Hasil review dari posting di blog ini ternyata yang paling banyak diakses dan dibaca adalah postingan tentang beda psikolog dan psikiater kemana lebih dulu. Rupanya topik ini menjadi topik yang menarik dan bahkan mungkin agak kontroversial.
Menurut saya, terlalu banyak orang yang suka bermain dokter-dokteran dan mau dianggap bisa membantu menyembuhkan orang tanpa dasar pengetahuan yang kuat (penegakan diagnosis yang tepat, pemahaman psikopatologi, psikodinamika dan penguasaan beberapa macam teknik psikoterapi), nampak sekali narsisitik para terapis-terapis yang tidak melalui pendidikan formal yang cukup. Perilaku para "dokter-dokteran" ini rupanya membingungkan banyak masyarakat sehingga mencari informasi melalui tulisan saya tersebut.
Tulisan saya terdahulu tentang kemana lebih dulu psikiater atau psikolog bermaksud mematahkan opini yang mengatakan bahwa kalau masih ringan ke psikolog aja dulu! Dan bahkan banyak yang memfitnah bahwa kalau ke psikiater pasti dikasih obat! Atau ada juga yang mengatakan hanya dikasih obat saja tanpa psikoterapi dll.
Opini di masyarakat dibentuk seakan-akan kalau orang belum sakit parah jangan datang ke psikiater (jelas--jelas psikiater tuh dokter spesialis ya, apakah dokter hanya menangani sakit yang sudah parah?) melainkan ke psikolog dulu atau bahkan hipnotereapis-hipnoterapis yang hanya pelatihan 40 jam atau entah bahkan 100 jam (bandingkan dengan sekolah menjadi psikiater yang harus ditempuh minimal 10 tahun dan psikolog yang minimal 6 tahun sampai menyandang predikat psikolog klinis) mengkampanyekan kehebatan dirinya dalam menterapi pasien-pasien di masyarakat. Memang benar sebagian pasien tersebut sembuh dengan biaya yang tentunya lebih mahal daripada ke dokter/ psikiater (apalagi sekarang sudah bisa pakai BPJS di RSU dan RSJ) dan sisanya? Tidak sembuh dan akhirnya tetap datang ke dokter!
Pernah lagi sekali waktu ada seorang Profesor psikologi yang cukup terkenal (sehingga tidak usah saya sebutkan namanya di sini) sangat ingin psikolog boleh meresepkan obat-obat psikotropik yang diresepkan psikiater dengan alasan di Australia dan di Amerika ada negara bagian yang membolehkan psikolognya menuliskan resep untuk klien-kliennya (istilahnya aja udah klien, bukan pasien!), bayangkan Profesor loh itu kalau Prof.-nya ditulis Prov. seperti saya yang kepanjangannya Provokator sih maklum ya, seorang guru besar bisa begitu piciknya minta seorang psikolog yang pendidikannya bukan dari kedokteran diperbolehkan menulis resep obat psikotropika? Prof tersebut saya tantangin, "kalau pasiennya depresi dengan diabetes dan hipertensi sehingga juga mengkonsumsi obat golongan beta bloker dan sulfonil urea, apa obat antidepresan yang paling aman dan tidak berinteraksi dengan kedua obat tersebut Prof?" Gak bisa jawab deh beliau sang Profesot tersebut!
Memang masyarakat kita tuh aneh kalau orang gak sekolah trus bisa "katanya ya" menyembuhkan penyakit disebut 'orang pinter' tapi kalau dokter yang sekolahnya lama (bagusnya disebut orang bodoh) gak lulus-lulus, kurang dipercaya oleh masyarakat kita! Masyarakat kita lebih percaya dengan orang yang tidak sekolah!
Ditambah lagi banyaknya wartawan kita yang berpedoman "bad news is a good news" paling seneng kalau memberitakan ada dokter dengan dugaan malpraktek,ibarat peribahasa karena nila setitik rusak susu sebelanga nah mereka ini memblow-up kelalaian bahkan yang baru dugaan kelalaian seorang dokter sehingga seakan-akan buanyak sekali dokter Indonesia yang tidak kompeten. Bandingkan dengan rasio kegagalan terapis dokter-dokteran seperti hipnoterapis atau bahkan psikolog yang tidak etis yang mengkonseling/psikoterapi terus kliennya walaupun sudah tahu bahwa kliennya ini tidak efektif kalau belum diberikan pengobatan? Nah enaknya psikolog itu belum ada undang-undang praktik psikologi loh sehingga walaupun mereka salah ngetes orang dan memberikan interpretasi yang salah terhadap status psikologis seseorang tidak dapat dituntut malpraktek, apalagi hipnoterapis yang sekolahnya tidak sedetail dan sejelas kurikulum fakultas kedokteran maupun fakultas psikologi dengan ujian-ujian yang seabreg-abreg sampe keringatan dan airmata darah habis jaga malam ujian tulisan dan ujian lisan, belum lagi ujian nasional sebagai ujian paling akhir. Yang kayak gini tidak pernah diberitakan oleh para wartawan pelat kuning tersebut.
Nah jadi ulasan singkat ini semoga dapat menjadi sebuah insight bagi anda yang membaca beda psikiater psikolog dan hipnoterapis ya (yang banyak tulisan sesatnya di blog atau web lain yang menjelaskan tentang bedanya profesi-profesi ini).
Senin, 19 Mei 2014
Jumat, 09 Mei 2014
Adiksi alias Kecanduan Game
Masa kanak-kanak memang masa untuk bermain. Namun waspadalah jika anak Anda berlebihan dalam bermain game hingga cenderung menjadi ketergantungan atau adiksi. Ada beberapa kriteria adiksi, yaitu :
• Ada keinginan yang kuat atau dorongan yang memaksa (kompulsi) untuk menggunakan atau melakukan sesuatu jika tidak dilakukan maka ada perasaan cemas yang meningkat atau terus menerus merasakan ada sesuatu yang kurang.
• Kesulitan mengendalikan perilaku tersebut, sejak mulai, ketika berusaha menghentikan, atau saat menggunakan
• Keadaan gelisah, tidak tenang, tidak dapat konsentrasi bila tidak melakukan
• Terjadi peningkatan intensitas kuantitas dan kualitas dalam melakukan
• Progresif mengabaikan kesenangan atau minat lainnya
• Tetap melakukan walaupun menyadari hal tersebut tidak baik
Adiksi menimbulkan akibat dari berbagai segi. Dari segi biologis, terjadi pemuasan sirkuit ‘brain reward system’ di otak yang diantaranya terdiri dari struktur Nucleus Accumbens dan Ventral Tegmental Area dan dipengaruhi oleh neurotransmitter dopamin. Dari segi perilaku, seseorang menjadi hanya terpaku pada kegiatan pemuasan kecanduannya. Dari segi sosial terjadi disfungsi dan produktivitas menurun.
