Rabu, 02 Juli 2014

Kapan Harus Konsultasi Perkawinan dan Seks?

Pada tanggal 20 Juni lalu saya diminta mengisi acara dengan topik tersebut di atas di Kalbe Care Lotte World Kuningan, peserta yang datang cukup banyak untuk ukuran ruangan yagn disediakan dan acara tersebut gratis bagi member KalCare. Belakangan ini juga semakin banyak pasien--pasien/ klien yang menghubungi klinik Smart Mind untuk konsultasi masalah keluarga. Sebagian besar adalah yang sudah diambang perceraian. Mengapa pada umumnya ketika sudah di ambang perceraian orang baru ingat untuk konsultasi perkawinan? OH ya ada juga sih yang konsultasi pra perkawinan tapi sangat jarang banget. Yang saya ingat hanya tiga kasus yang secara formal minta konsultasi pra perkawinan untuk pernikahan pertama, selebihnya pra perkawinan untuk pernikahan kedua.

PENTINGNYA KONSULTASI PRA PERKAWINAN

Ketika kita jatuh cinta dan ketika cinta sudah melekat, tahi kucing pun terasa coklat, gitu kata pepatah guyonan sehingga ketika jatuh cinta semua yang kita lihat adalah yang baik-baiknya saja dan besar sekali kapasitas memaklumi kekurangan pasangan kita. Ketika kita memutuskan untuk menikah sebenarnya kita sudah tidak dalam fase jatuh cinta tetapi dalam fase memilih untuk berkomitmen untuk mencintai. Nah ini yang sulit, apakah kita sudah yakin untuk berkomitmen dengan seseorang untuk melalui hidup bersama sampai kematian menjemput?

Hal yang menjadi fokus kita seringkali dalam memilih pasangan adalah pasangan ideal yang kita inginkan, banyak dari kita lupa bahwa sebelum kita memilih pasangan yang kita inginkan, kita harus benar-benar mengenali dulu diri kita sesungguhnya apa dan siapa, bagaimana sifat kita, apa harapan kita, bagaimana kepribadian kita? Kalau kita sudah mengenal itu semua, baru deh kita mendefinisikan apa yang kita kehendaki dari pasangan kita yang paling cocok dengan kondisi diri kita?

Ada seorang wanita yang sudah menikah lebih dari 7 tahun akhirnya kecewa karena ternyata setelah menjalani hidup bersama, suami yang pada awalnya dia lihat seperti figur "role model" seorang pria yang seperti ayahnya ternyata jauh berbeda dengan sikap dan sifat ayahnya. Bagaimana dengan suaminya? Ternyata suami-nya pun salah duga, kepribadian dasar suaminya yang kurang dominansi jauh dibawah kepribadian istri yang lebih dominan (walaupun dominansinya tidak berlebihan sampai patologis) membuat dirinya selalu "kalah" oleh istrinya. Di lain pihak figur istrinya memang figur yang dia cari karena dia menginginkan seorang wanita yang mandiri dan dirinya tinggal tahu beres karena sewaktu kecil peran mamanya begitu dominan. Dalam kasus ini terjadi ketidakcocokan harapan, sang istri minta dilindungi dan dilayani sebagaimana ayahnya dulu melindungi dan melayani keluarga tetapi sang suami juga minta semua dibuat beres oleh istrinya! Hal seperti ini sebenarnya bisa diprediksi sejak awal pacaran tetapi karena orang Indonesia itu memang tidak punya budaya pencegahan sehingga dalam pikirannya mencari konselor perkawinan hanya ketika sudah ada masalah besar dan mengancam perceraian.

Usaha pencegahan terhadap kejadian hal ini sudah banyak diupayakan terutama di gereja-gereja dengan memberikan kursus persiapan perkawinanm demikian juga kalau di Malaysia, negara menyediakan fasilitas dan mengharuskan setiap warga negaranya yang mau menikah harus sudah bersertifikat kursus persiapan perkawinan selama 3 hari! Mereka sudah menyadari bahwa bangsa yang kuat harus diawali dari perkawinan yang kokoh dengan keluarga yang kuat. Tanpa keluarga yang baik dan kuat, jangan harap sebuah negara bisa menjadi baik dan kuat.

Dengan mengenal diri dan pasangan, mengetahui kelebihan dan kekurangan dalam hubungan maka pasangan akan menjalani bahtera keluarganya dengan lebih realistis.

Pertanyaan yang penting adalah:
1. Apakah calon pasangan saya mengetahui kebutuhan saya? (kadang walau sudah diucapkan, dikatakan tetapi disalahtafsirkan oleh pasangan yang tidak mengerti)

2. Apakah calon pasangan saya mampu memenuhi kebutuhan saya itu? (Kalau kita berasal dari keluarga orang kaya/ pengusaha kaya tetapi calon pasangannya hanya seorang akademisi maka tentunya cara berpikir seorang akademisi tidak akan bisa memenuhi kebutuhan cara berpikir seorang pengusaha, contoh konkretnya adalah saya, kalau saya punya uang maunya dibuat belajar, course, melanjutkan studi lanjut ke S3 dan bukan untuk diinvestasikan lalu buka usaha baru atau beli mobil BMW terbaru atau Mercedes terbaru, nah kalau pasangan saya maunya yang bergaya usaha buka francise dan pakai mobil mewah yang bisa dinikmati kursinya seperti kursi first class di pesawat gimana bisa nyambung? Tentunya saya tidak akan bisa memenuhi kebutuhan wanita pengusaha).

