
2. Tipe erotik.
Gadis tipe erotik selalu bertujuan menarik perhatian. Tingkah laku mereka banyak dipengaruhi oleh hawa nafsu dan susah untuk dikendalikan. Tidak ada keseimbangan antara hasrat ingin menyerahkan diri dan hasrat mempertahankan diri. Mereka selalu bercerita tentang laki-laki dan cinta. Tingkah laku mereka akan dibuat-buat bila di antara kaum laki-laki. Pikiran mereka dipenuhi dengan pertanyaan apakah dirinya cukup menarik, apakah dirinya lebih diperhatikan daripada orang lain. Mereka mencemooh kata ’susila’, baginya itu sesuatu yang kuno. Gadis-gadis tipe erotik ini menghadapi banyak bahaya yang dapat merusak hidupnya sebagai wanita dewasa dan kemudian sebagai ibu.
Kita dapat membantu gadis-gadis tipe ini dengan mengenalkan kegiatan-kegiatan lain yang baik, seperti membaca buku yang bermanfaat, ikut sebagai anggota pencinta alam, menonton pertunjukkan kesenian. Apabila mereka sudah dapat lebih mengenal diri sendiri, lebih memperdalam rasa keindahan, barulah kita dapat mengajak mereka ikut dalam kegiatan keagamaan.
3. Tipe romantis.
Gadis-gadis ini mempunyai sifat yang cuek, berbuat sesuka hati mereka, mirip dengan tipe erotik, tetapi mereka terutama tenggelam dalam khayalan sendiri. Mereka bisa sangat memuja sesuatu, dan batas-batas khayalan dan kenyataan kadang-kadang tidak jelas. Mereka hidup dalam angan-angan sendiri dan mudah dipengaruhi. Mereka bisa mendewa-dewakan orang, tetapi tanpa faktor-faktor seksual.
4. Tipe sewajarnya/ biasa.
Mereka tidak mempunyai angan-angan yang berlebihan, kelakuannya tenang dan terlihat lebih dewasa dibandingkan dengan teman-teman sebaya. Mereka melewati masa pubertas seolah-olah tanpa kesukaran. Mereka mendapat didikan yang keras dan banyak larangan-larangan yang menghalangi mereka keluar batas. Gadis-gadis ini sering memainkan dua peranan, dan peranan yang membahayakan tersebut, mereka sembunyikan dengan baik.
5. Tipe intelektuil.
Mereka mempunyai perhatian pada hal-hal yang teoritis, dan hanya sedikit dipengaruhi oleh keadaan dan orang. Mereka biasanya cerdas, sederhana dan terus-terang. Mereka perlu dijaga supaya pembentukan kepribadiannya jangan terlalu intelektual, sehingga sifat-sifat yang lain terdesak.

Sabtu, 08 November 2014

Bagaimana Menempuh Pendidikan untuk menjadi Psikiater?



Sama seperti anak-anak kecil lainnya, sejak SD kelas 4 saya bercita-cita menjadi dokter, selain karena melihat kehidupan dokter keluarga kami yang nampaknya tenang dan sangat berkecukupan saya juga sering mendengar bahwa seorang tante saya yang menjadi dokter gigi (drg. Wiliana Purnama, pensiunan dosen di FKG Prof Dr Moestopo) dan om saya yang sedang sekolah kedokteran di Jerman (Dr Med. Iksan Purnama, sekarang dokter spesialis mata di Esslingen, Stutgart, Jerman) hidupnya tenang dan makmur. Belakangan saat saya dalam proses bimbingan rohani, baru saya tahu bahwa dorongan itu berasal dari ketidakberanian saya mengambil risiko dalam kehidupan.
Ketika saya SMA, saya mencoba mengkaji apa bedanya psikolog dan psikiater (salah satu dokter keluarga kakek saya adalah dokter umum yang menjadi seorang psikiater yakni dr L.S Chandra, SpKJ mantan direktur Sanatorium Dharmawangsa, sekarang sudah almarhum). Kebetulan saya suka membaca karena memang dikondisikan seperti itu oleh orang tua saya maka saya mencoba membaca buku-buku tentang hal-hal tersebut. Rubrik psikologi kesukaan saya adalah rubrik Bu Leila Ch. Budiman di harian Kompas, menurut saya ulasan beliau sangat tidak tergantikan sampai saat ini.

Saya lebih memilih menjadi psikiater karena harus menjadi dokter umum dulu. Saya memilih menjadi dokter terlebih dahulu karena sesuai dengan cita-cita saya sejak kecil dengan harapan bisa membantu banyak orang, diri sendiri serta keluarga selain mapan secara ekonomi (tapi belum tentu bisa kaya raya). Ayah saya tidak setuju karena kalau menjadi dokter itu kata beliau seperti tukang becak, kalo gak 'narik' maka gak dapat uang lagipula berisiko tertular penyakit menular! Ada hal yang saya pertaruhkan dalam hal ini, yaitu, setelah menempuh pendidikan menjadi dokter umum apakah saya bisa melanjutkan studi ke spesialisasi psikiatri? Saat itu kental sekali rasialisme di kalangan kedokteran, sudah menjadi rahasia umum bahwa hanya etnis tertentu yang mudah masuk ke bagian spesialisasi tertentu (jadi sebenarnya issue ini bukan etnis Tionghoa dan pribumi tapi di kalangan etnis yang katanya pribumi-pun terjadi diskriminasi kesukuan atau praktik nepotisme). Saat itu dr L.S Chandra, SpKJ mengatakan bahwa tidak ada diskriminasi di Psikiatri jadi yang dinilai adalah kemampuan sehingga saat memulai studi di Fakultas Kedokteran saya pede aja.

Hal lain yang menjadi masalah adalah stigma buruk sebagai psikiater! Kelak saya harus mengatasi masalah ini terutama di kalangan keluarga besar. Psikiater itu diidentikkan aneh seperti pasiennya, pasiennya miskin-miskin dan tidak banyak pasiennya kecuali di RS Jiwa! Semua itu ternyata tidak benar walaupun faktanya memang seorang psikiater sulit bisa melayani banyak pasien dibandingkan spesialisasi lain dikarenakan waktu konsultasi yang lebih lama.

SEKOLAH DOKTER UMUM

Hal yang menjadi keberatan dari ayah saya lainnya mengenai menjadi dokter adalah saat itu saya tidak diterima di FK negeri sehingga harus ke FK Swasta yang sarat dengan ujian negara dan menghabiskan waktu studi yang lebih lama karena harus antri ujian apalagi kalau sampai mengulang, wah bisa tambah lama tuh antri lagi dari awal. Hal lainnya lagi adalah mengenai biaya studi yang lebih mahal di kedokteran swasta membuat saya harus curi-curi waktu bekerja mencari tambahan untuk uang saku seperti memberikan les matematika, menjadi surveyor lepas di perusahaan farmasi maupun penelitian-penelitian kesehatan perkotaan di pusat studi kesehatan perkotaan di Atma Jaya.
Hiperaktifitas saya membuat saya tidak betah menjadi kupu-kupu alias kuliah pulang kuliah pulang. Saya aktif berorganisasi di kampus, pernah saya camping 3 tempat dalam sebulan sempat ikut syuting sinetron Suri Teladan di RCTI dengan produser dan sutradara Haji Usman Effendi yang menjadi guru agama Islam buat saya. Sempat kuliah extension course filsafat manusia setiap senin malam di STF Driyarkara (saat ini saya mencoba mengikuti program matrikulasi untuk InshaAllah dapat melanjutkan studi ke program doktoral untuk memperdalam filsafat eksistensial yang diselaraskan dengan psikoterapi eksistensial khususnya logoterapi, search for meaning), dll. Semua hal ini membuat study saya molor 1 semester dan tertunda sedikit antrian menjadi dokter muda (kepaniteraan).