Ada dua cara untuk mencegah adiksi :
• Pencegahan primer :
Jangan pernah bermain game, ganti aktivitas rekreasi dengan kegiatan yang lebih bermanfaat. Anak boleh bermain game namun sebagai aktivitas sosial insidental (bukan rutin).
• Pencegahan sekunder :
Batasi waktu bermain dengan membuat jadwal. Ganti permainan yang tidak mengasah kognisi (tidak membuat anak lebih pandai) dengan permainan ‘mental exercise’, seperti catur, monopoli, dan sebaiknya permainan tersebut dimainkan bersama anggota keluarga lain dan teman sebayanya untuk melatih anak bersosialisasi.
Ada beberapa cara untuk mengatasi adiksi game, yaitu :
• Penyadaran melalui pikiran dalam hal ini bisa diberikan terapi perilaku kognitif dan mindfulness. Terapi apa yang akan diberikan tergantung keadaan anak, seperti IQ, status mentalis, kepribadian, dan lain-lain.
• Latihan mengubah perilaku dengan teknik stop-look-listen (melatih anak untuk mengalihkan perhatian pada hal lain yang lebih baik, misalnya sejak awal kita sudah memotivasi anak untuk mempunyai cita-cita dan kemudian kita memotivasi anak untuk mengarahkan perhatian pada pencapaian cita-citanya).
• Buat jadwal kegiatan baru yang bermanfaat dan harus dilaksanakan dengan tujuan melatih anak agar disiplin dan konsisten terhadap rencana jadwal yang sudah dia buat.
• Pengobatan mungkin diperlukan selama melatih perilaku baru tersebut karena pengobatan yang mempengaruhi neurotransmitter dopamin dan serotonin memegang peranan penting dalam mengintervensi perubahan pada ‘brain reward system’. Biasanya anak merasa lebih terbantu dalam melatih kebiasaan barunya setelah beberapa impuls adiksinya dapat dihambat dengan pengobatan sampai terbentuk jalinan sinaps-sinaps (penghubung antar sel saraf ) baru di neuron-neuronnya (sel-sel sarafnya).
Bermain game yang tidak terkendali dapat menyebabkan kecanduan. Bermain game yang bersifat ‘mental exercise’ lebih bermanfaat dan kurang adiktif. Kesadaran untuk mulai mengubah perilaku sangat diperlukan dalam upaya untuk lepas dari kecanduan.
Banyak pandangan masyarakat yang mengatakan bahwa melepaskan diri dari kecanduan itu yang penting dari dalam diri sendiri dan pasti bisa dengan kekuatan sendiri. Padahal kecanduan itu melibatkan banyak perubahan struktur otak, apalagi bagi pecandu yang kita sebut ‘hard-core addict’ alias pecandu yang sudah mendarah daging. Jadi jika sudah kecanduan maka harus mengikuti program rehabilitasi medis dan psikososial agar dapat terlepas dari kecanduan tersebut. Rehabilitasi tersebut tidak selalu harus diartikan masuk dalam program terstruktur di sebuah panti rehabilitasi tetapi dapat dilakukan secara disiplin melalui modifikasi perilaku dengan teknik-teknik seperti yang telah disebutkan di atas asalkan tidak curi-curi melakukan hal yang membuat adiksi tersebut.
• Ada keinginan yang kuat atau dorongan yang memaksa (kompulsi) untuk menggunakan atau melakukan sesuatu jika tidak dilakukan maka ada perasaan cemas yang meningkat atau terus menerus merasakan ada sesuatu yang kurang.
• Kesulitan mengendalikan perilaku tersebut, sejak mulai, ketika berusaha menghentikan, atau saat menggunakan
• Keadaan gelisah, tidak tenang, tidak dapat konsentrasi bila tidak melakukan
• Terjadi peningkatan intensitas kuantitas dan kualitas dalam melakukan
• Progresif mengabaikan kesenangan atau minat lainnya
• Tetap melakukan walaupun menyadari hal tersebut tidak baik
Adiksi menimbulkan akibat dari berbagai segi. Dari segi biologis, terjadi pemuasan sirkuit ‘brain reward system’ di otak yang diantaranya terdiri dari struktur Nucleus Accumbens dan Ventral Tegmental Area dan dipengaruhi oleh neurotransmitter dopamin. Dari segi perilaku, seseorang menjadi hanya terpaku pada kegiatan pemuasan kecanduannya. Dari segi sosial terjadi disfungsi dan produktivitas menurun.
Ada dua cara untuk mencegah adiksi :
• Pencegahan primer :
Jangan pernah bermain game, ganti aktivitas rekreasi dengan kegiatan yang lebih bermanfaat. Anak boleh bermain game namun sebagai aktivitas sosial insidental (bukan rutin).
• Pencegahan sekunder :
Batasi waktu bermain dengan membuat jadwal. Ganti permainan yang tidak mengasah kognisi (tidak membuat anak lebih pandai) dengan permainan ‘mental exercise’, seperti catur, monopoli, dan sebaiknya permainan tersebut dimainkan bersama anggota keluarga lain dan teman sebayanya untuk melatih anak bersosialisasi.
Ada beberapa cara untuk mengatasi adiksi game, yaitu :
• Penyadaran melalui pikiran dalam hal ini bisa diberikan terapi perilaku kognitif dan mindfulness. Terapi apa yang akan diberikan tergantung keadaan anak, seperti IQ, status mentalis, kepribadian, dan lain-lain.
• Latihan mengubah perilaku dengan teknik stop-look-listen (melatih anak untuk mengalihkan perhatian pada hal lain yang lebih baik, misalnya sejak awal kita sudah memotivasi anak untuk mempunyai cita-cita dan kemudian kita memotivasi anak untuk mengarahkan perhatian pada pencapaian cita-citanya).
• Buat jadwal kegiatan baru yang bermanfaat dan harus dilaksanakan dengan tujuan melatih anak agar disiplin dan konsisten terhadap rencana jadwal yang sudah dia buat.
• Pengobatan mungkin diperlukan selama melatih perilaku baru tersebut karena pengobatan yang mempengaruhi neurotransmitter dopamin dan serotonin memegang peranan penting dalam mengintervensi perubahan pada ‘brain reward system’. Biasanya anak merasa lebih terbantu dalam melatih kebiasaan barunya setelah beberapa impuls adiksinya dapat dihambat dengan pengobatan sampai terbentuk jalinan sinaps-sinaps (penghubung antar sel saraf ) baru di neuron-neuronnya (sel-sel sarafnya).
Bermain game yang tidak terkendali dapat menyebabkan kecanduan. Bermain game yang bersifat ‘mental exercise’ lebih bermanfaat dan kurang adiktif. Kesadaran untuk mulai mengubah perilaku sangat diperlukan dalam upaya untuk lepas dari kecanduan.
