Rabu, 12 November 2014

Pendidikan Seksualitas untuk Remaja

Remaja: periode perkembangan yang merupakan peralihan dari kanak-kanak ke dewasa.
Seksualitas/ seks meliputi:
1. segi fisik: biologis dan fisiologis.
2. segi psikis: emosi.
Biologis: tanda-tanda perkembangan dan mulai berfungsinya alat-alat kelamin.
Perkembangan fisik berupa pertumbuhan kelenjar serta organ kelamin (sifat-sifat kelamin primer), seperti: pada wanita ditandai dengan ovulasi yang pertama, tapi dalam hidup sehari-hari, dianggap sebagai menstruasi yang pertama. Pada laki-laki ditandai pollutio pertama, yaitu keluarnya semen dengan sendirinya tanpa ereksi. Ini menandakan testis sudah mulai berfungsi.
Secara fisiologis, perkembangan tersebut didahului dengan perkembangan organ-organ kelamin sekunder seperti:
- Pertumbuhan rambut.
- Perubahan suara.
- Meluasnya lapang dada.
- Membesarnya buah dada, pangkal paha, paha, dan panggul.
- Pertumbuhan badan yang berbeda menurut jenis kelamin:
- wanita: lebih cepat, mulai 10-16th, berhenti 19-20th.
- pria: berhenti 23-24th.
Alat kelamin pria dan wanita, bentuk dan tempatnya tidak sama, sesuai dengan tugas yang berbeda pula.
Wanita:
Alat kelamin bagian luar: walaupun terletak di luar, lebih terlindung dan tersembunyi di sela paha dan ditutupi rambut-rambut. Tidak banyak berfungsi, hanya sebagai tempat penyaluran dan pelindung bagian dalam yang penting untuk berkembang biak.
Alat kelamin bagian dalam: terletak di dalam tubuh, di rongga panggul, terdiri dari:
1. Ovarium
2. Uterus.


Pria:
Alat kelamin luar terletak di bagian luar tubuh dan berfungsi untuk persetubuhan dan pengeluaran air seni. Terdiri dari: Penis dan skrotum.
Alat kelamin bagian dalam terdiri dari: kelenjar pembuat hormon, air mani, dan saluran-salurannya.

Menstruasi sebagai pengalaman psikis.
Peristiwa paling penting pada masa pubertas anak gadis ialah gejala menstruasi atau haid, yang menjadi pertanda biologis dari kematangan seksual.
Secara normal menstruasi berlangsung kurang lebih pada usia 11-16 tahun. Cepat atau lambatnya kematangan seksual ini selain ditentukan oleh kondisi fisik, juga dipengaruhi oleh faktor ras atau suku bangsa, faktor iklim, cara hidup, dan nilai-nilai yang berlaku. Badan yang lemah atau penyakit yang parah, bisa memperlambat datangnya menstruasi.
Rangsangan-rangsangan yang kuat dari luar, seperti film-film, buku-buku, gambar-gambar yang porno, serta godaan atau rangsangan dari pria, melihat langsung hubungan seks, semuanya itu akan mengakibatkan kematangan seksual yang lebih cepat pada diri anak.
Pengalaman menstruasi yang pertama kali biasanya sangat dipengaruhi oleh sikap ibu dalam menghadapi situasi tersebut. Misalnya, seorang gadis yang mentruasi pertama kali diperlakukan dengan sangat hati-hati dan dimanja berlebihan, maka setiap kali menstruasi mungkin gadis itu akan terus menerus berbaring di tempat tidur selama masa menstruasinya.
Ibu yang menganggap menstruasi sebagai suatu hal yang kotor dan menjijikkan, mungkin akan menghasilkan anak gadis yang pada saat haid, sangat memperhatikan kebersihan badannya, teristimewa pada alat kelaminnya. Ia akan terus menerus mencuci badan dan alat kelaminnya, berulang kali mandi dan mengganti baju.
Jadi jika menstruasi ini tidak disertai informasi yang benar, mungkin bisa timbul bermacam-macam problem psikis.