3. Apakah calon pasangan saya mau memenuhi kebutuhan saya itu? (pasangan yang egois tidak mau memenuhi kebutuhan pasangannya karena lebih mengutamakan memenuhi kebutuhan dirinya sendiri dahulu).

ASPEK-ASPEK YANG HARUS DIEVALUASI DALAM PERKAWINAN

Penting sekali kita mengevaluasi aspek dalam perkawinan yaitu pertama-tama mengenali dulu "akar" keluarga kita masing-masing. Akar keluarga itu adalah dalam filosofi perkawinan Jawa adalah BIBIT, siapa orang tua kita, latar belakang keluarga kita dan pasangan, budaya, cara berpikir, cara hidup, dll.

Kemudian 3 hal lain yang perlu di evaluasi adalah:
1. Spiritualitas perkawinan, hal ini paling banyak dilupakan dan hanya menjadi ritual agama, apalagi dipolitisir oleh UU Perkawinan yang mempersulit orang untuk menikah lain agama. Kita harus membawa hal ini dalam pola pemikiran yang lebih komprehensif dan pada hakikatnya secara upacara adat-pun rupanya perkawinan ini adalah sakral, ada spiritualitasnya, mau mencari MAKNA dari perkawinan ini dalam hubungan kita dengan Allah (Habluminallah) dan hubungan kita dengan sesama (Habluminnannas). Bagaimana nilai spiritualitas kita jika kita memiliki anak-anak, mau kita arahkan bagaimana supaya menjadi anak yang soleh (yang dapat mendoakan orang tuanya sehingga amal ibadah/ pahala kita tidak terputus?)

2. Komunikasi suami istri, hal ini sudah jelas tetapi di tulisan saya "Psikiater, Seks dan Perkawinan" mengingatkan bahwa penting sekali mendeteksi adanya gangguan mental yang dapat membuat buntu komunikasi ini.

3. Seksualitas suami istri, perkawinan tidak melulu soal seks tetapi tanpa seks katanya seperti makanan kurang garam. Bagaimanapun juga hubungan seksual (jangan diartikan hubungan ini hanya urusan "penis dan vagina" melainkan soal ekspresi afeksi) suami dan istri harus selaras, saling menyesuaikan pola kebutuhan satu sama lain sehingga tidak ada istilah pemerkosaan terhadap istri/suami yang masuk dalam masalah kekerasan dalam rumah tangga!

MENDEFINISIKAN KEMBALI VISI MISI PERKAWINAN SESUAI 'LIFE CYCLE'

Setiap kita memiliki siklus kehidupan sesuai usia, ketika kita menikah di usia 20-an tentunya mempunyai harapan berbeda dibandingkan kita berusia 30-an, ketika berusia 40-an, 50-an juga kita memiliki harapan serta gaya hidup yang berbeda (fisik mulai menurun, ada penyakit dll). Di setiap usia kehidupan kita, penting sekali kita berdua pasangan mendefinisikan kembali komitmen bersama dalam menjalani perkawinan sebagai suatu bentuk 'companionship' suami dan istri untuk menuju tujuan yang sama (juga bersama anak-anak). Bagaimana mendidik anak-anak, mengarahkan anak-anak menjadi anak yang berguna, mandiri, jujur, baik, soleh dll.

Hal penting seperti ini seringkali ditutupi suatu seremonial semu dengan 'candle light dinner' serta bunga tangan yang seakan-akan itu arti cinta (seperti dikampanyekan iklan) dan melupakan bahwa ada hal serius yang harus dibicarakan diluar 'candle light dinner' tersebut.

APA PERAN KONSELOR PERKAWINAN DAN KELUARGA?

Sebagai mediator yang membantu mediasi kebuntuan komunikasi atau sikap saling curiga dll karena konselor bersikap netral. Sebagai konselor yang dapat membantu mengarahkan opsi-opsi, sebagai psikoterapis yang dapat membantu terapi psikopatologi, kadang sebagai penasihat agar tetap pada semboyan rumah pegadaian "mengatasi masalah tanpa masalah".

Kebanyakan konselor ini di Indonesia adalah para psikolog. Beberapa psikiater seperti saya juga menangani tetapi pada umumnya bekerjasama dengan para psikolog (di SMART MIND CENTER CONSULTING kami selalu berdampingan psikolog dan psikiater, biro konsultasi lain jarang ada kerjasama yang baik dalam tim antara psikolog dan psikiater) untuk mengatasi gangguan mental yang diderita karena distress yang dialami pasangan dalam carut marut perkawinan dan rumah tangganya. Belum lagi masalah trauma pada anak yang harus juga saya bantu tangani.