Banyak pandangan masyarakat yang mengatakan bahwa melepaskan diri dari kecanduan itu yang penting dari dalam diri sendiri dan pasti bisa dengan kekuatan sendiri. Padahal kecanduan itu melibatkan banyak perubahan struktur otak, apalagi bagi pecandu yang kita sebut ‘hard-core addict’ alias pecandu yang sudah mendarah daging. Jadi jika sudah kecanduan maka harus mengikuti program rehabilitasi medis dan psikososial agar dapat terlepas dari kecanduan tersebut. Rehabilitasi tersebut tidak selalu harus diartikan masuk dalam program terstruktur di sebuah panti rehabilitasi tetapi dapat dilakukan secara disiplin melalui modifikasi perilaku dengan teknik-teknik seperti yang telah disebutkan di atas asalkan tidak curi-curi melakukan hal yang membuat adiksi tersebut.
Rabu, 07 Mei 2014
Bangga Dipercaya Teman Sejawat
Dalam dunia kedokteran kami mengangkat sumpah bahwa sesama dokter akan memperlakukan sejawatnya sebagai saudara kandung walaupun untuk urusan saudara kandung ini kami masih boleh menikah sesama 'saudara kandung' ya dan tidak dianggap incest hehehe.
Nah kalau kita menganggap teman sejawat dokter ini bagaikan saudara maka kita akan memperlakukan mereka bagaikan saudara kita sendiri sehingga otomatis salah satu dampaknya diantara sesama dokter tidak perlu membayar untuk jasa saling konsultasi.
Pengalaman saya dioperasi oleh teman sejawat (yang sering kami singkat sebagai TS), sebenarnya membuat saya sangat merasa berhutang budi kepada TS yang ahli bedah tulang (orthopedi) ini. Bayangkan saja, saya dioperasi selama 9 jam dan setelah susah payah dan kelaparan karena dokter yang mengoperasi saya tak sempat makan siang eh malah saya dibebaskan dari biaya operasinya yang gak seberapa bagi orang kaya yang belinya mobil mewah atau gadget ter-anyar! Mungkin memang karena sudah gitu aturannya sehingga yang paling bisa saya lakukan adalah memberikan TS itu kenang-kenangan dari saya. Tentunya harga kenang-kenangan itu tidak sepadan dengan usaha yang telah dilakukan beliau sehingga saya bisa kembali berjalan dengan tidak menggunakan tongkat dan tidak terasa nyeri lagi. Apa yang dapat saya lakukan adalah 'pay it forward' yaitu membayar kebaikan tersebut bukan kepada TS yang telah menyelamatkan kualitas hidup saya melainkan kepada TS lain yang memerlukan keahlian saya.
Nah dari pemikiran dan perenungan itulah saya tergerak untuk menulis sedikit malam ini. Semakin lama pasien saya yang berprofesi sebagai dokter alias TS semakin banyak dan memang sejak awal saya berkomitmen untuk tidak menarik jasa konsultasi pada TS saya. Sebagai psikiater yang mana kalau konsultasi bisa menghabiskan waktu sampai 1 jam tiap sesi tentunya capek dan "rugi" waktu bila semakin lama semakin banyak pasien yang berprofesi dokter toh?
Eitsss lupa dijelaskan bahwa kebanyakan TS sy yang konsultasi ini tidak konsultasi karena gangguan jiwa berat tetapi masalah relational dan masalah anak yang kesulian belajar atau gangguan konsentrasi. Ada sih 1 atau 2 TS yang mengalami gangguan jiwa berat seperti skizofrenia tetapi sudah remisi hampir sempurna dan bisa berfungsi kembali walaupun bukan sebagai klinisi.
Nah sebelum mengalami pengalaman harus dioperasi dan harus 'pay it forward' kepada TS saya, saya sudah mulai merasakan perasaan bangga daripada merasa dirugikan waktu saya untuk melayani konsultasi bagi TS saya. Kenapa bangga? Ya jelas toh bangga karena artinya saya dipercaya dan dianggap cukup pandai oleh teman sejawat saya dengan profesi dari beragam spesialisasi kedokteran. Bahkan ada yang anaknya Profesor, yang nota bene adalah guru-guru saya sendiri? Bayangkan, guru saya mempercayakan anaknya, cucunya ditangani oleh saya? Apakah tidak membanggakan?
Nah jadi timbul pemikiran juga andaikan saja tidak ada kerahasiaan yang harus dipegang teguh pada dunia kedokteran mungkin sudah saya ajak foto-foto pasien saya yang masih TS tersebut lalu saya pajang di dinding ruang praktek saya dengan diberikan nama, anak profesor anu dan cucu profesor anu, anak konsulen dokter ahli x, kepala bagian Spesialis Y dari Universitas ternama di kota Z dll dll wuahhh bangganya hehehe apalagi kalau boleh difoto seperti di ruang dokter gigi ahli meratakan gigi, foto sebelum dan sesudah, sebelumnya wajah galau dan sesudah terapi dengan saya wajah penuh senyum bahagia.
Minggu, 04 Mei 2014
Website Konsultasi Psikiater Online
Dear all my members and followers,
Saya dan beberapa teman, baik psikiater dan psikolog mencoba membuat website yang lebih profesional untuk melayani konsultasi online dalam beberapa area kehidupan yang umum diungkapkan dalam praktek konseling/ psikoterapi sehari-hari seperti:
Masalah gangguan belajar pada anak, masalah pengasuhan, masalah sex dan perkawinan, masalah di tempat kerja, kecemasan depresi dll.
Tentunya konsultasi on line ini tidak dapat menggantikan konsultasi langsung tatap muka (walau saya masih kesulitan membuka konsultasi dengan webcam karena sambungan internet di Jakarta yang masih suka tidak stabil) karena banyak hal yang harus berupa dialog sehingga sulit sekali dilakukan pada media tulis menulis seperti ini.
Jadi baik sekali jika teman-teman sekalian mau membagikan alamat website ini kepada rekan atau kolega atau semua teman-teman yang membutuhkannya. Saya mengharapkan dengan jawaban di media tulisan ini bisa memberikan wawasan dan informasi singkat atas permasalahan yang dihadapi dan apabila masih ada kesulitan bisa bertemu tatap muka dengan kami.
Takut mahal? Bertemu tatap muka dengan kami? Jangan dong kan kita tidak hanya melayani untuk publik yang high class dan membutuhkan kenyamanan akses dan tempat untuk konsultasi melainkan kami juga melayani di RS pemerintah, Silahkan saja memilih mana nyamannya, pokoknya tidak boleh ada orang Indonesia yang tidak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan Jiwa saat ini. Ok, semoga berguna dan Alamat website tersebut adalah www.konsultasipsikiater.com
Salam sehat jiwa,
Dharmawan
Saya dan beberapa teman, baik psikiater dan psikolog mencoba membuat website yang lebih profesional untuk melayani konsultasi online dalam beberapa area kehidupan yang umum diungkapkan dalam praktek konseling/ psikoterapi sehari-hari seperti:
Masalah gangguan belajar pada anak, masalah pengasuhan, masalah sex dan perkawinan, masalah di tempat kerja, kecemasan depresi dll.
Tentunya konsultasi on line ini tidak dapat menggantikan konsultasi langsung tatap muka (walau saya masih kesulitan membuka konsultasi dengan webcam karena sambungan internet di Jakarta yang masih suka tidak stabil) karena banyak hal yang harus berupa dialog sehingga sulit sekali dilakukan pada media tulis menulis seperti ini.
Jadi baik sekali jika teman-teman sekalian mau membagikan alamat website ini kepada rekan atau kolega atau semua teman-teman yang membutuhkannya. Saya mengharapkan dengan jawaban di media tulisan ini bisa memberikan wawasan dan informasi singkat atas permasalahan yang dihadapi dan apabila masih ada kesulitan bisa bertemu tatap muka dengan kami.
Takut mahal? Bertemu tatap muka dengan kami? Jangan dong kan kita tidak hanya melayani untuk publik yang high class dan membutuhkan kenyamanan akses dan tempat untuk konsultasi melainkan kami juga melayani di RS pemerintah, Silahkan saja memilih mana nyamannya, pokoknya tidak boleh ada orang Indonesia yang tidak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan Jiwa saat ini. Ok, semoga berguna dan Alamat website tersebut adalah www.konsultasipsikiater.com
Salam sehat jiwa,
Dharmawan
Kamis, 18 Juli 2013
Resensi Buku: Lebih Jauh Tentang ADHD & Gangguan Belajar pada Anak
Oleh : dr. Aldo Fransiskus Marsetio, BMedSc
Apakah anda pernah mendengar ADHD? ADHD adalah suatu kondisi kejiwaan yang sering ditemukan pada anak-anak, yang mempunyai gejala khas berupa tidak dapat memusatkan perhatian dan hiperaktif. ADHD merupakan salah satu gangguan perkembangan pada anak. Namun dapatkah anda membedakannya dengan gangguan perkembangan lainnya, terutama gangguan belajar pada anak?
Buku ‘Lebih Jauh Tentang ADHD & Gangguan Belajar pada Anak’ yang disusun oleh dr. Dharmawan A. Purnama, SpKJ dan dr. Maria Irene Hendrata mengupas habis tentang ADHD dan gangguan belajar lainnya yang sering ditemukan pada anak-anak. Buku ini membahas berbagai macam cara untuk mengenali kondisi psikiatri tersebut, sampai cara menghadapi atau menanganinya.
Mungkin anda bingung mengenai perbedaan antara psikiater dengan psikolog. Apakah perbedaan di antara kedua profesi tersebut? Bagaimana kompetensi mereka? Kemanakah saya perlu membawa anak saya berobat? Buku ini dengan baik dan sederhana menjelaskan perbedaan kedua profesi tersebut, sehingga pasti dapat membuat anda lebih mudah dalam memutuskan.
Menggunakan bahasa yang awam, sederhana, dan memberikan definisi pada kata-kata medis membuat buku ini nyaman untuk dibaca, serta mudah dimengerti. Buku ini dikemas seringkas mungkin, namun padat berisi dengan informasi yang disajikan secara sistematis. Kriteria diagnosa, serta check list membantu siapa pun yang membaca buku ini dapat lebih mudah untuk mengerti kondisi kejiwaan sang anak. Dengan lebih mengerti kondisi sang anak, mengetahui cara penanganan yang tepat, tentu saja dapat membantu sang anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
Buku ‘Lebih Jauh Tentang ADHD & Gangguan Belajar pada Anak’ ini bisa Anda peroleh dengan SMS ke 08129169825, tinggalkan nama dan alamat. Harga Rp. 35.000,- gratis ongkos kirim untuk Jakarta.
Selasa, 01 November 2011
Terapi Neurofeedback untuk ADHD
Terapi neurofeedback adalah salah satu pilihan terapi yang menjanjikan saat ini untuk penanganan ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder). Tujuan terapi adalah membuat pasien mengubah cara kerja otaknya sehingga fungsinya lebih optimal, tidak seperti seseorang dengan ADHD.
Apa itu Biofeedback?
Biofeedback adalah penggunaan alat untuk mencerminkan proses psikologi dan fisiologi yang pada umumnya tidak disadari oleh orang tersebut, namun dengan menggunakan alat biofeedback, proses pikir seseorang dapat disadari dan berada di bawah kontrol. Orang akan menerima informasi tentang status biologisnya, dan menggunakan informasi ini, ia belajar untuk meraih kontrol di bawah fungsi biologis yang tidak disadari.
Neurofeedback adalah tipe dari biofeedback yang dapat digunakan untuk melatih pola gelombang otak anak dengan ADHD/ADD (Attention Deficit Disorder) dan mengubahnya agar menjadi lebih seperti anak-anak normal. Menggunakan elektroensefalografi (rekaman listrik otak) untuk memonitor gelombang otak dan positive reinforcement system, anak akan belajar bagaimana membuat otak mereka menjadi lebih atentif/konsentrasi. Hasilnya adalah berkurangnya gejala ADHD dan peningkatan perilaku yang tidak impulsive atau hiperaktif. Peningkatan ini relatif tergantung pada sebaik apa anak dapat mengontrol fungsi otak mereka.
Bagaimana otak kita bekerja?
Setiap manusia mempunyai lima pola gelombang otak. Setiap area otak mempunyai pola predominan yang merefleksikan status mental seseorang saat ini. Pola ini dapat diukur dan direkam dengan alat elektroensefalogram (EEG). EEG dapat digunakan untuk membuat peta dari fungsi mental seseorang. Lima jenis gelombang otak itu adalah :
Gelombang beta : Ini adalah gelombang tercepat yang berhubungan dengan status mental, intelektual, dan konsentrasi. Gelombang beta dalam jumlah banyak membuat seseorang mampu berkonsentrasi.
Gelombang SMR : Adalah subkategori dari gelombang beta. Ini adalah gelombang yang muncul pada korteks sensorimotor jika seseorang fokus pada tantangan fisik.
Gelombang alfa : Gelombang ini lebih lambat dari gelombang beta yang bekerja untuk relaksasi.
Gelombang teta : Gelombang ini lebih lambat lagi dari gelombang alfa. Ini adalah gelombang otak saat bermimpi atau tertidur.
Gelombang delta : Ini adalah gelombang otak yang paling lambat yang muncul saat tidur yang dalam.
Seseorang dengan ADHD/ADD cenderung memiliki gelombang lambat yang berlebihan (biasanya gelombang teta dan alfa). Jika peningkatan gelombang lambat ini terjadi di bagian eksekutif, yaitu bagian frontal otak (otak sebelah depan), maka akan sulit untuk mengontrol konsentrasi, perilaku, dan emosi.