Kenyataan praktik sebagai dokter muda (Co-ass) membuat saya "menyesal" mempunyai cita-cita menjadi dokter, 2 tahun rotasi terus, jaga malam tidak tidur, pagi tetap standby sampai jam 2 siang, buat paper, presentasi kasus, dimarahi konsulen, diusir konsulen, ngepel lantai bekas air ketuban, diomelin perawat dan bidan. Yah memang pendidikan kedokteran itu spartan dan benar-benar membina mental serta fisik. Di her gara-gara tidur dikelas saat diskusi karena habis jaga malam gak tidur, semua itu konsulen gak mau tahu! Menjadi dokter harus kuat! harus super! Sekali lagi spartan pendidikannya. Hukuman dan kata-kata merendahkan menjadi cambuk untuk maju bukan untuk menjadi sakit hati dan mundur! Gak banyak suka-nya jadi coass yang kalau dibahasa Indonesiakan KOASS singkatan dari Kumpulan OrAng Serba Salah. Pada akhirnya memang ada makna dan arti yang bisa dipetik atas semua itu, memudahkan saya untuk beradaptasi dimanapun saya bekerja.

Setelah bersusah payah pendidikan sebagai dokter umum, penderitaan tidak berhenti di situ. Penderitaan selanjutnya adalah bagaimana mengejar setoran untuk bertahan hidup! Seminggu 2x jaga malam menjadi dokter jaga bangsal atau jaga gawat darurat demi sesuap nasi. Saat itu ibu saya sampai mengingatkan bahwa jangan terlalu banyak tugas jaga malam karena kalau sakit maka biaya yang harus dikeluarkan lebih banyak daripada yang didapatkan dari honor jaga tersebut.

Pengalaman sebagai dokter jaga di RS saya jadikan pengalaman untuk lebih mendalami kasus-kasus penyakit dan pengalaman menangani banyak kasus rawat inap, diskusi dengan konsulen (dokter spesialis) yang baik hati mau 'mengajari' kita, bukan saja ilmu tetapi berbagi pengalaman hidup adalah sisi lain yang cukup berharga bagi saya selain honor jaga yang kecil.

Penderitaan selanjutnya yang mirip-mirip Coass adalah ketika harus menjalani program spesialisasi selama minimum 4 tahun. Setiap jam 7.30 pagi sudah harus siap seminar topik-topik teori psikiatri maupun diskusi kasus. Lalu pk 9 pagi langsung menangani pasien di bangsal atau poliklinik sampai jam kerja berakhir pk 3 sore. Jaga malam lagi sudah keharusan sebagai peserta didik. Dimarahin dan diusir konsulen juga menjadi tantangan tersendiri, belum lagi harus bisa membuktikan diri tidak bodoh alias minimalisir her kalau hidup mau lebih tenang (repot kalau ngulang ujian terus sebab tugas-tugas lain masih bertumpuk). Untungnya saya termasuk yang jarang dapat her, hanya 2 kali saya diher selama pendidikan spesialis. Pertama adalah ujian statistik dan yang kedua adalah ujian penelitian (statistik lagi nih salah satunya), sampai sekarang saya tetap saja bingung dengan statistik, kecuali membaca hasil statistik karena saya sempat bekerja di perusahaan farmasi selama total 3 tahun. Satu tahun tepat sebelum pendidikan spesialis dan 2 tahun lagi setelah lulus sebagai dokter spesialis.

Tahun kedua saya menempuh pendidikan spesialis, saya mulai kesulitan dana untuk operasional sehari-hari jadi saya minta ijin untuk praktik umum sore hari dan baiknya di psikiatri saat itu kami diperbolehkan praktik umum sore hari di luar jam kerja/pendidikan. Pesannya hanya jaga prestasi belajar selama pendidikan walau praktik sore sampai malam hari. Rata-rata praktik selesai pk 20.00 dan saya sampai di rumah pk 21.00 jadi setelah itu bersiap mengerjakan tugas sampai pk.23 atau 24 hampir setiap harinya selama 4 tahun tersebut.

Satu semester pertama saat itu adalah masa pra-kualifikasi jadi yang tidak lulus ujian wawancara pasien dan teorinya akan disarankan pindah jurusan atau keluar. Tugas di tahun pertama adalah menguasai semua kasus penyakit psikotik (gangguan mental organik, skizofrenia dkk, bipolar dan depresi dengan gejala psikotik, dkk). Akhir tahun pertama adalah seleksi ke dua kalinya, jika tidak lulus maka her atau mengulang 6 bulan atau 12 bulan atau pindah jurusan alias keluar! Saat itu saya lulus langsung tanpa her dan saya kirim sms ke ibu saya mengabarkan bahwa saya lulus langsung jadi bisa langsung ke tahap 2. Saya ingat betul jawaban ibu saya adalah "selamat ya tapi jangan hanya pandai waktu sekolah, yang penting bagi mama adalah kamu bisa ramai prakteknya sebagai dokter (supaya bisa hidup mandiri)".

Tahun kedua adalah menguasai semua kasus non-psikotik dan psikoterapi serta psikodinamika pasien. Ini yang berat karena saya dianggap lebih menguasai psikiatri biologi daripada psikoterapi oleh sebagian konsulen-konsulen saya. Tapi jujur saya akui memang saat itu dan kini mainstream psikoterapinya adalah psikoterapi dinamik dan ini memang tidak begitu saya kuasai, kalau yang lainnya seperti CBT, hipnoterapi, Eksistensial dll-nya saya mudeng, kecuali yang dinamik itu saya bingung sampai sekarang dan saya pikir pasien pun banyak bingungnya dengan metode dinamik ekspresif. Kalau suportif sih semua juga ngerti tetapi mencapai 'pencerahan' sampai psikoterapi dinamik ekspresif yang sulit. Kali ini lulus langsung naik ke tahap 3 adalah sangat-sangat beruntung bagi saya.

Tahun ketiga dan keempat adalah saatnya rotasi ke sub-sub bagian/ sub spesialisasi, 6 bulan di psikiatri anak dan neurologi anak, 3 bulan di psikogeriatri dan penyakit dalam, 3 bulan di neurologi (penyakit syaraf) lalu tahun ke 4, masing-masing sebulan di adiksi, komunitas dan trans-kultural, forensik psikiatri (menentukan seseorang dapat bertanggungjawab atau tidak atas perbuatannya, perebutan hak asuh anak, dll), 3 bulan di jadi chief rawat inap, 3 bulan jadi chief rawat jalan dan 4 bulan penelitian untuk thesis.

Pendidikan spesialisasi bagi saya jauh lebih berat daripada pendidikan S2 pada umumnya tapi anehnya di Indonesia ini kami hanya disetarakan S2! Sudah mirip paket C setara lulusan SMU kalau pakai istilah disetarakan. Hal ini sama saja kekacauan kementrian pendidikan yang mensahkan bahwa gelar dokter adalah memakai 'dr', d huruf kecil dan r huruf kecil. Kenapa kalau gitu doktorandus dan doktoranda tidak disuruh pakai huruf kecil juga ya? Jadi drs dan dra.
Pendidikan spesialisasi di kedokteran tidak ada paket kelas malam atau dipercepat menjadi kurang dari 4 tahun karena harus memenuhi kuota waktu dan jumlah menangani pasien jadi walau pandai secara kognitif tidak bisa dipercepat. Hal ini tentunya berbeda dengan studi S2 yang bisa dipercepat atau mengambil kelas eksekutif.