Perencanaan keluarga yang bertanggung jawab:
1. Persiapan diri.
a. kepribadian
b. inteligensi
c. emosionalitas
2. Memilih teman hidup.
Jatuh cinta dan cinta
3. Persiapan hidup perkawinan.

Segi psikis: emosi
Wanita
Sifat dasarnya: keibuan.
Anak kecil: bermain boneka.
Usia sekolah: memanjakan adik bayi.
Remaja putri: tertarik pada sesuatu yang kecil, mungil, tak berdaya, serta yang memerlukan pemeliharaannya.
Wanita berkeluarga: mengerti jiwanya sedalam-dalamnya karena kelahiran anaknya.
Wanita yang tidak berkeluarga: membantu orang lain, membaktikan diri pada sesama.

Pada wanita yang kuat, ada dua sifat yang bergerak bolak-balik secara seimbang, yaitu penyerahan diri dan penarikan diri.
Penyerahan diri: wanita ingin menyerahkan diri tanpa syarat kepada sesuatu yang dicintai, dan ini merupakan kebutuhan jiwanya.
Penarikan diri, untuk mempertahankan kehormatan dirinya.
Jadi seorang wanita yang jiwanya seimbang, ia dapat memberi dengan tangan yang penuh kasih kepada orang yang memerlukan dan dapat pula melindungi dirinya dengan tembok yang kokoh kuat dan tidak terlihat oleh orang yang akan merusak harga dirinya.

Saat remaja.
Mulai menyadari ’aku’nya, mengetahui bahwa ia dapat mengambil keputusan untuk diri sendiri dan mulai memikirkan tentang diri sendiri. Ia merasa memegang rahasia yang besar karena peristiwa-peristiwa yang dialami jiwanya. Ia mengira tidak ada orang yang pernah mengalami hal-hal yang seperti ia alami sekarang. Ia merasa tidak mungkin memberitahukan kepada orang lain tentang apa yang sedang menggelora di dalam jiwanya. Ia merasa hal itu tidak mungkin dimengerti orang lain.
Ia menyadari kelakuannya sangat berbeda dengan waktu ia masih kecil, maka ia akan mengasingkan diri dari orang-orang yang telah mengenalnya semenjak kecil. Ia malu memperlihatkan pergolakan jiwanya kepada orang-orang yang telah mengenalnya. Mereka akan mencari orang yang dapat dipercaya dan mengerti tentang masalahnya. Mereka sering menceritakan bahwa hal-hal tersebut tidak mungkin diceritakan kepada orang-tuanya, karena tidak akan dipercaya.
Beberapa remaja merasa dirinya ’terbelah’, sehingga gelisah dan tidak dapat tampil spontan. Remaja tersebut merasa ada dua ’aku’ di dalam dirinya, dan ’aku’ yang satu akan terus mengamat-amati ’aku’ yang lain. Contoh: ketika sedang berjalan-jalan di pantai, remaja tersebut merasa ’aku’ yang satu berkata kepada ’aku’ yang lain: ”Berjalanlah biasa, jangan menari-nari seperti anak kecil.” Maka remaja tersebut akan berjalan dengan kaku, seolah-olah diperintah orang lain.
Ada juga yang menempatkan dirinya sebagai pusat segala-galanya. Makin lama, makin besar perhatian mereka kepada ’aku’nya sendiri, sehingga kesannya agak jahat dan kejam. Mereka hanya ingat diri sendiri. Contoh: menjelek-jelekkan keadaan fisik orang lain. Tingkah laku yang dibuat-buat dan keinginan untuk menarik perhatian yang berlebih-lebihan, sering menyebabkan peristiwa yang tidak menyenangkan. Hal ini karena rasa ’aku’ yang berkuasa untuk sementara waktu.