Saat seorang anak normal diberi tugas yang membutuhkan konsentrasi, jumlah gelombang beta di beberapa bagian otaknya meningkat. Hal ini tidak terjadi pada anak dengan ADHD. Yang terjadi bukannya peningkatan gelombang beta, tetapi peningkatan gelombang teta. Sehingga anak dengan ADHD memiliki rasio gelombang teta/beta yang tinggi. Jadi di saat anak normal berkonsentrasi lebih keras saat menyelesaikan tugas, pikiran anak dengan ADHD dapat melayang ke hal-hal lainnya.
Terapi neurofeedback dapat melatih anak dengan ADHD untuk menurunkan rasio gelombang teta/betanya. Semakin rendah rasio teta/beta, semakin baik anak dapat berkonsentrasi. Sebuah elektroda diletakkan di puncak kepala dan sepasang elektroda diletakkan di daun telinga atau di tulang mastoid di belakang telinga. Melalui ketiga elektroda ini, aktivitas listrik otak direkam dan ditampilkan di layar komputer.
Apakah terapi neurofeedback ini efektif?
Selama terapi, anak diajarkan secara bertahap untuk mengurangi produksi gelombang teta dan meningkatkan produksi gelombang beta. Rasio gelombang teta/beta menjadi normal sehingga gejala dan perilaku ADHD akan banyak berkurang atau bahkan menghilang. Seiring meningkatnya kemampuan konsentrasi, terapi ini juga akan meningkatkan kognitif mereka. Peningkatan ini bersifat permanen. Penelitian lanjutan mengenai hal ini telah dilakukan sejak tahun 1970an. Terdapat beberapa penelitian yang membuktikan efektivitasnya. Tidak ada penelitian yang membuktikan bahwa neurofeedback sama sekali tidak memberikan manfaat. Penelitian Levesque dan kolega pada tahun 2006 menggunakan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan memperlihatkan adanya perubahan positif pada fungsi otak anak dengan ADHD setelah terapi neurofeedback. Terapi neurofeedback untuk ADHD mengurangi gejala impulsivitas dan hiperaktivitas, menstabilkan mood, memperbaiki siklus tidur, meningkatkan konsentrasi, meningkatkan daya ingat dan performa akademik. Yang menarik, juga terjadi peningkatan IQ setelah terapi neurofeedback ini. Rata-rata peningkatan nilai IQ ini bervariasi dari tiap penelitian. Ada yang menyebutkan peningkatan 9 poin hingga 23 poin dari nilai IQ. Hal ini membuat neurofeedback menjadi terapi yang signifikan bagi ADHD. Belum ada penelitian pada terapi lain yang membuat perubahan permanen seperti ini.
Neurofeedback juga terbukti efektif dalam menangani berbagai macam epilepsi, termasuk grand mal, kompleks parsial, dan petit mal. Neurofeedback menurunkan 70% kejadian kejang, bahkan hingga 82% pada pasien yang mengkonsumsi obat teratur.
Pada orang dengan kecanduan alkohol dan narkoba, terjadi penurunan gelombang alfa dan teta serta peningkatan berlebih pada gelombang beta. Hal ini membuat mereka sulit untuk rileks. Latihan neurofeedback mengurangi stres pada pecandu melalui meningkatnya gelombang alfa dan teta, serta menurunnya gelombang beta.
Neurofeedback juga bermanfaat mengurangi gejala pada Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Sebuah penelitian pada korban PTSD di Vietnam membuktikan bahwa neurofeedback mengurangi kekambuhan pada pasien yang mendapatkan terapi neurofeedback dan medikasi dibandingkan pada pasien yang hanya mendapat medikasi saja.
Tidak hanya pada orang dengan gangguan psikiatri, neurofeedback juga bermanfaat bagi orang normal tanpa gejala, misalnya digunakan untuk meningkatkan performa kerja, daya ingat, dan kognitif pada pebisnis, musisi, dan atlet.
Berapa sesi terapi yang dibutuhkan?
Latihan neurofeedback untuk gangguan cemas atau insomnia membutuhkan 15-20 kali sesi, sedangkan untuk ADHD/ADD atau gangguan belajar membutuhkan 40-50 kali sesi terapi. Tiap sesi umumnya berlangsung selama 40-60 menit. Pada kondisi pasien dengan kondisi yang kompleks, dokter tidak selalu dapat memperkirakan berapa sesi yang dibutuhkan untuk memberikan hasil bagi pasien.
Bagaimana memilih terapis yang profesional?
Ada beberapa orang tua yang berharap dapat membeli alat ini lalu kemudian mengaplikasikannya sendiri ke anak mereka. Juga ada beberapa pihak yang menyewakan alat neurofeedback ini di rumah mereka. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Dibutuhkan operator yang mengerti fungsi otak, dapat mengenali gejala setiap pasien, dan mengadakan penilaian serta evaluasi terhadap terapi. Terapi pada setiap pasien tidaklah sama. Maka sebelum terapi perlu dilakukan penilaian oleh klinisi mengenai riwayat klinis pasien. Jika perlu maka dilakukan pemeriksaan psikologi atau neuropsikologi terlebih dahulu. Pada beberapa kasus diperlukan pemeriksaan yang lebih komprehensif, yaitu quantitative electroencephalogram (QEEG) brain map yang merupakan alat untuk mengevaluasi pola gelombang otak. QEEG dapat mengevaluasi kondisi seperti cedera otak ringan, ADHD/ADD, gangguan belajar, depresi, gangguan obsesif kompulsif, gangguan cemas, gangguan panik, dan kondisi lain seperti autisme, skizofrenia, stroke, epilepsi, dan demensia.
Apa efek samping terapi neurofeedback?
Efek samping ringan dapat muncul selama terapi neurofeedback, yaitu lelah, cemas, sakit kepala, gelisah, dan anak menjadi rewel. Tidak ada efek samping yang berbahaya. Jika efek samping ini muncul, terapis dapat mengubah jenis latihan sehingga mengeliminasi efek samping tersebut. Maka dari itu dibutuhkan terapis yang dapat mengenali gejala pada setiap pasien.
Neurofeedback membutuhkan motivasi pasien untuk mengikuti terapi sampai selesai. Terapi ini baru dapat diterapkan pada anak usia 6 tahun ke atas karena anak yang lebih kecil belum bisa mengikuti instruksi terapis. Terapi neurofeedback ini bukanlah cara untuk menyembuhkan anak dengan ADHD, terapi ini hanya salah satu cara untuk mengurangi gejala dan memperbaiki perilaku mereka. Berkonsultasilah dengan psikiater Anda untuk menentukan terapi yang terbaik bagi anak Anda.
Apa itu Biofeedback?