Total tahun yang saya jalani sampai menjadi seorang dokter spesialis adalah 12 tahun! Itulah mengapa kalau paranormal dan lainnya disebut 'orang pinter' karena mereka tidak perlu sekolah selama itu tetapi boleh mengobati orang sakit sedangkan dokter yang bodoh harus menjalani pendidikan belasan tahun sampai diuji national board dan diakui sertifikasinya baru boleh mengobati orang sakit. Belum lagi kalau saya lanjutkan dengan studi lanjutan di luar negeri untuk melengkapi wawasan dan pengetahuan saya. Ehhh fenomena sekarang lagi banyak pula psikologoid-psikologoid, oid adalah istilah yang menunjukkan arti menyerupai, jadinya yang menyerupai psikolog. Siapakah mereka? Mereka adalah yang pelatihan 20 jam hipnoterapi, yang belajar otodidak psikologi lalu mengaku sebagai terapis, dll. Bagaimana mungkin bisa menterapi sebagai terapis kalau pengetahuan menegakkan diagnosisnya tidak utuh? Kasihan masyarakat yang kurang pandai membedakan hal-hal ini sehingga jatuh ke dalam praktik pembohongan publik.

Semoga sekilas tentang bagaimana menempuh pendidikan untuk menjadi psikiater ini bisa menambah informasi dan wawasan bagi khalayak dan anak-anak muda Indonesia yang siap memenuhi panggilan hidupnya di bidang kesehatan jiwa yang 'kering' ini namun sarat makna dan menurut Dr. Victor E Frankl (psikiater penemu logotherapy), barang siapa dapat memaknai pekerjaannya sebagai makna hidupnya adalah orang yang bisa berbahagia.

MANUSIA: SUBJEK YANG MENCARI MAKNA HIDUP MELALUI KARYA

Pendahuluan
Dalam kehidupan sehari-hari, issue yang penting setiap kali saya berhadapan dengan pasien-pasien saya (saya adalah seorang psikiater/ dokter ahli kedokteran jiwa) adalah bagaimana mengembalikan fungsi pasien saya kepada fungsi semula, yaitu fungsinya dalam kondisi sebelum sakit. Kondisi pasien-pasien saya sebelum sakit biasanya dalam kondisi produktif baik sebagai pekerja atau sebagai pelajar. Banyak dari keluarga pasien-pasien saya maupun pasien itu sendiri mengeluhkan kondisinya yang tidak dapat kembali bekerja menjadi karyawan di sebuah perusahaan walaupun mereka dapat bekerja dengan baik sebagai penjaga warung di warung milik keluarga atau bahkan hanya membuat kardus untuk packaging produk. Banyak dari mereka yang bekerja bahkan lebih rapih membuat kardus dan lebih baik melayani pembeli di warung daripada pekerja lain tetapi mereka tetap merasa kurang produktif dan kurang menghasilkan uang dibandingkan bekerja sebagai karyawan dengan upah minimum provinsi.

Issue tentang pekerjaan ini juga saya temui dalam proses mendidik calon-calon dokter dan dokter muda yang baru lulus dan kembali dari tugas internship (kerja di bawah supervisi dokter yang leih senior) di daerah. Kebanyakan dari mereka dilarang oleh orang tuanya jika hendak mengambil bidang spesialisasi kedokteran minor seperti spesialisasi saya dengan alasan umum bahwa bidang spesialisasi kedokteran minor (contoh bidang mayor seperti penyakit dalam, bedah, kebidanan dan kandungan, Ilmu kesehatan anak) tidak dapat menghasilkan banyak uang.
Dari kedua hal yang menurut saya cukup kontras ini, yang satu dari sisi keluarga pasien dan pasiennya sedangkan yang lain dari sisi dokter dan keluarga dokter, rupanya kedua kelompok tersebut memiliki persepsi yang sama tentang bekerja atau berkarya dalam hidup ini seakan-akan hanya satu tujuan yaitu menghasilkan uang dan lebih banyak uang! Hal seperti ini pun pernah saya alami di masa lalu saya dan menjadi pertanyaan reflektif dalam diri saya bahwa apa sebenarnya tujuan dan makna hidup saya sebagai seorang manusia. Melihat kenyataan yang lazim saat ini bahwa pandangan kebanyakan masyarakat dalam ‘memaknai’ kehidupan pada umumnya dan khususnya dalam pekerjaan adalah bertujuan mendapatkan uang, maka baiklah kita meninjau apa sebenarnya hakikat manusia sebagai subjek (persona) yang memaknai hidup dalam karya-karyanya melalui pekerjaan.

Manusia sebagai Subjek (Persona)

Menurut Thomas Aquinas, ketika kita melihat manusia sebagai manusia harus menjadi tujuan dari segala aktivitas dan tidak dapat direduksi menjadi sarana.1 Dalam buku-buku Filsafat Manusia juga dikatakan dengan jelas bahwa manusia adalah subjek (pribadi jasmani-rohani).2 Sebagai subjek maka manusia memiliki keunikan masing-masing dan tidak ada satu pun manusia yang mirip 100 persen dengan manusia lainnya, ia memiliki pendirian, kebebasan, inteligensi dan lain sebagainya yang dapat menarik dirinya keluar dari dirinya sendiri dan bebas menentukan dirinya sendiri. Manusia tidak boleh dijadikan ‘alat’ atau ‘sarana’ untuk mencapai sesuatu apalagi direduksi hanya untuk mencapai uang. Manusia sebagai persona memiliki keterbukaan kepada Allah, maka ia berpartisipasi dalam kehendak Allah.1,2
Kierkegaard mengatakan bahwa manusia dengan pilihan bebasnya dapat menentukan sendiri hidupnya, Hal ini juga diungkapkan oleh Gabriel Marcel yang menolak pandangan bahwa manusia bukan pribadi yang unik dan tidak memiliki individualitas. Dunia modern saat ini cenderung memfungsionalitaskan kehidupan.1
Manusia sebagai subjek adalah totalitas, menjadi suatu satu kesatuan yang tidak dapat dibagi-bagi menjadi misalnya organ-organ tubuhnya.2 Pasien saya dengan gangguan kejiwaan, saat jiwanya terganggu memang tidak bisa dipandang sebagai suatu totalitas dalam dirinya karena fungsi jiwa dan badannya tidak integratif, tidak merupakan kesatuan sehingga tidak bisa menempatkan sesuatu pada konteksnya namun ketika mereka sudah ‘sembuh’ karena mendapatkan pengobatan maka ia kembali menjadi manusia yang total yang utuh seutuh-utuhnya sehingga memiliki hak kembali untuk dapat berdiri dengan pendirian, dengan sikap di mana ia mampu mengambil dan mengubah sikap menunjuk adanya kemerdekaan dan pengertian. Totalitas manusia ini membuat ia dapat mengisi hidupnya dengan penuh dinamika dan hanya manusia itu sendiri yang dapat menentukan sendiri dinamika hidupnya sebagai miliknya sendiri karena ia adalah subjek. Hal ini menunjukkan bahwa pada hakikatnya manusia itu sendiri yang menentukan tujuan akhirnya, bukan pihak di luar dirinya yang menentukan tujuan akhir dari hidupnya.

Historisitas Manusia dan Pekerjaan

Dimensi pekerjaan pada manusia tidak terlepas dari historisitas manusia. Manusia adalah makhluk yang bersejarah, hanya manusia yang dapat mencatatkan cerita tentang dirinya sendiri, tidak ada makhluk lain yang melakukan hal ini. Sejarah digerakkan oleh 2 faktor yang tidak terpisahkan yaitu bahasa dan pekerjaan.3
Konsep kesejarahan mengimplikasikan tiga hal, yang pertama adalah fakta bahwa setiap manusia melihat dirinya ditempatkan dalam ketegangan masa lampau yang telah terjadi dan kemungkinan baru untuk terjadi. Manusia adalah pemberi masa lampau dan pemberi tugas masa depan. Kedua, kesadaran bahwa ada kemungkinan berintervensi dalam proses sejarah melalui keputusan bebas dan kerja manusia. Ketiga, sejarah adalah tugas manusia dengan penekanan pada tanggung jawab manusia atas sejarah tersebut.4 Dalam penjelasan-penjelasan ini terlihat jelas peran penting ‘kerja’ bagi manusia sebagai makhluk pembuat dan yang akan membuat lagi sejarahnya dalam tanggung jawab menciptakan dunia yang semakin sempurna, semakin baik ditinggali oleh manusia-manusia selanjutnya. Menurut penulis, dalam hal ini, manusia dituntut berkontribusi positif dalam kerjanya sehingga dapat menghasilkan karya yang bertanggungjawab sesuai panggilan Allah, bukan panggilan uang. Hal ini sesuai juga dengan pandangan Leahy tentang arti modern historisitas, yang menurutnya adalah sifat khas sebuah kesadaran yang tahu akan tanggung jawab terhadap masa depan.5
Lebih jauh lagi menurut Leahy, konsep modern tentang historisitas itu adalah suatu konsep tentang masa lampau yang terintegrasikan. Masa lampau yang terintegrasi tersebut dipahami sebagai sesuatu yang pernah hadir dan bukan sudah tiada lagi melainkan menjadi proses ‘penyimpanan’ dan ‘pengaktifan’ kembali. Hal ini sangat erat kaitannya dengan makna kerja dalam hidup manusia. Marleau-Ponty mengatakan bahwa manusia adalah makhluk pekerja dan kerja yang merupakan tumpuan sejarah bukanlah semata-mata pengadaan harga, melainkan secara umum merupakan kegiatan manusia dalam karyanya memancarkan suatu lingkungan yang manusiawi ke sekitarnya dan dalam mengatasi fakta alami kehidupan.5
Melalui konsep ini, manusia wajib merenungkan aspek historisitas untuk menangkap makna manusia pada umumnya serta manusia pada saat kini pada khususnya. Frankl juga mengatakan bahwa manusia dapat menemukan makna hidupnya melalui pekerjaan/ karyanya selain dari penderitaan dan pribadi yang menemukan hidupnya bermakna adalah pribadi yang ideal.6 Maka, orang beriman wajib menunjukkan bahwa imannya akan Allah bukanlah merupakan pelarian ke luar sejarah, melainkan sebaliknya, dengan keyakinan imannya ia menggarisbawahi tanggung jawabnya terhadap sejarah melalui kontribusi karya pelayanannya.5

Dimensi Pekerjaan Manusia

Kita sudah melihat bahwa pekerjaan adalah bagian penting dari sejarah, sekarang kita akan melihat dimensi pekerjaan itu sendiri yang menjadi pokok permasalahn/ issue dalam uraian pendahuluan. Sebagai makhluk yang bukan hanya rohani melainkan juga jasmani maka pada awalnya hakikat pekerjaan bagi manusia adalah segala aktivitas dalam rangka memenuhi kebutuhan dirinya dan masyarakat dalam segala aspek. Penulis tidak memungkiri bahwa ada kebutuhan-kebutuhan dasar jasmaniah yang perlu dipenuhi dengan mendapatkan materi seperti kebutuhan makan minum, tempat tinggal, transportasi, dan lainnya.
Perkembangan teknologi telah memberi kemampuan manusia untuk membangun dunianya lebih baik. Namun hal ini telah mengubah pandangannya menjadi lebih condong pada keadaan mengagungkan pekerjaan produktif dan teknologis. Saat ini manusia lebih didominasi oleh ‘rasio instrumental’, yaitu kemampuan penalaran yang mementingkan sarana mencapai tujuan dan kurang memberi tempat pada ‘rasio substansial’, yaitu kemampuan rasional manusia untuk melihat nilai dan makna.3 Manusia terjebak pada hal-hal yang dibuatnya sendiri yang pada awalnya dibuat dengan tujuan memudahkan hidupnya tetapi sekarang malah menjadi diperbudak oleh buatannya tersebut.
Manusia saat ini kurang menyadari mana yang merupakan kebutuhannya dan mana yang merupakan keinginan egoisnya untuk mendapatkan kemajuan teknologi yang tujuan awalnya adalah memudahkan kehidupannya. Salah satu contoh yang sederhana saat ini adalah perkembangan gadget yang pada awalnya untuk memenuhi kebutuhan akan komunikasi tetapi sampai saat ini perkembangannya telah jauh melampaui kebutuhan untuk komunikasi melainkan memasukkan semua keinginan manusia untuk ‘dimanja’ dalam bentuk entertainment dan lainnya ke dalam satu gadget dengan harga mahal yang beberapa bulan kemudian harganya akan turun drastis. Masih banyak hal-hal lain seperti ini jika dikejar oleh manusia maka manusia akan kehilangan ‘rasio substansial’-nya dan mengejar semakin banyak uang untuk memenuhi keinginannya, bukan kebutuhannya.
Ketika seorang manusia mengejar keinginannya tersebut untuk mendapatkan lebih banyak uang sebagai tujuan akhir maka seorang manusia seakan-akan bekerja untuk bertahan hidup dan menjadikan hidupnya hanya untuk bekerja. Idealnya, pekerjaan sebagai dimensi esensial eksistensi manusia di dunia dipandang oleh manusia sebagai sesuatu yang bisa membuatnya ‘dianggap’ sebagai manusia. Orang bekerja keras sebenarnya bertujuan agar ia memiliki waktu luang untuk ‘berkontemplasi’ agar dapat menikmati kebersamaan dengan yang lain seperti dengan keluarga dan teman-temannya, untuk dapat belajar, untuk dapat berdoa dan lain hal yang membuat kualitas hidupnya bertambah sebagai manusia. Manusia tidak boleh menjadikan pekerjaan segala-galanya bagi dirinya. Manusia ada bukan untuk bekerja, tetapi manusia bekerja dan harus bekerja agar eksistensinya penuh keluhuran dan bermartabat. Pekerjaan tidak boleh ditiadakan tetapi juga tidak boleh menjadi ekspresi total manusia, karena ada dimensi hakiki lainnya yang harus diekspresikan juga.3 Apalagi kalau hanya dipandang sebagai sarana mendapatkan uang!
Dalam hal nilai dan makna dalam bekerja ini maka setiap manusia harus menemukan nilai dan makna pekerjaannya dengan mengingat hakikatnya sebagai subjek, posisinya sebagai makhluk historis dan mengutamakan panggilan Allah atas karya apa yang harus dilakukannya sebagai bagian dari perpanjangan tangan Allah di dunia ini. Tidak ada tugas kecil pun yang tidak bermakna bahkan pekerjaan yang kita anggap paling rendah pun (misalnya petugas kebersihan, buruh kasar,dll) jika tidak ada yang melakukan maka seluruh sistem kehidupan kita akan mengalami ketidakseimbangan.
Menurut penulis, pekerjaan bagi manusia juga bisa dianggap sebuah pemainan dengan tanggung jawab dalam dinamika kemanusiaannya. Permainan adalah gejala umum dalam kehidupan manusia. Hal ini nampak dalam olimpiade sejak zaman Yunani sampai saat kini. Sepanjang manusia itu bebas dalam permainan maka manusia dapat menemukan dirinya dengan cara yang sewajarnya. Dalam permainan manusia mengalami dirinya secara utuh , total, terintegrasi.7 Sebagian dari pekerjaan kita adalah ‘permainan’, seperti anak-anak bermain peran di sebuah taman bermain kanak-kanak yang dikenal dengan nama Kidzania. Di Kidzania, seorang anak dapat berperan dalam permainan pekerjaan saat dewasa nanti. Sudah tentu bahwa ‘permainan’ yang dimaksud dalam pekerjaan adalah sebuah pekerjaan yang dapat membuat seorang manusia menemukan dirinya secara utuh sehingga keutuhan dan totalitasnya juga dapat membuatnya bekerja dalam totalitas itu atau istilah yang biasa digunakan adalah bekerja ‘all out’ tanpa dirundung situasi yang membebani.