Beberapa kasus harus saya yang menangani sendiri karena pengalaman dalam beberapa aspek terutama dalam hal dampak hukum pengadilan perceraian, saya bukan ahli hukum tetapi karena pengalaman maka saya dapat memberikan arahan atau nasihat yang dapat menguntungkan dimata hukum tetapi kalau mau lebih jelasnya bisa konsultasikan dengan pengacara perkawinan. Tapi please jangan minta saya untuk bersaksi di pengadilan sebab urusannya harus minta surat pengadilan untuk membuka rahasia medis pasien (tanpa ini saya tidak akan mau membuka rahasia tersebut karena bisa berdampak hukuman pidana!) dan alasan kedua adalah urusan di pengadilan seringkali menghabiskan banyak waktu tanpa kepastian, semestinya saya bisa mengerjakan hal lain yang lebih bermanfaat seperti membimbing dokter muda, melayani pasien dll tetapi disuruh menunggu jadwal sidang? Nyerah deh walau mau dibayar mahal sekalipun saya berusaha menghindari hal ini.

Hal lain yang menjadi bidang psikiatri adalah saya dokter yang dapat mengobati termasuk jika ada masalah seksual, depresi, kecemasan, insomnia dll.

MENGENAI BIAYA KONSULTASI PSIKIATER/PSIKOLOG/KONSELOR SEKS DAN PERKAWINAN

Hal ini selalu ditanyakan dan menjadi hal yang sangat mengganggu, biaya psikiater dan psikolog itu seperti yang pernah saya ungkapkan di artikel tentang psikiater psikolog dan hipnoterapis, sangat 'reasonable' untuk konsultasi pasangan yang bisa membutuhkan waktu sampai 2 jam tidak sampai sejuta rupiah! Bandingkan dengan terapis-terapis lain dan profesi lain.

Memang kita minta tes evaluasi awal untuk tes kepribadian masing-masing pasangan di saat awal sesi dan ini cukup meminta tambahan biaya, mau gimana lagi? Itulah profesionalisme. Yang jelas kami tidak semahal Smartphone seperti Iphone, BlackBerry, Samsung galaxi S4 apalagi S5! Smartphone yang hanya digunakan beberapa tahun saya pikir nilainya tidak lebih tinggi daripada nilai perkawinan Anda bukan? Jadi jangan khawatir soal biaya konsultasi untuk mencapai kualitas hidup dan kualitas hidup perkawinan yang lebih baik bagi Anda dan pasangan, Anda dan keluarga.

3 komentar:

  1. salam kenal dok, saya Paresma, sy alumni psikologi yg sekarang sementara baru masuk profesi psikolog.

    banyak insight yg saya dapat dari blog ini karena peran saya kebanyakan sbg konselor juga (hehe masih pemula)

    mmg benar, sekarang konsultasi pra nikah itu sangat diperlukan krn jadi modal dasar bagi calon pasangan utk saling tahu dan paham satu sama lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi, salam kenal mbak Yanuar, duluu alumni mana dan sekarang sedang profesi di mana? Ayo kita masyarakatkan hal ini bersama agar lebih dapat memberdayakan dan mencerahkan bagi masyarakat kita, bangsa yang kuat dibentuk dari keluarga-keluarga yang kuat.

      Hapus
  2. Salam kenal dok, saya seorang wanita karier berusia 29 tahun dan memiliki 2 anak. Saya ingin menanyakan kepada dokter apakah berlebihan jika seorang istri merasa kesepian krn suaminya yg terlalu cuek. Sbg informasi kami sudah menikah selama 6 tahun, sampai dengan hari ini terhitung sudah 2 tahun saya dan suami tidak pernah berhubungan layaknya suami istri. Bahkan untuk hal yang simple seperti peluk dan cium pun jarang sekali. Jika saya tidak meminta maka suami pun tidak akan melakukannya. Belakangan saya semakin tertekan dengan keadaan ini. Saya merasa tidak berguna lagi sebagai wanita. Saya merasa sebagai wanita terjelek di dunia karna orang yg sy cintai tidak pernah lagi menyentuh saya.

    Hubungan kami pun tidak lagi romantis, kami sering bertengkar karna hal2 kecil. Saya jadi lebih mudah marah kepada suami.

    Suami saya sudah berkali2 mengatakan ingin menceraikan saya. Setiap kali dia mengatakan hal itu hati dan perasaan saya seperti hancur lebur.

    Saat ini saya sedang bingung apa yang harus saya lakukan. Saya terpikir juga untuk bercerai namun saya khawatir efeknya pada anak2 saya kedepannya karna mereka masih sangat kecil.

    Apa yang sebaiknya saya lakukan dok. Apakah normal jika suami tidak mau menyentuh istrinya sampai tahunan?

    BalasHapus