Biofeedback adalah penggunaan alat untuk mencerminkan proses psikologi dan fisiologi yang pada umumnya tidak disadari oleh orang tersebut, namun dengan menggunakan alat biofeedback, proses pikir seseorang dapat disadari dan berada di bawah kontrol. Orang akan menerima informasi tentang status biologisnya, dan menggunakan informasi ini, ia belajar untuk meraih kontrol di bawah fungsi biologis yang tidak disadari.
Neurofeedback adalah tipe dari biofeedback yang dapat digunakan untuk melatih pola gelombang otak anak dengan ADHD/ADD (Attention Deficit Disorder) dan mengubahnya agar menjadi lebih seperti anak-anak normal. Menggunakan elektroensefalografi (rekaman listrik otak) untuk memonitor gelombang otak dan positive reinforcement system, anak akan belajar bagaimana membuat otak mereka menjadi lebih atentif/konsentrasi. Hasilnya adalah berkurangnya gejala ADHD dan peningkatan perilaku yang tidak impulsive atau hiperaktif. Peningkatan ini relatif tergantung pada sebaik apa anak dapat mengontrol fungsi otak mereka.
Bagaimana otak kita bekerja?
Setiap manusia mempunyai lima pola gelombang otak. Setiap area otak mempunyai pola predominan yang merefleksikan status mental seseorang saat ini. Pola ini dapat diukur dan direkam dengan alat elektroensefalogram (EEG). EEG dapat digunakan untuk membuat peta dari fungsi mental seseorang. Lima jenis gelombang otak itu adalah :
Gelombang beta : Ini adalah gelombang tercepat yang berhubungan dengan status mental, intelektual, dan konsentrasi. Gelombang beta dalam jumlah banyak membuat seseorang mampu berkonsentrasi.
Gelombang SMR : Adalah subkategori dari gelombang beta. Ini adalah gelombang yang muncul pada korteks sensorimotor jika seseorang fokus pada tantangan fisik.
Gelombang alfa : Gelombang ini lebih lambat dari gelombang beta yang bekerja untuk relaksasi.
Gelombang teta : Gelombang ini lebih lambat lagi dari gelombang alfa. Ini adalah gelombang otak saat bermimpi atau tertidur.
Gelombang delta : Ini adalah gelombang otak yang paling lambat yang muncul saat tidur yang dalam.
Seseorang dengan ADHD/ADD cenderung memiliki gelombang lambat yang berlebihan (biasanya gelombang teta dan alfa). Jika peningkatan gelombang lambat ini terjadi di bagian eksekutif, yaitu bagian frontal otak (otak sebelah depan), maka akan sulit untuk mengontrol konsentrasi, perilaku, dan emosi.
Saat seorang anak normal diberi tugas yang membutuhkan konsentrasi, jumlah gelombang beta di beberapa bagian otaknya meningkat. Hal ini tidak terjadi pada anak dengan ADHD. Yang terjadi bukannya peningkatan gelombang beta, tetapi peningkatan gelombang teta. Sehingga anak dengan ADHD memiliki rasio gelombang teta/beta yang tinggi. Jadi di saat anak normal berkonsentrasi lebih keras saat menyelesaikan tugas, pikiran anak dengan ADHD dapat melayang ke hal-hal lainnya.
Terapi neurofeedback dapat melatih anak dengan ADHD untuk menurunkan rasio gelombang teta/betanya. Semakin rendah rasio teta/beta, semakin baik anak dapat berkonsentrasi. Sebuah elektroda diletakkan di puncak kepala dan sepasang elektroda diletakkan di daun telinga atau di tulang mastoid di belakang telinga. Melalui ketiga elektroda ini, aktivitas listrik otak direkam dan ditampilkan di layar komputer.
Apakah terapi neurofeedback ini efektif?
Selama terapi, anak diajarkan secara bertahap untuk mengurangi produksi gelombang teta dan meningkatkan produksi gelombang beta. Rasio gelombang teta/beta menjadi normal sehingga gejala dan perilaku ADHD akan banyak berkurang atau bahkan menghilang. Seiring meningkatnya kemampuan konsentrasi, terapi ini juga akan meningkatkan kognitif mereka. Peningkatan ini bersifat permanen. Penelitian lanjutan mengenai hal ini telah dilakukan sejak tahun 1970an. Terdapat beberapa penelitian yang membuktikan efektivitasnya. Tidak ada penelitian yang membuktikan bahwa neurofeedback sama sekali tidak memberikan manfaat. Penelitian Levesque dan kolega pada tahun 2006 menggunakan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan memperlihatkan adanya perubahan positif pada fungsi otak anak dengan ADHD setelah terapi neurofeedback. Terapi neurofeedback untuk ADHD mengurangi gejala impulsivitas dan hiperaktivitas, menstabilkan mood, memperbaiki siklus tidur, meningkatkan konsentrasi, meningkatkan daya ingat dan performa akademik. Yang menarik, juga terjadi peningkatan IQ setelah terapi neurofeedback ini. Rata-rata peningkatan nilai IQ ini bervariasi dari tiap penelitian. Ada yang menyebutkan peningkatan 9 poin hingga 23 poin dari nilai IQ. Hal ini membuat neurofeedback menjadi terapi yang signifikan bagi ADHD. Belum ada penelitian pada terapi lain yang membuat perubahan permanen seperti ini.
Neurofeedback juga terbukti efektif dalam menangani berbagai macam epilepsi, termasuk grand mal, kompleks parsial, dan petit mal. Neurofeedback menurunkan 70% kejadian kejang, bahkan hingga 82% pada pasien yang mengkonsumsi obat teratur.
Pada orang dengan kecanduan alkohol dan narkoba, terjadi penurunan gelombang alfa dan teta serta peningkatan berlebih pada gelombang beta. Hal ini membuat mereka sulit untuk rileks. Latihan neurofeedback mengurangi stres pada pecandu melalui meningkatnya gelombang alfa dan teta, serta menurunnya gelombang beta.
Neurofeedback juga bermanfaat mengurangi gejala pada Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Sebuah penelitian pada korban PTSD di Vietnam membuktikan bahwa neurofeedback mengurangi kekambuhan pada pasien yang mendapatkan terapi neurofeedback dan medikasi dibandingkan pada pasien yang hanya mendapat medikasi saja.
Tidak hanya pada orang dengan gangguan psikiatri, neurofeedback juga bermanfaat bagi orang normal tanpa gejala, misalnya digunakan untuk meningkatkan performa kerja, daya ingat, dan kognitif pada pebisnis, musisi, dan atlet.
Berapa sesi terapi yang dibutuhkan?
Latihan neurofeedback untuk gangguan cemas atau insomnia membutuhkan 15-20 kali sesi, sedangkan untuk ADHD/ADD atau gangguan belajar membutuhkan 40-50 kali sesi terapi. Tiap sesi umumnya berlangsung selama 40-60 menit. Pada kondisi pasien dengan kondisi yang kompleks, dokter tidak selalu dapat memperkirakan berapa sesi yang dibutuhkan untuk memberikan hasil bagi pasien.
Bagaimana memilih terapis yang profesional?
Ada beberapa orang tua yang berharap dapat membeli alat ini lalu kemudian mengaplikasikannya sendiri ke anak mereka. Juga ada beberapa pihak yang menyewakan alat neurofeedback ini di rumah mereka. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Dibutuhkan operator yang mengerti fungsi otak, dapat mengenali gejala setiap pasien, dan mengadakan penilaian serta evaluasi terhadap terapi. Terapi pada setiap pasien tidaklah sama. Maka sebelum terapi perlu dilakukan penilaian oleh klinisi mengenai riwayat klinis pasien. Jika perlu maka dilakukan pemeriksaan psikologi atau neuropsikologi terlebih dahulu. Pada beberapa kasus diperlukan pemeriksaan yang lebih komprehensif, yaitu quantitative electroencephalogram (QEEG) brain map yang merupakan alat untuk mengevaluasi pola gelombang otak. QEEG dapat mengevaluasi kondisi seperti cedera otak ringan, ADHD/ADD, gangguan belajar, depresi, gangguan obsesif kompulsif, gangguan cemas, gangguan panik, dan kondisi lain seperti autisme, skizofrenia, stroke, epilepsi, dan demensia.
Apa efek samping terapi neurofeedback?
Efek samping ringan dapat muncul selama terapi neurofeedback, yaitu lelah, cemas, sakit kepala, gelisah, dan anak menjadi rewel. Tidak ada efek samping yang berbahaya. Jika efek samping ini muncul, terapis dapat mengubah jenis latihan sehingga mengeliminasi efek samping tersebut. Maka dari itu dibutuhkan terapis yang dapat mengenali gejala pada setiap pasien.
Neurofeedback membutuhkan motivasi pasien untuk mengikuti terapi sampai selesai. Terapi ini baru dapat diterapkan pada anak usia 6 tahun ke atas karena anak yang lebih kecil belum bisa mengikuti instruksi terapis. Terapi neurofeedback ini bukanlah cara untuk menyembuhkan anak dengan ADHD, terapi ini hanya salah satu cara untuk mengurangi gejala dan memperbaiki perilaku mereka. Berkonsultasilah dengan psikiater Anda untuk menentukan terapi yang terbaik bagi anak Anda.
Rabu, 07 September 2011
Test of Variables of Attention (T.O.V.A.) untuk Membantu Diagnosa ADHD
Apakah anak Anda sulit berkonsentrasi dan mengalami gangguan belajar? Apakah guru anak Anda mulai menduga anak Anda mengalami gangguan pemusatan perhatian dan atau hiperaktif?
Deteksi dini orang tua terhadap gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif atau yang biasa dikenal dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah faktor penting dalam penanganan ADHD dan perkembangan anak nantinya.
Ada tiga gejala utama ADHD, yaitu inatensi (sulit memusatkan perhatian/sulit konsentrasi), impulsivitas (sulit menahan keinginan untuk melakukan sesuatu sehingga melakukan sesuatu tanpa berpikir lebih dulu), dan hiperaktivitas.
Tipe ADHD juga ada tiga, yaitu yang cenderung inatensi, hiperaktif–impulsif, dan kombinasi. Pemeriksaan Continuous Performance Test (CPT) yang objektif seperti dengan alat T.O.V.A (Test of Variable of Attention) juga diperlukan untuk diagnosis dan menilai kemajuan terapi.
Apa itu T.O.V.A.?
The Test of Variables of Attention (T.O.V.A.®) adalah bentuk continuous performance test (CPT) berbasis komputer yang dapat membantu mendeteksi, mendiagnosis, dan memonitor efektivitas terapi pada gangguan atensi, contohnya ADHD dan juga pada cedera otak traumatik. Tes ini digunakan oleh psikiater dan psikolog agar dapat mendiagnosa gangguan atensi secara lebih akurat.
T.O.V.A. adalah pengukuran yang objektif terhadap daya atensi seseorang, bukan hanya penilaian yang subjektif dari wawancara atau pengamatan perilaku. Tes ini cukup sederhana untuk dilakukan, bentuknya seperti permainan komputer yang lamanya 21,8 menit. Untuk anak usia 4 sampai 5 tahun, lama tes lebih pendek, yaitu 10,9 menit. Sebelum tes disediakan latihan terlebih dahulu selama 2,5 menit. T.O.V.A. mengukur kemampuan seseorang dalam merespon rangsangan visual atau auditori (pendengaran). Pengukuran ini dibandingkan dengan pengukuran pada sekelompok orang tanpa gangguan atensi yang mengikuti tes ini.
Ada dua jenis T.O.V.A, yaitu T.O.V.A. yang memproses informasi visual dan T.O.V.A.-A yang memproses informasi auditori. T.O.V.A menggunakan dua bentuk geometri yang sederhana untuk mengukur atensi, sedangkan T.O.V.A.-A menggunakan dua nada. Biasanya cukup dilakukan satu jenis T.O.V.A saja.
Target pada T.O.V.A. visual adalah kotak kecil yang berada di atas. Kotak kecil akan muncul bergantian secara acak di atas dan di bawah. Saat kotak kecil muncul di bagian atas, anak harus meng-klik microswitch. T.O.V.A.-A menggunakan dua nada yang mudah dibedakan, yaitu nada tinggi dan nada rendah. Targetnya adalah nada tinggi.
Variabel yang diukur dalam T.O.V.A. meliputi konsistensi, waktu merespon, impusivitas, inatensi, waktu merespon setelah impulsivitas, respon antisipatif dan multipel, dan skor ADHD, yang dibandingkan dengan kelompok orang dengan ADHD sesuai usia dan jenis kelaminnya. Hasil T.O.V.A. berupa grafik dan interpretasi dapat segera muncul secara tertulis.
T.O.V.A tidak hanya digunakan dalam lingkungan medis namun juga dapat digunakan untuk skrining atau mendeteksi adanya gangguan atensi di sekolah-sekolah, human resource departments (HRD), dan program rehabilitasi.
Apa kelebihan T.O.V.A. ?
• T.O.V.A. membantu diagnosa dengan informasi objektif mengenai atensi dan impulsivitas. Klinisi (psikiater/psikolog) tidak hanya mendiagnosa berdasarkan perilaku dan wawancara pasien saja. T.O.V.A. dapat mengidentifikasi dengan tepat lebih dari 86% kasus ADHD. Akan tetapi, dalam melakukan diagnosa klinis tetap melakukan pengamatan secara klinis, bukan berdasarkan hasil T.O.V.A. saja.
• T.O.V.A. dapat memprediksi efektivitas pengobatan secara akurat dengan membandingkan hasil T.O.V.A. sebelum dan sesudah pengobatan.
• Bentuk T.O.V.A. seperti game komputer dan mudah dilakukan oleh siapa saja.
• Hasil T.O.V.A dapat segera dilihat dan mudah dibaca.