Simpulan

Sebagai makhluk jasmani yang masih perlu pemenuhan kebutuhan materiil untuk keberadaan jasmaniahnya, maka manusia memang memerlukan uang sebagai salah satu alat atau sarana tetapi uang bukan tujuan bekerja. Di lain pihak, jangan lupa bahwa manusia juga makhluk rohani yang keberadaannya sebagai subjek tidak terbatasi oleh kondisi jasmaniahnya saja. Manusia sebagai subjek adalah pengada dan untuk itu memiliki kebebasan dan tanggung jawab dalam kontribusinya akan masa depan kehidupannya. Manusia menciptakan masa lalunya dan akan menciptakan juga masa kini dan masa depannya, oleh sebab itu manusia perlu berkarya. Manusia yang berinteligensi, bebas, berpendirian dan bertanggung jawab seharusnya dapat menjaga keseimbangan pandangan-pandangan filosofis tentang pekerjaan dan pemenuhan kehidupannya, bukan semata-mata ditentukan pandangan di luar dirinya apalagi kalau pilihan pekerjaannya hanya dibatasi oleh uang. Manusia seharusnya dapat menentukan pekerjaannya yang menjadi tujuan akhir penuh nilai dan makna dalam hidupnya sehingga dapat menemukan secercah kebahagiaan hidup yang penuh makna.
Dalam memilih pekerjaannya manusia harus selalu ingat bahwa ia memiliki tanggung jawab historis yang secara keimanan ia perlu mempertimbangkan ‘panggilan’ Allah atas tugas apa yang harus dikerjakannya dalam perannya ambil bagian di kehidupan ini.
Manusia juga harus dapat memilih pekerjaannya seperti sedang bermain sehingga ia selalu berada dalam totalitasnya sebagai subjek dan bebas merdeka dalam berkarya, menciptakan hal-hal dari yang sederhana sampai yang mungkin spektakular untuk kehidupan yang lebih baik di dunia ini.
Hal terakhir yang tidak boleh dilupakan adalah melihat kenyataan di dunia ini khususnya di Indonesia, penulis masih melihat adanya ketidakadilan dalam hal penghargaan atas nilai dan pemaknaan hidup pekerjaan-pekerjaan tertentu di Indonesia sehingga seakan-akan membuat manusia Indonesia menjadi tidak bebas untuk menentukan pekerjaan yang sesuai dengan hakikatnya sebagai manusia seperti yang telah diuraikan di atas. Kesenjangan penghasilan yang paling bawah dan yang paling atas begitu jauh dan tidak ada standar yang mendekati ‘adil’ yang diatur oleh penyelenggara negara yang seharusnya dapat menjamin ‘kemerdekaan’ warga negaranya. Walaupun demikian kita tidak dapat menganggap keadaan ini sebagai suatu kondisi yang deterministik melainkan masih ada kesempatan yang bebas untuk diubah. Sesuai pengalaman subjektif penulis hingga saat ini ternyata kebebasan kita memilih mau dihargai seperti apa nilai dan pemaknaan atas pekerjaan kita sangat ditentukan oleh pilihan bebas diri kita sendiri dan bukan oleh standar-standar ketidakadilan yang diciptakan/ ditentukan masyarakat atau negara.

Daftar Pustaka
1. Sastrapratedja, M. Manusia Sebagai Pribadi/Persona dalam Filsafat Manusia I. Pusat kajian Filsafat dan Pancasila. Jakarta. 2010. H. 171-176
2. Driyarkara ,N. Dinamika dan Persona dalam Filsafat Manusia. Kanisius. Yogyakarta. 1969. H. 55-57
3. Sastrapratedja, M. Dimensi Antropologis Pekerjaan dalam Filsafat Manusia I. Pusat Kajian Filsafat dan Pancasila. Jakarta. 2010. H. 159
4. Sastrapratedja, M. Kesejarahan dalam Filsafat Manusia I. Pusat Kajian Filsafat dan Pancasila. Jakarta. 2010. H. 141-143
5. Leahy, L. Historisitas. Siapakah Manusia? Kanisius. Yogyakarta. 2001. H. 225-230
6. Bastaman, H.D. Logoterapi Sebagai Filsafat Manusia dan Teori Kepribadian dalam Logoterapi.PT Raja Grafindo Persada. Jakarta. 2007. H. 85-87
7. Driyarkara ,N. Permainan Sebagai Aktivisasi Dinamika dalam Filsafat Manusia. Kanisius. Yogyakarta. 1969. H. 79-83

Senin, 20 Oktober 2014

MENDIDIK SUARA HATI

Senin pagi 20 Oktober 2014, setiba saya di kantor setelah seminggu tidak masuk kantor karena memberi pelatihan di luar kota, saya dikejutkan dengan pengalihan rawat pasien dari teman sejawat saya. Pasien adalah seorang pasien wanita 27 tahun yang menderita gangguan bipolar mania (dulu lebih dikenal dengan istilah gangguan manik depresif) dengan kehamilan 5 minggu karena dihamili laki-laki yang tidak dikenal. Kehamilan ini adalah kehamilan tidak diinginkan yang kedua kalinya. Dari kehamilannya yang pertama, ia telah melahirkan seorang anak laki-laki yang saat ini telah berusia 4 tahunan dan karena penyakit mentalnya, ia tidak dapat mengurus puteranya tersebut. Sekilas pandang tentang gangguan bipolar mania ini, seorang penderita gangguan bipolar mania akan mengalami rasa senang yang berlebihan, meningkatnya nafsu seks, boros, mudah sekali menghambur-hamburkan uang tanpa memiliki pengendalian diri atas semua tindakannya tersebut. Kehilangan kontrol atas dorongan kehendak ini seringkali dimanfaatkan orang-orang disekitarnya baik secara ekonomi maupun seksual. Nafsu seks yang meningkat pada pasien ini sangat nyata sekali dan terus menerus merayu laki-laki disekitarnya, rupanya hal ini disalahgunakan oleh laki-laki yang ditemuinya karena pasien ini sempat menghilang dari rumah dan tidak pulang selama lebih dari seminggu. Kejadian seperti ini seringkali kami, para dokter spesialis kedokteran jiwa alias psikiater, temui menimpa pasien-pasien wanita dengan bipolar episode mania.

Sejam kemudian, kedua orang tuanya pasien ini datang menemui saya dengan satu tujuan yaitu meminta saya mengeluarkan surat rekomendasi agar pasien ini dapat digugurkan kandungannya dan kemudian dipasang alat kontrasepsi dalam rahim (IUD) supaya tidak terulang kembali kejadian seperti ini. Saya tidak langsung setuju dengan maksud dan tujuan ini sebelum mengevaluasi apakah pengobatan yang selama ini diberikan kepada pasien sudah efektif. Di lain pihak, tindakan menggugurkan kandungan bertentangan dengan suara hati saya. Pada saat ini, salah satu obat yang berfungsi untuk mengendalikan perilaku dorongan kehendak yang tidak terbendung ini mungkin mempunyai risiko efek negatif pada janin yang berusia 5 minggu tersebut. Orang tua pasien berdalih bahwa dalam agamanya menggugurkan kandungan usia 5 minggu tidak berdosa dan pasien tidak mampu mengurus anaknya sehingga akan sangat berisiko juga bagi pertumbuhan dan perkembangan sang anak. Sejauh ini, seakan-akan argumentasi kedua orang tua pasien masuk akal walaupun saya menemukan fakta bahwa ternyata orang tua pasien telah lalai untuk memastikan putrinya mendapatkan pengobatan yang baik dan benar dengan membawanya rutin periksa rawat jalan ke psikiater.
Apakah suara hati dan perannya dalam tindakan moral
Terlepas dari semua hal itu, sebenarnya ada ganjalan berupa suara hati saya yang tidak setuju dengan tindakan aborsi apalagi melihat ada fakta bahwa pasien melakukan itu semua karena tidak dibawa berobat secara teratur oleh ‘care giver’-nya dalam hal ini orang tuanya. Menurut pater Sudarminta dalam buku Etika Umum yang disusunnya, suara hati adalah pedoman atau pegangan moral manusia dalam situasi konkret, disaat ia harus mengambil keputusan untuk bertindak. Hal ini mengusik kesadaran saya akan kewajiban moral saya terhadap kasus ini berdasarkan hukum moral. Berdasarkan hukum moral yang saya pahami, adalah suatu kesalahan besar jika saya merenggut nyawa seorang calon manusia yang tidak bersalah apa-apa dengan mengakhiri kesempatannya untuk hidup di dunia ini.
Sebagai suatu kesadaran, suara hati ini adalah salah satu proses akal budi saya dalam bertindak dan bukan hanya sekedar perasaan kasihan spontan saya pada janin tersebut. Kesadaran ini juga merupakan suatu endapan kesadaran akan nilai yang sudah diinternalisasikan pada saya sejak kecil melalui pendidikan sekolah, agama maupun nilai-nilai budaya dalam proses kehidupan saya. Secara spontan, suara hati saya telah berperan mengendalikan keputusan moral saya untuk tidak langsung mengatakan ya pada aborsi. Secara teknis saya memiliki beberapa poin yang bisa saya jadikan alasan pembenaran untuk merekomendasikan aborsi pada kasus seperti ini tetapi suara hati saya berperan dalam mengingatkan saya supaya tidak gegabah.
Kalau saya mengatakan bahwa saya memiliki suara hati yang secara spontan mengendalikan saya dalam mengambil keputusan moral, apakah itu berarti kedua orang tua pasien tidak memiliki suara hati? Jawabnya adalah mereka tetap memiliki suara hati. Semua manusia memiliki suara hati, hanya memang suara hati yang tidak sama dengan suara Tuhan (yang pasti benar), bisa saja keliru. Kekeliruan tentang isi kewajiban moral yang ditegaskan oleh suara hati dapat terjadi baik karena pemahaman dan kesadaran moral yang dimiliki atau diwarisinya dari lingkungan, budaya, dan ajaran nilai-nilainya itu secara objektif memang keliru atau ia yang keliru mengerti nilai-nilai apa yang ia warisi. Hal lain yang mungkin adalah dorongan umum manusia adalah sulit terbebas dari nafsu-nafsunya seperti nafsu mencari jalan pintas dalam menjalani kehidupan sehingga tidak mau repot mendampingi anaknya untuk berobat teratur sehingga ketika sudah terlanjur hamil-pun masih mencari jalan pintas yang menurutnya tidak merepotkan (Mereka tidak sadar bahwa mereka telah merepotkan dokter-dokter yang terlibat dalam kasus ini)!
Membina suara hati
Dari cerita di atas kita sudah melihat bahwa nampaknya suara hati dapat keliru dalam berperan atau bahkan menjadi ‘tumpul’ sehingga tidak dapat berperan dalam diri seseorang. Melalui fakta ini maka perlu sekali membina atau mendidik pembentukan suara hati sejak usia dini dengan harapan terbentuklah ‘kebiasaan’ (habit) tertentu sehingga suara hati yang benar dapat berperan dalam tindakan, khususnya tindakan moral. Pendidikan suara hati ini harus melibatkan dimensi kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan) dan konatif (perilaku atau kehendak) sehingga terbentuk dimensi kebiasaan (habit) berbuat baik.
Dimensi kognitif menuntut seseorang untuk terus belajar, memperbaharui pengetahuannya, memperluas wawasannya sehingga tidak memahami suatu permasalah dengan menggunakan pengetahuan atau wawasan yang sudah tidak sesuai jamannya. Kita harus terus menerus belajar dari hidup yang terus berkembang dan berubah, jika tidak, pengalaman moral kita menjadi statis, dogmatis dan tidak sesuai dengan kenyataan hidup yang ada, dalam bahasa anak gaul sekarang adalah menjadi orang ‘jadul” (jaman dulu). Dalam belajar pun, kita harus selalu rendah hati dengan mau bertanya kepada orang-orang yang kita anggap ahli atau berkompeten dalam bidang-bidang lain, sebab walaupun kita sudah menyandang gelar doktor dan bahkan memiliki gelar akademik profesor sekalipun bukan berarti semua ilmu pengetahuan telah kita kuasai. Sangatlah tidak bijaksana mengambil keputusan begitu saja tanpa memperoleh informasi dan penjelasan dari orang-orang yang lebih mengetahui/ ahli.
Pada dimensi afektif, pendidikan suara hati bertujuan menumbuhkan kepekaan hati terhadap kebaikan. Pengembangan dimensi ini memerlukan pengalaman mengalami atau menyaksikan sendiri bagaimana nilai-nilai dan sikap moral yang baik itu diteladani dari figur yang berperan sebagai ‘role model’. Menurut pater Sudarminta, orang merasa dididik dan dikembangkan pribadinya, bukan pertama-tama karena diberitahu ini dan itu, tetapi karena ditarik oleh pesona keteladanan pendidiknya. Keutamaan moral tidak lagi menjadi suatu yang abstrak tetapi konkret diejawantahkan dalam pribadi-pribadi yang hidup dan dapat dijumpai. Dalam kehidupan seorang calon dokter, peran pembimbing klinis, dosen-dosen dan guru besar bukan hanya pandai memberitahukan ini dan itu tentang ilmu kedokteran kepada para calon dokter melainkan mampu menularkan sikap dan citarasa moral dalam suasana hubungan antar-pribadi yang dijiwai semangat kasih sehingga figur tokoh-tokoh pendidik ini sebagai pejuang moral dapat berperan positif dalam pendidikan afektif suara hati calon dokter dengan benar.
Dalam dimensi konatif, pendidikan moral bertujuan membangun tekad moral. Pengetahuan dan pemahaman yang cukup dan tidak keliru belum tentu dapat menghasilkan tindakan yang benar dalam hal ini. Dokter mana yang tidak tahu bahwa merokok berbahaya bagi kesehatannya? Kenyataannya masih banyak dokter yang merokok! Hal ini membuktikan bahwa fungsi kognitif dan afektif seringkali tidak sejalan juga dengan konatifnya. Kelemahan kehendak (akrasia) pada orang-orang ini akan membuat mereka jatuh kedalam godaan untuk tidak melaksanakan apa yang secara kognitif mereka pahami dan yakini kebenarannya. Sangatlah penting bagi setiap orang untuk melatih kehendaknya sehingga memiliki tekad moral yang kuat sehingga terjadi kepekaan dan ketepatan penilaian suara hatinya apabila suara hatinya diselewengkan oleh nafsu dan doronga perasaannya yang tidak terkendali.
Latihan penguasaan diri dengan bermati raga, melatih ‘awareness’ dengan latihan ‘mindfulness’ adalah metode-metode seseorang dapat membentuk tekat moralnya dengan ketrampilan mengendalikan diri (self-control) terhadap dorongan-dorongan spontanitas instingtual ‘kebinatangannya’. Untuk menjadi orang yang baik, tidak cukup memiliki kecerdasan otak melainkan perlu ditunjang dengan kejernihan hati. Untuk dapat jernih hatinya maka diperlukan latihan pemurnian dari macam-macam pamrih dan nafsu-nafsu yang tak terkendali.
Dalam dimensi pembentukan kebiasaan berbuat baik, ketiga dimensi di atas dipadukan. Kepekaan dan ketepatan suara hati menilai suatu tindakan moral akan berkembang dengan baik jika kita dibiasakan melakukan yang kita pahami dan yakini sebagai baik. Menurut Aristoteles, keutamaan moral tumbuh berkat pembiasaan berbuat baik terus menerus. Jadi hal terpenting untuk mencapai kebiasaan berbuat baik adalah adanya dimensi latihan dan pembiasaan. Kadangkala pembiasaan dilatihkan dalam suatu bentuk paksaan. Hal ini boleh-boleh saja sejauh bentuk pemaksaan ini dapat dimengerti sebagai sesuatu yang bertujuan baik sehingga akhirnya dapat diterima dengan kerelaan hati. Apabila tidak ada kerelaan hati dalam menjalani latihan dan pembiasaan ini maka tidak akan efektif menghasilkan kebiasaan berbuat baik yang dapat bertahan lama.

Rabu, 08 Oktober 2014

Pentingnya Perjanjian harta terpisah (Prenup) Sebelum Menikah

Prenup pra nikah adalah surat perjanjian pra nikah yang umumnya orang menyebytnya surat perjanjian harta terpisah. Hal ini menjadi kontroversi sampai saat ini karena banyak orang beranggapan kalau sudah menikah maka pasangan ini bukan lagi 2 individu yang terpisah melainkan satu yang tak terpisahkan dan harus menghadapi suka duka kehidupan bersama-sama.

Jadi kenapa harus buat surat pisah harta? Bukankah itu sesuatu yang mengingkari dan mempunyai niat tidak baik dalam mengawali pernikahan?

Sabar...bukan itu maksudnya. Dulu saya juga setuju dengan pendapat ini dan sampai saat ini pun saya tidak setuju dengan surat perjanjian harta terpisah sebelum nikah kalau niat awalnya agar tidak repot bagi harta gono gini ketika bercerai! Surat perjanjian ini dibuat bukan untuk mengantisipasi perceraian atau dihayati sebagai elu-elu gue-gue kalo sudah soal harta!

Di lain pihak masih banyak juga dalam pernikahan saat ini kehilangan nilai siapakah yang harus bertanggungjawab dalam ekonomi rumah tangga? Apakah seluruhnya tanggungjawab suami atau ada peran serta setara dengan istri yang juga memikul tanggung jawab ekonomi sehingga hasil gaji istri juga harus dikontribusikan dalam ruumah tangga? Masih banyak juga istri yang berpendapat bahwa gajinya yah untuk dirinya sendiri bahkan untuk hedonisme dirinya sendiri dan masalah rumah tangga serta anak-anak adalah urusan suami sendirian. Sekiranya pendapat seperti ini apakah sesuai dengan falsafat mereka bukan lagi dua melainkan satu?
Hal lain lagi adalah banyak juga suami-suami yang minder karena penghasilan istrinya lebih besar daripada penghasilannya atau bahkan istri yang merasa minder kalau ketahuan suaminya kurang mampu melebihi dirinya dalam posisi mereka di masyarakat. Kondisi kebalikannya adalah ketika istri menjadi besar kepala, dominan sekali terhadap suami dan merasa karena penghasilannya lebih besar daripada suami maka ia sekarang seakan-akan mengambil alih posisi kepala keluarga?

Nah, hal-hal mendasar seperti ini seringkali menjadi tidak jelas, kalau tidak mau disebut sudah hilang pada masyarakat kita saat ini. Nampaknya dengan perubahan nilai dan norma yang cepat saat ini membuat gamang masyarakat kita dalam mengikuti pedoman universal nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Untuk hal ini saya tidak bermaksud setuju atau tidak setuju terhadap kondisi perekonomian keluarga tadi kecuai saya memegang prinsip dasar kesetaraan suami dan istri dalam sebuat perkawinan sebaya (peer marriage), saya bukan penganut perkawinan konvensional dimana semua tanggungjawab didominasi suami atau ayah dan suami atau ayah akan selalu benar dalam pengambilan keputusan dll alasan saya adalah zaman saat ini sudah berubah kondisinya dimana banyak istri yang harus bekerja bersama dan suka atau tidak suka menurut saya membuat kompetisi tersendiri di dunia lapangan kerja.

Ok kembali ke topik. Beberapa dekade lalu, penegakan hukum, pemutarbalikan fakta hukum, kelihaian para "spin doctor" di era ini terhadap permasalahan amandemen UUD, perubahan UU dll termasuk klausul-klausul hukum yang seringkali menjebak kita sebagai orang yang awam hukum sangat-sangat merugikan kita dan besar sekali kemungkinan ekonomi rumah tangga dirugikan karena hal ini karena prinsip harta bersama adalah harta suami istri adalah satu kesatuan sehingga jika sebuah perjanjian dibuat oleh salah satu pasangan maka dampaknya akan kepada keseluruhan harta tanpa sekat antara harta yang diatasnamakan istri dengan harta yang diatasnamakan suami!
Bayangkan kalau suatu saat seorang suami karena keperluan bisnisnya harus meminjam uang di Bank dan kemudian gagal bayar maka yang disita adalah harta keseluruhan milik suami dan istri tersebut dan bank tidak akan peduli keluarga itu semua mau jadi gembel sekalipun. Hal ini akan berbeda jika ada harta terpisah maka yang akan disita adalah hanya harta atas nama suami. Dengan hal ini diharapkan ekonomi rumah tangga dan keluarga masih dapat disokong oleh harta istri.

Hal-hal seperti ini saya lihat contoh-contoh saat konseling pasien-pasien saya, ada sebuah keluarga yang menjadi miskin karena sang ayah yang meninggal di usia 55 tahun akibat kanker sedangkan almarhum adalah seorang pengusaha yang selama hidupnya pandai mengelola aset termasuk 'memutar' hutang-hutangnya dari bank dan ketika meninggal otomatis gagal bayar sehingga semua harta disita oleh bank. Istri dan ketiga anaknya harus kembali ke rumah orang tua mereka yang sudah tua dan ditampung sementara oleh kakek nenek karena ketiga anaknya juga belum benar-benar mandiri. Saya dengar dalam bahasa hukumnya kalau tidak salah dianggap seakan-akan wanprestasi karena meninggalnya sang ayah ckckckc....bagaimana dengan asuransinya? Yah tidak cukuplah karena pada saat itu semua diupayakan pengobatan paling mahal sekalipun di luar negeri untuk mengobati kanker sang ayah. Akhirnya hampir semua harta yang fundamental habis disita bank yang sangat manis ketika menawarkan kredit. Mungkin hal ini akan berbeda jika ada perjanjian pisah harta sehingga paling tidak aset atas nama istri masih dapat digunakan untuk menopang keluarga.