Persahabatan dan cinta.
Kebutuhan remaja akan seorang teman yang mengerti di lambat laun akan berubah dari keinginan mempunyai seorang teman wanita yang emncintai dia, dan cinta kepada teman wanita yag tidak membawa kepuasan itu mengekibatkan keinginan akan cinta seorang laki-laki. Cinta ini hanya dapat ditemukan pada masa adolesen (17-21th).
Orang dewasa yang dapat mencintai dalam arti sebenarnya telah menemukan keseimbangan antara hasrat jasmaniah dan rohaniah untuk menyatukan diri dengan orang pilihannya.
Pada orang puber, perasaan tertarik kepada jenis kelamin yang lain masih belum dapat dihubung-hubungkan dengan rasa simpati; kedua rasa ini baru terlebur pada masa adolesen, dalam proses cinta jasmaniah dan rohaniah yang telah mencapai keseimbangan.
Seksualitas ialah segala pengalaman yang terjadi sebenarnya atau hanya dalam khayalan, dan ditujukan kepada hubungan jasmaniah dengan orang yang disukai. Pada gadis-gadis umur 14 sampai 17 tahun, biasanya yang dinamakan cinta itu adalah bercumbu-cumbuan, romantis, dan ada rasa yang membakar tubuh. Sesudah umur 17 tahun, barulah terjadi cinta pertama yang disertai keinginan menyala-nyala dan penderitaan karena mencintai. Pada seorang gadis, mencintai itu bukan hanya hawa nafsu, tapi jiwanya menghubungkannya dengan orang lain.
Pada anak laki-laki, biasanya mereka mengenal dulu wanita-wanita pada umumnya, barulah memilih seorang wanita yang sesuai dengan keinginannya. Sedangkan pada wanita, mereka mengenal dulu seorang laki-laki, barulah laki-laki pada umumnya. Hawa nafsu wanita tidak begitu besar dibandingkan dengan laki-laki. Seorang gadis biasanya menghendaki dulu hubungan batin yang murni, sebelum ia mengadakan hubungan jasmaniah. Ia ingin mengerti dan dimengerti, ia mencari titik-titik pertemuan batin, untuk mempertemukan kedua jiwa mereka. Penyerahan diri tanpa adanya hubungan emosi, jarang terjadi pada kebanyakan gadis.
Sering seorang gadis merasa bingung karena pacarnya ingin melakukan hubungan badan, tetapi biarpun gadis ini sangat mencintainya, tetapi merasa tidak dapat menyerahkan kehormatannya. Gadis itu juga merasa takut kalau hubungan mereka akan putus. Sebaliknya laki-laki itu merasa bahwa dirinya sangat mencintai pacarnya, dan merasa tidak mengerti mengapa pacarnya selalu menolak melakukan hubungan badan.
Hal ini terjadi karena mereka berdua masih terlalu muda. Pemuda itu tidak mengerti bahwa cinta seorang gadis lebih berdasarkan hubungan jiwa, dan dia seharusanya menghargai dan mengerti pendirian ini, dan biasanya gadis yang baik yang berpendirian demikian.
Sebaliknya, gadis itu juga harus mengerti bahwa jiwa pemuda itu berbeda. Ia tidak boleh memandang rendah pada hasrat hubungan jasmaniah pemuda itu yang lebih kuat daripada dirinya. Ia harus mengerti, tetapi juga jangan melepaskan pendiriannya.
Cara mencintai seorang pemuda dan gadis juga berbeda. Seorang pemuda dapat sangat mencintai seorang gadis, tetapi ia masih dapat memusatkan perhatian kepada pelajaran, ilmu pengetahuan, kesenian, dan lain-lain. Seorang gadis sering merasa sedih dan merasa kurang dicintai karena ia membandingkan cintanya yang begitu total kepada kekasihnya. Bagi remaja, hal ini penting, supaya mereka dapat lebih mengerti satu sama lain.