• T.O.V.A dapat dilakukan oleh anak-anak maupun orang dewasa (usia 4 hingga 80 tahun).
• Pengukuran respon waktunya sangat tepat (dalam skala milidetik)
• Tidak dipengaruhi oleh perbedaan bahasa, budaya, gangguan belajar, dan daya ingat.
• Bentuknya yang seperti game membuat anak-anak lebih nyaman, tidak merasa sedang dites.
• Berbeda dengan CPT sebelumnya yang menggunakan keyboard, T.O.V.A menggunakan microswitch yang didesain khusus yang dapat meminimalkan kelelahan otot saat tes.
• Dengan menyediakan pemeriksaan yang objektif, hasil pemeriksaan dengan grafik yang mudah dimengerti pasien, akan memberikan kepuasan pada pasien dan keluarga. Pasien lebih mengerti dan menerima kondisi serta terapi yang harus ia jalani.
Bentuk ADHD tidak hanya pada anak-anak namun dapat muncul juga pada orang dewasa, seringnya dalam bentuk impulsivitas. Selain itu juga perlu diingat bahwa ADHD sering muncul bersamaan (komorbiditas) dengan penyakit jiwa lainnya, seperti depresi, gangguan cemas, dan penyalahgunaan obat.
Deteksi dini orang tua terhadap gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif atau yang biasa dikenal dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah faktor penting dalam penanganan ADHD dan perkembangan anak nantinya.
Ada tiga gejala utama ADHD, yaitu inatensi (sulit memusatkan perhatian/sulit konsentrasi), impulsivitas (sulit menahan keinginan untuk melakukan sesuatu sehingga melakukan sesuatu tanpa berpikir lebih dulu), dan hiperaktivitas.
Tipe ADHD juga ada tiga, yaitu yang cenderung inatensi, hiperaktif–impulsif, dan kombinasi. Pemeriksaan Continuous Performance Test (CPT) yang objektif seperti dengan alat T.O.V.A (Test of Variable of Attention) juga diperlukan untuk diagnosis dan menilai kemajuan terapi.
Apa itu T.O.V.A.?
The Test of Variables of Attention (T.O.V.A.®) adalah bentuk continuous performance test (CPT) berbasis komputer yang dapat membantu mendeteksi, mendiagnosis, dan memonitor efektivitas terapi pada gangguan atensi, contohnya ADHD dan juga pada cedera otak traumatik. Tes ini digunakan oleh psikiater dan psikolog agar dapat mendiagnosa gangguan atensi secara lebih akurat.
T.O.V.A. adalah pengukuran yang objektif terhadap daya atensi seseorang, bukan hanya penilaian yang subjektif dari wawancara atau pengamatan perilaku. Tes ini cukup sederhana untuk dilakukan, bentuknya seperti permainan komputer yang lamanya 21,8 menit. Untuk anak usia 4 sampai 5 tahun, lama tes lebih pendek, yaitu 10,9 menit. Sebelum tes disediakan latihan terlebih dahulu selama 2,5 menit. T.O.V.A. mengukur kemampuan seseorang dalam merespon rangsangan visual atau auditori (pendengaran). Pengukuran ini dibandingkan dengan pengukuran pada sekelompok orang tanpa gangguan atensi yang mengikuti tes ini.
Ada dua jenis T.O.V.A, yaitu T.O.V.A. yang memproses informasi visual dan T.O.V.A.-A yang memproses informasi auditori. T.O.V.A menggunakan dua bentuk geometri yang sederhana untuk mengukur atensi, sedangkan T.O.V.A.-A menggunakan dua nada. Biasanya cukup dilakukan satu jenis T.O.V.A saja.
Target pada T.O.V.A. visual adalah kotak kecil yang berada di atas. Kotak kecil akan muncul bergantian secara acak di atas dan di bawah. Saat kotak kecil muncul di bagian atas, anak harus meng-klik microswitch. T.O.V.A.-A menggunakan dua nada yang mudah dibedakan, yaitu nada tinggi dan nada rendah. Targetnya adalah nada tinggi.
Variabel yang diukur dalam T.O.V.A. meliputi konsistensi, waktu merespon, impusivitas, inatensi, waktu merespon setelah impulsivitas, respon antisipatif dan multipel, dan skor ADHD, yang dibandingkan dengan kelompok orang dengan ADHD sesuai usia dan jenis kelaminnya. Hasil T.O.V.A. berupa grafik dan interpretasi dapat segera muncul secara tertulis.
T.O.V.A tidak hanya digunakan dalam lingkungan medis namun juga dapat digunakan untuk skrining atau mendeteksi adanya gangguan atensi di sekolah-sekolah, human resource departments (HRD), dan program rehabilitasi.
Apa kelebihan T.O.V.A. ?
• T.O.V.A. membantu diagnosa dengan informasi objektif mengenai atensi dan impulsivitas. Klinisi (psikiater/psikolog) tidak hanya mendiagnosa berdasarkan perilaku dan wawancara pasien saja. T.O.V.A. dapat mengidentifikasi dengan tepat lebih dari 86% kasus ADHD. Akan tetapi, dalam melakukan diagnosa klinis tetap melakukan pengamatan secara klinis, bukan berdasarkan hasil T.O.V.A. saja.
• T.O.V.A. dapat memprediksi efektivitas pengobatan secara akurat dengan membandingkan hasil T.O.V.A. sebelum dan sesudah pengobatan.
• Bentuk T.O.V.A. seperti game komputer dan mudah dilakukan oleh siapa saja.
• Hasil T.O.V.A dapat segera dilihat dan mudah dibaca.
• T.O.V.A dapat dilakukan oleh anak-anak maupun orang dewasa (usia 4 hingga 80 tahun).
• Pengukuran respon waktunya sangat tepat (dalam skala milidetik)
• Tidak dipengaruhi oleh perbedaan bahasa, budaya, gangguan belajar, dan daya ingat.
• Bentuknya yang seperti game membuat anak-anak lebih nyaman, tidak merasa sedang dites.
• Berbeda dengan CPT sebelumnya yang menggunakan keyboard, T.O.V.A menggunakan microswitch yang didesain khusus yang dapat meminimalkan kelelahan otot saat tes.
• Dengan menyediakan pemeriksaan yang objektif, hasil pemeriksaan dengan grafik yang mudah dimengerti pasien, akan memberikan kepuasan pada pasien dan keluarga. Pasien lebih mengerti dan menerima kondisi serta terapi yang harus ia jalani.
Bentuk ADHD tidak hanya pada anak-anak namun dapat muncul juga pada orang dewasa, seringnya dalam bentuk impulsivitas. Selain itu juga perlu diingat bahwa ADHD sering muncul bersamaan (komorbiditas) dengan penyakit jiwa lainnya, seperti depresi, gangguan cemas, dan penyalahgunaan obat.
Langganan:
Postingan (Atom)