Ada lagi contoh lain adalah ketika tiba-tiba sang suami menderita gangguan jiwa yang disebut judi patologis sehingga kalah judi dimana-mana dan berhutang kemana-mana sehingga hutangnya harus ditanggung oleh istrinya juga, dll kisah-kisah realita pahit kehidupan di masyarakat. Siapa sih yang mau sakit? Tapi siapa juga yang mau jadi miskin karena hal-hal seperti ini? Kalau sudah miskin lalu orang-orang yang melarang dan menasihati untuk tidak membuat perjanjian ini mau bertanggungjawab dan menopang ekonomi keluarga tersebut?

Simpulannya saya tidak setuju jika perjanjian ini dibuat dengan niat tidak repot jika kelak bercerai tetapi saya sangat menyarankan hal ini karena kita harus pandai (clever not only smart) dalam mengantisipasi aspek hukum yang dapat mengancam harta kita sehingga kita bisa tetap hidup tenang, manusia memang tidak hidup dari roti tetapi dari setiap firman Tuhan tetapi tanpa roti sama sekali maka realita hidup manusia juga akan susah karena manusia pada hakikatnya adalah makhluk berbadan.

Jika Anda dan keluarga Anda memerlukan konseling untuk masalah pra nikah seperti ini termasuk konseling pemeriksaan medis pra nikah, silahkan menghubungi klinik kami untuk membuat perjanjian di Klinik Taman Anggrek Smart Mind Consulting:
021-5609432, Whatsapp sy di 08129169825 (maaf jarang angkat telepon karena sudah cukup sibuk dengan konseli di depan saya)

Homoseksualitas dan Konseling Spiritual (jangan ke psikiater untuk konseling spiritual!)

Sore tadi saya dikejutkan dengan balasan seorang Ibu yang mengirimkan pertanyaan konsultasi secara online kepada saya beberapa hari lalu dan ia mengatakan bahwa ia sangat kecewa melihat profil saya yang mendapat pendidikan theologi (hal ini keliru karena saya tidak pernah belajar theologi) / filsafat (yang ini benar karena saya belajar filsafat) ternyata tidak dapat memberikan konseling spiritual untuk anaknya yang homoseksual untuk bisa disembuhkan menjadi heteroseksual. Konseling spiritual? Nampaknya salah sasaran kalau mencari konseling spiritual pada psikiater/psikolog karena spiritualitas bukan ranah ilmu seorang mindscientist seperti saya dan walau saya mendalami filsafat manusia, filsafat eksistensial, saya bukan seorang filsuf apalagi menyangkut spiritualitas. Masalah spiritualitas adalah ranahnya para Imam (Pendeta, Romo, Ustad).

Dalam jawaban saya sebelumnya menanggapi pertanyaan Ibu tersebut, homoseksualitas tidak dapat "disembuhkan" menjadi heteroseksual karena menurut penelitian-penelitian biologis otak pusat seksual di Medial Pre Optik Area (MPOA) orang dengan homoseksualitas berbeda dengan orang yang heteroseksual. Hal yang dapat saya lakukan dalam konseling/psikoterapi adalah membantu klien/ pasien untuk memilih secara bebas (karena dalam filsafat manusia, hakikat manusia adalah kebebasan walaupun ada determinisme alias hal yang ditentutkan sebelumnya semacam takdir bawaan) apakah ia mau menjadi seorang dengan perilaku seks homoseksual atau heteroseksual atau tidak melakukan perilaku seks seperti misalnya memilih hidup selibat. Tentunya hal seperti ini juga dipengaruhi derajat homoseksualitasnya, seperti misalnya apakah murni homoseksual atau biseksual (hal ini tentunya belum dapat saya nilai karena saya belum memeriksa pasiennya (anak si Ibu yang sudah pernah dibawa ke hipnoterapis dan gagal!) dikarenakan pertanyaan dikirimkan secara online.

Dari kasus-kasus homoseksualitas yang saya telah tangani, yang sifatnya egodistonik (kondisi mana pasien menolak dirinya menjadi seorang homoseksual) sekitar 50% dapat saya bantu untuk memilih konsekuensi hidup yang lebih "baik" dan pada umumnya yang biseksual masih dapat diarahkan untuk kehidupan perkawinan dalam beberapa kali sesi konseling dan psikoterapi. Para homoseksual yang egosintonik relatif tidak pernah datang untuk konsultasi karena kondisi egosintonik tersebut ia tidak merasa ada "kelainan" dalam dirinya dan dapat menerima kondisi homoseksualnya tersebut.

Banyak orang (termasuk Ibu tersebut) masih meyakini bahwa homoseksualitas dapat "disembuhkan", ini adalah pandangan yang terlalu optimis saat ini dan menggunakan kriteria sembuh dari sudut pandang perilaku heteroseksual padahal ilmu neuroscience sudah membuktikan bahwa ada sturuktur otak yang lain (dalam filsafat manusia boleh dikatakan hal ini adalah determinasi biologis) dan struktur yang berlainan dapat berfungsi secara berlainan pula. Dalam topik tentang kebebasan sebagai sifat hakiki manusia, kita dapat mengajak setiap orang untuk memilih yang baik dan yang lebih baik (bukan hanya memilih yang lebih mudah antara yang jelek dan baik) walaupun ada determinisme biologis tersebut sehingga perilakunya tidak mengikuti determinasi biologis tersebut. Di lain pihak jangan terlalu jauh menuntut ada seorang dokter pada saat ini yang dapat mengubah MPOA yang lain (lebih besar) tersebut menjadi sama dengan MPOA manusia yang heteroseksual sehingga menjadi "sembuh", kalau ada yang bisa tolong beri tahu saya siapa dan dimana karena saya perlu berguru dan melakukan penelitian bersama dokter atau orang pinter tersebut.

Hal ini sama saja mustahilnya mengubah secara permanen seorang laki-laki heteroseksual dengan kadar testosteron tinggi yang suka main perempuan menjadi suami atau ayah yang baik dan tidak main perempuan lagi (dalam contoh ini di masyarakat kita malah hukum agama dipermainkan supaya mengesahkan poligami!). Yang bisa kita bantu untuk seseorang yang adiksi seksual-pun adalah pada awalnya menekan libidonya dengan terapi hormonal sambil dikonseling untuk memilih kembali pada perilaku yang "benar" sehingga ketika injeksi hormon (biasanya Cyclopteron acetate) dihentikan, nafsunya bisa meningkat lagi tapi perilakunya sudah berubah karena pilihannya untuk kembali ke jalan yang menurut kita benar. Ingat pula bahwa dalam pengertian benar ini ada yang sifatnya universal dan ada yang sifatnya juga parsial (tidak sungguh-sungguh benar atau tidak ada kebenaran yang sempurna kecuali Allah).

Simpulannya, jangan mencari konseling spiritual ke psikiater karena itu ranahnya imam atau rohaniwan dan jangan mau dibohongi oleh teori jaman dulu bahwa homoseksual menular (masih banyak psikiater/psikolog stok lama yang tidak up date ilmunya tentang ini dan salah berpendapat) dan dapat disembuhkan dengan mengubah struktur otaknya, yang dapat di-"sembuh"kan adalah diajak memilih secara bebas ia bereaksi bagaimana dengan kondisi dirinya.