Tipe-tipe gadis.
Kepribadian yang terdapat masa dewasa tumbuh dari masa puber, maka seharusnya pada masa puber ini telah mulai terlihat tipe-tipe yang ada pada gadis.
1. Tipe keibuan.
Setiap gadis mempunyai tugas untuk menjadi ibu dan untuk memenuhi tugasnya, diperlukan pengorbanan dan kasih sayang yang besar. Ada sebagian gadis yang sifat keibuannya besar sekali dan jelas terlihat dari perilakunya.. Tipe ini sudah terlihat dari masa kecil mereka yang senang bermain ibu-ibuan dengan boneka, yang penuh kasih sayang memelihara adik-adiknya, senang membantu mengasuh dan bermain dengan anak-anak tetangga.
Pelajaran di sekolah bagi gadis tipe ini, lebih dilihat sebagai pernyataan rasa tanggung jawab dan ketelitian mereka, daripada perhatian dan ketertarikan akan mata pelajaran tersebut. Gadis-gadis ini akan segera melupakan pengetahuan yang telah dipelajari dengan susah payah waktu menghadapi ujian.
Mereka lebih tertarik pada anak-anak daripada teman laki-lakinya. Mereka biasanya bekerja di bidang sosial, seperti menjadi guru, perawat, atau pekerja sosial.
2. Tipe erotik.
Gadis tipe erotik selalu bertujuan menarik perhatian. Tingkah laku mereka banyak dipengaruhi oleh hawa nafsu dan susah untuk dikendalikan. Tidak ada keseimbangan antara hasrat ingin menyerahkan diri dan hasrat mempertahankan diri. Mereka selalu bercerita tentang laki-laki dan cinta. Tingkah laku mereka akan dibuat-buat bila di antara kaum laki-laki. Pikiran mereka dipenuhi dengan pertanyaan apakah dirinya cukup menarik, apakah dirinya lebih diperhatikan daripada orang lain. Mereka mencemooh kata ’susila’, baginya itu sesuatu yang kuno. Gadis-gadis tipe erotik ini menghadapi banyak bahaya yang dapat merusak hidupnya sebagai wanita dewasa dan kemudian sebagai ibu.
Kita dapat membantu gadis-gadis tipe ini dengan mengenalkan kegiatan-kegiatan lain yang baik, seperti membaca buku yang bermanfaat, ikut sebagai anggota pencinta alam, menonton pertunjukkan kesenian. Apabila mereka sudah dapat lebih mengenal diri sendiri, lebih memperdalam rasa keindahan, barulah kita dapat mengajak mereka ikut dalam kegiatan keagamaan.
3. Tipe romantis.
Gadis-gadis ini mempunyai sifat yang cuek, berbuat sesuka hati mereka, mirip dengan tipe erotik, tetapi mereka terutama tenggelam dalam khayalan sendiri. Mereka bisa sangat memuja sesuatu, dan batas-batas khayalan dan kenyataan kadang-kadang tidak jelas. Mereka hidup dalam angan-angan sendiri dan mudah dipengaruhi. Mereka bisa mendewa-dewakan orang, tetapi tanpa faktor-faktor seksual.
4. Tipe sewajarnya/ biasa.
Mereka tidak mempunyai angan-angan yang berlebihan, kelakuannya tenang dan terlihat lebih dewasa dibandingkan dengan teman-teman sebaya. Mereka melewati masa pubertas seolah-olah tanpa kesukaran. Mereka mendapat didikan yang keras dan banyak larangan-larangan yang menghalangi mereka keluar batas. Gadis-gadis ini sering memainkan dua peranan, dan peranan yang membahayakan tersebut, mereka sembunyikan dengan baik.
5. Tipe intelektuil.
Mereka mempunyai perhatian pada hal-hal yang teoritis, dan hanya sedikit dipengaruhi oleh keadaan dan orang. Mereka biasanya cerdas, sederhana dan terus-terang. Mereka perlu dijaga supaya pembentukan kepribadiannya jangan terlalu intelektual, sehingga sifat-sifat yang lain terdesak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar